Awal

1992 Words
J-Ko sudah mendapatkan ijin untuk memeriksa rekaman CCTV sekolah. J-Ko melihat dengan teliti, bagaimana cara Citra mendapatkan banyak tanda tangan senior, sehingga menjadi pemenang hari ini tanpa memerlukan tanda tangan dirinya dan Jovanka. J-Ko terus tersenyum sendiri dan beberapa kali dia menggelengkan kepalanya, melihat betapa cerdasnya gadis itu. Citra sengaja mendatangi setiap basecamp dari ekstrakurikuler yang populer di sekolah ini, tentu saja dia akan langsung menemukan lebih dari lima senior bahkan ada yang belasan dan dua puluhan senior di satu basecamp, seperti basket, majalah dinding, climbing, futsal, pecinta alam, bahkan penyiar radio sekolah, dan studio televisi lokal milik sekolah. Minggu awal sekolah belum aktif pelajaran seperti ini, para siswa senior memang lebih aktif di kegiatan ekstra yang mereka sukai. "Sungguh cerdas! selama ini belum pernah ada yang memiliki cara berpikir seperti dia. Dia sungguh pintar memasang wajah memohon pada para senior itu hehehehe, jadi dia sungguh langsung menemui para ketua basecamp itu, pantas saja semua anggotanya langsung menuruti perintah saja dan langsung memberikan tanda tangan juga data diri mereka pada anak itu. Hebat! sungguh tidak akan pernah ada di pikiran peserta lainnya. Benar-benar cerdas!" ucap J-Ko terkekeh sendiri memuji Citra. J-Ko tidak hanya meminta ijin untuk melihat rekaman saja, tapi dia juga langsung menyiapkan sebuah Flashdisk untuk mengcopy file rekaman itu. "Terima kasih pak, data rekaman ini sungguh berguna untuk panitia MOS." ucap J-Ko pada penjaga ruang operator CCTV. "Sama-sama, senang bisa membantu kalian." sahut petugas operator CCTV. ***** "Citra, tadi kamu ngobrol apa sama senior J-Ko dan Jovanka?" tanya Aqilla penasaran. "Tidak ada yang penting, hanya sekedar berkenalan dan saling sapa aja." sahut Citra dengan tetap bermain game pada smartphone nya. "Apa senior Jovanka marah lagi padamu? tadi kulihat wajahnya sangat serius dan jutek banget sama kamu." tanya Aqilla lagi. "Nggak tahu deh. Cemburu mungkin ya karena pacarnya ngobrol sama cewek lain." sahut Citra tetap santai menanggapi pertanyaan Aqilla. "Citra, sebaiknya kamu nggak ikut MOS sampai selesai deh.... aku khawatir kalau senior Jovanka itu bakal menyiksa kamu." ucap Aqilla cemas. Citra menghentikan kegiatannya bermain game dan menutup smartphone nya, lalu menoleh pada Aqilla. "Aqilla, aku baik-baik saja. Janji! aku nggak akan membuat masalah dengan senior atau siapapun selama MOS. Please..., jangan cerita ke mama aku ya tentang kejadian hari ini. Kamu tahu sendiri, mama aku itu susah sekali melepaskan aku sekolah normal. Aqilla, aku sungguh bosan menjalani homeschooling selama ini. Aku janji, aku pasti baik-baik saja." sahut Citra memohon pada sahabatnya. "Citra..., kamu masuk sekolahnya setelah MOS selesai aja ya..., please..., aku benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk padamu." pinta Aqilla lagi. "Aqilla, ada kamu dan kak Ardi yang jaga aku di sekolah, aku pasti baik-baik aja. Janji deh! aku nggak akan pernah berbuat hal yang buruk dan berbahaya. janji!" sahut Citra meyakinkan sahabatnya bahkan membuat tanda janji dengan dua jari. "Ya sudahlah, tapi sebaiknya kamu jangan pernah dekat sama senior J-Ko dan Jovanka itu ya? aku benar-benar nggak percaya sama mereka berdua!" ucap Aqilla lagi, mengingatkan karena cemas dengan sahabatnya itu. "Kenapa? apa kamu suka sama senior J-Ko ya???" tanya Citra menggoda sahabatnya itu. "Astaga Citra...!!!! aku ini serius takut terjadi hal buruk sama kamu! tapi kamu malah mikir yang aneh-aneh! hatiku ini cuma khusus punya kak Gio!" sahut Aqilla semakin geram dan kesal pada sahabatnya itu, bahkan dia sampai manyun dan membuang wajahnya dari Citra. "Iya deh, yang sudah ketemu sama cinta sejatinya..." goda Citra sambil menggelitik pinggang Aqilla dengan sengaja untuk membuat sahabatnya itu tersenyum lagi padanya. Keduanya kembali saling tertawa dan terus saling menggelitik, hingga akhirnya berpelukan karena sayang. "Terima kasih ya, kamu selalu jaga aku. Aku janji nggak akan dekat-dekat dengan kedua senior itu dan nggak akan membuatmu khawatir." janji Citra dan Aqilla pun mengangguk tersenyum. **** Esok harinya Citra dan Aqilla kembali datang ke sekolah untuk mengikuti kegiatan MOS hari kedua. Hari ini mereka datang lebih awal dari hari sebelumnya. "Hai Ardi, kamu mau kemana? apa itu hadiah untuk pemenang kemarin?" sapa J-Ko saat berpapasan dengan Ardi yang akan keluar dari basecamp kesiswaan. "Hai, iya ini hadiah untuk pemenang kemarin. Aku ijin terlambat untuk briefing hari ini ya, kamu mulai saja dulu, tidak perlu menungguku." sahut Ardi. "Berikan saja padaku, aku yang akan memberikannya setelah briefing, jadi kamu bisa langsung mempersiapkan kegiatan hari ini." ucap J-Ko. "tidak apa, hal sepele seperti ini tak perlu sampai merepotkanmu. Lagipula ini memang tugasku." sahut Ardi. "Tidak apa, berikan saja padaku. Aku juga harus berterima kasih padanya karena sudah menghargaiku kemarin." ucap J-Ko terus membujuk Ardi. "Ada apa J-Ko? tidak biasanya kamu mau berhubungan dengan seorang siswi baru peserta MOS? Apa kamu menyukai pemenang ini? J-Ko, aku tak mau Jovanka justru marah terhadap peserta ini, karena ulahmu. Jadi, sebaiknya aku saja yang memberikan hadiah ini padanya." sahut Ardi tanpa basa basi. "Hei, jangan berpikir terlalu jauh! Lagipula aku dan Jovanka hanya sahabat dekat, untuk apa Jovanka marah dengannya hanya karena aku memberikan hadiah ini?" ucap J-Ko. "J-Ko, jangan terus ingkar terhadap perasaan Jovanka yang sangat jelas menyukaimu! sudahlah! ini tugasku, jadi biarkan aku yang bertanggung jawab atas hadiah ini. Kamu sudah ditunggu anak-anak yang lain, masuklah!" sahut Ardi tetap menolak memberikan hadiah untuk Citra itu pada J-Ko. "Jangan katakan kalau justru kamu sebenarnya yang menyukai dia." selidik J-Ko Ardi hanya terkekeh geli mendengar kalimat yang tersirat nada cemburu dari kalimat J-Ko. "Ardi, cepat berikan padaku!" paksa J-Ko. "Tidak perlu, ini tugasku J-Ko." tolak Ardi. "Aku ketua disini!" tegas J-Ko lagi sambil menunjuk ke dadanya sendiri dengan jempolnya. "Baiklah, asal kamu mau berjanji bahwa kamu akan melindungi peserta ini dari Jovanka, bagaimana?" sahut Ardi membuat sebuah kesepakatan, karena dia merasa bertanggung jawab atas keselamatan Citra. "Aku hanya memberikan hadiah pemenang, Jovanka tidak akan berbuat apa-apa padanya." ucap J-Ko, Ardi pun akhirnya menyerahkan hadiah itu pada J-Ko. "Terima kasih. Ayo kita briefing! aku akan memberikannya nanti." lanjut J-Ko sambil tersenyum dan merangkul Ardi untuk bersama masuk ke basecamp mereka. **** Kegiatan hari ini adalah pelatihan fisik, yang masih bisa dianggap level standar saja bagi para peserta yang lain, tapi tidak bagi Citra yang tidak pernah sekalipun melakukan kegiatan outbound seperti ini. Hari ini Citra harus berhadapan dengan berbagai tantangan outbound yang kotor, membutuhkan kekuatan fisik, berhubungan dengan ketinggian, basah dan juga menebak teka-teki demi mampu melanjutkan ke pos berikutnya. "Kamu baik-baik aja?" cemas Aqilla saat melihat Citra sangat kelelahan dan entah memang pucat atau kulit Citra terlihat semakin putih di bawah terik cahaya matahari. "Aku baik-baik aja." senyum Citra sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. "Sebaiknya kamu tidak melanjutkan kegiatan ini, aku takut kamu sakit, Citra..., please... di depan adalah pos kak Ardi, kamu istirahat saja disana ya..." saran Aqilla cemas. "Tersisa 2 pos lagi, aku pasti bisa Aqilla! Aku harus bisa! ini pengalaman pertamaku yang tidak akan bisa terulang seumur hidupku." sahut Citra berusaha tetap kuat, padahal dia sungguh-sungguh sudah dibatas minimal sisa tenaganya. "Tapi Citra..., kamu bisa...." "Please Aqilla...." Citra langsung memohon dan menyela ucapan Aqilla. "Baiklah, kita lakukan perlahan saja, biarkan kelompok lain yang menang." sahut Aqilla pada akhirnya. "Aqilla, kita ini satu kelompok berdelapan, mana mungkin aku menjadi egois dan membuat perjuangan kelompok ini menjadi sia-sia di saat-saat akhir?! Kita harus terus berjuang Aqilla! Ayo! kita segera lanjut!" ucap Citra lalu mengajak kelompok mereka kembali lanjut ke pos berikutnya. Aqilla hanya bisa menghela napas panjang dan berdoa dalam hatinya, supaya sahabat baiknya itu tetap sehat sampai semua ini selesai. Ardi juga mencemaskan kondisi Citra saat kelompok adiknya itu tiba di pos yang dia jaga, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena Ardi dan Aqilla sudah membuat kesepakatan untuk menyembunyikan status hubungan kakak adik diantara mereka. Aqilla tidak ingin mendapat perlakuan khusus dari para senior, jika mereka tahu dia adalah adik dari Ardi. Kelompok itu terus melanjutkan ke pos terakhir. Pos yang dijaga oleh J-Ko dan Jovanka. Pos ini sudah terkenal sangat tidak mudah untuk diselesaikan oleh para peserta, karena teka-teki nya selalu sangat sulit ditebak. pada tahun sebelumnya, para peserta akhirnya memilih tantangan fisik untuk dapat mengakhiri perjalanan mereka dan menyelesaikan pos akhir. "Astaga! kenapa harus kelompok gadis itu lagi sih yang pertama kali sampai disini?!" omel Jovanka saat melihat kelompok Citra berjalan ke arah pos mereka. J-Ko segera menoleh dan tersenyum lebar, entah rasa bangga atau rasa senang lainnya yang membuat senior idola itu tersenyum melihat Citra dan kelompoknya yang pertama kali tiba di pos yang dia jaga. "Ayo Jovanka, kita harus profesional! Lagipula kali ini hadiah bagi kelompok yang menang hanyalah pin bintang kehormatan, yang membuat mereka dapat menikmati semua fasilitas di sekolah ini dengan gratis selama satu tahun." ucap J-Ko lalu berdiri untuk bersiap menerima kelompok Citra di pos nya. Kelompok Citra pun memberikan salam hormat dan menyanyikan yel-yel kelompok mereka saat awal tiba di pos akhir. "Hebat! kalian adalah kelompok pertama yang tiba di pos akhir ini. Aku sungguh tidak percaya kalian bisa tiba di sini lebih cepat dari catatan waktu peserta tahun lalu. Hebat! Terima kasih sudah berjuang sejauh ini. Apa kalian siap menyelesaikan teka-teki terakhir? atau kalian akan langsung memilih tantangan?" sapa J-Ko. "Kami memilih teka-teki, senior." sahut Aqilla segera membuat keputusan, karena melihat kondisi Citra yang tidak akan mungkin kuat menyelesaikan tantangan fisik lagi. "Baiklah, sekarang ambillah satu amplop dan tebaklah teka-teki yang ada di dalamnya." ucap J-Ko. Jovanka pun menyodorkan beberapa amplop untuk dipilih oleh Aqilla sebagai ketua kelompok. "Waktu kalian hanya 30 menit, jika tidak berhasil maka secara otomatis kalian harus menerima tantangan untuk bisa menyelesaikan pos ini." ucap Jovanka dan Aqilla pun mengangguk paham. Aqilla kembali pada kelompoknya, lalu meminta Citra untuk istirahat saja, sementara Aqilla dan anggota yang lainnya mulai membaca teka-teki di dalam amplop itu. Mereka segera berpikir bersama untuk menjawab 3 teka-teki itu. 1. Ada tengahnya, tapi tidak pernah ada pinggirnya, apakah saya? 2. Tidak pernah sakit, tapi selalu dikasih obat setiap hari. apakah saya? 3. Selalu berdiri tegak, disukai pasangan romantis, dan dimimpikan oleh banyak wanita. apakah saya? Ketiga teka-teki itu, mulai dipikirkan oleh kelompok itu. Beberapa kali mereka mencoba menyerahkan jawaban mereka tapi selalu saja salah. Aqilla mendekati Citra yang sedang bersandar di tembok, beristirahat. "Citra, waktu kita tinggal 10 menit, kalau terpaksa harus melanjutkan tantangan, sebaiknya kamu tetap istirahat saja ya, aku akan minta ijin untukmu." ucap Aqilla. "Aku sudah cukup istirahat barusan, Aqilla. Terima kasih selalu memikirkan aku. Bagaimana? kalian sudah berhasil menjawab berapa pertanyaan?" sahut Citra tersenyum, menyembunyikan rasa pusing dan gejala dehidrasi dalam dirinya. "Belum satupun." keluh Aqilla sambil manyun lelah dan menatap anggota kelompoknya yang juga sudah menyerah dan hanya menunggu tantangan diberikan pada mereka. "Aku boleh tahu pertanyaannya? siapa tahu aku bisa membantu di pos ini. Kamu tahu kan aku sudah bermain teka teki sejak umur 7 tahun?" ucap Citra tetap berusaha tersenyum. Aqilla menyerahkan lembar pertanyaan itu pada Citra dengan pasrah. Citra tersenyum lagi saat membaca semua pertanyaan itu, lalu mengeluarkan alat tulisnya dan mulai menjawab pertanyaan teka-teki itu. "Selesai!" ucap Citra dan menyerahkannya pada Aqilla lagi. Anggota yang lain segera mendekati keduanya dan penasaran. "Kamu gila! apa kamu yakin ini jawabannya?!" tanya seorang anggota meragukan jawaban Citra. "Tidak ada salahnya mencoba, kita masih ada waktu 5 menit lagi. Lagipula jawaban ini salah atau benar, bukankah kita sudah siap untuk menerima tantangan???" sahut Aqilla. "Ya, tidak ada salahnya mencoba. Ayo! kita coba keberuntungan kita yang terakhir!" ucap anggota yang lainnya, Aqilla pun segera maju dan menyerahkan jawaban itu pada J-Ko. Seketika wajah J-Ko langsung tersenyum lebar membaca jawaban-jawaban itu. "Hebat! Siapa yang memberi ide kalian untuk menjawab dengan jawaban ini?" tanya J-Ko pada Aqilla. "Citra..." sahut Aqilla sambil menoleh hendak menunjuk ke arah Citra, namun justru terkejut karena dia justru melihat sahabatnya itu terkulai lemas dan jatuh pingsan di pinggiran tadi dia duduk bersandar. "CITRAAAA..!!!!!" teriak Aqilla dan segera berlari menghampiri Citra diikuti oleh J-Ko yang tak kalah cepat ikut melesat menghampiri Citra. "Citra! Citra! bangun Citra! bangun!" panggil Aqilla dengan sangat panik. J-Ko pun segera mengangkat tubuh Citra dan membawanya ke ruang kesehatan. "Jo! kamu lanjut menjaga pos ini! aku akan mengurus anak ini!" seru J-Ko sambil membawa tubuh Citra berlari ke ruang kesehatan. "CK! selalu saja anak itu yang lebih dibelanya!" kesal Jovanka. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD