"Iya, dia yang namanya tante Mutiara," jawab Bianca setengah berbisik. Daniel dan yang lainnya terdiam melihat tingkah Namira dan anak kandungnya.
"Eh, kamu ini siapa ya? Kok saya baru lihat." Rupanya Mutiara baru sadar kalau ada Namira diantara mereka. Belum sempat Namira menjawab, Mutiara penuh percaya diri kembali berkata, "Pasti temannya Bianca ya? Kenalan dulu dong, nama Tante, Mutiara. Nama lengkapnya Mutiara Indah, seindah orangnya. Saya adalah salah satu staf Pak Daniel yang sangat setia. Kalau kamu, namanya siapa?" Mutiara mengenalkan diri sendiri, memandang lurus Namira yang masih bergeming sambil menyodorkan sebelah tangannya.
"Oh Tante staf setia Mas Daniel. Kenalkan juga Tante, nama saya Namira Rashid, istri Mas Daniel yang setia." Penuh percaya diri, Namira mengenalkan statusnya sebagai istri Daniel Bragastara.
"Apa? Istri?" Mutiara sontak melepaskan tangan dari genggaman Namira. Ia tak menyangka kalau istri kedua Daniel masih sangat muda bahkan sebaya dengan Bianca.
"Iya. Saya istri sah Mas Daniel. Ngomong-ngomong, kemaren kenapa Tante Mutiara Indah gak datang ke acara pernikahan kami?"
Mutiara terkejut. Sikapnya berubah salah tingkah. Dia memang sengaja tidak datang ke acara pernikahan Daniel dan Namira. Mutiara pikir, istri Daniel sebaya dengannya ternyata jauh lebih muda dan sebaya dengan Bianca yang tak lain anak kandung Daniel. Seketika, Mutiara merasa minder.
Daniel berdehem, memecah keheningan diantara mereka.
"Namira, Bianca, kalian tunggu di ruangan Papah. Papah mau meeting dulu," ujar Daniel pada kedua gadis yang berdiri di dekatnya.
"Siap, Pah," timpal Bianca.
Namira mendekati Daniel, kedua kakinya berjinjit lalu menc1um pipi suaminya. Daniel terkejut akan aksi yang dilakukan Namira. Raut wajahnya berubah memerah karena malu. Namira tersenyum bahagia, sambil berkata, "Semangat meetingnya, Mas Ayang," ucap Namira tersenyum manis sambil melirik Mutiara. Wajah wanita itu berubah masam. Kentara sekali kalau dirinya sangat cemburu akan tingkah Namira pada Daniel.
"I-iya terima kasih. Ya udah, kamu tunggu di ruangan saya dulu."
"Oke, Mas Ayang."
Namira sangat riang, masuk ke dalam ruangan pribadi Daniel.
Di dalam ruangan itu, Namira tertawa terbahak-bahak mengingat kembali raut wajah Mutiara. Bianca yang duduk di sofa ikut tertawa karena ia pun tahu apa yang ditertawakan sahabatnya.
"Kamu tuh gokil, Na! Gak punya malu! Di depan banyak orang, main nyosor-nyosor aja!" tukas Bianca menggelengkan kepala, mengingat aksi sahabat sekaligus ibu sambungnya. Namira menghempaskan bok0ng di sofa samping Bianca. Ia bernapas lega karena puas membuat Mutiara diselimuti amarah dan cemburu.
"Kamu lihat gak tadi? Mukanya si tante Ulat bulu? Beuh, merah! Kayaknya dia dilanda cemburu buta. Hahahaha ...."
Namira dan Bianca tertawa terbahak-bahak. Terutama Bianca, ia sangat bahagia karena Mutiara tidak akan berani menggoda papanya lagi.
"Aku gak nyangka banget kamu kayak gitu tau!" ucap Bianca memencet hidung Namira yang bangir.
"Dih, enggak papanya, enggak anaknya, suka banget sih pencetin hidung aku! Heran." Namira menepis kasar tangan Bianca dari hidungnya. Mengusap-usap hidungnya penuh kasih sayang.
"Salah sendiri kenapa punya hidung mancung! Eh, Na, tadi waktu sarapan, papah bilang ke aku. Katanya mamahku udah ada di sini lagi."
Namira mengubah posisi duduk, lebih menghadap sahabatnya.
"Tante Hesti?" tanya Namira memastikan.
"Iyalah, memangnya mamahku siapa lagi? Aku takut deh, kalau mamah datang ke rumah, terus pengen ngajakin papah balikan."
Bugh!
Spontan, Namira memukul bahu anak sambungnya.
"Kamu kok ngomong gitu sih, Bi? Kamu pengen mamah papah kamu kembali rujuk? Terus ngejadiin sahabatmu ini jadi janda? Tau begitu, ngapain kamu ngerestuin aku nikah sama papahmu? Nyebelin banget jadi orang!" Namira sewot, kedua tangannya bersidekap, bibirnya cemberut.
"Dih, ini Ibu tiri, suuzhon aja sih pikirannya!" cetus Bianca menggelengkan kepala. Namira berpikir, lalu kembali menghadap Bianca.
"Maksudmu?"
"Aku gak mungkin nyuruh mereka rujuk lagi. Amit-amit. Na, meskipun mamahku wanita yang telah melahirkanku, tapi aku gak mau papah kembali lagi ke dia. Gak usahlah aku ceritain alasannya, kamu juga udah tau 'kan?"
Namira memanyunkan bibir, meluncur kata maaf dari mulutnya seraya merangkul pundak Bianca.
"Ya, aku tau. Sorry, Bi ... aku kira kamu berubah pikiran. Pengen orang tuamu bersatu lagi. Aku udah terlanjur cinta mati sama papahmu, Bi. Sumpah deh!"
Bianca tersenyum bahagia, mengusap lengan Namira yang memeluknya. Hati Bianca sangat bersyukur karena ada wanita yang tulus mencintai papanya. Selama ini, Bianca tahu kalau ibu kandungnya tidak pernah bisa tulus mencintai Daniel apalagi bisa setia.
"Makasih ya, Na. Aku gak salah memilih kamu buat jadi istri papahku." Mereka berpelukan beberapa saat. Merasa bersyukur satu sama lain.
"Sama-sama."
"Oh ya, Na. Kamu beneran sekarang lagi menstruasi?"
Tiba-tiba Bianca teringat kejadian semalam waktu papanya meminta pembalut. Bibir Namira kembali mengerucut. Hatinya benar-benar bersedih dan kecewa. Sebulir air mata mengalir, membasahi pipinya.
"I-iya, Bi. Mana kalau mens aku suka lama. Kamu juga tau kan kalau aku mens 7 atau 10 hari? Ya Allah, Bi ... rasanya tuh gimana ya? Udah ngebayangin malam pertama, terus aku hamil, eh malah kepending," ungkap Namira bersedih. Bianca ikut prihatin. Mengusap punggung ibu sambungnya.
"Sabar, Mamih. Mungkin emang belum saatnya kamu bertempur. Aku doakan, semoga Mamih mens-nya cepet selesai," kata Bianca sungguh-sungguh. Namira mengaminkan doa anak sambungnya.
"Aamiin. Bian, kamu yakin mau pindah kuliah kalau aku hamil?" tanya Namira, mengingat rencana Bianca yang ingin pindah kuliah jika Namira benar-benar hamil. Bianca ingin kuliah di luar kota supaya bisa merasakan hidup mandiri. Tidak selalu dikekang papanya.
"Iyalah, Na. Salah satu tujuanku merestui pernikahanmu sama papah kan emang itu. Aku pengen gitu, hidup mandiri tanpa dibayang-bayangi papa terus. Pergi ke kamus sendiri, pulang dari kampus sendiri. Sukur-sukur punya pacar. Jadi kan, bisa ngerasain pacaran. Ya gak, Na?"
Bianca menyenggol bahu Namira. Sebetulnya Namira tidak setuju kalau Bianca pindah kuliah hanya ingin hidup mandiri. Sikap Daniel yang protektif pada Bianca semata-mata karena sangat menyayanginya.
"Harusnya kamu bersyukur, Bi. Punya Papah yang perhatian kayak Om Daniel."
"Ya aku emang bersyukur. Tapi, aku juga pengen kayak temen-temen yang lain. Nge-Mall tanpa papah. Nonton tanpa papah. Selama ini kemana-mana aku selalu sama papah. Papah juga ngelarang aku pacaran. Katanya dari pada aku pacaran, lebih baik nikah muda. Ya ogah! Aku kan pengen ngejar karier dulu," keluh Bianca memandang lurus ke depan.
Namira menghela napas panjang, menggelengkan kepala. Memang benar yang dikatakan Bianca, selama ini setiap pergi kemanapun, Bianca selalu ditemani Daniel. Bahkan sampai sekarang Bianca belum pernah pacaran.
"Tapi, apa yang dikatakan papahmu ada benarnya, Bi. Pacaran zaman sekarang kamu tau sendiri. Serem. Udah deh, jangan pacaran-pacaran. Kalau emang ada cowok yang kamu sukai atau kamu juga suka sama cowok itu, nikah aja sih. Lebih halal, lebih bebas!"
****