Citra segera diberi infus setelah selesai diperiksa oleh dokter yang bertugas di ruang kesehatan Boulevard School. Sekarang hanya tersisa J-Ko saja yang menunggui Citra di ruangan itu, sedangkan Aqilla bersama anggota kelompok yang lain harus kembali ke lapangan untuk mengikuti acara selanjutnya.
J-Ko terus menatap ke arah Citra, rasa cemasnya mulai sedikit berkurang karena dokter mengatakan bahwa Citra hanya mengalami kelelahan parah dan sedikit gejala dehidrasi, cukup menunggu Citra sadar dan cairan infusnya habis, maka Citra akan kembali baik.
J-Ko tersenyum lega ketika Citra mulai melenguh pelan, tanda dia mulai kembali sadar dan berusaha membuka matanya.
"Pelan-pelan saja, jangan dipaksa." ucap J-Ko terdengar penuh perhatian pada Citra.
Citra membuka matanya lalu menoleh pada sekelilingnya, dia hanya mendapati J-Ko seorang saja di dekat tempat tidurnya.
"Maaf merepotkan senior. Berapa lama aku tidak sadar?" tanya Citra merasa tidak enak hati.
"Sudah tanggung jawab aku, karena kamu pingsan di pos aku. Kamu tidur sekitar 2 jam, dan kamu masih harus istirahat disini sampai cairan infus ini habis." sahut J-Ko sambil tersenyum.
"Aku ini pingsan, bukan tidur! Senior jangan menyebarkan fitnah deh." protes Citra sambil bercanda.
J-Ko pun terkekeh mendengarnya.
"Kamu lucu ya." sahut J-Ko masih terkekeh.
"Besok lebih baik kamu tidak ikut kegiatan berkemah. Kegiatannya memang tidak seberat hari ini, tapi udara dingin di hutan mungkin bisa membuatmu tidak bertahan. Jadi akan lebih baik jika aku memberikan ijin untukmu tidak berangkat berkemah." ucap J-Ko dengan bijak.
"Tidak perlu, aku akan tetap ikut kegiatan berkemah besok. Aku akan istirahat saat pulang nanti, jadi besok aku sudah kembali kuat." sahut Citra.
"Jangan memaksakan dirimu, aku tidak mau saat di hutan nanti kamu akan jadi lebih parah dari ini, ya meskipun panitia tetap mengajak seorang dokter bersama peralatan sederhana dan obat-obatan untuk pertolongan pertama. Tapi jarak tempat kemah dengan kota terdekat itu sangat jauh." jelas J-Ko.
"Senior tenang saja, aku pasti baik-baik saja." sahut Citra dan J-Ko hanya menghela napas panjang.
"Ternyata kamu keras kepala juga ya." ucap J-Ko.
"Terima kasih atas pujiannya." sahut Citra dengan cengiran kuda. J-Ko pun tak tahan dan akhirnya kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Seseorang masuk dengan memakai jas putih panjang.
"Bagaimana pasien kita, J-Ko?" sapa wanita yang seumuran dengan ibu mereka berdua.
"Maaf dok, saya tidak memanggil dokter saat dia sadar tadi, karena dia langsung bisa diajak berdebat, itu tandanya dia baik-baik saja, bukan begitu dokter?" sahut J-Ko menyindir Citra.
Citra tidak merasa tersinggung, dia tetap cuek saja dengan ucapan J-Ko. Citra hanya memperhatikan ke arah dokter yang sedang memeriksanya.
"Jika kamu tidak mual, coba untuk makan ya supaya asam lambung kamu tidak naik, karena kamu sudah melewatkan jam makan siangmu." pesan sang dokter dengan penuh perhatian.
"Terima kasih Dok, saya ada membawa bekal dari rumah." sahut Citra dengan tersenyum.
"Bagus! lebih cepat makan, tenagamu akan lebih cepat pulih." ucap dokter.
"Aku akan mengambil bekalmu, pasti ada di dalam tas mu kan?" tanya J-Ko menawarkan bantuan.
"Tidak perlu senior, aku belum lapar." tolak Citra.
"Senior, terima kasih sudah menolong aku, tapi lebih baik senior kembali bertugas. Aku tak masalah disini berdua dengan dokter." ucap Citra lagi.
"Kegiatan MOS hari ini sudah hampir selesai, Senior Jovanka dan Ardi sudah membantuku untuk menutup kegiatan hari ini. Setelah infusnya habis, aku akan mengantarmu ke mobilmu." sahut J-Ko.
"Tidak perlu senior, Aqilla pasti akan kesini setelah kegiatan selesai." ucap Citra berusaha menolak apapun kebaikan yang berusaha diberikan J-Ko.
"Aku senior yang tidak suka pada penolakan." ucap J-Ko mulai merasa Citra seolah tidak berminat dengannya.
"Maaf, tapi aku juga peserta yang tidak suka dipaksa apalagi pada suatu hal yang berlebihan." sahut Citra.
J-Ko terus menatap tajam pada Citra.
"Kenapa gadis ini seakan tidak senang berada di dekatku?" Batin J-Ko sedikit tersinggung dengan sikap keras kepala dan penolakan yang Citra tunjukkan sedari tadi terhadapnya.
Keduanya terus beradu tatap hingga beberapa menit lamanya, hingga tak menyadari bahwa Aqilla dan Jovanka kini sudah masuk ke ruangan itu.
"Citra!" seru Aqilla sambil memukul lengan Citra.
"CK! apaan sih?!" protes Citra yang terkejut.
Seruan Aqilla itu tidak hanya mengejutkan Citra tapi juga menyadarkan J-Ko sekaligus membuat senior itu gugup.
"J-Ko, kamu sudah ditunggu di basecamp! katanya kamu hanya akan menunggunya hingga sadar?! Kenapa sampai lama seperti ini?!" protes Jovanka merasa tidak senang dengan adegan adu tatap antara Citra dan J-Ko barusan.
"Dia juga barusaja sadar Jo, kalau kamu tidak percaya, tanya saja sama Dokter Rebecca!" sahut J-Ko ketus dan langsung keluar tanpa peduli dan tanpa berpamitan pada semuanya yang ada disana. Jovanka juga segera menyusul langkah J-Ko tanpa peduli pada Citra.
"Citra! sudah aku ingatkan! jangan berurusan dengan dua senior itu! aku sungguh takut tadi, saat senior Jovanka melihat kamu masih saling tatap dengan senior J-Ko." ucap Aqilla.
"Aqilla, sebaiknya kamu panggil dokternya untuk melepaskan infus ini. Aku sungguh ingin pulang." sahut Citra tak peduli dengan ucapan Aqilla.
Aqilla pun segera memanggil dokter di luar ruangan, dan infus Citra pun segera dilepas. Kedua sahabat itu segera mengucapkan terima kasih dan berpamitan dengan sang dokter lalu keluar dari ruangan kesehatan.
"Apa yang sedang kalian lakukan tadi? mengapa kalian saling menatap seperti tadi?" tanya Aqilla setelah masuk ke dalam mobil.
"Percayalah! tadi itu tidak seperti yang ada di pikiranmu dan pikiran senior Jovanka! Aqilla, aku benar-benar menuruti perkataanmu! Senior J-Ko itu menawarkan sebuah ijin untuk besok aku tidak ikut berkemah, tapi aku menolak, lalu beberapa tawaran kebaikan lainnya lagi dan aku tetap menolak, dan sepertinya dia tersinggung jadi dia menatapku dengan tajam seperti tadi. Aku tidak mau dianggap lemah dan penakut, maka itu aku juga melawan tatapan tajamnya itu." sahut Citra dengan santai.
Aqilla juga di satu sisi merasa lega, tapi di lain sisi dia masih cemas, karena entah bagaimana cara Citra menolak, yang jelas senior J-Ko pasti sudah tersinggung pada sahabatnya itu.
"Citra, jika melihat kondisimu seperti tadi, sepertinya kamu memang lebih baik istirahat di rumah dan tidak ikut berkemah." nasehat Aqilla.
"Tidak, aku sudah menolak tawaran senior tadi, jadi tidak mungkin aku tidak ikut berkemah besok! Kamu mau aku malu di depan senior itu?!" tolak Citra.
"Tapi kamu bisa meminta surat keterangan dari dokter Nadya! Dokter kepercayaan keluargamu itu pasti akan memberikan surat keterangan sakit untukmu!" usul Aqilla.
"Astaga Aqilla! Itu sama saja dengan aku menyerah pasrah pada orang tuaku dan kembali bersekolah di rumah secara private! Kumohon Aqilla..., biarkan aku ikut berkemah ya..., jangan cerita apapun pada orang tuaku ya... please..." mohon Citra.
"Tapi fisikmu nggak akan kuat Citra!" bantah Aqilla.
"Aqilla, aku lemah karena selama ini aku tidak pernah dibiarkan mencoba melakukan semua hal menyenangkan seperti tadi! kamu nggak mau kan kalau punya sahabat yang selalu lemah dan merepotkanmu terus?! ayolah Aqilla, bantu aku menjadi kuat! please..." mohon Citra lagi.
"Citra, aku nggak pernah masalah kok kalau selalu kamu repotkan! asal kamu selalu baik-baik aja! baiklah, besok kamu ikut berkemah! tapi dengan syarat! kamu tidak boleh memaksakan diri seperti tadi lagi! kesehatanmu lebih penting dari apapun Citra! aku nggak mau kehilangan sahabat terbaikku!" sahut Aqilla akhirnya mengalah dan menuruti permintaan Citra.
Citra pun langsung memeluk sahabat terbaiknya itu bahkan mencium pipinya.
"Terima kasih Aqilla ku yang terbaik..." ucap Citra, dan Aqilla pun hanya bisa ikut tersenyum melihat betapa bahagianya sahabatnya itu bisa terbebas dari sarang emasnya sejenak.
*****
"J-Ko, tunggu! kenapa sih dengan kamu?! kamu marah karena aku mengganggu suasana romantis kalian tadi?! J-Ko! J-Ko!" seru Jovanka yang merasa kesulitan mengejar langkah J-Ko sejak tadi.
"OK! Fine! aku minta maaf sudah mengganggu kemesraan kalian tadi!" seru Jovanka lagi dan kali ini membuat J-Ko berhenti melangkah dan bahkan berbalik mendekati Jovanka.
"Tahu apa kamu tentang kejadian tadi?! Jo! jangan selalu membenarkan asumsi di kepalamu sendiri! kejadian tadi tidak seperti yang kamu pikirkan! rendah sekali cara berpikirmu! Asal kamu tahu aja! gadis tadi sangat berbeda dengan siswi yang biasanya kamu temukan! Dia sungguh tidak menyukaiku dan bahkan menolak semua tawaran kebaikanku! mulai sekarang, jangan pernah bicara apapun yang tidak kamu ketahui! paham?!" marah J-Ko panjang kepada Jovanka. J-Ko kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju ke basement, tak peduli pada Jovanka yang gemetar ketakutan karena amarahnya.
Ini pertama kalinya J-Ko marah dan membentak Jovanka dengan keras, setelah belasan tahun mereka menjadi sahabat dekat. Jovanka bahkan sudah hampir menangis, jika saja J-Ko masih melanjutkan marahnya dan tidak langsung pergi.
"J-Ko...." sebut Jovanka pelan sambil menahan rasa sesak di dadanya, airmata akhirnya mulai mengalir di pipinya, tapi segera Jovanka usap dan dia menahannya dengan sangat berat. Jovanka menarik napas panjang dan menghembuskannya, dia langsung mengatur emosinya supaya tidak dipandang lemah oleh siapapun, dan segera menyusul langkah J-Ko lagi ke basecamp organisasi siswa.
Mereka pun segera kembali profesional dan bertanggung jawab selama briefing penutupan hari ini sekaligus persiapan berkemah besok.
Jovanka pun hanya membiarkan J-Ko meninggalkannya pulang sendiri saat semuanya sudah selesai hari ini. Jovanka tidak mau memaksa J-Ko dan berakhir dengan bentakan seperti tadi lagi yang akan membuatnya malu di hadapan panitia lainnya. Jovanka hanya menatap cemas pada mobil sport J-Ko yang melaju kencang meninggalkan halaman sekolah.
"Apa yang terjadi padamu J-Ko? Benarkah gadis itu sudah menolak semua kebaikanmu? tapi mengapa kamu jadi marah hanya karena gadis itu menolak tawaranmu? Apa kamu mulai menyukai gadis itu J-Ko?" Batin Jovanka penasaran sekaligus cemas dan terluka bahkan sebelum asumsi nya itu terbukti benar.
*******