Namanya Calista Dian Efendy—dua puluh empat tahun dan akrab dipanggil Dee. Calista artinya yang tercantik, Dian adalah pelita, dan Efendy adalah marga keluarganya, jadi Dee memiliki arti nama, gadis tercantik pelita keluarga Efendy. Dee memiliki latar belakang keluarga yang sangat baik di dalam finansial. Menjadi anak pertama setelah tiga tahun orang tua Dee menikah muda karena perjodohan , mungkin karena itu orang tua Dee sangat memanjakannya—berpikir bahwa Dee adalah pembuka keberkahan dan pelita di keluarga mereka. Karena memang setelah Dee terlahir, usaha orang tua Dee mengalami peningkatan dan Aram—adik Dee terlahir empat tahun setelah kelahiran Dee. Hubungan antara Jonathan ( ayah Dee) dan Amel ( mama Dee) seakan menjadi selayaknya keluarga sesungguhnya sejak kelahiran Dee. Wajar saja jika Dee sangat dicintai kedua orang tuanya dan dimanjakan hingga titik dimana Dee sama sekali belum pernah merasakan rasa kekurangan sedikitpun. Tumbuh dengan cinta keluarga yang begitu besar, tidak mungkin tidak ada penyimpangan moral pada gadis itu. Dee masih tumbuh menjadi gadis yang baik. Setidaknya dia bukan termasuk gadis manja yang akan membully orang yang lebih rendah darinya. Meski begitu, Dee bukanlah gadis yang sangat baik yang akan membela kebenaran atau menengahi jika dia melihat pembulian di depan matanya. Dee juga termasuk orang yang akan membantu orang lain bukan tanpa pamrih.
Dan tidak ada yang tahu bahwa Dee memiliki sebuah rahasia. Rahasia yang dia simpan rapat bahkan dari keluarganya sendiri. Tentang kemampuan Dee yang dapat melihat warna sebuah bau dan masa lalu orang lain. Kemampuannya ini ia dapatkan semenjak Dee menjalankan cangkok mata disebabkan Dee kehilangan penglihatannya diumur enam belas tahun pada sebuah kecelakaan mobil. Semua memang sangat aneh. Pertama, Dee mendapati warna matanya bukan cokelat seperti yang orang tuanya beli dari pendonor, melainkan hijau zamrud seperti giok saat Dee membuka matanya. Bagaimana hal itu terjadi, bahkan sampai sekarang Dee tidak tahu. Kedua, begitu membuka matanya dengan mata barunya ini, Dee mengalami fenomena aneh. Dimana dia dapat melihat partikel-partikel yang melayang pada semua benda yang dia lihat yang saat ini Dee pahami adalah warna dari sebuah bau. Misal saat mencium buah jeruk, bukan hanya membau aroma buah tersebut, Dee juga dapat melihat warna dari aroma buah jeruk itu sendiri. Meski awalnya banyaknya warna membuat Dee mual bahkan sampai muntah, namun saat ini Dee justru dapat memanfaatkannya untuk meraih keinginannya untuk menjadi seorang perfumer. Ketiga, Dee juga sadar bahwa matanya ini dapat membuatnya melihat sebagian masa lalu yang paling rahasia dari seseorang dengan hanya melihat dan berkonsentrasi pada orang itu. Dan Dee juga memanfaatkan hal yang sama untuk melancarkan kehidupannya.
“Kak, Vanessa akan ikut?”
Dee hampir saja melompat kaget ketika mendengar suara yang tiba-tiba saja ada di dekatnya. Aram sialan!
Setelah mengunjungi Simon, memastikan bahwa lelaki itu tidak gila kerja, Dee langsung kembali ke rumah dan entah bagaimana dia dapat tertidur selama dua jam. Dia tidak dapat mengatakan dia tidur dengan nyenyak karena lagi-lagi dia bermimpi hal aneh. Tentang lelaki asing yang terus memanggilnya. Tidak mau memikirkan mimpinya itu, Dee langsung menyiapkan semua perlengkapan yang akan dia bawa untuk ke pulau Vadhoo. Terutama baju pantai, parfum beraroma buah dan tentu saja parfum terbarunya memories. Dee tidak sabar untuk memakai parfum itu di pulau Vadhoo. Kira-kira kenangan apa yang akan tercipta dari liburan ini dengan menyemprotkan parfum itu.
“Vanessa, gadis itu ikut kita?” Aram mengulangi pertanyaannya.
“Bisa tidak mengetuk pintu sebelum masuk? Kamu ingin membuat aku mati karena serangan jantung?”
Aram memutar matanya, “ kudengar kucing memiliki Sembilan nyawa.”
“Kamu pikir kakakmu kucing?”
“Jawab saja pertanyaanku. Apa Vanessa akan ikut?”
Vanessa adalah gadis periang yang mengejar adiknya Aram sejak mereka bertemu pertama kali di jamuan makan malam saat Vanessa berumur sepuluh tahun. Karena pertemuan itu Vanessa kini menjadi sahabat dekat Dee. Dee kira kesukaan Vanessa pada Aram hanya sementara, hanya cinta monyet anak berumur sepuluh tahun pada adik lelakinya yang saat itu jelas berumur enam tahun. Siapa yang menyangka bahwa gadis itu masih saja mengejar Aram hingga saat ini. Sungguh luar biasa! Eh? Kalau dipikir dengan baik, hubungan dia dan Simon juga tidak jauh beda. Bertemu saat kecil, jatuh cinta, mengejar, dan sekarang menjadi tunangan. Mungkin sekarang jamannya gadis memperebutkan lelaki?
“Ini kan acara keluarga kita dan Simon, mana mungkin Vee ikut. Kenapa? Kamu berharap dia ikut?”
Aram mendengus,“ Baguslah jika gadis itu tidak ikut. Itu akan merepotkan.” Tanpa bicara lagi Aram sudah berjalan keluar dari kamar Dee.
“Aku memang tidak bilang Vee ikut dengan kita. Tapi aku juga tidak bilang kalau gadis itu bisa saja berlibur sendiri kan?”
“Yak! Jangan berpikir untuk membuatnya ikut dengan kita!”
“Tuan muda kecil, kenapa kamu bersikap seolah Vee adalah wabah?” Dee masih tidak mengerti kenapa adiknya ini sangat menghindari sahabatnya itu. Meskipun lebih tua dari Aram, tapi karakter Vanessa yang ceria, pemberani, dan bahkan dia memiliki anugerah wajah seperti bayi.
“Aku rasa Vee justru terlihat lebih muda darimu, kenapa kamu sangat anti padanya?”
“Kak, memang kamu pikir aku menghindarinya karena fisik?” Aram balik bertanya.
“Kenapa tidak? Lelaki adalah mahluk visual dan terlebih lagi wanita yang berani mengejar lelaki itu sangat keren.”
“Dengarkan aku, meskipun kami para lelaki adalah mahluk visual, tapi pada suatu hubungan kami lebih menyukai hal yang bebas. Coba saja kamu bertanya pada kak Simon, apakah dia akan senang atau justru lari jika kamu terus mengejar, menempel, dan juga tidak pernah membiarkannya memiliki waktu pribadi? Aku jamin daripada membuat senang, dia akan merasa di teror,” saat mengatakan hal itu, Aram terbayang ulah Vanessa satu minggu ini yang terus mengikutinya. Sontak tubuhnya merasa merinding.
“Simon tidak tuh, buktinya dia sekarang jadi tunanganku setelah aku kejar-kejar dia.” Cara bicara Dee terdengar bangga yang membuat Aram heran bukan main.
“Jika itu adalah kakakmu, maka aku justru akan sangat senang sekali.” Sebuah suara berat datang dari belakang. Simon—lelaki itu muncul dari balik pintu berjalan masuk mendekati Dee.
“Bukankah kamu mengatakan lembur hari ini?” Dee bertanya bingung. Sebelum Dee mendapatkan jawaban, sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya sebelum dia mendengar suara lembut tunangannya itu, “Aku mengantarkan tiket baru kita.”
Simon lantas mengeluarkan tiket dari kantung mantelnya. Ada empat tiket yang sekarang berpindah ke tangan gadis itu.
“Tiket baru ini…eh? Kamu mengubahnya untuk besok?” Dee membelalak melihat jadwal penerbangan yang tertera di tiket itu.
“Bagaimana? Kamu suka kejutan dariku?”
“Suka! Simon yang terbaik!” Dee melompat memeluk tunangannya itu. Dengan sigap Simon menangkap gerakan tiba-tiba Dee bersamaan dengan teguran halusnya.
“Jangan pernah melakukan lompatan seperti itu, kakimu masih belum diperbolehkan melakukan gerakan tiba-tiba sebelum pen di kakimu dilepas oke?”
“Aye captain! Aku akan mencoba mengingat kata dokter.”
Aram mendengus, meskipun sudah biasa melihat tingkah keharmonisan dua pasangan di depannya sejak kecil, namun tetap saja Aram merasa geli saat melihat mereka. Jadi dengan sangat sadar diri Aram meninggalkan keduanya setelah mengambil dua bungkus snack milik Dee yang harusnya akan dibawa gadis itu untuk perjalanan mereka besok.
“Sudah membereskan semua yang akan dibawa besok?” Simon bertanya dan Dee menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
“Masih banyak yang belum aku bawa. Aku akan membereskannya saat ini juga.”
“Kalau begitu aku akan membantumu.”
Dee dengan tegas menolak, “Nggak! Kakak bereskan saja apa yang akan di bawa besok. Atau istirahat saja. Kamu pasti sangat kecapaian.”
“Aku sudah-“
Ibu jari Dee menghentikan ucapan lelaki itu, “ Dokter, yang akan aku bereskan adalah dalamanku dan juga barang pribadiku. Jadi sekarang kamu harus istirahat saja! Kamu bisa tidur di kamar tamu.” Dee memutar tubuh Simon lalu mendorong punggung lelaki itu keluar dari kamarnya. Simon tampak membantah, namun Dee dengan tertawa tetap membuat lelaki itu keluar dari kamarnya.
Dalam keharmonisan keduanya, tanpa mereka sadari dari balik jendela ada sosok hitam yang memandangi keduanya dari balik kacamata hitam miliknya.