Percobaan

1690 Words
Kegiatan MOS pun berakhir sudah, semua tetap aman hingga akhir, meski ada beberapa kejadian tidak mengenakan tapi Citra berhasil melaluinya bersama Aqilla dan juga teman-teman kelompoknya yang sangat kompak. Saat sedang mengantri untuk naik masuk ke dalam bis, tanpa sengaja Citra melihat ke arah mobil J-Ko, dan tanpa sengaja juga tatapannya bertemu dengan mata Jovanka yang berdiri sejenak saat hendak masuk ke dalam mobil J-Ko. Citra mengangguk dan tersenyum, memberikan rasa hormatnya pada seniornya itu, demikian juga Jovanka yang membalas senyuman itu lalu memakai kacamata hitamnya dan masuk duduk di samping J-Ko yang menyetir. Semua mata yang melihat senyuman Jovanka itu sangat bisa melihat bahwa raut wajah tersenyum Jovanka adalah raut wajah penuh kemenangan yang angkuh, hanya Citra seorang yang tidak mengerti tentang hal itu, karena dia memang tidak pernah bergaul dengan orang lain. Aqilla yang melihat kejadian itu segera mendorong Citra untuk naik masuk ke dalam bis dan menghindari berurusan dengan Jovanka. Demikian juga dengan Ardi yang menatap ke arah J-Ko yang sudah duduk di dalam mobil itu, Ardi menghela napas panjang dan besar juga menggelengkan kepalanya. J-Ko juga hanya menganggukkan kepala seolah paham apa yang Ardi maksudkan. Rombongan itupun pulang ke sekolah, dan seperti biasa Citra pun sudah ditunggu oleh sebuah rombongan pengawalan yang begitu ketat, bahkan asisten pribadi dan para pengawalnya itu segera mengamankan Citra dari awal gadis itu turun dari bis hingga langsung masuk ke dalam mobilnya bersama Aqilla. "Sombong sekali! Dasar tukang pamer! berlebihan!" rutuk Jovanka saat dia melihat para pengawal Citra itu. J-Ko hanya diam dan pura-pura tidak mendengarnya. "Kamu tunggu disini aja, aku bantu teman-teman membereskan perlengkapan, lalu kita pulang." ucap J-Ko lalu segera turun keluar dari mobilnya tanpa menunggu jawaban Jovanka. J-Ko pun segera masuk kembali ke sekolah, dan menemukan Ardi disana bersama panitia lainnya sedang membereskan perlengkapan. "Kamu lihat tadi?" tanya Ardi saat J-Ko sudah berdiri di sampingnya sambil membantu membereskan tenda-tenda lipat itu. "Iya." sahut J-Ko singkat dan terdengar frustasi. "Itu yang kutakutkan. Citra terlalu polos untuk menghadapi Jovanka." ucap Ardi lagi. "Ar, bisa tolong aku?" tanya J-Ko berbisik. "Apapun, asalkan tidak membahayakan Citra." sahut Ardi seolah paham apa yang diinginkan J-Ko darinya. "Ar... please." pinta J-Ko dan Ardi pun menghela napas panjang lalu menatap ke arah J-Ko sejenak. "Apa?" tanya Ardi dengan lemas. "Bantu aku mengenal Citra lebih dekat." bisik J-Ko. Ardi masih terus menatap J-Ko dengan diam. "Ardi, aku juga ingin ikut menjaga Citra, please." pinta J-Ko. "Otakmu sudah bergeser ke p****t ya?! Kelamaan duduk di mobil jadi panas deh tuh p****t sekaligus otakmu! Gila aja! Jovanka gimana?!" sahut Ardi kesal. "Justru karena itu, aku minta tolong sama kamu! bagaimanapun cuma kamu yang bisa buat aku lebih dekat dengan Citra di luar lingkungan sekolah tanpa ketahuan Jovanka!" ucap J-Ko. "J, pernah dengar istilah bangkai disembunyikan seperti apapun baunya akan tercium juga! paham kan?!" sahut Ardi lalu melangkah pergi sambil membawa tenda yang terakhir. J-Ko hanya diam dan merasa putus asa. "Baiklah! kamu harus mencobanya sendiri J-Ko! berjuang J-Ko!" tekad J-Ko memberi semangat dirinya sendiri. J-Ko lalu pergi keluar dari sekolah, saat melihat panitia lainnya juga mulai pulang, termasuk Ardi yang langsung melewatinya begitu saja. "J, kita mampir ke cafe dulu yuk! Aku di rumah pasti sepi, karena mama papa pasti belum pulang dari Inggris." bujuk Jovanka saat J-Ko kembali masuk ke mobil. "Sorry Jo, aku butuh istirahat. Kamu juga harus istirahat lho." sahut J-Ko menolak dengan halus. "Iya deh, tapi besok kamu main ke rumah ya." bujuk Jovanka. "Lihat besok ya." sahut J-Ko sambil tersenyum. Jovanka tak bisa lagi berkata-kata, hanya bisa mengangguk dan menahan rasa kecewanya. J-Ko pun mengantarkan Jovanka pulang ke rumahnya, lalu dia segera menuju ke apartment nya. J-Ko sungguh butuh waktu untuk menyendiri, dan itu hanya bisa dia lakukan di apartment nya saja. ********** Tok.Tok.Tok. pintu kamar Citra diketuk dari luar. "Iya Bi Tatis, masuk aja." sahut Citra. "Non, ada tamu di bawah." ucap Bi Minah. "Tamu????" tanya Citra bingung. "Iya non, kayanya sih temen sekolahnya non Citra." sahut Bi Minah. "Laki atau perempuan?" tanya Citra lagi. "Laki-laki, non." sahut Bi. Minah. Citra segera memperbesar layar CCTV rumah yang ada di dalam kamarnya, dan melihat siapa tamunya itu. "Lhoh?! kenapa dia kesini? aduh!" keluh Citra saat melihat siapa tamunya di bawah. Citra segera menghubungi Aqilla dan memberitahu tentang tamu itu. "Bi, saya ganti baju dulu, bibi tolong tunggu di bawah ya, tolong awasi tamu itu! kalau perlu panggil Pak Jaka untuk mengawasi orang itu!" ucap Citra dan langsung dituruti oleh BI Minah. Citra segera berganti pakaian yang sopan, dan menunggu kabar dari Aqilla sambil terus menatap ke arah CCTV. "Ah! itu mereka sudah datang. Syukurlah kak Ardi mau datang juga." ucap Citra pada dirinya sendiri sambil menatap ke arah layar CCTV. Citra pun sengaja memperlambat langkahnya untuk mendengar percakapan Ardi dan tamu itu. "J, aku mohon padamu, jangan membahayakan Citra! please! Kamu lihat sendiri kan siang tadi?! Jovanka itu terlalu kejam bagi Citra! please, J!" ucap Ardi pada tamu itu. Ya, J-Ko lah tamu itu. "Ardi, aku juga mohon padamu, please." sahut J-Ko. "CK! gila! kamu cuma bisa membuat Citra itu celaka di tangan Jovanka! Sadar itu!" ucap Ardi lagi. "Maaf, aku terlambat turun." sela Citra di tengah perdebatan dua laki-laki itu. "Hai." sapa J-Ko dengan berbinar berjalan menghampiri Citra. "Maaf, ada apa senior datang ke rumahku?" tanya Citra dingin. "Aku hanya ingin memberikan hadiah ini. Maaf, terlambat memberikannya." sahut J-Ko menyodorkan sebuah kotak smartphone. "Hadiah? dalam rangka apa?" tanya Citra masih dingin. "Pengganti hadiah kencan sehari denganku." sahut J-Ko. "Hmm... baiklah, Terima kasih senior." ucap Citra menerimanya tanpa ekspresi senang atau ekspresi lainnya. "Citra, apa aku boleh mengajakmu makan malam?" tanya J-Ko. "J, please... kalau Jovanka melihat kalian, semua bisa kacau!" sela Ardi sebelum Citra menjawabnya. "Citra, bolehkah?" tanya J-Ko lagi tanpa peduli pada peringatan Ardi. "Boleh." sahut Citra singkat. "Citra, No!" seru Ardi dan Aqilla bersamaan. "Boleh, tapi makan malamnya di halaman belakang rumahku dan bersama Aqilla juga kak Ardi." ucap Citra melegakan Aqilla dan Ardi. "Baiklah, tapi jangan katakan kalau aku numpang makan gratis ya...." sahut J-Ko dengan tersenyum, Citra pun tersenyum dipaksakan. "Bi Minah, tolong sediakan makan malam spesial untuk 4 orang di halaman belakang ya, 30 menit lagi kami akan makan malam bersama." ucap Citra pada Bi Minah yang berdiri di pojok ruang tamu. Bi Minah pun segera mengangguk dan menghilang ke dapur. "Pak Jaka, tolong seperti biasa ya." lanjut Citra pada kepala tim pengawalan dirinya. "Baik Nona, segera saya siapkan." sahut Pak Jaka lalu keluar dari rumah itu. "Duduklah, makan malam akan siap 30 menit lagi." ucap Citra mempersilahkan tamunya duduk. Citra sengaja mengamit lengan Aqilla saat berjalan menuju sofa, supaya sahabatnya itu duduk di sebelahnya. Ardi pun duduk bersama J-Ko berhadapan dengan kedua gadis itu. "Citra, maaf ya atas kejadian kemarin malam di perkemahan. Jovanka jadi membawa namamu." ucap J-Ko yang juga tak pernah mengarahkan pandangannya ke arah lain, hanya tertuju pada Citra. "Tidak apa senior. Aku lihat senior berdua sudah kembali akrab, aku ikut senang melihatnya." sahut Citra masih terus menatap ke arah J-Ko. "Tidak, tidak, sepertinya kamu benar-benar salah paham dengan kedekatan aku dan Jovanka, kami berdua ini sahabat kecil, sama seperti kamu dan Ardi juga Aqilla." ucap J-Ko menjelaskan. "Kenapa senior berpikir bahwa aku sudah salah paham? untuk apa senior menjelaskan semua itu padaku? kurasa aku tidak berkepentingan apapun untuk dijelaskan tentang kedekatan kalian." sahut Citra sinis, namun masih tetap menatap ke arah J-Ko. Malam ini Citra sangat terlihat sedang membangun tembok tinggi untuk melindungi dirinya dari J-Ko. Citra sudah tahu tentang resiko jika dia menerima untuk dekat dengan J-Ko. J-Ko menyadari sikap dan ucapan sinis Citra malam ini terhadapnya, sungguh berbeda dengan sikap dan cara bicara Citra saat hari pertama mereka mengobrol di sekolah. J-Ko menatap ke arah Ardi, namun sahabatnya itu tetap tak mau membantunya untuk mendekati Citra. J-Ko pun hanya menghela napas berat. "Kamu benar, aku tidak perlu menjelaskan apapun tentang kedekatanku dengan Jovanka. Tapi saat seseorang ingin menjadi teman bagi seseorang lainnya, bukankah dia harus mengatakan dan memperkenalkan dirinya yang sebenarnya? itulah tujuanku, aku kemari karena aku ingin memperkenalkan diriku yang sebenarnya padamu, supaya kita juga bisa berteman." ucap J-Ko akhirnya memberi tanggapan pada Citra. "J-Ko." sela Ardi lagi "Nggak apa Kak Ardi, kita nggak boleh menolak jika ada orang yang ingin berteman dengan kita, apalagi dia seorang idola di sekolah, seharusnya kita bangga karena kita dipilih menjadi temannya. Nggak mudah kan menjadi teman dari seorang idola sekolah? Banyak yang ingin berteman dengannya namun hanya didiamkan saja olehnya. Bukankah sebuah kebanggaan karena kali ini justru dia yang mengajak kita menjadi temannya?." ucap Citra benar-benar sinis menusuk ke J-Ko. Ardi pun kini menatap ke arah J-Ko dengan tidak tega. Seorang J-Ko biasanya tidak akan pernah tetap diam dan tenang seperti ini jika ada yang sinis terhadapnya. "J..." panggil Ardi karena melihat J-Ko hanya tersenyum menatap ke arah Citra. Ardi dan Aqilla semakin bingung, saat kedua orang di samping mereka itu hanya saling menatap dan diam. Ardi pun menghela napas panjang dan merebahkan kepalanya ke sandaran sofa. "Kalian mau sampai kapan beradu tatap seperti itu? Aku jamin lima menit lagi kalian pasti akan saling jatuh cinta." sindir Ardi dan membuat Citra segera menoleh menatap tajam ke arahnya, Ardi pun hanya terkekeh begitu juga dengan Aqilla. "Nggak perlu lima menit lagi kok Ar..., sekarang aja aku sudah jatuh cinta sama adikmu ini." ucap J-Ko dan membuat kaget Citra juga Aqilla. J-Ko masih tetap menatap Citra dan tersenyum saat mata mereka kembali bertemu. "Jadi pertemananku diterima?" tanya J-Ko, dan Citra hanya diam. "Atau pernyataan cintaku yang diterima?" lanjut J-Ko dan membuat Citra semakin menghela napas panjang dan berat. "Bagaimana dengan kak Jovanka?" tanya Citra sungguh membuat kaget Ardi juga Aqilla. "Citra, No!" larang Aqilla sambil menyenggol Citra supaya bisa sadar dengan ucapannya sendiri. "Jovanka nggak punya hak apapun untuk mengatur aku ingin berteman dengan siapapun atau bahkan pacaran dengan siapapun." sahut J-Ko dengan tenang dan santai. "J, kamu jangan gila! Bagaimana jika Jovanka mencelakai Citra seperti terhadap gadis itu?" Nasehat Ardi yang cemas terhadap Citra. "Aku pasti melindungi adikmu ini. Percayalah padaku!" sahut J-Ko masih saja menatap ke arah Citra tanpa jeda, seakan sedang merekam setiap inchi wajah manis itu di otaknya. "Bagaimana? kamu mau mencoba jadi temanku atau pacarku?" tanya J-Ko lagi. ***************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD