Bab 8. Love You More

1013 Words
"Terima kasih, Sayang," ucap Daniel setelah melampiaskan keinginannya. Namira menganggukkan kepala, tersenyum, tersipu malu. "Iya, sama-sama. Aku ... aku masuk kelas dulu," timpal Namira mencium punggung tangan suaminya. Danile meng3cup kening Namira dan membiarkan istrinya turun dari mobil. "Ya Allah, lama amat sih, Mih? Ngapain aja sih di mobil?" tanya Bianca yang sedari tadi menunggu Namira di depan pintu kelas. "Dosen belum datang kan?" Namira mengabaikan pertanyaan anak sambungnya. "Ditanya balik nanya. Belum datang. Ya untung aja belum datang. Ngapain aja sih kamu? Papah nanya-nanya soal aku sama mamah, ya?" Untung saja, Bianca langsung menduga suaminya menanyakan pertemuan Bianca dengan Hesti. "Iya. Nanya-nanya gitu. Aku cerita dong. Gak enaklah, masa bohong sama suami?" kata Namira santai. Padahal ia berharap kalau Bianca tidak curiga dirinya lama-lama dengan Daniel di dalam mobil. "Aku tuh gak nyangka banget mamah kayak gitu. Enggak ada berubahnya sama sekali. Aku pikir, setelah bertahun-tahun gak ketemu aku, dia ada rasa kangen minimal. Ya Allah, boro-boro kangen yang ada juga ngajak gelut!" keluh Bianca menatap lurus ke depan. Namira merangkul pundak sahabatnya, mengusap-usap lembut. "Sabar ... hidup itu gak melulu bahagia. Kadang emang ada sedihnya. Aku punya kedua orang tua yang sangat sayang dan perhatian sama aku, tapi Tuhan lebih sayang sama mereka. Alhamdulillah aku dipertemukan dengan kalian. Papahmu yang baik, dan kamu yang baik juga." Bianca menganggukkan kepala, menyeka air matanya perlahan. "Masuk kelas yuk!" ajak Bianca berjalan lebih dulu, diikuti Namira yang berjalan di belakangnya. "Eh kalian tau gak? Di kelas kita ternyata ada mahasiswa simpanan om-om lho! Kedoknya sih papah angkat, gak taunya jadi simpanan padahal kalau lihat mukanya, mukanya polos banget," seloroh salah satu teman satu kelas Namira bernama Vina. Namira dan Bianca sontak menoleh pada tiga wanita yang seolah menyindir. "Masa sih? Siapa, Vin?" Keysa, teman lainnya menimpali. Vina menoleh pada Namira sambil tersenyum sinis. "Iya, Vin. Siapa sih orangnya? Penasaran aku." Kali ini, Nina yang menanggapi. Mereka bertiga seolah menyindir Namira. Namun, gadis itu bergeming. "Aku kasih inisialnya aja, ya?" kata Vina suaranya agak meninggi. "Siapa?" serempak, Keysa dan Nina bertanya. "NR. Inisialnya NR?" Sontak, Namira dan Bianca menoleh. Mereka mengepalkan kedua tangan, mulai tersulut emosi. "NR? Maksudmu Nami ...." "Sssstt ... jangan disebut lengkap namanya. Nanti dia malu," cegah Vina setengah berbisik. Bianca tak bisa menahan diri lagi. Ia beranjak, namun dicegah Namira. "Diem, Na. Aku mau kasih paham ke mereka," ujar Bianca melepaskan tangan Namira dari lengannya. Namira pasrah, ia pun mengikuti Bianca yang berjalan menghampiri ketiga gadis nyinyir itu. Bianca melipat kedua tangan di depan d4da, menatap satu persatu Vina, Keysa, dan Nina. Mahasiswa lain yang ada di kelas mengalihkan pandangan pada mereka. Kelima mahasiswa itu menjadi perhatian mahasiswa lainnya. "NR yang kalian maksud itu Namira Rashid?" tanya Bianca dingin. Ketiga gadis itu membuang muka ke arah lain sambil mencebik. "Vina, jawab tanyaku! Maksud mahasiswa simpanan om-om itu Namira? Iya? Jawab! Berani nyinyir di depan doang. Sini di depan orangnya!" Bianca sudah terpancing emosi. Ia mendorong bahu Vina hingga terjungkang. "Iya. Namira itu simpanan papah kamu 'kan?" jawab Vina berdiri, mensejajari Bianca. "Sok tau! Namira itu bukan simpanan papah aku, tapi istri sah papahku! Paham? Jangan julid, jangan nyebar fitnah kalau gak mau masuk bui!" Lagi, Bianca mendorong tubuh Vina. Gadis itu dan yang lainnya terkejut mendengar kenyataan yang diucapkan Bianca. "Gaes, nih aku mau kasih tau." Bianca berbicara cukup lantang. Teman sekelas Bianca menoleh padanya. Bianca menarik lengan Namira agar berdiri di depan papan tulis. "Aku mau kasih tau ke kalian semua kalau Namira Rashid adalah sahabatku sekaligus ibu sambungku. Jangan kaget, Gaes. Cinta kan emang gitu. Gak kenal waktu, gak kenal batas usia. Stop, bilang Namira simpanan om-om. Namira ini bukan simapanan Om-om tapi hanya simpanan satu Om saja, yaitu simpanan papahku alias istri sah papahku. Paham, gaes?" Meski masih kasak-kusuk, Namira bernapas lega karena saat ini teman sekelasnya sudah tahu kalau ia sudah menikah dengan papanya Bianca. "Namira, kamu kok mau sih, jadi istri lelaki yang pantesnya jadi papahmu?" salah satu mahasiswa lainnya bertanya. "Maulah. Orang papanya Bianca masih kelihatan muda, tampan, kaya raya, setia dan baik hati. Ya daripada lelaki yang masih muda tapi b******k, mendingan papanya Bianca yang udah jelas-jelas setia," jawab Namira tanpa keraguan. Akhirnya teman sekelas mereka mengerti. Menganggukkan kepala. Tidak berlangsung lama, dosen datang. Mereka mulai fokus belajar, menerima pembelajaran yang disampaikan dosen tersebut. *** Seperti yang sudah direncanakan, Namira, Bianca dan Daniel pergi ke pusat perbelanjaan, mau membeli cincin pernikahan untuk Namira. Sepanjang masuk ke dalam Mall, Daniel menggenggam telapak tangan istrinya. Bianca berjalan lebih dulu, membiarkan Daniel dan Bianca bermesraan di belakangnya. "Di toko ini aja, Pah!" ujar Bianca berhenti di salah satu toko perhiasan. Namira dan Daniel menghampiri. Melihat beberapa model perhiasan cincin yang berada di dalam etalase. Salah satu pelayan toko menyapa, melayani mereka dengan ramah. Akhirnya Namira sudah menemukan cincin yang cocok di jari manisnya. "Nah kan, kalau pake cincin kamu ketahuan udah nikah, udah punya suami. Ya gak, Pah?" ucap Bianca riang. Mengangkat telapak tangan Namira yang indah ada cincin di jari manisnya. "Iya." "Makasih ya, Om. Makasih, Bi." "Sama-sama. Sekarang mau kemana lagi? Mau shopping atau mau kemana dulu?" tanya Daniel menatap Namira dan Bianca bergantian. "Pulang aja deh, Pah. Aku capek, pengen istirahat. Tapi gak tau tuh Mamih. Mau jalan-jalan dulu gak, Mih?" "Langsung pulang aja. Aku juga capek." "Oke. Kita pulang sekarang." Mereka bertiga pulang ke rumah pukul empat sore. Sepanjang jalan, Bianca bercerita tentang ucapan teman sekelasnya yang menyindir Namira. "Bagus, Bi. Udah seharusnya menyampaikan kebenaran dari pada menimbulkan fitnah. Tapi kamu, Sayang. Apa kamu gak malu waktu Bianca mengumumkan itu?" "Enggaklah, ngapain juga malu. Justru aku bahagia dan bangga punya suami kayak kamu, Mas." Namira menggamit lengan suaminya manja. "Nah gitu dong, Mih. Panggil papah jangan Om lagi tapi Mas. Biar kedengerannya romantis!" seloroh Bianca. Namira mengulas senyum manis, sedangkan Daniel mengusap kepala Namira lembut. "Oke deh. Mulai sekarang aku panggil papahmu Mas Ayang!" "Cakeeepp ...." "Mas Ayang, ikan hiu pake sampul. I love you full." "Hahahhaha ...." Daniel dan Bianca tertawa lepas mendengar pantun Namira.. "Love you too," timpal Daniel mengecup puncak kepala istrinya. "Ikan hiu kena bor, i love you more.",
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD