Raka Hyder menyapa ramah perawat yang dia temui di sepanjang koridor rumah sakit. Hari ini cuaca di daerah Jakarta jauh lebih cerah dari kemarin setelah semalam hujan lebat, secerah suasana hati Raka hari ini. Hari ini pertama kalinya dia dapat masuk ke ruang operasi bersama dengan ayahnya. Bukankah itu hari yang indah bagi dokter magang sepertinya?
Yah, tapi sebenarnya langit di kota Jakarta sama sekali tidak cerah loh. Raka bahkan tidak sadar bahwa diluar awan hitam masih berjalan perlahan seolah siap menjatuhkan hujan kapan saja. Bahkan Raka juga mungkin tidak tahu bahwa beberapa teman sejawatnya tengah berlari dari kafe seberang jalan menuju rumah sakit Hyder Hospital berpacu dengan gerimis. Tidak sadar dan tidak peduli. Yang jelas hatinya sangat cerah. Bahkan saking cerahnya suasana hatinya saat ini, senyumannya cukup menular diantara para perawat di rumah sakit. Tidak jarang merasa terpesona dengan seorang Raka.
“Aduh… dokter Raka kalau senyum…lumer hati.”
“Sst…jangan keras – keras. Tau sendiri pawangnya siapa? Nanti bisa gawat jika dokter Mega tau.”
Mungkin mereka langsung membayangkan perawakan dokter magang Mega yang luar biasa judes dan hanya lembut didepan kekasihnya—dokter Raka. Mendadak mereka merinding. Masih ingat kejadian beberapa hari lalu dimana dokter Mega melabrak salah satu perawat yang nekat centil di depan dokter Raka.
“Yah… heran deh. Kenapa semua lelaki yang loveable selalu sudah sold out.”
“Eh, tapi kayaknya dokter Simon single tau.”
“Oh ya? Bukannya dia punya tunangan sedari kecil?”
“Tunangan apa? Nyatanya tidak pernah kesini tuh. Itu pasti hanya isu yang disebar agar tidak ada yang mendekati dokter Simon.”
“Tapi bagaimana dengan dokter residen Meta? Apa jangan-jangan tunangannya adalah dokter Meta? Ingat kan? Hanya dokter Meta yang dapat masuk ruangan dokter Simon selama ini. Dan dokter Simon selalu meminta dokter Meta untuk menjadi asistennya saat menjalankan operasi.”
Itu hal terakhir yang Raka dengar dari gosip para perawat yang dia temui sebelum dia masuk kedalam lift dan menekan tombol lantai tiga.
Saat ini tujuan Raka adalah menemui kakaknya—Simon yang saat ini mungkin berada di ruangannya. Mamanya sungguh membuatnya malas karena harus menelponnya untuk melihat kakaknya saat dia tidak dapat dihubungi. Simon adalah orang yang seperti itu. Raka benci mengatakannya, namun Simon adalah tipikal lelaki yang selalu memasang senyum pada siapapun yang ditemuinya. Tidak peduli bagaimana dia merasakan hal pada orang lain, Simon tetap akan menanggapi orang dengan senyum dan keramahtamahan. Membuat orang salah paham, menganggapnya sangar ideal. Namun Raka tahu bagaimana Simon yang sebenarnya. Semakin dia tersenyum, ada kalanya itu menandakan bagaimana dalamnya dia membenci suatu hal.
Terlepas dari itu Simon adalah sosok yang sangat perfeksionis, pekerja keras, cerdas, bertanggung jawab dan amat mementingkan keluarga. Sungguh cocok menjadi calon pewaris keluarga Hyder. Raka tidak pernah iri dengan hal itu. Baginya sosok Simon justru adalah idolanya dan menjadikannya sosok yang membuatnya berambisi untuk mengejar ketertinggalannya. Tapi kadang Raka berpikir bahwa semakin seseorang terlihat sempurna, justru mungkin dia adalah orang yang paling banyak memiliki rahasia.
Itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah dia harus memastikan kakaknya hidup atau tidak. Atau memastikan bahwa dia tidak melupakan ponselnya agar mamanya tidak terlalu khawatir karena anak tersayangnya tidak pulang selama dua hari dengan panggilan telepon yang selalu diabaikan.
Raka bersiul saat dia sudah sampai di depan pintu bercat putih dilantai tiga paling ujung dari lift. Raka dengan asal mengetuk pintu tersebut. Sekali ketukan, dia dapat mendengar suara sayu kakaknya yang menanyakan dirinya.
“Aku, Kak.”
“Masuk.”
Raka membuka pintu yang tidak terkunci . Tumben
Dan dia menemukan jawabannya ketika dia tahu bahwa saat ini kakaknya tidak sendiri. Ada dokter Meta yang berdiri didepannya dengan beberapa berkas ditangannya. Raka dapat melihat jika dari sudut pandang Simon, dia tampak tengah serius membahas sesuatu. Namun jika Raka melihat dari sisi dokter Meta, jelas wanita itu tidak seratus persen niat murni membicarakan hal penting. Terlihat dari bagaimana dia melirik beberapa kali pada wajah Simon.
Wah, aku bisa bilang kakakku bodoh, atau terlalu cuek?
Raka tahu kakaknya bukan tipe yang tidak peka. Dia sangat peka. Bahkan saking pekanya Raka akan selalu merasa Simon dapat menebak apa yang akan dia lakukan saat berbicara dengan kakaknya. Bagaimana bisa niat yang sangat jelas dari wanita itu tidak dia tangkap? Jadi kesimpulannya bukan Simon tidak tahu, namun dia hanya tidak mau tahu dan tidak peduli.
“Ada apa?” Tanya Simon sambil masih memperhatikan file ditangannya. Saat mendekatinya, Raka sadar bahwa itu adalah hasil ronsen pasien gagal jantung yang mungkin dia tangani.
Raka melihat kearah Meta, dan wanita itu tersenyum ramah padanya. Cih, ambilah hati adiknya untuk mendapatkan kakaknya? Wah maaf tidak semudah itu ladies!
“Di mana ponselmu?”
Ada jeda bagi Simon untuk menjawab sebelum lelaki itu mengatakan bahwa ponselnya mungkin ada kamarnya di rumah sakit.
“Pantas saja.”
“Lakukan prosedur seperti yang saya katakan tadi. Jika ada kendala bisa menghubungi saya.” Lalu Simon ingat akan ponselnya dan dia meralat ucapannya,
“Datang ke kantor saya. Ponsel saya tertinggal.”
“Baik dokter. Kalau begitu saya akan keluar dulu.”
“Mari,”Meta menyapa Raka sebelum keluar dari ruangan.
Raka bersiul selang beberapa detik pintu tertutup.
“Memiliki residen cantik seperti itu tidak heran kamu melupakan ponselmu.”
Simon meletakkan berkas diatas meja, melepaskan kacamata berbingkai emas miliknya dan menaruhnya diatas tumpukan berkas.
“Jangan bicara omong kosong. Jadi kenapa kamu kemari?”
“Mama meneleponku menanyakan dirimu masih hidup atau sudah mati.”
Raka berjalan ke ruang duduk tak jauh dari meja Simon. Ruang duduk di kantor Simon merupakan fasilitas terlengkap kedua setelah ruang pribadi milik ayah mereka di rumah sakit ini. Ada ruang duduk yang dilengkapi dengan sofa memanjang dan empuk, dua sofa yang saling bersebrangan, dan meja kaca yang berada di tengah-tengah. Lantai ruang duduk itu dilapisi karpet berbulu tebal berwarna biru laut. Dan disudut ruangan akan ada lemari yang dipenuhi buku-buku dan berkas-berkas—medis tentunya. Raka merebahkan tubuhnya di sofa panjang dan menghembuskan nafas lega. Memang fasilitas dokter spesialis jenius dengan seorang residen bedah saraf seperti dirinya sangat berbeda jauh. Bahkan sofanya pun seolah mesin penidur terbaik bagi seorang Raka. Kapan dia dapat mengejar kakaknya ya?
“Mama meminta kamu pulang untuk makan malam.”
“Aku kira mama tahu bahwa minggu ini aku sangat sibuk dengan beberapa operasi.”
Suara Simon terdengar dari belakang.
“Hei, tidak bisa ya kamu menyerahkan tanggung jawab pada dokter lain satu pasien saja? Kamu bisa mati karena lelah.”
“Aku tidak lelah.”
“Tapi mungkin Dee akan lelah dengan kesibukanmu.”
Simon terdiam.
Kena kau!
Raka tersenyum licik. Benar saja kata mamanya. Jika bujukan tidak dapat membuat Simon pulang, maka sebut saja nama calon kakak iparnya, maka Simon pasti akan mempertimbangkannya.
“Dee juga sedang sibuk.”
“Jangan bilang kamu sok sibuk minggu ini hanya karena saat ini Dee tengah melakukan persiapan peluncuran parfum baru?”
Simon tidak menjawab. Namun dengan melihatnya saja Raka sudah tahu jawabannya.
Dasar gila! Sebegitu sukanya sampai menyibukkan diri karena tidak dapat berinteraksi?
Namun sikap Simon yang seperti ini yang membuat Raka dapat merasakan bahwa Simon masih manusia. Bukan robot yang gila kerja atau jenius yang berdedikasi untuk rumah sakit keluarga.
“Pulanglah. Mungkin mama malam ini menghubungi Dee untuk ikut makan malam.”
“Akan aku pikirkan.” Seolah tidak peduli, Simon kembali membuka tumpukan berkas di mejanya.
Raka bangkit dari tidurnya dan mendesah, “ Kamu akan terlihat lebih cepat tua jika terlalu bekerja keras. Dan Dee akan terlihat semakin menarik karena sikap santainya. Lalu dengan banyaknya gossip tentang hubunganmu dengan dokter Meta, mungkin nanti Dee akan marah dan memilih daun muda.”
“Apa maksudmu?” Simon mengerutkan kening. Ekspresi yang sangat jarang dia perlihatkan. Sudah kubilang bahwa Simon adalah tipe orang yang akan selalu tersenyum bahkan saat marah.
“ Makanya aku bilang kamu harus sesekali keluar dari ruang operasi dan ruang pribadi. Saat ini banyak gosip yang mengatakan bahwa saat ini kamu masih single, atau kamu yang memiliki affair dengan residen Meta. Coba bagaimana jika Dee mendengar hal itu? Bukankah itu sangat buruk?”
“Kamu terlalu banyak bicara.” Gumam Simon. Dia tidak memandang Raka dan kembali berkonsentrasi pada berkas ditangannya.
“Yah, itu terserah padamu. Aku hanya akan mengatakan bahwa Dee adalah tipe wanita yang pencemburu. Dan jika dia cemburu, dia lebih memilih untuk Diam. Hati-hati.”
“Dee tidak seperti itu,” bantah Simon. Namun jelas terlihat Simon juga tidak yakin. Tunangannya adalah wanita manja yang mandiri yang dia kenal. Dia akan mengungkapkan apapun yang dirasakannya. Kecuali benar-benar marah, tunggu! Bagaimana jika Dee benar-benar akan marah dengan gosip tidak berdasar itu?
Raka bangkit dari duduknya dan bersiap untuk keluar.
“Oh ya, ambil ponselmu. Mungkin saja tunanganmu menelponmu.”
“Oh atau cobalah untuk menelpon dia terlebih dahulu,” kata Raka sebelum berjalan keluar dari ruangan. Siapa yang menyangka saat dia membuka pintu, ada sosok yang jelas paling ingin ditemui kakaknya –Dee!
“Ka-”
“Sst…” Dee menempelkan jari di bibirnya. Raka memutar matanya dan mendengus. Dia menoleh kebelakang dan mendapati kakaknya masih ‘berpacaran’ dengan setumpuk berkas laporan medis.
“Aku keluar kak.” Raka menutup pintu pelan. Setelah memastikan Simon tidak dapat melihatnya, Raka beralih pada gadis didepannya,
Dee tidak pernah sekalipun datang ke rumah sakit ini meskipun Simon telah bekerja di rumah sakit selama setahun setengah. Padahal saat Simon menempuh pendidikan spesialis dan menjadi residen di rumah sakit Joseph –New York, gadis ini akan menemukan segala kesempatan untuk mengunjungi Simon.
Raka menatap perawakan Dee. Raka mengakui bahwa Dee sungguh memiliki fisik yang diidamkan sebagian besar wanita Asia. Kulit putih, hidung mungil, bibir tebal dan kecil, dan wajah oval dengan kulit yang terawat dengan sangat baik. Jelas tidak murah untuk mendapatkan perawatan dengan hasil seperti itu. Namun yang paling menarik dari itu semua adalah—matanya. Dee memiliki warna mata langka yaitu zamrud terang dan jernih. Sangat cantik sekaligus kontradiksi dengan wajahnya yang khas Asia dengan rambut hitam legam miliknya. Tingginya sebatas pundaknya, sehingga Raka harus menunduk saat berbicara dengannya.
“Wah, ada angin apa seorang Calista Dian Efendy sampai bermain ke rumah sakit?”
“Tentu saja menyelamatkan pangeran yang sibuk bekerja.” Dee memamerkan bekal yang baru saja dibawa.
“Aku membuatkan makanan terenak untuk tunangan. Anak kecil tidak boleh iri.”
Raka mendengus, “ Kaya enak saja.”
Dee tidak peduli dengan ejekan Raka. Mungkin karena mereka seumuran dan selalu berada di sekolah yang sama kecuali saat kuliah, Dee sudah terbiasa dengan lidah kejam Raka.
“Sudah sana pergi.”
“Tidak perlu disuruh aku juga akan pergi.” Raka mengibaskan jas dokternya dan berjalan menuju lift untuk turun.
Sialan! Dari semua yang dimiliki Simon, mungkin satu-satunya yang membuat Raka iri adalah memiliki pasangan seperti seorang Dee.
***
Dee mengetuk pintu ruangan Simon. Sebenarnya jika itu seperti biasa, maka Dee tidak perlu melakukan hal itu seperti saat Dee memasuki apartemen miliki Simon.
“Apa lagi yang tertinggal Raka? Masuk dan segera pergi.” Suara Simon terdengar dari dalam.
Dee nyaris tertawa mendengar suara tunangannya itu. Sekali lagi Dee mengetuk pintu. Kali ini jauh lebih keras. Lalu Dee dapat mendengar ada suara langkah yang terdengar agak jengkel mulai mendekat. Iseng, Dee ingin kembali mengetuk pintu. Bersamaan dengan hal itu, Dee dapat melihat dua orang perawat dengan tumpukan berkas sepertinya juga ingin menuju ruangan Simon. Namun masih agak jauh. Jadi Dee berpikir tidak masalah untuk mengganggu Simon sebentar lagi.
“Sudah aku bi-Dee?” Wajah Simon terlihat terkejut. Bahkan sangat aneh melihat wajahnya kosong dengan bibir setengah terbuka.
Dee memamerkan senyum terbaiknya dan merentangkan tangan lalu berteriak , “Kejutan!”
“Apa kamu terkejut?”
Simon mengerjap. Memulihkan rasa terkejutnya. Sebelum Dee dapat mengatakan kalimat lagi, dirinya sudah ditarik kedalam dekapan lelaki itu. Mengaduh ringan oleh benturan yang mengenai hidungnya. Saat dia menggesekkan sedikit hidungnya, tercium aroma woody dari tubuh Simon. Dee sangat menyukai aroma ini. Perpaduan antara aroma tembakau, kayu manis, kayu cendana, jahe dan minyak patchouli—sangat cocok dengan aroma Simon sendiri. Dan saat Dee berhasil sedikit menjauhkan diri meski masih dalam dekapan Simon, Dee dapat melihat partikel-partikel yang merupakan warna dari aroma parfum yang dipakai Simon. Oh tentu saja lebih banyak aroma disinfektan disini.
“Kamu membuat hidungku sakit dan mungkin saja bekal yang aku bawa susah payah ini akan hancur.” Dee memperlihatkan rantang kecil di tangan kanannya.
Barulah Simon menyadari bahwa gadis ini membawa bekal. Namun tetap saja lelaki itu enggan untuk melepas Dee.
“Eum…Simon, sebaiknya kamu lepasin aku sekarang.”
“Why? Jika aku tidak mau?” Simon sangat menyukai aroma Dee. Mungkin karena pekerjaannya juga, Dee selalu dapat memakai parfum yang sangat sesuai dengan tempat yang akan dia kunjungi. Seperti saat ini, dari pakaian Dee tercium aroma buah-buahan yang sangat menyegarkan yang memberikan kesan muda dan ceria—membuat pikiran Simon jernih untuk sesaat. Bagaimana mungkin Simon mau melepaskan pelukan yang menyenangkan ini begitu saja?
“Simon,” Dee memperingatkan. Sebenarnya alasan Dee ingin Simon melepaskannya adalah karena Dee dapat dengan jelas melihat dua perawat yang tadi dia lihat , saat ini terlihat mematung. Entah mengapa Dee merasa sedang berbuat hal yang salah dan ketahuan.
“Oke.” Simon melepaskan Dee. lalu lelaki itu menatap dua perawat yang berdiri tidak jauh dibelakang Dee.
“Apakah ada hal penting?” Simon langsung bertanya pada mereka. Seolah dia memang sudah tahu bahwa mereka sudah ada sedari tadi.
Kedua perawat itu tampak tergagap. Seolah baru sadar bahwa mereka tengah melamun.
“Dokter Meta meminta kami untuk menyerahkan hasil lab pasien ICU seminggu ini, Dok.”
Dee meminta tangan Simon untuk diulurkan. Dan mengalihkan bekal yang di tentengnya ke tangan Simon. Tidak lupa juga tas selempang kecil miliknya dan berkata , “Bawa ini,”
Dee lantas berbalik dan berjalan mendekati kedua perawat itu. Tersenyum ramah dan dengan suara selembut mungkin dia berkata, “ Kalian bisa memberikannya padaku.”
Saat berbicara, Dee dengan sengaja membuka kacamatanya dan menyisipkannya diatas kepalanya. Selain wajahnya, jelas mata zamrud milik Dee adalah daya tarik paling menonjolkan kecantikannya.
“Oh,i..ini.”
“Terimakasih. Kalian baik sekali. Kalau begitu kalian boleh pergi.” Mengambil alih berkas medis itu, Dee berbalik memandang Simon.
“Sayang, apa saat ini waktu istirahatmu?”
Simon menggelengkan kepalanya. Jelas dia tahu alasan mengapa Dee berbuat seperti itu. Kadang melihatnya cemburu dan melakukan hal imut memang menghibur. Namun jika Dee sampai bertindak, kemungkinan dia sudah mendengar gosip yang dibicarakan Raka dan membuat gadis ini mungkin merasa kesal.
“Hari ini saya tidak ingin ada jadwal. Dokter Andrew akan menggantikan saya jika ada panggilan operasi. Kecuali operasi yang memang membutuhkan saya, hari ini saya tidak ingin diganggu.”
Benar saja, setelah Simon mengatakan hal itu, Dee terlihat puas. Dan dua perawat itu mengangguk dan buru-buru pamit. Mereka tampak berlari kecil untuk memasuki lift. Mungkin saja mereka sudah tidak sabar untuk menyebarkan berita menghebohkan hari ini. Tentang tunangan misterius dokter Simon yang sebenarnya!
“Ayo masuk,” ajak Simon
Dee merengut, wajah ramahnya yang diperlihatkan pada perawat tadi sekarang jelas berganti dengan wajah hitam—marah .
“ Dasar kucing belang! Terlalu banyak menarik ikan asin!”
“Kamu tidak tengah mengatai tunanganmu kan Sayang?”
“Nggak!”
Simon menghela nafas, jelas dirinya tidak percaya—gadisnya benar-benar marah dan cemburu, “ Kemarilah, Aku sudah sangat lapar.”
Dee masih mendengus. Namun mendengar bahwa Simon lapar, dia tidak tega terus merajuk. Setidaknya ditunda dulu.