Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan Mandala air plane dengan tujuan Madrid akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih 17 jam dan 25 menit. Kepada penumpang…
Suara pramugari terdengar sayup-sayup dari kursi eksklusif yang di tempati Dee dan Simon. Pada akhirnya daripada pulau Vadhoo, Simon telah merubah tiket mereka untuk pergi ke kota Begur—Spanyol. Ayah Dee duduk di kursi paling depan dengan mamanya, sedangkan di samping mereka adalah kedua orang tua Simon, papi Adam dan mami Laras—begitu cara Dee memanggil mereka. Aram mendapatkan kursi tepat di belakang Dee, bangku nomor empat yang lucunya entah kebetulan atau tidak dia mendapatkan kursi berdampingan dengan Vanessa. Saat Dee bertanya pada Vanessa apakah dia yang merencanakannya, Vanessa menjawab bahwa dia sama sekali tidak merencanakannya. Kebetulan saat kemarin memesan pesawat ke pulau Vadhoo agar bisa mengikuti Aram, Vee mengatakan bahwa ayahnya memintanya untuk menyusulnya ke kota Coruna untuk membantunya dalam pertemuan bisnis.
“Aku sempat menangis semalaman dan mengutuk Tuhan karena membuat aku tidak dapat bersama dengan Aram. Siapa yang sangka ternyata Tuhan sangat baik menggagalkan rencanaku ke Vadhoo dan justru harus ke spanyol. Aku pasti berjodoh dengan Aram.”
Begitulah ucapan Vanessa sebelum sahabatnya itu mengekori Aram masuk ke pesawat dengan girangnya tidak peduli dengan wajah masam adiknya itu. Mengingat kejadian pagi tadi, Dee tidak bisa menahan diri untuk tertawa di dalam dekapan Simon. Mau tidak mau hal itu membuat Simon yang tengah melihat beberapa kasus penelitian tentang kanker di tablet miliknya menoleh pada tunangannya itu dengan wajah bertanya,
“Ada yang lucu?”
Dee mendongak demi dapat bertatapan dengan Simon, “Kamu tidak berpikir bahwa Vee dan Aram itu berjodoh?”
“Kenapa kamu berpikir demikian?”
“Ya lucu kan? Padahal Vee sudah mau memesan tiket ke Vadhoo tapi dia secara tiba-tiba harus mengikuti ayahnya ke spanyol. Coba kamu pikirkan, dimana ada kebetulan yang sangat tiba-tiba seperti cerita novel. Mereka pasti berjodoh.”
Simon membutuhkan waktu beberapa detik untuk lelaki itu membalas Dee, “ Mungkin saja memang tertulis seperti itu.”
“Apa?”
“Tidak ada. kamu benar, mungkin mereka memang jodoh.”Simon melayangkan satu kecupan di kening gadis itu sebelum melanjutkan, “Perjalanan akan panjang, kamu tidurlah dulu nanti akan aku bangunkan saat kita melewati tempat yang indah di perjalanan.”
“Aku tidak mengantuk," Dee menjawab.
“Mau aku bacakan sebuah dongeng?”
Dee merengut, “Aku sudah dua puluh empat tahun, dan aku sudah hapal sebagian besar dongeng baik itu lokal, internasional, atau bahkan karangan aneh mama.”
Mendengar jawaban polos tunangannya itu, Simon tidak dapat menahan kekehannya.
“Mau baca novel? aku sudah membawakan tiga buah novel agar kamu tidak jenuh.”
“Simon yang bacakan.”
Simon menyentil hidung Dee, “Siapa yang mengajarimu memanggilku hanya dengan nama? panggil aku kakak.”
“Cih,sekali-kali boleh dong. Aku lebih suka memanggil Simon dengan Sayang.”
Simon meletakkan tablet miliknya di kap kursi sebelum sepenuhnya fokus pada Dee, “Kalau begitu panggil aku sekarang.”
“Apa?” Dee bertanya polos.
“Coba panggil aku sayang sekarang.”
“Oh? Sayang…” dengan wajah polos dan suara yang lembut, Dee memang sengaja menggoda Simon berharap dia dapat melihat wajah malu Simon. Siapa yang sangka bahwa satu kata itu membuat Simon segera merubah wajahnya.
“Kalau kamu berkata demikian, aku tidak bisa menahannya.”
“Hah? Ap-” belum sempat Dee menimpali perkataan Simon, lelaki itu sudah lebih dulu menyambar bibir plum miliknya.
