Part 13
***
Hidup ini memang tak selalu adil, kita akan terus melewati masa sulit.
.
.
.
.
.
Devian kembali ke rumah saat semburat cahaya matahari pagi terlihat di langit. Menemukan Kim Sena duduk dibruang tamu dengan wajah lelah dan muram.
"Dev? Ba-bagaimana keadaan perempuan itu?"
Menghela nafas, Devian hanya dapat menggeleng lemah. Nara kritis setelah melahirkan. Faktor usia dan tekanan emosional selama kehamilan membuat keadaannya semakin tak tertolong. Devian bahkan hanya dapat terdiam bagai orang bodoh saat dokter menjelaskan kondisi Nara.
Ia tidak pernah berpikir akan berada di situasi sulit seperti ini.
"Dev," Kim Sena mengguncang lengan putra semata wayangnya pelan. "Mereka selamat kan, Dev?"
Devian menatap mata ibunya yang berkaca-kaca. Ia yakin perasaan ibunya juga tak beda jauh dengan dirinya.
Memeluk Kim Sena, Devian butuh seseorang yang bisa menjadi tempat ia berbagi perasaan yang sedang ia rasakan saat ini. "Nara ... dia kritis," Kim Sena mengusap punggung putranya pelan, "dia ... melahirkan bayi perempuan."
Kim Sena membiarkan dirinya terisak ketika mengetahui kenyataan yang ada.
oh tidak ya Tuhan. Kenapa harus perempuan? Bagaimana nasib mereka nanti?
******
Hwan tersenyum ramah begitu berpapasan dengan dua suster di lorong rumah sakit. Sekilas ia dapat mendengar pembicaraan mereka tentang seorang wanita muda yang kritis setelah melahirkan.
Melanjutkan perjalanan, Hwan lalu melangkah menuju ruangan para bayi yang baru dilahirkan. Hal yang selalu ia lakukan ketika merindukan Nara. Berdiri di depan dinding kaca, Hwan menatap syahdu bayi-bayi mungil yang ada di dalam tempat tidurnya masing-masing. Mata Hwan tertuju pada salah satu bayi mungil yang tubuhnya tergelung dalam balutan kain merah muda. Wajah bayi itu mengingatkan Hwan pada saat Nara lahir. Saat itu, Hwan sangat bahagia dan tidak hentinya mencium bahkan mengajak Nara bicara meskipun tak direspon.
Hwan tersenyum kecut begitu mengingat semua kenangan di masa lalu. Menyakitkan untuk dikenang namun terlalu indah untuk dilupakan.
Sampai saat ini ia tidak tau apa yang membuat Ibunya tega meninggalkan ia dan Nara kecil di depan panti. Padahal sepenglihatannya sang ibu tak kalah bahagia setelah melahirkan Nara. Ia juga berpesan padanya agar dapat menjadi kakak yang baik, yang bisa melindungi adiknya.
Tapi kini Hwan sadar bahwa ia bukanlah kakak yang baik. Bukan pula jadi seorang pelindung untuk adiknya.
Menyesal, tapi Hwan rasa percuma. Kini ia kehilangan Nara bahkan sebelum mengucapkan kata maaf.
Sebelum pergi, Hwan kembali memperhatikan bayi mungil itu namun matanya melebar begitu membaca kertas yang berisi keterangan waktu kelahiran dan nama ibu si bayi.
"Shin Nara ..." gumamnya tanpa sadar.
Ada banyak Shin Nara di negara ini, tapi kenapa hanya satu nama Shin Nara yang Hwan yakini menjadi ibu dari bayi mungil itu.
*****
Mata itu terbuka, menyesuaikan penglihatan sejenak sebelum cairan bening keluar perlahan diiringi isakan kecil.
Setelah sempat menyerah pada hidup dan takdir, kini ia masih diberikan nikmat oleh Tuhan untuk membuka matanya. Sungguh satu nikmat yang masih Tuhan berikan pada orang yang putus asa bahkan hampir tak percaya pertolongannya.
Seseorang masuk ke ruang tempat Nara dirawat dan segera menekan tombol untuk memanggil dokter saat melihat Nara telah membuka mata.
"Apa kau ingin melihat bayimu?"
Nara menoleh dengan wajah sembab. Saat dokter memeriksa keadaannya ia masih terus menangis. Salah seorang suster yang sudah memantau saat ia tak sadarkan diri selama dua hari masih setia berdiri di samping tempat tidur Nara meskipun dokter telah keluar dari ruangan Nara.
"A-pa? dia hidup? Selamat?" Nara bertanya lirih. Tak bisa ia sembunyikan perasaan ragunya.
Yang ditanya mengangguk, membuat Nara lagi-lagi menangis. Ia tidak menyangka akhirnya Tuhan memilih menyelamatkan mereka berdua.
"Ya, Aku mau melihat bayiku."
Perawat tersebut mengangguk dan berkata akan membawa bayinya ke sana. Namun Nara diminta untuk tidak menangis sebab bekas jahitan di perutnya masih sangat rentan.
******
Pada dasarnya bahagia atau tidak kita sendiri yang menentukan. Banyaknya uang dan tingginya popularitas tidak menjamin seseorang dapat bahagia. Dan bagi Nara, bahagianya sederhana, sesederhana saat ia dapat memeluk tubuh mungil bayinya. Takjub ketika pertama kali melihat wajah cantik putrinya. Meski ia masih harus meringis sakit menahan bekas operasi di perutnya.
Semangat hidupnya kembali hadir saat melihat wajah cantik anaknya. Kini mereka hanya berdua, dan Nara berjanji akan menghadapi hidup lebih baik lagi untuk kebahagiaan mereka.
Nara terus mencium dan membisikan kata sayang pada bayinya, pemandangan mengharukan bagi suster yang setia menunggu Nara. Ia tidak tau kemana laki-laki muda yang beberapa hari lalu membawa Nara ke rumah sakit. Setelah membayar administrasi rumah sakit laki-laki itu menghilang dan tak terlihat lagi bahkan saat Nara selesai menjalani operasi caesar. Ia juga tidak berani untuk menanyakan hal pribadi macam itu kepada pasiennya.
*****
Hampir satu jam Hwan berdiri di depan kamar rawat Nara, melihat bagaimana keadaan Nara tanpa di ketahui siapapun.
Bagaimana mungkin Tuhan mempertemukan mereka begitu mudahnya setelah ia mencari Nara ke sana ke mari namun tidak juga menemukan hasil? tadi, setelah melihat nama Shin Nara sebagai nama ibu dari seorang bayi, ia langsung berlari ke bagian administrasi dan meminta informasi akan umur dan ciri-ciri ibu dari bayi perempuan itu. Butuh beberapa menit untuk Hwan menenangkan diri sebelum melangkah ke kamar rawat adiknya. Tapi sampai di sana Hwan hanya dapat berdiri bagai orang bodoh sembari menahan air mata yang entah sejak kapan mengalir.
Hwan tidak tau, caranya mendapatkan uang dengan mengorbankan Nara berakhir setragis ini. Yang ia pikikan saat itu hanyalah uang. Ia sudah bosan hidup dengan sederhana dan berpikir bahwa pekerjaan kotor yang ia lakukan adalah langkah utama untuk mewujudkan keinginannya. Tidak perduli bahwa masa depan adiknya dipertaruhkan. Sekarang, saat melihat Nara terbaring lemah di ranjang rumah sakit Hwan hanya bisa menangis. Menangisi segala kebodohan dan kejahatannya dulu. Kenyataan bahwa Nara telah melahirkan seorang bayi membuatnya kesakitan. Bukan fisik, melainkan hati.
Nara bahkan tidak menolak ataupun membalas ketika Hwan memeluk Nara yang masih dalam keadaan berbaring. Yang Nara lakukan hanyalah menangis tanpa suara. Sebenarnya ia sangat terkejut mendapati sang kakak, sumber dari masalah yang ia alami berada di ruang rawatnya dengan air mata yang terus membasahi kedua pipinya. Ia meridukan sosok Hwan dengan sangat. Tapi bayangan bagaimana Hwan menjualnya tidak bisa Nara lupakan. Ia ingin melampiaskan semua sakit dan kecewanya pada satu-satunya keluarga yang ia miliki, namun yang ada ia hanya mampu menangis.
Begitu sakit saat orang yang kita sayangi membohongi kita. Orang yang seharusnya menjadi tameng pelindung malah balik menyerang dan menghancurkan.
"Maaf ..."
"Maafkan aku, Nara." Pedih Hwan berbisik.
Hwan berjanji akan menebus semua dosanya terhadap Nara setelah ini. Tidak perduli Nara mau memaafkannya atau tidak, Hwan akan tetap berada di samping Nara, seperti janjinya dulu.
.
.
.
.
.
Trust