BAB 5 Dia yang mengaku suami di masa depannya (2)

1125 Words
Begur, Provinsi Girona-Spanyol Dee tidak tahu berapa lama dia tertidur setelah mengalami jetlag, ketika dia bangun hari sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dalam perjalanannya kali ini, Dee sama sekali tidak menyiapkan apapun kecuali membawa barang bawaannya. Semua telah diatur oleh Simon bahkan untuk urusan keluarganya juga. “Inikah rasanya memiliki kekasih seorang perfeksionis? Sangat menyenangkan dapat berlibur tanpa harus merencanakan apapun,” masih dalam selimut Dee bergumam. Saat Dee menyapu sekeliling, Dee baru menyadari bahwa desain interior ruangan yang ditempatinya terlihat klasik. Beberapa lukisan bunga tergantung di dinding kamar, dan ada satu sofa besar di depan tempat tidur miliknya. Dee hanya ingat bahwa Simon mengatakan dia telah menyewa apartemen Es Cau selama sepekan untuk mereka tinggal selama liburan ini. Dee meregangkan tubuhnya. Kota Begur masih terlihat cerah meskipun jam menunjukkan waktu malam. Mungkin ini karena musim panas. Setelah berpikir untuk makan malam, Dee memutuskan untuk mandi. Saat Dee memasuki ruang makan, dia melihat bahwa baik keluarganya maupun keluarga Simon telah berkumpul di meja makan dengan hidangan khas spanyol. Bau roti dan daging menguar dari meja makan membuat perut Dee menyadari bahwa dia lapar. “Malam ma, pa,” satu kecupan mendarat di pipi masing-masing ayah dan ibunya sebelum gadis itu menarik kursi untuk duduk tepat di sebelah Simon. “Mama hampir saja mengira kamu akan menjadi putri tidur yang memerlukan pangeran Simon datang membangunkan.” “Kalau mama bicara seperti itu, aku jadi menyesal sudah bangun lebih dulu tanpa menunggu pangeran Simon membangunkanku," celetukan Dee disambut gelak tawa semua orang. Simon mengusap puncak kepala Dee, “ makanlah setelah ini aku akan mengajakmu berkeliling.” “Oh ya, aku tidak melihat Aram. Dimana dia?” “Apa lagi? Adikmu itu dipaksa oleh Vee menemaninya menemui ayahnya. Jika melihatnya papi teringat padamu dulu yang mengejar-ngejar Simon.” Dee tersedak di sela-sela makannya. Wajahnya memerah entah karena malu atau ada sisa makanan di tenggorokannya yang salah masuk ke jalur pernafasannya. “Kenapa sangat ceroboh? Ini minum.” Mamanya menuangkan air minum sedangkan Simon dengan sigap menepuk-nepuk punggungnya. “Papi, aku tidak melakukan hal seekstrem Vee oke?” “Apanya yang tidak? Kita semua masih sangat ingat dengan jelas saat kamu yang masih memakai TK kamu menangis dan nekat mengancam supir untuk mau mengantarkanmu ke IBS demi menemui Simon. Kamu bahkan membawa buku gambar dengan tulisan pengakuan cintamu pada Simon. Aduh…kalau mama ingat peristiwa itu, mama sangat malu mengakui kamu anak mama.” Wajah Dee semakin memerah, “Apa? Kapan? Aku tidak ingat itu!” meskipun Dee mengelak tapi entah kenapa dia merasa sangat malu. Apa benar dulu dia telah melakukan hal itu? kenapa dia sama sekali tidak ingat? Dee hanya ingat bahwa dia memang mengejar Simon saat di bangku SMP bukan bukan saat masih TK yang berbau s**u. “Aku juga masih sangat ingat kok. Saat itu kamu di lapangan , meminjam speaker satpam dan berteriak memanggil-manggil namaku. Saat itu jujur aku ingin bersembunyi di lubang semut. Bayangkan aku di kejar-kejar gadis TK berbaju merah dengan wajah bayi di depan seantero sekolah. Bahkan dari siswa SD sampai SMA saat itu melihat ke lapangan dan mencari-cari siapa itu Simon Hyder yang sangat disukai gadis kecil manis bergaun merah itu.” “Serius aku melakukan hal itu?” Dee bertanya sungguh-sungguh berharap bahwa semua ini hanya omongan kosong keluarganya dan keluarga Simon untuk mengerjainya. Namun sayangnya jawaban ayahnya mematahkan secuil harapannya itu. “Apa yang bukan? Kamu tahu saat itu papa harus membatalkan meeting karena panggilan kepala sekolah IBS? Adam bahkan tidak dapat berhenti tertawa selama perjalanan menjemput Simon yang menangis. Hais,darimana aku mendapatkan anak pembuat onar sepertimu?” Lalu obrolan mereka berlanjut mengenang kelakuan Dee pada saat mengejar-ngejar Simon yang bahkan sama sekali tidak ada di dalam ingatannya. Sumpah! Dee sangat merasa malu. Tidak menyangka bahwa dia akan segila itu mengejar Simon. Jadi dia telah suka pada Simon sejak kecil? Wah! Luar biasa! *** “Ada apa? Masih merasa malu dengan tingkahmu saat kecil?” Genggaman tangan Simon terasa hangat menggandeng tangan Dee. Saat ini Simon mengajak Dee menuju kolam piscina es cau de Begur. Sebuah kolam alami yang tidak jauh dari apartemen Es Cau yang mereka sewa. Meskipun saat ini musim panas, namun mereka tetap mengenakan mantel panjang saat mereka keluar untuk berjalan-jalan. “Bukan, hanya saja aku merasa aneh kenapa aku sama sekali tidak ingat akan hal itu? kenapa aku hanya ingat aku mengejarmu setelah kamu menungguiku di rumah sakit saat kecelakaan? Oh, tapi aku ingat bahwa kita juga pernah kecelakaan bersama saat pulang dari pesta bukan?” Simon menghentikan langkahnya. Menghadapkan tubuh Dee untuk melihatnya. “Tidak masalah kamu tidak ingat. Jangan paksakan untuk mengingat, dokter sudah mengatakan bahwa jika memaksa mengingat masa lalu yang telah kamu lupakan itu hanya akan membuatmu sakit.” Simon menarik tangan Dee dan menangkapnya kedalam pelukannya. Simon tahu bahwa gadis dalam pelukannya ini selalu berusaha mengingat ingatannya yang telah hilang setelah kecelakaan enam tahun lalu. Mungkin karena cerita malam ini, gadis ini kembali ingin mengingat kenangan dulu. “Aku akan menuliskan masa depan yang baru dan indah. Jadi tidak masalah kamu melupakan kenangan masa kecil kita.” Simon dapat merasakan anggukan Dee di dalam pelukannya. “Tapi kak, aku selalu merasa aneh,” “Apa?” “Aku tidak ingat semua yang kalian katakan, tapi aku jelas ingat bahwa saat aku masih kecil mungkin juga aku masih TK, aku mungkin pernah ingin menemuimu namun aku tersesat. Lalu seorang anak laki-laki yang mungkin seumuran kakak menolongku dan mengantarkanku ke pos jaga. Aku tidak ingat dimana aku saat itu, hanya ingat bahwa di sekelilingku bangunannya terlihat klasik.” Wajah Simon berubah, namun saat dia melepaskan pelukannya dari Dee, Simon kembali memasang wajah lembut. “Lalu? Apa kamu ingat wajah anak itu?” Simon melihat Dee menggelengkan kepalanya, “Aku tidak ingat.” “Tapi aku sangat ingat lelaki itu memiliki warna mata hijau sepertiku terlihat sangat cantik. Yang lebih aneh lagi dia mengatakan padaku bahwa dia mungkin akan menjemputku. Oh ya, aku tidak tahu aku bermimpi atau memang ini ingatan masa lalu, tapi sangat lucu anak laki-laki itu mengatakan padaku bahwa dia adalah suaminya di masa depan. lucu kan? Aku rasa aku memang bermimpi bukan ingatan.” Tangan Simon sedikit bergetar, dia memandang Dee sebelum dia bertanya dengan hati-hati, “Kamu ingat namanya?” “Kenapa? Apa dia memang teman kita? Wah! Kalau begitu mungkin ingatanku tidak sepenuhnya hilang. Aku ingat anak itu mengatakan Maximiliam, mungkin itu namanya?” Jantung Simon seolah berhenti. Berbeda dengan wajah polos Dee, wajah Simon tampak pucat mendengar nama itu dari bibir gadis itu. Mungkinkah perjanjiannya adalah saat ini? Simon tidak dapat menahan rasa takutnya. Sedangkan tak jauh dari mereka, sosok lelaki tinggi berbaju hitam dengan tongkat di tangannya nampak seolah memandang keduanya. Bibir lelaki itu terangkat, “Sudah waktunya,” gumam lelaki itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD