Tania turun dari taksi dan segera masuk ke dalam kafe. “Pagi, Bu.” sapa Gea ramah. “Pagi Gea. Ada apa ya?” Gea mengernyit. “Bu pria itu kayaknya nyari ibu, tiap hari dia datang ke sini.” Tania menoleh pada pria yang ditunjukkan Gea. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang menjijikan, membuat Tania membencinya. Dia menelan salivanya susah payah. “p****************g itu lagi?” Perut buncitnya membuat Tania bergidik. “Ge, kamu udah ngasih tahu pak Delon?” Gea menggelengkan kepala. Tania menghela napas. “Biar aku yang telepon Delon.” Saat dia hendak mendial nomor Delon. Anak buah Mami Inne datang dan menahan kedua tangan Tania. Mami Inne berjalan santai. “Aduuuh ... ini dia harta karunku.” Telapak tangannya menahan dagu Tania, kemudian meremasnya. “Bawa!” pekiknya kasar. Ma

