Bab 4. Ulat Bulu

1075 Words
Usai salat Subuh, Daniel memerhatikan istrinya yang tertidur pulas. Semalam ia sempat bertanya, berapa hari biasanya Namira menstruasi, ternyata sampai 7 hari. Berarti Daniel harus menahan selama 7 hari pula, itu pun kalau tidak meleset. Daniel duduk di sisi ranjang, menyelipkan anak rambut ke atas telinga Namira. Memandang gadis itu penuh cinta dan kasih sayang. Senyum Daniel mengembang, mengingat awal mula mengenal Namira. Gadis riang yang berteman dengan anak tunggalnya, Bianca. Sekarang tanpa diduga, Namira justru menjadi jodoh keduanya. Ponsel Daniel berdering, ia beranjak cepat, mengangkat panggilan tersebut lalu berjalan ke balkon kamar. Daniel khawatir obrolannya mengganggu tidur Namira. Semalam gadis itu baru bisa tidur terlelap jam dua dini hari. "Hallo, Yud? Gimana? Udah ketahuan siapa yang menggelepkan uang perusahaan?" tanya Daniel langsung bertanya. Semalam Daniel pergi ke kantor karena mendapat kabar kalau laporan keuangan bulan kemarin tidak sesuai dengan uang yang masuk. Daniel dan beberapa staf-nya mencari tahu siapa yang menggelepkan uang tersebut ternyata tidaklah mudah. Oleh karena itu, Daniel memerintahkan Yuda agar bekerja sama dengan salah satu pihak per-Bank-an dan juga ahli IT. Dugaaan Daniel sementara adalah Hesti, mantan istri Daniel yang baru beberapa bulan lalu kembali ke Indonesia setelah sebelumnya tinggal di luar negeri. "Sudah, Pak. Dugaan Bapak benar, Ibu Hesti yang menggelepkan uang melalui rekening atas nama Bianca. Sekarang rekening itu sudah dibekukan oleh pihak Bank." Daniel menghela napas panjang, memijat pelipisnya. Dia sebenarnya sudah malas berurusan dengan Hesti, mantan istrinya yang ketahuan berkali-kali selingkuh. Daniel menceraikan Hesti karena Bianca melihat perselingkuhan mamanya dengan salah satu orang berkewarganegaraan asing. Sekarang wanita itu kembali lagi. Daniel sangat khawatir kalau Hesti datang menemui Bianca. "Oke, nanti saya lihat di kantor. Terima kasih banyak atas bantuanmu, Yuda." "Sama-sama, Pak.' Sambungan telepon terputus. Daniel bergegas mengganti pakaian. Meskipun baru jam lima Subuh, Daniel ingin segera masuk kantor. Ia ingin melihat sendiri kelicikan yang dilakukan mantan istrinya. Tapi, Daniel tak sampai hati membangunkan Namira. Akhirnya Daniel memutuskan menunggu Namira bangun tidur sendiri, setelah itu barulah berangkat ke kantor. Daniel keluar kamar menuju ruang makan. Rupanya Bianca sudah bangun. Anak gadisnya tengah menyantap roti panggang buatan Bi Rusmi. "Mamih kemana, Pah?" tanya Bianca melihat belakang tubuh Daniel. "Belum bangun. Bian, kalau jam 6 Mamihmu udah bangun, kamu di kantor Papah dulu, ya?" "Apa?" Bianca terkejut mendnegar perintah papanya. "Ngapain di kantor Papah?" sambung Bianca sambil mengunyah roti tawar panggangnya. "Papah gak mungkin anterin kalian ke kampus jam 7 pagi. Kamu hari ini ada kelas jam 9 kan?" terka Daniel yang memang sudah tahu betul jadwal kuliah anaknya. Bianca bibirnya mengerucut, menganggukkan kepala. Bianca sebenarnya bosan kalau menunggu di kantor papanya apalagi di sana ada tante Mutiara. Pasti sangat menyebalkan. "Ya udah, kalau gitu kamu tunggu di kantor Papah. Perusahaan lagi ada masalah. Oh iya, Bian. Apa ... Mamah kamu sempat telepon?" Bianca menghentikan suapan roti panggangnya, ia menatap lekat Daniel. "Enggak. Aku juga gak ngarep, males. Emang kenapa Papah tanya gitu?" Bianca tak dapat menutupi rasa tak sukanya pada Hesti yang tak lain wanita yang telah melahirkannya. Mengingat Hesti pernah ketahuan selingkuh oleh Bianca. Hesti juga bukanlah termasuk ibu yang baik. Sewaktu masih menjadi istri Daniel, wanita yang selalu bergaya sosialita itu jarang sekali memerhatian dan mempedulikan Bianca. Gadis itu lebih dekat dengan Daniel. Bianca pun jika di rumah hanya ditemani Bi Rusmi sebelum kedatangan Namira di rumahnya. "Papah dengar, Mamahmu udah kembali ke sini. Dia gak lagi tinggal di Australia. Papah pikir, dia akan menghubungimu, Na," jelas Daniel menatap prihatin pada anak kandungnya. Bianca bisa dikatakan seorang anak yang kurang perhatian seorang ibu. Hesti terlalu sibuk dengan dunianya. Bahkan ketika Bianca sakit, Hesti justru sedang berpesta di club malam bersama teman-temannya. Hal itu membuat Daniel semakin muak hingga ia menceraikan Hesti. Sejak saat itu, Daniel menutup hatinya rapat-rapat. Kepercayaannya terhadap wanita semakin memudar sampai akhirnya Namira datang, dan mengajarkan cinta yang tulus dan penuh perhatian. "Enggak akan, Pah. Memangnya wanita itu inget sama anaknya? Enggak akan inget. Mungkin baginya, aku ini udah mati. Udah mati sejak lama, Pah!" Suara Bianca terdengar penuh emosi dan kekecewaan yang mendalam. Daniel mengerti yang dialami Bianca. Ia tak pernah memaksa anak kandungnya itu untuk menyapa atau menemui Hesti. "Astaghfirullah, jangan bilang gitu, Nak. Kamu harus tetap---" "Enggak, Pah. Aku enggak peduli dia masih inget atau lupa sama aku. Enggak peduli. Sekarang aku udah punya mama baru. Mamih Namira," ujar Bianca tersenyum manis, berusaha menyembunyikan rasa sedih dan kecewanya. Setelah itu, tidak ada yang bicara. Daniel maupun Bianca meneruskan sarapannya. "Om ... Om Ayang ...." Suara Namira terdengar. Daniel dan Bianca mendongak, melihat Namira yang masih mengenakan piyama dan belum mandi menuruni anak tangga. "Om kok ninggalin aku sih?" Namira merajuk, duduk di atas pangkuan Daniel. Bianca yang melihat aksi sahabatnya menggelengkan kepala. "Namira, jangan duduk di sini, duduk di kursi itu," titah Daniel berusaha mengangkat tubuh mungil Namira dari kedua pahanya. Namun, Namira tak juga beranjak, ia justru mengalungkan kedua tangan pada leher Daniel. "Aku takut ditinggalin sama Om ...." ungkap Namira mengalungkan kedua tangan di leher sang suami, menyandarkan kepala pada d**a bidang Daniel. "Mamih, turun dong! Jangan duduk di atas pangkuan Papah! Nanti kaki Papah pegel, Mamih!" tegur Bianca pada Namira. Sebenarnya dia risih dan malu sendiri melihat aksi sahabatnya itu. Namira menoleh, kedua matanya memicing dan mencebik. Mau tidak mau akhirnya dia turun dari pangkuan sang suami. "Cuapin, Ayang ...," rengek Namira membuka lebar mulutnya. "Astaghfirullah, Na! Kamu belum mandi, mangapnya lebar amat? Bau jigong tau!" ejek Bianca pada ibu sambungnya. Namira menoleh, menggelengkan kepala. "Mulutku enggak bau, Bi. Aku kan sebelum tidur gosok gigi dulu. Ya gak, Yang?" Namira semakin tak peduli dengan anggapan Bianca. "Iya. Sini, Om suapin. Bi, kamu mau Papah suapin juga?" "Enggak, Pah. Terima kasih. Papah suapin istri cantik Papah aja. Aku mau ganti pakaian," ujar Bianca menarik kursi dan berjalan menuju kamarnya. "Sayang, nanti kamu dan Bianca ikut ke kantor Om dulu. Kalau udah jam 9, baru Om anterin ke kampus. Oke?" "Oke deh. Pokoknya apapun perintah Om Ayang, pasti aku turutin," kata Namira memeluk erat tubuh suaminya. Setelah sarapan, Namira mandi dan mengganti pakaian. Mereka bersiap-siap pergi ke kantor terlebih dahulu. Sampai di kantor, kedatangan ketiganya disambut oleh beberapa karyawan salah satunya oleh tante Mutiara. "Hallo, Bian ... aduh, kamu ini makin lama makin cantik. Tante sampe pangling lihatnya. Pak Daniel, pinter banget sih bikin anaknya, anaknya pak Daniel bisa secantik ini," ujar Tante Mutiara mengerlingkan sebelah mata pada Daniel. Namira yang melihat wanita itu langsung tak suka. "Bian, Apa ini yang namanya tante Ulat Bulu?" tanya Namira setengah berbisik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD