Part 12
***
Aku bilang akan melindungimu, tapi itu semua bohong
~Ikon
.
.
.
.
.
Hwan menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya. Membersihkan toilet rumah sakit adalah pekerjaan yang ia kerjakan setelah kesalahan besarnya pada Nara.
Malam setelah meninggalkan Nara pada laki-laki muda di apartemennya, Hwan kembali ke apartemen saat siang dan hanya mendapati dress hitam yang ia berikan pada Nara tergeletak di lantai dengan kondisi terkoyak. Sejak saat itu, hidup Hwan tak tenang, terkadang semua janji-janjinya pada Nara saat mereka masih tinggal di panti asuhan kembali Hwan ingat. Janji yang hanya bisa ia tempati sampai sebelum ia mendapat tawaran bekerja pada salah seorang kenalan. Orang itu juga yang akhirnya merubah pandangan Hwan pada hidup dan uang.
Hwan ditawari pekerjaan yang amat mudah hanya sebagai perantara antara wanita malam dengan lelaki hidung belang. Hwan melakukan negosiasi harga serta mengantar wanita malam pada sang penyewa jasa. Puncaknya, saat ada seorang laki-laki muda mencari perempuan yang masih perawan. Dengan tega Hwan menyodorkan adik kandungnya. Nara dengan segala sifat polos dan mudah percayanya menjadi korban keserakahan sang kakak.
Hwan menghela nafas dalam. Setiap mengingat nama Nara, hanya ada perasaan sakit yang ia rasa.
Rindu?
Hwan mendengkus, pantaskah ia merindu pada orang yang telah ia sakiti?
*****
"Ssshhh ... sakit."
Nafas Devian memburu. Rintihan kesakitan yang ia dengar selama di perjalan ke rumah sakit semakin memacu kerja jantung dan membuatnya panik.
Devian tidak tau apa yang harus dilakukan selain menyuruh petugas rumah sakit membawa Nara ke IGD, mengabaikan tatapan ingin tau dari orang di sekeliling.
Dengan kesadaran yang semakin menipis Nara berjuang keras untuk meraih tangan Devian yang tertahan di depan ruang IGD, "Dev, tolong," dengan tersendat Nara berusaha fokus meminta atensi Devian, "jika nanti a-ku ti-dak selamat, bi-bisakah kau bawa bayiku ke pan-ti asuhan? A-lamatnya di dalam tas yang a-da di kamarku."
Rasa sakit yang teramat sangat membuat Nara berpikir bahwa ia tidak akan bisa selamat. Dan di tengah rasa sakit itu pula Nara masih memikirkan nasib bayinya jika nanti dapat terlahir tanpa ada satupun orang yang menginginkan. Satu-satunya cara yang terlintas di benak Nara adalah menitipkan bayinya di panti asuhan tempat dulu ia tinggal. Ibu panti pasti akan merawat bayinya dengan limpahan kasih sayang sama seperti apa yang dilakukan dulu padanya.
Devian hanya mematung begitu mendengar permintaan Nara. Matanya terpaku pada wajah Nara yang sudah basah dengan air mata dan keringat. Sedangkan Nara berusaha mempertahankan kesadarannya untuk mendengar jawaban Devian. Setidaknya jika ia mati, masih ada yang bisa membawa bayinya ke tempat yang tepat dan layak.
"Dev?"
Tangis Nara pecah. Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Devian saat para perawat membawanya masuk ke ruang operasi. Tak terbendung bagaimana kesedihan Nara selama ini, ia tidak meminta ayah bayinya untuk mengakui dan merawat bayi yang akan lahir ini tapi kenapa hal itu terlihat sulit untuk Devian penuhi? Lalu bagaimana nasib anaknya jika ia tak selamat?
Kalimat dari perawat yang memintanya agar tenang tidak membuat tangisnya berhenti. Nara tidak perduli lagi apa yang akan terjadi nanti. Bahkan sebelum matanya tertutup akibat kesadaran yang mulai menghilang, Nara sempat merapalkan harapan pada Tuhan jika ia tidak bisa selamat maka lebih baik bayinya pun tak selamat.
Devian menatap pintu yang tertutup di depannya. Tangisan, kesakitan, serta permohonan Nara tak bisa hilang dari pikirannya. Kenapa? Apa melahirkan sesakit itu? Mengapa perempuan itu terlihat sangat putus asa?
"Anda suaminya?" Devian menoleh pada seorang dokter perempuan yang menatapnya serius. Entah berapa lama ia berdiri di sana sampai tidak menyadari kalau seorang dokter keluar dari ruang di depannya.
Menggeleng pelan, "saya perwakilan keluarganya."
Dokter itu menghela nafas. "Pasien mengalami pendarahan. Tidak ada jalan lain selain melakukan operasi. Tapi, dilihat dari usia pasien yang masih sangat muda, kami tidak bisa memastikan apakah keduanya dapat selamat atau tidak. Tapi anda tenang saja, kami akan berusaha semaksimal mungkin."
"Lakukan yang terbaik dokter. Tolong, selamatkan mereka." Devian tak tau lagi apa yang harus ia ucapakan dalam keadaan seperti ini selain permohonan tulus yang begitu saja terucap.
"Akan kami usahakan. Silahkan urus administrasinya terlebih dahulu."
Devian mengangguk lalu melakukan apa yang dokter itu katakan.
Mereka harus selamat. Ya. Nara dan bayinya harus selamat.
.
.
.
.
.
//Trust//