Bab 5. Rencana Dijalankan Part 2

1043 Words
Hari itu juga Nenek Miranti menyiapkan banyak sekali keperluan untuk dibawa ke rumah kenangan. Nara malam ini juga tidur di rumah Jaden, dia meninggalkan rumah lamanya dengan membawa beberapa barang yang dia butuhkan. Malam itu, Jaden yang terbangun dan ingin mengambil air minum, tapi dia melihat gelas airnya tidak ada isinya. "Pelayan di sini benar-benar tidak bisa bekerja dengan benar. Sebaiknya aku berhentikan saja mereka semua," umpatnya kesal. Jaden mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan meraih kursi rodanya, tapi yang ada dia malah terjatuh. "Tuan Muda Jaden!" suara yang Jaden kenali tiba-tiba ada di dalam kamarnya. Nara mencoba membantu, tapi pria itu terkejut melihat Nara ada di dalam kamarnya. Jaden malah mendorong tubuh Nara hingga Nara terjatuh dengan duduk dan tangannya menabrak pada kursi roda Jaden. "Aduh!" Nara memegang sikutnya yang ternyata berdarah terkena tepi kursi roda Jaden. "Kenapa kamu ada di sini?" "Saya memang tinggal di sini sekarang, Tuan JL." Nara tetap bersikukuh membantu Jaden untuk duduk di atas tempat tidurnya. "Apa?" Jaden tampak terkejut mendengar apa yang baru saja Nara katakan. Nara akhirnya berhasil membuat Jaden duduk di atas tempat tidurnya. "Menjauh dariku!" Jaden sekali lagi mendorong tubuh Nara. "Saya hanya mau membantu Tuan JL, kenapa tuan selalu marah-marah seperti ini? Semua yang terjadi dengan Tuan JL itu bukan salah semua orang yang ada di sini. Tuan tidak perlu membenci semua orang." Nara seolah mengeluarkan semua kekesalannya pada lelaki bernama Jaden Luther itu. "Aku tidak butuh nasihatmu. Sebaiknya kamu pergi dari kamarku sekarang!" bentak Jaden marah. Nara hanya berdiri diam menatap Jaden yang melihatnya dengan pandangan seolah ingin menelannya hidup-hidup saja. "Saya ke sini karena lupa belum mengganti gelas minuman Tuan yang kosong." Nara meletakkan gelas berisi air di atas meja dekat tempat tidur. "Aku tidak butuh bantuanmu!" Jaden malah menjatuhkan gelas yang dibawakan oleh Nara. Nara seketika terkejut, tapi dia sekali lagi mencoba menarik napasnya. Dia menunduk untuk membereskan pecahan gelas yang diperbuat oleh Jaden, kemudian dia keluar dari kamar Jaden. "Kenapa wanita itu sangat keras kepala dan membuatku ingin sekali membunuhnya?" Jaden mengepalkan tangannya erat. Beberapa detik kemudian, pandangannya mengarah pada sesuatu yang nempel pada tangannya. "Ini apa? Darah? Apa ini darah pelayan tidak tau diri itu?" Tidak lama Nara masuk kembali ke dalam kamar Jaden, Nara memberikan segelas air putih untuk Jaden. "Aku bisa mengambil minum sendiri." "Tuan JL tidak perlu pergi ke dapur untuk mengambil air minum, sebaiknya simpan saja tenaga Tuan JL untuk besok melakukan terapi." "Cih! Siapa yang mau melakukan terapi? Aku tidak akan melakukan hal yang tidak ada gunanya itu." Nara duduk berjongkok di depan Jaden. "Ada, Tuan JL, kalau Tuan mau rutin melakukan terapi, saya yakin, satu persen yang dokter katakan itu akan ada hasilnya." "Aku muak mendengar ucapan sok bijakmu." "Terserah Tuan JL saja, aku akan terus mengatakan hal yang positif agar Tuan JL akhirnya bisa sadar jika ucapanku ada hasilnya. Sekarang Tuan minum dan tidur kembali." Jaden pun menatap Nara datar sembari mengambil minuman dari tangan Nara. Nara melihat Jaden meneguk minumannya sampai habis, tapi beberapa detik kemudian Nara sekali lagi mendapat perlakuan buruk dari Jaden. Wajah Nara sekali lagi mendapat semburan dari air minum yang ada di mulut Jaden. Nara mencoba menahan tangisnya karena dia tidak mau terlihat lemah di mata pria arogan di depannya ini. "Terima kasih atas minumannya." Jaden malah tersenyum devil." Nara segera bangkit dan meletakkan gelasnya. Dia membantu Jaden mengangkat kedua kaki Jaden ke atas tempat tidur kemudian menyelimutinya. "Selamat malam, Tuan JL." Nara kembali mengambil gelasnya dan keluar dari dalam kamar Jaden Luther. Jaden yang melihat sikap tegar Nara seketika mengerutkan kedua alisnya. Dia benar-benar baru pertama kali ini bertemu pelayan seperti Nara. Nara yang ternyata masih berdiri di sana, dia bersandar pada daun pintu kamar Jaden sembari menangis. "Kamu yang sudah membuat pria itu seperti saat ini, Nara, jadi kamu harus kuat jika ingin membuat pria itu kembali menjadi Jaden Luther yang dulu," Nara mencoba menguatkan dirinya sendiri. Dia kemudian kembali ke kamarnya dan mencoba beristirahat karena besok mungkin akan menjadi hari yang berat untuknya. Nara duduk di balkon kamarnya, dia mencoba melakukan panggilan video call dengan ibunya yang ada di rumah sakit. "Nara, kamu kenapa belum tidur?" "Aku merindukan Nio, Bu. Bagaimana keadaan Nio?" "Hari ini dia bahagia bisa bermain dengan teman sebayanya yang baru saja menjadi pasien di sini." "Oh ya? Jadi, ada pasien baru di sana?" "Iya, dia seorang gadis kecil yang sangat cantik dan memiliki rambut keriting yang lucu, Nara. Ibu saja sampai gemas melihatnya." "Syukurlah kalau Nio hari ini merasa bahagia. Apa tadi dia mencariku, Bu?" "Sebenarnya, ibu tadi yang menawarkan akan menghubungimu agar Nio bisa bicara denganmu, tapi Nio sendiri yang tidak mau, katanya dia tidak mau menggangu pekerjaanmu." "Dia memang pria kecilku yang sangat pengertian. Aku akan berusaha agar dia bisa sembuh dari sakitnya, Bu. Nio harus sembuh." Nara sekali lagi menangis. "Ibu yakin jika cucuku akan sembuh karena dia memiliki ibu yang kuat dan sangat tangguh." "Dia adalah cinta terindah dari Mas Abi yang akan aku jaga dengan sangat baik." Nara kembali meneteskan air mata mengingat mendiang suaminya yang begitu bahagia saat tau dirinya hamil. "Nara, bagiamana dengan pekerjaanmu? Apa semua berjalan lancar?" Nara menggelengkan kepalanya pelan. "Jaden pria yang sangat tempramen dan itu semua karena aku yang sudah membuatnya seperti itu." "Ibu tidak mau menyalahkan siapapun karena ibu tau kalau kamu melakukan semua itu karena ingin menyelamatkan nyawa putramu, tapi juga tidak membenarkan apa yang kamu lakukan." "Bu, aku akan memperbaiki semuanya sekarang. Aku harus menghilangkan rasa bersalahku agar nanti aku bisa menjalani kehidupan ini dengan tenang." "Ya sudah! Sekarang di tempatmu sudah sangat malam, sebaiknya kamu tidur." "Iya, Bu. Bu Nara sayang sekali sama ibu dan Nio. Sekali lagi Nara minta maaf harus menyusahkan ibu." "Sudah, Nara! Ibu ini adalah ibumu dan kebahagiaan kamu itu juga adalah kebahagiaan ibu. Ibu juga sangat sayang sama kamu." Mereka pun mengakhiri panggilan. Nara kemudian mengambil foto di dalam tas yang akan dia bawa ke rumah kenangan esok hari dengan Jaden. "Mas Abi, aku sangat merindukan kamu. Andai kamu ada di sini menemaniku pasti semua ini tidak perlu aku jalani. Aku ingin kuat, tapi aku tidak yakin apa aku bisa?" Nara menangis dengan memeluk foto mendiang suaminya. Dia mencoba menahan suara tangisnya dengan menutup mulutnya menggunakan tangan. Nara hari ini benar-benar merasakan hal yang sangat membuat hatinya pedih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD