Sudah beberapa hari Tania menjalani hari-harinya dengan sangat membosankan. Dia benar-benar kehilangan penyemangat hidupnya. Dia tidak siap kehilangan untuk kesekian kalinya. Tania tertunduk lesu. Gea menghampirinya membawakan segelas coklat hangat. “Bu,” ucapnya sembari meletakkan gelas di meja. Aroma coklat yang khas membuatnya lebih baik. “Makasih Gea. Kamu temenin saya di sini.” Tania menatap Gea. Gea tersenyum sembari mengangguk. Dia mendaratkan bokongnya di kursi depan Tania yang terhalang meja bundar. “Aku belum pernah tanya, sebenarnya kamu tinggal di mana?” tanya Tania usai menyeruput coklatnya. “Gea ngekos, Bu. Di dekat sini.” “Jangan panggil ibu, kakak aja.” Gea mengangguk. Awalnya dia takut tidak sopan, tapi, dia juga tidak nyaman menyebut Tania dengan sebutan ibu,

