Bab 4. Rencana Di Jalankan Part 1

1032 Words
Nara menemui Nenek dan Reno yang ada di luar kamar Jaden. Nenek dapat melihat wajah Nara yang sepertinya baru saja menangis. Iya! Nara tadi sempat menitikkan air mata karena perlakuan Jaden di dalam kamar tadi. "Nara, kamu baik-baik saja, kan?" "Nek, aku tidak apa-apa." "Nona Nara, tadi aku sempat mendengar suara piring pecah. Apa Tuan Jaden sudah menyakitimu?" "Tuan Muda Jaden tadi melempar piring makanannya saat aku menyuapinya." "Sudah aku duga, dia memang sering sekali seperti itu saat para pelayan yang aku tunjuk untuk merawatnya sedang membawakan dia makanan." Reno melihat warna merah pada kulit pipi Nara dan Reno tahu jika selain melempar piring makannya, bosnya itu juga menyakiti Nara. "Apa Tuan Jaden juga menyakiti Nona Nara?" Telunjuk Reno menunjuk pada wajah Nara. "Ya Tuhan! Cucuku benar-benar keterlaluan! Nara aku minta maaf karena cucuku sudah kasar sama kamu." "Nenek tidak perlu khawatir. Oh ya, Nek, apa aku bisa bicara hal yang penting dengan Nenek?" "Bicara hal yang penting apa, Nara?" "Sebaiknya kita ke ruang tengah saja untuk membicarakan hal ini, Nek." "Ya sudah, kita ke sana saja." Nenek Miranti dan Reno serta Nara sekarang menuju ke ruang tengah, dan di sana Nara meminta izin pada Nenek Miranti untuk membawa Jaden keluar dari rumah. "Nara, maksud kamu apa dengan ingin membawa cucuku pergi dari sini? Dan lagi pula, Jaden juga pasti tidak akan mau." "Sebelumnya aku minta maaf jika terpaksa membuat rencana ini. Aku melihat Tuan Muda Jaden tidak akan bisa kembali menjadi dirinya yang dulu jika terus tinggal di sini, dan tadi aku melihat ada foto seorang wanita di kursi rodanya." "Pasti Tuan Jaden masih terus teringat dengan Nona Kalista," sahut Reno. "Kalista itu tunangan Jaden, Nara, tapi dia meninggalkan Jaden saat mengetahui cucuku tidak akan bisa berjalan lagi. Cucuku sangat mencintai wanita itu karena dia teman Jaden dari mereka kecil dulu." "Tega sekali dia meninggal pria yang sangat mencintainya hanya karena tidak bisa berjalan," ucap Nara pelan. "Kamu tidak tahu, jika Nona Kalista ini seorang model terkenal dan hidupnya semua harus berjalan dengan sangat sempurna. Dia pasti malu jika diketahui menikah dengan pria lumpuh. Oleh karena itu dia meninggalkan Tuan Jaden," terang Reno. Nara tampak terdiam sejenak. "Nenek, aku tau jika kita baru saja mengenal, tapi aku berharap Nenek percaya padaku. Aku ingin membawa tuan muda Jaden pindah dari sini ke suatu tempat yang susananya lebih tenang dan tidak terlalu banyak orang. Di sana aku akan menjaga dan merawatnya." "Kenapa harus seperti itu, Nara?" "Nek, di sini dia masih menganggap jika dirinya masih bisa berkuasa, meskipun duduk di kursi roda, tapi jika hanya ada di dan pelayannya ini, dia akan paham jika dia tidak bisa berbuat seenaknya sendiri." Nenek Miranti tampak terdiam, nenek mencoba memikirkan apa yang Nara inginkan. "Bagaimana ini, Ren?" Wanita tua itu melihat ke arah Reno sekarang. "Sepertinya usul Nona Nara bagus, dan apa salahnya kita coba, Nek? Bukannya selama ini Nenek tahu sendiri tuan muda bagaimana sikapnya pada orang-orang di sini? Nyonya Alexa dan Tuan Muda Andrew saja sampai tidak betah juga di sini karena sikap Tuan Jaden." "Nek, nanti aku juga yang akan mengantar Tuan Muda Jaden jika tiba waktu untuk kontrolnya." "Nona Nara bisa mengemudi?" "Tentu saja aku bisa, Ren." "Wow! Ternyata Nona Nara itu serba bisa dan benar-benar mengejutkan," puji Reno Nara hanya tersenyum kecil menanggapi pujian Reno. "Nenek, bagaimana dengan rencana yang aku katakan pada Nenek?" Nara memegang tangan wanita tua itu yang terasa dingin. Nenek Miranti jelas saja bingung mengambil keputusan karena selama ini Jaden tinggal di sana dengannya. "Nenek percayalah padaku, aku akan melakukan yang terbaik untuk tuan muda. Tuan Muda Jaden harus bisa sembuh dari sakit yang tidak hanya pada kakinya, tapi juga pada hatinya." "Nara, jujur saja aku melihat ketulusan di mata kamu terhadap cucuku. Baiklah, aku akan mengizinkan kamu membawa cucuku." "Nona Nara sudah memiliki rencana akan dibawa ke mana Tuan Jaden." "Aku mungkin akan menyewa sebuah villa yang sederhana di daerah yang agak jauh dari perkotaan agar tuan muda mendapatkan suasana yang lebih tenang dan nyaman." "Kenapa harus menyewa. Nenek, bukannya ada rumah peninggalan kedua orang tua Tuan Jaden dan letaknya di sebuah tempat yang agak terpencil, tapi di sana pemandangan sangat indah." "Rumah kenangan yang putraku hadiahkan kepada mamanya Jaden maksud kamu, Ren?" "Iya, Nek, bukannya rumah itu tidak ditempati siapapun, tapi Nenek tetap menyuruh orang untuk menjaga dan merawatnya agar tetap bersih." "Iya, rumah kenangan itu sangat disukai oleh mendiang menantuku—mamanya Jaden, dan itu adalah kado terindah yang pernah mendiang menantuku ucapnya. "Kalau Nenek mengizinkan, aku akan membawa tuan muda ke sana saja." "Baiklah! Aku akan menyuruh beberapa orang menyiapkan barang-barang keperluan selama kamu dan Jaden tinggal di sana." "Terima kasih, Nek." Nara tersenyum senang mendengar rencananya berjalan lancar. "Nek, rumah tinggal sudah beres, masalahnya sekarang bagaimana kita membawa Tuan Jaden keluar dari rumah ini dan mau pergi ke rumah kenangan?" "Benar apa kata kamu, Ren. Cucuku sejak kejadian kecelakaan itu sama sekali tidak mau keluar, dia lebih sering mengurung dirinya di dalam kamar. Lalu, bagaimana kita membawanya keluar." Nenek Miranti melihat ke arah Nara. "Dipaksa dengan cara apapun, Tuan Jaden tidak akan mau, dan yang ada dia nanti akan semakin marah. Apa kita bisa saja tuan Jaden saat dia tidur, lalu kita bawa dia pergi ke rumah kenangan." Reno malah terkekeh. "Reno! Dia itu cucuku. Bos kamu, jangan berpikiran melakukan hal seperti itu pada cucuku!" Tangan nenek mencubit lengan Reno. "Aduh! Iya, Nek, maaf." Nara melihat ke arah nenek dan Reno. "Kita akan menggunakan apa yang Reno tadi usulkan, Nek. Kita bius saja tuan muda dan dengan begitu akan lebih muda membawanya ke rumah kenangan," ucap Nara santai. "Apa?" Nenek Miranti dan Reno tampak terkejut. "Nara, kamu serius?" tanya Nenek meyakinkan. "Serius, Nek. Kita akan masukkan obat tidur pada minuman tuan muda dan nanti saat dia bangun, dia sudah berada di rumah kenangan. Nenek tidak perlu khawatir jika nanti cucu Nenek itu marah. Perlahan-lahan aku akan membuat dia terbiasa tinggal di sana karena semua ini memang untuk kesembuhannya." "Benar apa yang dikatakan oleh Nona Nara." Reno sekali lagi tersenyum senang. Nenek Miranti hanya dapat menghela napasnya panjang. Dia benar-benar tidak percaya akan mengikuti apa yang Nara katakan karena saat ini yang dia pikirkan agar cucunya bisa kembali menjadi Jaden Luther yang dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD