Bab 7. Icip-Icip

1024 Words
Hesti sangat terkejut mendengar kenyataan kalau Namira, anak yang dulu sempat dibiarkan tinggal di rumah Daniel sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, kini menjadi istri kedua mantan suaminya. Hesti berdiri, menggelengkan kepala. "Kalian berdua pasti bercanda. Papahmu bukan p*****l, Bian. Dia lelaki normal, gak mungkin nikahin gadis muda seperti Namira," tandas Hesti, menolak kenyataan yang diucapkan anak kandungnya. "Emang papah normal. Papah juga sangat selektif. Udahlah, jangan ngarepin papah lagi. Papah udah punya istri baru dan akan memiliki anak lagi dari rahim sahabatku," ujar Bianca sambil mengelus-elus perut Namira. Meski agak geli, Namira membiarkan sahabatnya melakukan apapun yang diinginkan. "Kalian ini, ada-ada aja. Oke, kalau gitu Mamah mau pergi dulu. Nanti malam Mamah akan pulang ke rumah, mau nemuin Papahmu." "Enak aja! Jangan pulang ke rumah Papah. Kamu sama Papah udah gak ada hubungan apa-apa. Emang udah bosen gonta-ganti pasangan?" "Jaga mulutmu, Bianca! Mamah ini Mamahmu! Ingat itu!" "Aku ingat! Sangat ingat! Aku ingat kalau kamu adalah Mamahku! Tapi kamu yang lupa, kalau aku adalah anakmu!" Sebulir air mata lolos dari pelupuk mata Bianca. Namira terkejut, ia merangkul pundak Bianca agar tetap tenang. Hesti tak menanggapi, ia mengambil tas mahalnya lalu keluar ruangan tanpa berucapa sepatah kata pun. Bianca meluapkan tangisannya pada Namira. Hatinya sangat sedih. Lazimnya, hubungan seorang ibu dan anak kandung sangat dekat tetapi yang Bianca rasakan justru sebaliknya. Sejak kecil, ia tak pernah merasakan perhatian dan kepedulian yang diberikan seorang ibu kandung. Bahkan pada saat mengambil raport di sekolah pun, Daniel yang datang. Tidak pernah satu kali Hesti datang mengambil raport Bianca. Wanita itu benar-benar terlalu sibuk dengan dunianya. Ternyata, ibu seperti Hesti di dunia ini memang ada. Terkadang Bianca sering bertanya, apa benar ia lahir dari seorang wanita bernama Hesti? Kenapa tidak ada ikatan batin? Pintu ruangan terbuka, seorang lelaki gagah meski usianya tak lagi muda masuk tergesa-gesa. "Bianca, apa tadi Mamahmu datang?" tanya Daniel langsung. Pada saat meeting, Daniel mendengar kabar kalau Hesti keluar dari ruangan pribadinya. "I-iya, Pah." "Dia nyakitin kamu?" telisik Daniel memegang kedua bahu Bianca, menatapnya lekat. "Enggak, Om. Tante Hesti gak nyakitin Bianca. Bia cuma sedih aja soalnya ...." Namira menggantung kalimat, menoleh, memandang anak sambungnya. "Soalnya apa?" tanya Daniel, memindahkan pandangan pada istrinya. "Udah, Pah. Aku gak apa-apa," sela Bianca menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya. "Papah udah selesai kan meetingnya? Aku pengen ke kampus sekarang," ujar Bianca mengambil tas dan buku-bukunya di sofa. Namira mengikuti langkah Bianca. Mengambil tas dan juga buku-buku. "Kamu yakin, baik-baik aja?" Daniel memastikan keadaan anak tersayangnya. Bianca menganggukkan kepala. Daniel mendekat, memeluk tubuh Bianca. "Papah tau, ada ucapan Hesti yang menyakiti hatimu, Bi. Tapi, kamu gak mau bilang sama Papah. Papah akan pastikan, dia gak akan bisa menemuin kamu lagi, oke? Udah, jangan nangis!" Bianca mengangguk, menyeka air matanya lembut. Namira hanya terdiam, merasakan kesedihan yang dialami sahabatnya. Sepanjang jalan menuju kampus, tidak ada yang bicara. Semuanya bergelut dengan pikiran masing-masing. Biasanya Bianca yang heboh bercerita tetapi sekarang dia hanya diam, memandang keluar jendela. Sesekali Bianca menyeka lelehan air matanya. Sampai di kampus, Bianca turun lebih duu. Dia membiarkan Namira dan Daniel berdua di dalam mobil. "Sayang, sekarang kamu cerita sama Om. Apa yang dikatakan Hesti pada Bianca? Dia bilang apa?" Sorot mata Daniel mengisyaratkan kecemasannya pada Bianca. Namira menggigi bibir bawah, ia tampak ragu. Tanpa aba-aba, Daniel meng3cup kedua pipi Namira, bibir dan keningnya. Seketika, raut wajah Namira berubah sumringah. "Om, agresif juga, ya? Aku kan jadi suka ...," kata Namira malu-malu, mengulum senyum, merunduk sambil melirik suaminya. "Kamu menggemaskan, cantik dan seksi." "Masa?" Kedua pipi Namira berubah merona. "Sekarang, kamu cerita, apa yang dikatakan Hesti pada Bianca?" Dengan lancar, Namira bercerita tentang ucapan Hesti dan Bianca. Daniel sangat fokus menyimak cerita istri mudanya. Semakin lama, Daniel semakin menyukai Namira. Gaya bicaranya, tertawanya dan senyumnya. Semua Daniel suka. "Apa reaksi dia waktu tau kamu istriku?" "Kagetlah. Dia gak percaya gitu." Namira mengakhiri ceritanya. Daniel menghela napas panjang, melirik arloji, lima belas menit lagi jam sembilan. "Om, Ayang?" "Hm?" Daniel menoleh, mengubah posisi duduk, lebih menghadap Namira. "Kalau Tante Hesti minta balikan lagi sama Om, Om mau?" "Enggak," jawab Daniel cepat. "Yakin?" Namira memastikan lagi. Ia sangat takut kalau Daniel tergoda dan mau kembali berumah tangga dengan Hesti. "Sangat yakin. Kamu gak usah khawatir untuk itu justru yang aku khawatirkan itu Bianca. Om takut kalau dia dimanfaatkan Hesti. Contohnya sekarang. Hesti menggelapkan uang perusahaan atas nama rekening Bianca. Menurut Om, itu udah gila, terlalu nekat." Namira melongo mendengar informasi yang baru saja disampaikan Daniel. Ia tak menyangka kalau masalah besar yang kemarin dihadapi suaminya adalah masalah Hesti. "Terus, sekarang gimana?" "Rekeningnya udah dibekukan. Mungkin itu, yang jadi alasan Hesti pengen nemuin Om." Namira mengalihkan pandangan ke depan. Mengingat kembali kedatangan Hesti ke kantor sang suami. Andai saja Hesti dan Daniel bertemu, apa yang akan terjadi? "Om Ayang?" "Iya?" "Aku punya pantun." "Pantun apa?" "Ikan Hiu kegatelan, i love you ugal-ugalan," ungkap Namira. Daniel terkekeh, lalu meraih telapak tangan istrinya. Namira terkejut, tapi membiarkan Daniel mencium dan menj1lat ruas jari gadis itu. "Om, kok digituin sih?" Ada perasaan aneh yang menyelimuti diri Namira. Darahnya mendadak terasa memanas. "Sayang, Om cinta kamu. Sayang kamu. Kalau ... mens-mu udah bersih, jangan ditunda lagi," ucap Daniel, mendekatkan wajahnya pada wajah Namira. "Idih, yang suka menunda itu siapa? Om kan? Hem, sekarang aja, giliran aku lagi mens, malah mau," gerutu Namira menghempaskan tangan suaminya. Ia mendekap kedua tangan di depan d**a. "Ya maaf, Om yang salah. Sekarang icip-icip dulu boleh gak? Katanya kalau bagian atas gak apa-apa. Yang penting jangan memasukan. Boleh gak?" Meski malu, Daniel mengungkapkan keinginan yang dia rasakan saat ini. "Di sini?" tanya Namira, membeliakkan kedua mata. "Iya, Sayang. Itu juga kalau boleh." Namira salah tingkah melihat sesuatu yang .... "Kalau ada yang lihat gimana, Om?" Namira takut-takut apalagi banyak mahasiswa yang berseliweran. "Enggak akan ada yang lihat. Kaca mobil Om aman. Kalau gak boleh gak apa-apa. Nanti aja di rumah. Ya udah, turun gih! Sebentar lagi kelasmu dimulai." Daniel mengalihkan pandangan, menarik napas panjang, berusaha menetralisir perasaannya. Namira jadi bingung, antara takut terlihat orang lain dan kasihan pada Daniel yang tampaknya kesulitan menahan. "Ya udah deh boleh. Tapi, di jok belakang. Cuma icip-icip yang atas doang kan, Om?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD