Penjelasan

1855 Words
"Sudah ingat?!" tanya Ardi setelah beberapa saat ada keheningan diantara dirinya dan J-Ko. "Aku ingat semua kejadian 3 hari ini, Ardi. Tapi aku tetap tidak merasa kalau aku sudah mengutamakan gadis itu dan nggak peduli pada Jovanka hanya demi gadis itu!" sahut J-Ko dan membuat jengah Ardi. "Astaga! dasar nggak peka!" rutuk Ardi kesal "Ardi, pertama aku hanya mengobrol dengan gadis itu sebentar, itupun aku langsung memanggil Jovanka untuk bergabung. Lalu kedua, aku menolongnya ke ruang kesehatan saat dia pingsan di pos aku, ya memang aku meninggalkan Jovanka saat itu, tapi kamu pun pasti akan melakukan hal yang sama denganku kan? aku tanya padamu, jika kamu ada di posisiku saat itu, apakah kamu masih akan mengajak Jovanka ikut ke ruang kesehatan? lalu siapa yang akan menjaga pos? kamu ini aneh! bagian mana yang aku lebih mengutamakan gadis itu dan nggak peduli pada Jovanka?! coba katakan padaku!" ucap J-Ko memberi penjelasan secara subyektif. "Kalau dipikir seperti itu memang sih kamu nggak kelihatan lebih mengutamakan Citra dan nggak peduli sama Jovanka. Tapi, bagi kami semua yang kenal siapa kamu dan bagaimana karaktermu selama ini, maka semua sangat terlihat berbeda! Apa kamu ingat saat MOS tahun lalu dan ada seorang peserta pingsan di hadapanmu? dia juga seorang gadis cantik, tapi apa yang kamu lakukan? kamu justru berteriak memanggil aku dan Varrel untuk mengangkat dan membawanya ke ruang kesehatan! aneh kan?!" sahut Ardi. "Kalian hanya berpikir terlalu jauh! aku satu-satunya laki-laki di pos itu! lalu kalau aku harus meminta semua gadis itu mengangkat tubuh temannya, apa kata dunia??! aku bukan laki-laki selemah itu, Ardi!" ucap J-Ko. "Oke, baiklah! sekarang aku tanya, kenapa kamu sering memandang ke arah Citra? secara level 1 sampai 10, seberapa level rasa sukamu terhadap Citra?! Jujur saja! aku sangat melihat kamu menyukai gadis itu." sahut Ardi tak mau berdebat panjang dengan J-Ko. "8 mungkin 9." jawab J-Ko dan Ardi pun terkekeh. "Hei, jangan menertawakan ku!" kesal J-Ko. "Astaga! ini gila! bagaimana bisa dia menyukaiku?" Batin Citra yang sedari tadi bersembunyi dan menguping pembicaraan kedua senior itu. Ardi masih terus tersenyum lebar menatap ke arah J-Ko. "Kenapa kamu terus tertawa?! nggak salah kan kalau aku menyukai gadis itu?! dia cerdas, dia memiliki wajah yang manis, dia kaya tapi tetap sederhana, dia unik, dia berbeda, dia sungguh sempurna, wajar jika aku menyukainya! laki-laki normal pasti mudah menyukainya, Ardi!" ucap J-Ko. "Ya, dia memang berbeda dari gadis lainnya, dia gadis yang sempurna, tapi sebaiknya kamu bicarakan dengan Jovanka secara baik-baik, jangan sampai Jovanka melakukan hal yang buruk pada Citra. Aku nggak mau kamu terus tutup mata terhadap segala perbuatan Jovanka yang mengganggu siapapun gadis yang terlihat suka padamu. Kamu bisa tutup mata karena mereka tidak masuk dalam hitunganmu, tapi jika Citra memang gadis yang kamu sukai, maka kamu harus mampu melindunginya! Berjanjilah! aku nggak mau ada korban Jovanka lagi mulai sekarang." sahut Ardi menasehati J-Ko. "Gadis itu selalu menolakku, Ardi. Bagaimana aku bisa melindunginya? Itulah yang membuatku kesal sejak kemarin." keluh J-Ko. "Aku tidak perlu dilindungi oleh senior!" sahut sebuah suara gadis yang mengejutkan keduanya. Citra keluar dari persembunyiannya. "Citra???" sebut keduanya terkejut dan bingung. "Sejak kapan kamu ada disana?!" tanya J-Ko kesal karena malu dan gugup. "Sejak kapan itu nggak penting! yang jelas aku dengar semua sebelum kalimat 8 sampai 9 tadi." sahut Citra membuat J-Ko semakin terkejut, Ardi hanya tersenyum lebar melihat interaksi keduanya. "Kembali ke tendamu sekarang! atau besok kamu akan mendapat hukuman fisik?!" perintah J-Ko dengan ancaman terhadap Citra. "Aku pasti kembali ke tendaku, tenang saja! senior nggak perlu mengancamku seolah aku ini anak kecil!" sahut Citra. J-Ko menghela napas panjang dan berat. "Ardi, sebaiknya kamu aja yang bicara padanya! aku sungguh nggak bisa sabar menghadapi gadis ini!" keluh J-Ko pada Ardi. "Citra, kamu mau ngomong apa?" tanya Ardi lembut. "Senior, nggak perlu cemas bagaimana menjaga diriku, aku sungguh bisa menjaga diriku sendiri. Kurasa senior tidak lupa bagaimana pengawalan ketat yang diberikan keluargaku padaku kan? bahkan sampai saat ini aku pun sebenarnya membawa beberapa pengawal yang senior tidak sadari. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih sudah menyukaiku, aku juga menyukai senior sama seperti peserta yang lainnya. Tapi bagaimanapun senior lebih serasi dengan senior Jovanka. Dia gadis yang sangat baik, lebih baik jangan sia-siakan dia dan terlambat menyadarinya." jelas Citra. "J-Ko, ada yang ingin kamu katakan?" tanya Ardi seolah sedang menjadi mediator bagi keduanya. "Maaf, bukan urusanmu dalam hubunganku dengan Jovanka. Sekarang kembalilah ke tendamu!" sahut J-Ko merasa ditolak lagi oleh Citra. Citra pun tanpa bicara lagi, segera berbalik dan berjalan menuju ke tendanya. Ardi hanya tersenyum dan menghela napasnya panjang. "J, aku harus bicara serius padamu tentang Citra." ucap Ardi lebih serius. "Ada apa? Apa kamu sudah mengenal gadis itu sebelumnya? atau jangan-jangan dia mantan pacarmu?!" tanya J-Ko dengan tatapan curiga. "Maaf, aku menyembunyikannya darimu dan kalian semua. Aqilla sebenarnya adalah adik kandungku, Sedangkan Citra adalah sahabatku dan Aqilla sejak kami kecil dulu. Rumah kami juga bersebelahan, karena itulah aku sangat mengenal siapa Citra dan bagaimana karakternya dan seluruh hidupnya. Aku memang sangat menyayanginya, sama seperti aku menyayangi Aqilla. Aku sudah menganggapnya sebagai adik kandungku sendiri, nggak pernah ada sedikitpun rasa cinta dan sayangku padanya selain sebagai seorang kakak." sahut Ardi. "J, jujur, aku lah yang memintanya untuk berhati-hati dan menjaga jarak denganmu dan Jovanka. Aku nggak mau terjadi hal buruk padanya, sudah terlalu banyak hal buruk yang pernah dia alami, J. Aku nggak mau saat dia akhirnya bisa bebas dari sangkar emasnya itu, justru dia mengalami hal yang jauh lebih buruk lagi. Ini adalah pertama kalinya dia bisa sedikit dilepas oleh keluarganya dari sangkar emasnya. Aku sangat melihat binar kebahagiaan di wajahnya, karena itu jugalah aku berani menjadi jaminan bagi keselamatannya di sekolah ini." Lanjut Ardi. "Apa yang sudah terjadi padanya?" tanya J-Ko. "Apa kamu tahu siapa sebenarnya dia?" Ardi balik bertanya dan J-Ko menggelengkan kepalanya. "Dia putri tunggal dari Bapak Mahardika Hartawan Jaya, pengusaha yang masuk dalam urutan 3 besar orang terkaya di Asia Tenggara. Banyak lawan bisnis Daddy nya yang selalu mengincar dia sebagai bahan untuk ancaman atas segala bisnisnya. Sebenarnya dia bukanlah putri tunggal, dia memiliki dua orang kakak lagi. Sayang sekali, saat dia berumur 5 tahun, sebuah penculikan telah membunuh seorang dari kakaknya dan yang satu lagi menghilang tanpa jejak hingga saat ini. Citra lah satu-satunya yang mampu diselamatkan dan kembali ke keluarganya. 11 tahun lamanya, dia selalu sekolah private homeschooling, selama itu jugalah hanya aku dan Aqilla yang diijinkan untuk berteman dengannya dan pergi bersamanya. Baru saja dia berhasil melewati trauma penculikannya, suatu hari saat usianya 12 tahun, dia yang masih polos itu harus menjadi korban kekerasan seksual oleh seorang tukang kebunnya yang sudah lansia, ya meskipun dia berhasil diselamatkan sebelum kehilangan kegadisannya, tapi kejadian itu semakin menambah traumanya pada orang lain di luar keluarganya dan keluargaku. Terlalu besar trauma dalam dirinya, J. Terlalu besar juga ketakutan keluarganya terhadap keselamatan dirinya. Hal itu jugalah yang membuat aku dan Aqilla juga takut dan nggak mau terjadi hal buruk pada Citra. J, dia itu gadis yang rapuh dalam jiwanya, meski dari luar dia terlihat tangguh dan kuat." jelas Ardi panjang. "Aku akan ikut menjaganya, Ar." sahut J-Ko membuat Ardi tersentak kaget. "Bantu aku ya..." pinta J-Ko lagi dan Ardi hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. "Kamu sedang jatuh cinta ya? aku belum pernah lihat kamu seperti ini sejak 5 tahun yang lalu aku mengenalmu." tanya Ardi. "Bukankah itu hal baik? aku akhirnya bisa jatuh cinta untuk pertama kalinya, jadi kamu dan Varrel juga Bram nggak akan lagi meragukan kesehatanku sebagai laki-laki." sahut J-Ko. "Bagaimana dengan Jovanka?" tanya Ardi kembali serius. "Aku akan bicara baik-baik dengannya, kuharap dia bisa membebaskan aku dalam meraih kebahagiaanku." sahut J-Ko. "Apa kamu sanggup lebih membela dan menjaga Citra saat Jovanka mulai berlaku seperti dulu lagi?" tanya Ardi. "Jovanka seharusnya sadar, bahwa usianya saat ini sudah masuk dalam usia dewasa, usia yang sudah bisa dijatuhi hukuman penjara karena sebuah penganiayaan. Dulu dia tetap lepas bebas karena usianya masih sangat dibawah umur saat melakukan penganiayaan gila itu." sahut J-Ko. "Dia posesif terhadapmu, J. Terlalu posesif! Itu sangat berbahaya bagi Citra, J. Terlalu berbahaya!" ucap Ardi. "Aku tahu, aku akan menjaga jarak dengan Citra, selama aku belum bisa meyakinkan Jovanka untuk melepaskan posesifnya terhadap aku." sahut J-Ko. "Thank you, J. Sekarang sebaiknya kita lihat kondisi Jovanka, supaya besok kegiatan dapat kembali normal dan kalian nggak menjadi gosip murahan di antara peserta." ucap Ardi dan J-Ko pun mengangguk setuju serta mengucapkan terima kasih juga pada sahabatnya itu. Keduanya pun melangkah bersama menuju ke tenda Jovanka. Terlihat disana Jovanka masih saja menangis dalam pelukan Vika. "Maaf, bisa aku dan Jovanka bicara berdua saja?" ucap J-Ko meminta waktu pada panitia lainnya. Ardi pun mengangguk saat mereka menatapnya seolah bertanya pada Ardi. Semua panitia pun melangkah keluar bersama Ardi dan membiarkan keduanya bicara. "Jo, maaf ya. Aku sudah bentak kamu tadi. Maaf ya Jo." ucap J-Ko dan Jovanka pun segera merajuk masuk memeluk tubuh J-Ko. J-Ko tidak pernah menolak sejak dulu, Jovanka selalu manja dan merajuk padanya sejak dulu. J-Ko hanya menganggap itu hal wajar karena Jovanka nggak memiliki saudara kandung dan orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan sosialitanya masing-masing. "Kamu jahat! kamu sudah bikin aku malu! Kamu sekarang sudah mulai bentak-bentak dan marah-marah sama aku! aku nggak suka! aku nggak mau kamu seperti itu!" omel Jovanka dengan manjanya menangis dalam pelukan J-Ko. "Iya maaf, aku nggak akan bentak dan marah sama kamu lagi. aku janji! tapi kamu juga harus janji, kalau kamu nggak bakal nuduh aku macam-macam! aku paling nggak suka difitnah, apalagi fitnah itu dari kamu, beneran menyakitkan tahu nggak?!" sahut J-Ko. Jovanka menarik dirinya keluar dari pelukan J-Ko dan menatapnya bingung sekaligus binar bahagia. "Apa benar kamu nggak ada hubungan apapun dengan siswi baru itu?" tanya Jovanka. "Kami nggak ada hubungan apapun Jo, kan aku sudah ngomong ke kamu, tapi kamu nggak percaya!" sahut J-Ko. Jovanka pun tersenyum lebar, semudah itu dia dihibur oleh J-Ko. "Jo, kita sudah bukan anak kecil lagi. Aku dan kamu sudah sama-sama semakin dewasa, suatu saat kamu akan mencintai seorang laki-laki dan aku akan mencintai seorang wanita. Sebaiknya kita mulai membaur dengan yang lainnya juga Jo, nggak baik kalau mereka selalu salah mengartikan persahabatan kita." ucap J-Ko. "Biarin aja! aku cuma merasa nyaman sama kamu, J! asal ada kamu, aku nggak butuh semua orang di dunia ini, termasuk kedua orangtuaku sekalipun!" sahut Jovanka. J-Ko pun hanya menghela napas panjang dan tersenyum menatap Jovanka. "Tidur ya, besok masih harus kegiatan penutupan lagi." ucap J-Ko mengusap puncak kepala Jovanka, memilih mengakhiri pembicaraan mereka, karena Jovanka masih belum bisa diajak berbicara dengan baik. Jovanka pun mengangguk tersenyum dan sekali lagi merasuk memeluk pinggang J-Ko. "Sudah ya, aku juga butuh tidur, ngantuk." ucap J-Ko lagi sambil melepaskan pelukan Jovanka. J-Ko pun keluar dari tenda itu sambil menghela napas panjang dan memaksa dirinya sendiri untuk tersenyum pada beberapa panitia yang menunggu di luar tenda itu dengan cemas. Para panitia itupun menghela napas lega melihat senyuman J-Ko, namun tidak dengan Ardi. Ardi tahu masalahnya belum selesai, dan J-Ko pasti kembali memilih mengalah pada Jovanka. Ardi segera merangkul pundak J-Ko saat laki-laki itu sudah berada di dekatnya. "Bobo yuk." ajak Ardi, dan langsung mendapat tonjokan di perutnya dari siku lengan J-Ko. Dugh! "Apaan sih?!" omel J-Ko lalu keduanya terkekeh bersama. ***********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD