Bab 6. Ibu Sambung

1086 Words
"Ya elah, yang udah nikah, omongannya nikah mulu ... enggak gitu juga kali, Mih. Aku belum siap buat nikah muda. Pacaran juga kan aku masih bisa jaga diri." "Halah, belum tentu. Setan yang ngegodain orang pacaran tuh lebih banyak." "Idih, kayak yang pernah lihat setan aja!" "Emang bener!" Perdebatan antara ibu sambung dan anak sambung itu terus saja berlanjut. Mereka berbeda pandangan perihal pacaran dan pernikahan. Keduanya bersikukuh dengan pendapat masing-masing. "Menikah itu untuk seumur hidup, maunya kan satu kali aja nikahnya. Jadi harus benar-benar selektif cari calon suaminya. Kalau cuma, ya ... iseng-iseng doang atau cuma ngandelin cinta doang mah gampang. Tuh lihat, artis-artis yang pernikahannya mewah tetap aja ujungnya cerai." Bianca masih membela argumentasinya. "Nah itu. Padahal kan artis itu pacarannya lama. Tapi, tetap aja cerai! Ya kan? Ya kan?" Namira merasa di atas angin. Bianca terjebak ucapannya sendiri. Bibirnya manyun beberapa centi, garuk-garuk kepala yang tak gatal. "Iya sih." "Nah kan? Makanya gak jaminan. Pacaran dulu bisa langgeng pernikahan. Intinya, kita harus tau makna pernikahan itu apa? Kalau cuma ngandelin cinta, susah bertahannya karena apa? Cinta itu sifatnya cuma sementara." Gaya Namira sudah seperti pakar cinta saja. Dia mengajari Bianca tentang hakikat cinta sebenarnya. Tentang pentingnya menjaga kepercayaan, saling mengerti dan saling menghargai pasangan. "Ya ampun, Mamih ... kamu tuh udah kayak ibu-ibu beneran deh! Level omongannya tuh udah tingkat umur 30 tahunan." "Yeh, dibilangin malah ngeledek. Anak sambung durhaka!" Bianca tertawa, merangkul pinggang Namira gemas. Sejak orang tuanya bercerai, Namira menjadi tempat berkeluh kesah Bianca. Sebelumnya memang Bianca tidak terlalu dekat dengan mamanya tetapi adanya Namira dalam kehidupannya, membuat Bianca mempunyai tempat cerita. Satu hal yang tak diduga Bianca ketika ia mengetahui kalau Namira diam-diam jatuh hati pada papanya. "Mamih, pulang dari kampus, kita beli cincin lagi, ya? Gak enak banget dilihatnya, udah nikah, jarimu masih kosong. Nih lihat!" Bianca mengangkat jari Namira. "Tapi, jari manisku lecet, Bi. Kamu sih, beliin cincin bisa kekecilan gitu?" "Lah, kamu juga, kenapa diajak beli cincin gak mau? Malah nyuruh aku!" "Waktu itu kan perutku lagi sakit. Ya kamu, harusnya kira-kira. Emang waktu beli gak diukur dulu apah?" "Diukur!" "Pake jarimu yang mana?" "Kelingking," jawab Bianca nyengir kuda. "Heh, dasar! Iyalah kekecilan." Bianca tertawa, mencubit gemas pipi ibu sambungnya. Perdebatan mereka tak pernah ada akhirnya jika tidak terdengar suara pintu diketuk. "Masuk!" serempak, dua gadis itu berteriak. Lalu, keduanya sama-sama tertawa, menertawakan kekompakan mereka. Gelak tawa keduanya terhenti, ketika Bianca melihat orang yang masuk ke dalam ruangan. "Tan ... Tante Hesti?" gumam Namira, tubuhnya menegang melihat wanita yang penampilannya seperti wanita sosialita. Hesti membuka kaca mata hitamnya. Tas bermerk yang menggantung di lengannya ia letakkan di atas meja. Wanita itu raut wajahnya begitu dingin. Dia hanya menoleh sekilas pada Bianca, seolah tak mengenal anak tunggalnya. "Hai, Bi, Hai Namira. Kabar kalian sepertinya baik-baik aja ya? Terutama kamu, Namira. Kelihatannya kamu sekarang tambah cantik setelah diadopsi Daniel? Kamu juga, Bi. Terlihat lebih dewasa dan ... cantik. Persis seperti Mamahnya," seloroh Hesti menatap Bianca dan Namira bergantian. "Enggak apa-apa sih, cantik kayak mamahnya. Asal jangan sifatnya aja kayak mamahnya. Amit-amit, nauzubillahiminzalik," timpal Bianca membuat senyum Hesti seketika hilang. "Bianca, Papahmu mana?" Setelah bertahun-tahun lamanya tak berjumpa, seorang ibu, seorang wanita yang telah melahirkannya, tak ada sedikitpun kerinduan yang terlihat dari kedua bola matanya. Bahkan, Bianca seperti bukan anak kandung Hesti. Namira menoleh pada sahabatnya yang menatap lekat wanita yang tengah duduk di kursi kerja papanya. "Mau apa, kamu nyariin papahku?" Suara Bianca terdengar sangat datar. Tidak ada kata 'Mamah' yang terucap dari bibir mungil itu. Namira terkejut, ia memegang lengan sahabat sekaligus anak sambungnya. Bibir Hesti menyunggingkan senyum sinis, ia berdiri, menghampiri Bianca yang duduk di sofa dan menyuruh Namira berdiri. Hesti duduk di tempat Namira, lalu berusaha meraih telapak tangan anak kandungnya namun dengan kasar, Bianca menghempaskan tangan Hesti. "Karena ada kamu, Bi. Walaupun Mamah dan Papahmu sudah bercerai, tapi kami punya kamu. Kamu yang menjadi penyambung hubungan kami." Perkataan Hesti membuat Bianca dan Namira terkejut. Mereka menatap Hesti sangat lekat. "Maksudmu apa? Hubungan apa? Berkali-kali kamu selingkuhin papahku sampai akhirnya papah sadar kalau kamu bukan istri yang harus dipertahankan. Setelah itu, kamu pergi keluar negeri. Lalu sekarang? Datang lagi dan menyebut hubungan kami? Apa maksudmu?" tantang Bianca tanpa rasa takut. Hesti masih bersikap tenang walaupun hatinya tersinggung. "Maksud Mamah, Mamah akan mengajak papahmu kembali berumah tangga supaya kamu bisa merasakan keutuhan sebuah keluarga. Bukan begitu, Bi?" Bianca tersenyum miring, menggelengkan kepala. "Oh gak usah! Gak usah repot-repot mikirin aku supaya merasakan keutuhan sebuah keluarga? Gak usah ... aku udah terbiasa hanya dengan papah. Aku udah terbiasa, kemana-mana bersama papah. Tapi sekarang ... alhamdulillah, aku udah punya Mamih. Mamih yang selalu ada buatku. Mamih yang selalu mau mendengar keluh kesahku. Mamih yang mau menemaniku kemanapun aku pergi. Jadi, lebih baik kamu urungkan niat itu." Panjang lebar Bianca menjelaskan keinginan hatinya. Namira yang duduk di tempat Hesti sebelumnya hanya merunduk. Ia jadi takut memandang Hesti. Setelah ini, mantan istri suami Namira pasti bertanya, siapa mamih itu? "Papahmu udah nikah lagi?" tanya Hesti dingin. Raut wajah yang sebelumnya tenang, kini berubah masam. Bianca menyandarkan tubuh, bersidekap, dan menatap lurus ke depan. "Udah dong. Secara Papahku kan ganteng, banyak duit, baik hati, setia, pasti banyak wanita yang maulah. Dari yang muda sampe yang seumuran Papah, banyak yang mau. Cuma perempuan bodoh yang menyia-nyiakan Papahku," sindir Bianca menoleh sekilas pada Hesti. Hesti menghela napas berat. Dia pikir, Daniel belum menikah lagi. Dia pikir, Daniel belum bisa melupakan cintanya. Dia pikir, Daniel masih mau menerimanya kembali. Ternyata terlambat. Bianca benar, Daniel memang lelaki yang setia dan baik hati. "Kayaknya Daniel gak bakalan mau kalau menjadikanku istri kedua. Tapi, enggak ada salahnya kalau aku coba bicara," gumam Hesti dalam hati. "Begitu ya? Jadi, sekarang siapa istri baru Papahmu? Apa dia lebih cantik dari Mamah? Lebih muda dari Mamah? Atau jangan-jangan, lebih buruk dari Mamah? Secara kan, Papahmu itu orangnya lurus-lurus aja. Mamah bisa tebak, istri baru Papahmu pasti berasal dari kampung, ya? Yang kelihatan polos, gak ber-make-up dan norak. Iya?" Hesti mengejek selera Daniel. Bianca dan Namira tidak terima. Keduanya membeliakkan mata mendengar ejekan yang keluar dari mulut Hesti. "Jangan sok tau! kamu pengen tau siapa istri baru Papahku?" "Emangnya siapa?" "Tuh, Namira Rashid. Gadis yang beberapa menit lalu kamu bilang semakin cantik." Hesti terkejut. Bianca berdiri, menghampiri Namira yang duduk di kursi. "Kenalin, ini ibu sambungku. Namanya Namira Rashid, usianya masih 19 tahun. Masih gadis, masih perawan. Dan dia yang beberapa menit lalu kamu katakan, semakin cantik. Gimana? Keren banget kan Papahku bisa dapetin istri yang jauh lebih segala-galanya dari istri pertamanya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD