Ruangan Simon hampir tertata sama rapinya seperti apartemen pribadi lelaki itu. Yang berbeda mungkin hanya perpaduan warnanya saja. Ada meja, ruang duduk, toilet, dan Dee juga menemukan ada pintu lain bersebelahan dengan toilet—mungkin itu tempat tidur sementara jika Simon memiliki jadwal malam. Jika di apartemen Simon memenuhi semua hal dengan warna pastel dan abu-abu hingga terlihat simpel dan elegan, namun disini berganti warna pastel dan putih. Mungkin karena ini rumah sakit, tidak cocok untuk memiliki warna abu di ruang pribadi. Sedangkan untuk pengharum ruangan sendiri, Dee sangat hapal aroma ini. Ini adalah aroma laut yang menyegarkan yang merupakan salah satu produk parfum dari tokonya—Blue Ocean. Itu adalah parfum keluaran tahun lalu yang memiliki aroma uniseks ( cocok untuk semua gender) dimana dia berhasil memadukan unsur kimia yang dicampurkan hingga memiliki aroma seperti lautan. Sangat sejuk dan menenangkan. Dee selalu memberikan produk barunya yang unisex untuk Simon coba pertama kali. Tidak menyangka Simon akan sangat menyukai aroma itu dan bahkan memasangnya sebagai pengharum ruangan di tempat kerjanya. Pantas saja Raka selalu rutin membeli parfumnya setiap dua minggu sekali. Dee kira itu hanya untuk melariskan parfumnya saja. Ternyata memang benar dipasang. Tapi aroma laut ini memang sangat cocok untuk menghilangkan bau disinfektan dan obat yang menyengat.
“Duduklah di sofa. Aku akan meminta OB untuk membuatkanmu minuman.” Simon meletakkan bekal yang dibawa Dee diatas meja ruang duduk lalu memberikan tas selempang Dee pada gadis itu. Dee menurut. Namun dia tidak duduk melainkan merebahkan tubuhnya diatas sofa.
Ini sangat nyaman!
Dee berpikir mungkin dia akan membeli satu sofa ini untuk dia pasang di dalam kamarnya. Kira-kira berapa harganya ya?
“Apa yang ingin kamu minum? Teh, s**u, atau jus?”
Saat Simon mendekat, Dee sengaja menggeser tubuhnya untuk menyisihkan ruang untuk Simon duduk.
“Aku ingin jus alpukat dengan s**u cokelat yang banyak.”
“As you wish Princess.”
Dee merasakan kecupan ringan di dahinya lalu melihat tunangannya itu berdiri dan berjalan ke mejanya untuk menelepon.
Saat Simon memesankan minuman untuk mereka berdua, Dee mengambil kesempatan untuk membuka bekal yang telah dia bawa. Total ada tiga kotak di rantang yang Dee bawa. Ini adalah makan siang pertama yang Dee buat sendiri untuk Simon. Setelah enam bulan belajar memasak makanan sehat dan kesukaan Simon pada mami Laras— panggilannya untuk mama Simon. Dee membuat menu sederhana. Ada mashed potato yang dia taruh di kotak paling bawah. Lalu ada kimbab vegetarian, perkedel tahu, salad ayam yang dia taruh di kotak kedua, dan terakhir adalah ayam teriyaki dan sayur rebus di bagian paling atas. Semua itu adalah makanan kesukaan Simon kecuali teriyaki.
Dee sudah menata bekal diatas meja dan sengaja menyisihkan bekal yang berisi teriyaki kesamping. Saat Dee mengamati asap yang keluar dari makanan, Dee dengan sangat hati-hati melihat partikel yang keluar dari semua makanan. Mendapati bahwa semua makanan itu mengeluarkan partikel yang sama dengan apa yang dibuat oleh mami Laras—Dee akhirnya mengangguk puas. Mungkin bagi orang biasa bau lezat makanan sudah cukup untuk indikasi kelezatan, namun bagi Dee yang dapat melihat warna dari sebuah bau, maka Dee akan memastikan bahwa masakan yang dia buat memang sudah benar dengan kecocokan warna yang terkumpul dari bercampurnya setiap bumbu. Mungkin jika dia tidak menjadi seorang perfumer, Dee akan mencoba mejadi koki—tentu saja koki dengan resep membeli. Karena Dee sama sekali tidak memiliki bakat untuk berkreasi dengan masakan.
