Aurelia bangun sebelum matahari terbit. Pertengkarannya dengan Reno semalam, dan tatapan penuh keputusasaan saat Reno membuang brosur kursus, masih menghantuinya. Ia melihat kejujuran di mata Reno—kejujuran bahwa ia sedang mencoba berubah, tetapi terlambat.
Rasa bersalah Aura bercampur dengan pemahaman yang dingin: Reno selalu membutuhkan krisis agar bertindak. Dan ketika Reno akhirnya bertindak, ia sudah terlalu jauh ke dalam jaringan dukungan (dan risiko) Arjuna.
Keputusan Keras Kepala Reno
Aura turun ke dapur. Reno sudah di sana, bukan untuk memasak, melainkan duduk diam dengan secangkir kopi hitam. Wajahnya lesu.
“Aku minta maaf soal semalam,” ujar Aura, suaranya lembut. “Aku seharusnya tidak berteriak.”
Reno menggeleng. “Kamu benar. Aku hanya membela harga diriku yang tidak ada harganya. Aku cemburu, Ra. Aku cemburu karena dia bisa memberimu hal yang tidak bisa aku berikan: kepastian.”
“Aku tidak pernah meminta uangmu, Reno,” kata Aura, mendekat. “Aku hanya meminta kamu berdiri tegak di sampingku.”
Reno menghela napas panjang. “Aku tahu. Aku membuang brosur itu karena aku merasa kamu sudah memilih. Kamu memilih stabilitas dan kemewahan yang dia tawarkan. Aku tidak bisa bersaing dengan itu.”
“Ini bukan tentang dia, ini tentang kita!”
“Tidak, ini tentang bagaimana aku harus mengejarmu, padahal aku seharusnya berjalan di sebelahmu,” balas Reno. “Aku akan mencoba lagi. Aku sudah menghubungi kenalan lamaku di Bali. Ada proyek foto vila yang besar. Aku akan berangkat besok. Aku akan pulang membawa invoice yang besar, Ra. Aku janji, ini yang terakhir.”
Aura memejamkan mata. Bali. Lagi-lagi janji yang melibatkan perjalanan jauh, modal, dan janji invoice yang tidak pasti. Ia lelah dengan roller coaster harapan ini.
“Reno, jangan pergi ke Bali,” pinta Aura, nadanya memohon. “Ambil saja tawaran fotografi korporat itu. Itu stabil. Itu pasti. Kita butuh kepastian, bukan janji mimpi besar lagi.”
Reno menatapnya dengan keras kepala. “Jika aku mengambil pekerjaan membosankan, aku akan mati di dalamnya, Ra. Itu bukan aku. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa sukses sebagai Reno Adrian, fotografer seni. Aku harus melakukan ini, untuk harga diriku, dan untukmu.”
Aura sadar, ini adalah pertempuran yang tidak akan pernah ia menangkan. Reno lebih mencintai idealisme dan kebebasannya daripada kebutuhan nyata keluarga mereka.
“Baik,” kata Aura, suaranya dingin. “Pergilah ke Bali. Tapi kali ini, modalnya dari uangmu sendiri. Aku tidak akan mentransfer sepeser pun untuk perjalanan ini.”
Reno terkejut. “Ra, kamu tidak serius. Aku butuh biaya transportasi dan akomodasi. Aku tidak punya—”
“Itu tanggung jawabmu, Reno. Buktikan kamu bisa mandiri, sekali saja,” potong Aura tegas, melangkah pergi. Ia harus mempertahankan batas itu, demi menyelamatkan perusahaannya dan sisa tabungan pribadinya.
Intimidasi dan Tawaran yang Menggoda
Di kantor, Aura harus menghadiri rapat dengan tim Juna. Juna secara teratur melakukan kunjungan mendadak, menanyakan tentang kemajuan desain secara rinci, dan selalu menawarkan bantuan yang terasa seperti intervensi.
Siang itu, Juna meminta Aura makan siang di kantornya.
“Aku dengar dari salah satu timku, suamimu akan pergi ke Bali?” tanya Juna santai, saat mereka menikmati hidangan sushi premium.
Aura mendongak, terkejut. Juna selalu tahu segalanya.
“Ya. Ia ada proyek fotografi di sana,” jawab Aura singkat.
“Proyek besar, tentu saja,” Juna tersenyum sinis. “Ra, aku akan memberitahumu satu hal, dari sudut pandang bisnis. Aku tidak peduli dengan hubungan pribadimu. Tapi aku peduli dengan stabilitas mitra kerjaku.”
Juna mencondongkan tubuhnya. “Aku berinvestasi padamu, bukan pada Reno. Aku tahu berapa utang pribadinya di bank. Aku tahu berapa kali ia berjanji akan membayar costume talent tapi malah kamu yang menalangi.”
Aura merasa jantungnya mencelos. Bagaimana Juna bisa tahu detail pribadi sejauh itu?
“Itu melanggar privasi, Juna,” protes Aura.
“Itu adalah due diligence, Ra. Aku tidak bisa mempertaruhkan miliaran rupiah hanya karena suamimu punya kebiasaan buruk dalam mengelola uang,” tegas Juna. “Aku memberimu pilihan nyata sekarang.”
Juna mengeluarkan dua dokumen:
Kontrak Kemitraan Final PT. Wiratama Karya: Kontrak ini menjamin Aura Design & Co. sebagai mitra utama selama lima tahun ke depan, dengan keuntungan yang menjanjikan stabilitas tak terbatas.
Surat Penawaran: Sebuah penawaran resmi untuk membeli 51% saham Aura Design & Co. dengan harga dua kali lipat dari nilai asetnya. Dengan ini, Aura akan menjadi Chief Designer dengan gaji sangat besar, tanpa lagi memegang risiko finansial perusahaan. Wiratama Karya akan mengambil alih semua hutang dan kewajiban.
“Pilihan pertama, kita mitra. Kamu bisa mempertahankan 100% perusahaanmu, tapi kamu harus membuktikan bahwa kamu tidak akan terganggu lagi oleh masalah rumah tangga,” jelas Juna. “Pilihan kedua, aku ambil alih bebanmu. Kamu tetap kaya, kamu tetap dihormati, tapi kamu bebas dari risiko. Aku akan menanggung badai finansialmu, asalkan kamu memutuskan untuk benar-benar lepas dari bebanmu, Ra.”
Juna tidak perlu mengatakan, "Lepas dari bebanmu" berarti "Ceraikan Reno."
“Aku tidak bisa menjual perusahaan yang aku bangun dengan tanganku sendiri,” bisik Aura, matanya menatap dokumen tawaran saham itu. Itu adalah jalan keluar dari semua masalahnya dengan Reno.
“Kamu tidak menjual perusahaan, kamu menjual risikomu, Ra,” balas Juna. “Kamu membeli kebebasan finansial dan mental yang tidak bisa diberikan suamimu. Pikirkanlah. Tinggalkan saja Reno, dia akan baik-baik saja, dan kamu akan menjadi arsitek paling dihormati di negara ini, tanpa beban.”
Juna berdiri. “Aku butuh jawaban sebelum akhir minggu. Pikirkan masa depan Aurelia, Ra. Bukan masa depan Reno.”
Jalan Pulang yang Menentukan
Aura kembali ke rumah dengan dua dokumen itu. Ia berjalan ke kamar Reno. Reno sedang berkemas, dengan ransel tua dan wajah penuh tekad.
“Aku dapat tiket murah,” kata Reno, mencoba tersenyum. “Aku harus mengorbankan sebagian kecil tabungan pribadiku, tapi aku bisa. Aku akan buktikan aku bisa, Ra.”
Melihat Reno yang bersemangat, mencoba memperbaiki dirinya dengan caranya sendiri yang idealis, hati Aura kembali terluka. Ia mencintai semangat itu. Tetapi ia memegang kontrak Juna yang menawarkan stabilitas selama lima puluh tahun.
“Reno,” panggil Aura, memegang bahu suaminya. “Berapa lama kamu butuh waktu di Bali?”
“Maksimal dua minggu. Setelah itu, aku janji aku akan kembali dan kita akan mulai lagi. Aku akan membayarmu kembali.”
Aura menggeleng. “Tidak. Jangan janji apa-apa lagi.”
Aura memandangi wajah tampan suaminya. Ia adalah pria yang tulus mencintainya, tetapi pria yang tidak pernah bisa tumbuh dewasa. Pria yang akan selalu menjadi beban yang dicintai.
Aura membiarkan tangannya meluncur ke tas kerjanya. Kontrak di dalam tas itu terasa panas.
Aku bisa memilih untuk mendukungnya, tetapi aku mungkin bangkrut.
Aku bisa memilih Juna, dan aku bisa menyelamatkan diriku.
Ia berada di persimpangan jalan. Jalan pertama adalah Reno: penuh badai, ketidakpastian, tetapi hangat dengan cinta sejati. Jalan kedua adalah Juna: dingin, stabil, tetapi menjamin kemakmuran dan kedamaian yang sangat ia dambakan.
Malam itu, Aurelia tahu: ia harus membuat keputusan yang paling menyakitkan dan paling logis dalam hidupnya.
[Akhir Bab 5]