Pada akhirnya Dee tertidur setelah Simon beberapa kali menggodanya. Simon memakaikan selimut hingga leher Dee dan mengatur posisi kursi pesawat agar nyaman untuk Dee tidur. Simon tersenyum saat memandang wajah polos tunangannya itu saat tidur. Siapa yang menyangka gadis yang sangat cerewet ini akan sangat manis saat tertidur. Saat Simon mengusap kepala gadis itu, dari tubuh milik Dee samar-samar tercium aroma familiar bagi Simon. Simon mengerutkan keningnya. Ini aroma yang menenangkan dan lembut. Hanya saja Simon entah bagaimana tidak menyukai aroma yang kemungkinan adalah parfum baru yang Dee ceritakan. Memories—nama parfum itu.
“Apa kakak sudah tidur?” Suara Aram terdengar dari belakang kursinya. Sepertinya Vanessa juga telah tertidur.
“Ada apa?” bukan menjawab, Simon justru balik bertanya.
“Tidak ada, hanya saja aku merasa aneh kenapa kamu merubah wisata keluarga kita?”
“Tidak ada alasan khusus. Toh Raka juga sedang melakukan study banding disana. Selain itu Dee mengatakan ingin mengunjungi tempat dimana drama favoritnya syuting.”
“Kak Simon yang aku tahu adalah seorang perfeksionis yang bahkan untuk ke toilet masuk dalam agenda harian.” Aram tidak akan percaya bahwa perubahan tempat wisata ini hanya sebuah kebetulan.
Simon tersenyum, “Kamu memang sangat menyayangi kakakmu dan teliti ya. Tapi kamu dapat tenang, apapun yang aku lakukan saat ini murni untuk membuat kakakmu bahagia. Kamu tidak perlu cemas,” jawabnya dari balik kursi. Tangan Simon dengan lembut mengusap kepala Dee sebelum dia kembali berkata,
“Aram, jika disana nanti tolong sebisa mungkin kamu harus mengawasi kakakmu saat berada di pantai saat aku tidak ada atau sedang tidak berada di sampingnya.”
“Hah?” Aram tidak mengerti. Sisi lain dari Simon yang Aram temukan inilah yang membuat Aram tidak nyaman dengan lelaki itu. Ada kalanya Simon terlihat misterius yang akan dengan cepat atau lambat membuat kakaknya tersakiti.
Saat pertama kali mengenal Simon, Aram selalu menganggap Simon memiliki kepribadian ganda. Lelaki itu selalu tanpa ekspresi selalu tersenyum, ramah, dan lembut pada semua orang. Namun Aram dapat merasakan bahwa itu semua palsu. Sifatnya yang seperti itu hanya akan terlihat tulus saat bersama kakaknya saja. Di suatu saat, Aram pernah merasa bahwa Simon seolah seorang dari dunia lain yang mengetahui setiap hal yang akan terjadi. Namun lama kelamaan Aram tahu bahwa Simon hanyalah seorang yang terlalu sempurna mengatur hidupnya dengan selalu memplaning semua hal yang akan dilakukannya.
Jadi Aram tidak akan percaya bahwa liburan keluarga mereka yang diubah ini adalah hal yang tidak masuk dalam rencananya jauh-jauh hari.
“Aku tidak tahu rencanamu. Tapi jika hal itu membuat kakakku menangis, aku tidak akan memaafkannya.”
Aram dapat merasakan bahwa Simon tersenyum. Atau itu hanya perasaannya saja.
“Kamu memang diatur untuk sangar protektif pada kakakmu. Tapi aku menyukai hal itu.”
“Apa sih yang kamu bicarakan?”
“Tidak ada, sebaiknya kamu juga istirahat. Karena nanti kamu butuh tenaga lebih untuk mengawal empat wanita.”
“Siapa yang menyetujui aku juga harus menjaga gadis ini?” Aram melirik Vanessa yang tidur di sampingnya. Rasanya sangat damai tidak mendengar celotehan gadis itu yang selalu menggodanya.
“Kamu mengatakan hal itu, tapi kamu bahkan tidak tega menarik tangan kirimu darinya,” ucap Simon yang kini tengah membuka kembali tablet miliknya dan mulai membaca kembali jurnal penelitian medis.
Wajah Aram memerah, dia melirik tangan kirinya yang dipeluk oleh Vanessa. Dia memang tidak tega menarik tangannya karena takut akan membangunkan gadis itu. Tapi aneh, kenapa Simon bisa tahu? Kursi penumpang lebar sehingga menghalangi pandangan orang di depan untuk melihat ke belakang. Darimana Simon tahu? Calon kakak iparnya itu tidak akan memiliki mata di belakang kepalanya kan?