“Mami memasakkan ini semua? Sangat banyak.”
Simon sudah melepaskan jas dokternya dan kini terlihat hanya memakai kemeja abu-abu dengan lengan yang sudah disisingkan. Dee tidak mau mengakui bahwa Simon memang sangat tampan dengan penampilan seperti ini.
“Semua ini aku yang masak. Kalau tidak percaya tanya saja pada Mami.” Dee merasa bangga dengan pencapaian ini.
“Benarkah?” Simon tampak tersenyum menggoda.
“Kalau begitu mungkin aku harus mempersiapkan obat pencahar?”
Dee merengut, “ Kalau begitu tidak usah dimakan!”
Simon buru-buru menimpali sebelum menjadi masalah, “Aku bercanda!”
“Masakan yang dibuat oleh Dee pasti enak,” lanjutnya.
“Kalau begitu kamu bisa coba. Aku jamin ini akan sangat enak.”
“Oke.” Simon menghela nafas lega. Diam-diam lelaki itu mengingat-ingat periode bulanan milik Dee. Dan setelah menghitung dengan baik, Simon merasa wajar dengan mood tunangannya yang berubah-ubah hari ini. Jika menurut medis saat ini Dee tengah berada di fase premenstruation syndrome (PMS). Pantas saja tindakannya saat cemburu sangat berbeda dari biasanya. Mungkin Simon akan menanyakan masalah gosip itu dilain hari. Lelaki itu memilih sofa kecil untuk duduk dan mulai mengamati bekal yang sudah ditata oleh Dee.
Simon mengambil sendok yang disediakan dan mulai akan memilih makanan mana yang akan dia makan terlebih dahulu. Dari penampilan mungkin tidak serapi mami saat menyiapkan, namun masih terlihat indah dan aroma makanan ini masih tercium normal. Mungkinkah sekarang tunangannya ini sungguh bisa memasak?
“Apa itu yang masih di tutup?” Simon mengamati bekal yang dikesampingkan oleh Dee.
Dee langsung teringat akan bekal itu, “Oh, aku lupa menelepon Raka. Ini teriyaki dan rebusan sayur untuk Raka. Aku lupa memberikannya saat tadi bertemu.”
Mendengar bahwa tidak hanya dia yang dibuatkan bekal oleh Dee, Simon merasa hatinya tidak senang, “Kenapa anak itu juga kamu buatkan bekal?”
Bagi Simon, kalaupun bekal Dee itu tidak enak, dia tetap tidak suka jika gadis ini juga memasakkan makanan untuk lelaki lain—bahkan untuk adiknya sendiri. Rasanya tidak rela bahwa kekasihnya berusaha keras untuk memasakkan lelaki lain selain dirinya.
“Sayang, kamu tidak mungkin cemburu dengan Raka kan?”
“Apa yang salah?”
Dee mendengus, “Kalau begitu bagaimana dengan gosip yang beredar di rumah sakit? Aku rasa hal itu jauh lebih pantas dicemburui.”
Simon berdehem dan memalingkan muka, “ Oh, makanan ini kelihatannya enak.”
“Cih, mengalihkan pembicaraan.”
Simon pura-pura tidak mendengar apapun.
“Apa ada air mineral disini? Aku haus. Kenapa jusku lama sekali?”
“Ada di lemari pendingin di belakang meja kerja. Akan aku ambilkan.”
“Biar aku saja. Kamu makan.” Dee mencegah Simon yang sudah bersiap beranjak. Dee lantas mulai berjalan mendekati meja kerja. Ini adalah kali pertamanya berada di tempat kerja Simon. Gerakannya jelas canggung dan beberapa kali Dee tertarik untuk melihat sekeliling seolah merekam semua benda yang ada di ruangan milik Simon. Lemari pendingin ada di belakang kursi putar belakang meja kerja persis. Itu adalah lemari pendingin berukuran kecil. Saat Dee membukanya, itu hanya memiliki selusin yakult, dan tiga botol air mineral berukuran enam ratus Mili liter.
“Apa kamu tidak punya buah sama sekali? Setidaknya buah kalengan” Dee sungguh tidak mengerti. Kenapa para dokter selalu cerewet akan kesehatan pasien tapi dokter yang dia kenal justru tidak pernah memiliki kehidupan sehat sama sekali—termasuk Simon. Tidur larut malam, makan terlambat, hanya memakan makanan sekadarnya, apa mereka tidak takut ada pasien yang melaporkan dengan pasal penipuan?
“Perawat akan membawakan buah. Tapi aku biasanya tidak sempat untuk makan buah,” Simon menjelaskan dari ruang duduk.
“Lupakan saja. Aku akan membeli buah nanti dan mungkin kulkas baru untukmu. Akan aku penuhi dengan buah dan salad.” Dee mengambil dua air mineral dan menutup kembali pintu lemari pendingin. Tapi Dee berpikir bahwa itu tidak akan dia lakukan. Kenapa pula harus mengisi penuh kulkas di rumah sakit? Bukankah itu sama saja menginginkan Simon untuk menetap di rumah sakit tanpa kembali ke rumah? Atau justru lelaki itu akan mengajaknya kencan di rumah sakit?
Dee menggelengkan kepalanya, merinding memikirkan hal itu “Lebih baik kulkasmu kosong saja,” gumam Dee.
Dee meletakkan air mineral diatas meja. Lalu duduk di karpet berbulu.
Simon melihat gerakan Dee. memang tidak salah dia meminta OB untuk memasang karpet berbulu. Memang dulu Simon sengaja memasang itu untuk berjaga-jaga saat Dee berkunjung di rumah sakit—termasuk sofa panjang itu juga. Simon sendiri yang memilih untuk memastikan kelembutan sofa dan karpet yang terbaik. Karena Simon tahu bahwa selain parfum, hal yang disukai Dee adalah hal-hal lucu dan lembut. Dee menyukai bermalas-malasan di sofa dan diatas lantai. Simon tahu kebiasaan itu sejak kecil. Jadi semua yang ada di ruang duduk ini pada dasarnya disesuaikan dengan preferensi kesukaan Dee.
“Kenapa belum dimakan? Aku akan mengirim pesan pada Raka untuk mengambil bekalnya.”
“ iar nanti OB saja yang mengantar keruangan Raka. Tidak perlu memanggilnya.”
Dee terkekeh, geli dengan bagaimana Simon cemburu dengan adiknya sendiri,
“ Ya ampun…aye captain!”
“Oh ya, aku udah tentuin kemana kita dan keluarga kita berlibur besok. Kita ke Maldives ya! Aku udah pesan tiket sih untuk minggu depan, jadi aku nggak mau tau minggu depan kamu harus free selama satu minggu. Nggak ada alasan atau aku akan tetap jalan-jalan sama Raka dan mungkin cowok baru.”
“Kamu…” Simon menyentil dahi Dee membuat gadis itu mengaduh tidak terima.
“Ancaman kamu sungguh kekanakan," lanjut Simon.
Dee tersenyum cengengesan, “Tapi berhasil tidak?”
Bagaimana mungkin Simon bilang tidak? Tiket sudah dipesan. Dan membayangkan dia tidak dapat berlibur dengan Dee dan harus membiarkan Raka menggantikannya sudah membuat Simon kesal.
“Baiklah kamu menang. Aku akan mencoba mencicipi masakan pertamamu. Kita akan lihat bagaimana rasanya.”
Simon pertama kali memilih untuk menyendok mashed potato. Saat mashed potato masuk kedalam mulutnya, lidah Simon langsung merasakan tekstur lembut dari kentang tumbuk itu dan cita rasa creamy yang pas. Simon terkejut bahwa dia sama sekali tidak eneg dengan mashed potato yang dibuat oleh Dee. Padahal Simon sudah bersiap untuk makan sedikit lalu minum air banyak. Simon tidak pernah menyangka bahwa level masak dibawah standar seorang Dee kini dapat dikatakan naik ke level dua dari lima level. Simon mengambil sumpit dan menyumpit kimbab memasukkannya dalam sekali suap.
Enak juga!
Hal itu berulang hingga Simon mencicipi semua masakan yang ada di meja. Simon bahkan tidak percaya bahwa semua masakan ini terasa sangat enak!
“Gmana masakanku? Enak?”
“Sayang, aku rasa kamu punya bakat memasak!” Simon menjawab jujur.
“Mungkin aku harus memperbaiki dapur apartemen agar lebih lengkap," lanjutnya.
“Kalau begitu aku akan belajar memasak lebih giat lagi.”
Suara ketukan pintu dari luar menginterupsi obrolan keduanya.
“Itu mungkin bu Mirna. Aku akan mengambil jus milikmu. Kamu disini saja.” Saat berbicara, Simon mengambil bekal teriyaki lalu berdiri untuk membukakan pintu. Mungkin karena ini siang hari, dan Dee juga sudah cukup lelah dengan kegiatan hari ini, gadis itu berniat untuk sedikit santai dengan tiduran diatas karpet berbulu sambil memainkan game dari ponsel. Dee sudah makan dari rumah, sebenarnya Dee berniat langsung pulang setelah memberikan bekal. Namun saat ini mungkin Dee harus memastikan Simon memakan semua masakannya sebelum dia kembali.
“Jus alpukat dan jus jeruk dokter. Oh ya, saya juga membelikan beberapa camilan sehat.” Bu Mirna—kepala kantin rumah sakit menjelaskan. Mungkin karena membeli camilan juga, alasan kenapa beliau lama mengantarkan makanannya.
“Terimakasih bu. Biar saya yang membawa kedalam. Oh ya, bekal ini tolong kirimkan pada ruangan Raka ya bu.” Simon tersenyum ramah sambil mengambil alih nampan berisi jus dan sekantong camilan sehat. Di rumah sakit ini tidak ada yang tidak tahu posisi Simon dan Raka. Dengan nama belakang Hyder yang mereka sandang, sudah menjelaskan bahwa mereka merupakan bagian dari pemiliki rumah sakit ini. Jadi saat Simon memanggil Raka dengan hanya namanya saja,Bu Mirna tidak akan merasa aneh.
“Dokter Raka ya dok? Siap dok!”
“Dokter,” panggil Bu Mirna. Jelas sekali matanya mencuri pandang kearah Dee meskipun terlihat wanita paruh baya itu berbicara dengan Simon.
“Nona itu…”
“Oh, dia tunangan saya Bu. Calista Dian namanya.”
Saat mengatakan hal itu, Simon tanpa sadar memiliki senyum lembut. Itu adalah senyum lembut yang tidak pernah sekalipun ada di wajah Simon selama Bu Mirna bekerja disini. Bukan rahasia lagi jika Simon terkenal menjadi dokter teramah dan selalu tersenyum. Namun sebagai seorang wanita yang sudah hidup selama lima puluh dua tahun, Bu Mirna jelas tahu bahwa senyum itu hanyalah senyum ramah tamah tanpa arti apapun. Sangat berbeda dengan senyuman yang saat ini Simon perlihatkan.
“Wah!” Bu Mirna tersenyum menggoda,
“Sangat jarang saya melihat anda begitu bersemangat.”
“Apakah sangat terlihat bu?” Simon penasaran dengan wajahnya saat ini.
“Tentu saja! Kalau begitu silahkan nikmati waktu istirahat dokter. Saya akan mengantar makanan ini ke dokter Raka lalu kembali ke kantin.”
“Terimakasih bu Mirna.”
Simon sama sekali tidak menyadari bahwa hari ini mungkin rumah sakit di bagian bedah akan sedikit berisik karena kejadian hari ini.
Saat Simon berbalik, sosok Dee sudah tidak duduk manis di bawah melainkan sudah mengganti posisinya dengan tiduran.
Siapa yang menyangka saat mendekat, Simon mendapati gadis itu sudah tertidur dengan ponsel yang masih menyala menampilkan tampilan game over pada layar ponsel. Simon terkekeh. Memang pilihannya untuk memasang karpet berbulu di ruangannya tidak salah. Seperti kucing kecil, Dee selalu menyukai hal berbulu sedari kecil. Bahkan bantal di kamar Dee juga memiliki beberapa bantal berbulu dan boneka untuk gadis itu tidur. Simon meletakkan jus dan camilan diatas meja lalu mulai menggendong gadis itu untuk memindahkannya ke sofa. Mungkin karena terlalu lelah, Dee sama sekali tidak terbangun. Simon tahu gadisnya itu telah berusaha keras dua bulan ini untuk menciptakan parfum terbarunya.
“Selamat tidur kucing kecilku.” Simon meletakkan ciuman singkat di dahi gadis itu membuat Dee bergerak sebentar namun kembali pulas. Simon terkekeh, melanjutkan menyantap makan siangnya. Ini adalah makan siang pertama yang dibuat oleh Dee, bagaimana bisa membiarkannya tersisa?