Tania membaringkan tubuhnya di kasur. Belum sampai 20 menit dia sudah mendapat panggilan dari orang yang baru saja pergi meninggalkan pekarangan rumah. “Apa?” [Aku lupa nanya, kamu mau aku jemput jam berapa?] Iya, Tania baru ingat, besok adalah weekend, dan tidak ada kata libur untuk pemilik kafe, sepertinya. “Aku jam 8 ke kafe. Jam 8 malam pulang dari kafe,” jawabnya singkat. [Oke, sampai ketemu besok.] “Iya.” Hampir saja Tania mematikan telepon, tapi Reza segera berujar, [Jangan dulu di matiin.] “Apa?” [Aku cuma mau bilang, selamat istirahat. Jangan tidur terlalu malam.] “Terima kasih.” [Kembali kasih.] Sambungan terputus. Reza memang kesulitan membuat Tania tersenyum. Tapi, dia harus mencobanya, bukankah membuat perempuan tersenyum itu mudah. Jika yang lain lebih suka di

