Penuh harap Arni melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawanya ke lantai delapan tempat, Dipa berkantor. Ia keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Bu Tia.
"Sore Mbak Arni," sapa Bu Tia. Baru saja akan membuka pintu ruangan Dipa, dari dalam terdengar suara Dipa yang tengah memarahi karyawannya.
"Kenapa bulan ini dana untuk yayasan Kasih Bunda belum kamu kirim?"
"Mungkin formulir kiriman uangnya keselip sama Yuni Pak."
"Saya gak mau tahu, kejadian seperti ini jangan terulang lagi!"
Kira-kira begitu percakapan yang sempat terdengar oleh Arni. Begitu karyawan Dipa keluar dari ruangan, Bu Tia membukakan pintu agar Arni bisa masuk. Sedikit rada takut sih, menghadapi orang yang baru saja meluapkan emosinya. Ia masih berdiri di depan pintu melihat Dipa yang masih menunduk mengatur emosinya.
'Ini aman gak sih' gumamnya. Ragu ingin keluar atau tetap disini.
"Jadi kamu masih mau berdiri di situ?" tanya Dipa membuat Arni tiba-tiba jadi takut. Namun demi lima jutanya, Arni memberanikan diri berjalan mendekati Dipa kemudian langsung duduk di depannya. Tanpa basa basi ia langsung menyodorkan kertas berisi catatan nomor rekeningnya.
"Kamu baru datang gak ada basa basi nya sama sekali. Gak kasian sama aku lagi pusing?"
"Kasian sama Bapak? Bapak aja gak kasian sama saya. Saya bolak balik ke sini cuma minta uang saya dikembalikan, tapi mana?"
"Kamu mau nemenin aku ke acara reuni sekolah gak? Baju kamu sudah pas nih, sesuai sama dresscodenya, batik."
Arni bingung dengan maunya Dipa ini apa. Kenal secara tak sengaja, tapi sok-sok an minta temenin ke acara reuni.
"Pak, kita ini gak hubungan apa-apa. Saya hanya minta tolong sama Bapak direktur yang terhormat ini untuk mengembalikan uang saya." Arni kesal karena terus menerus tak diberi kepastian oleh Dipa.
Ia mengangkat gagang telepon dan menekan tombol, memanggil Bu Tia.
"Saya gak ada jadwal lagi kan?" tanya lelaki yang tengah bersandar di kursinya itu saat Bu Tia masuk ke ruangan Dipa.
"Gak ada lagi, Pak," kata Bu Tia.
"Kamu tunggu di sini sebentar," perintah Dipa yang kemudian masuk ke dalam ruangan di samping lemari.
Arni menatap Bu Tia.
"Gak apa-apa Mbak, Pak Dipa orangnya baik kok." Bu Tia menenangkan Arni yang terlihat jelas takut dan bingung pada wajahnya.
"Maunya bos Bu Tia itu apa sih? Saya gak minta yang macam-macam, tapi--"
Bu Tia mendekat dan berbisik. "Pak Dipa lagi krisis keuangan Mbak, lima juta dia juga gak punya."
Arni tambah bingung.
"Kunci mobil kamu mana?" Dipa menengadahkan tangannya di hadapan Arni. Namun karena tak ada respon dari Arni, Dipa langsung merogoh isi tas Arni, mengambil kunci.
"Eh, itu kunci kos saya, Pak." Arni merampas kunci kosnya dari tangan Dipa dan memberikan kunci mobilnya.
"Bu Tia nanti kunci mobil Arni kasih sama Lian ya, Bu."
"Siap, Pak," sahut Bu Tia seraya menerima kunci dari tangan Dipa.
Dipa lalu menarik tangan Arni masuk ke dalam lift. Lian yang standby di bawah, lantas berdiri saat melihat bosnya itu datang.
"Kamu, temui Bu Tia di atas. Alamatnya nanti aku whatsapp."
"Oke bos," ucap Lian memberikan kunci mobil dan berlalu. Meski penasaran dengan wanita yang dibawa bosnya itu, Lian tetap berlalu menuju ruangan Bu Tia sesuai perintah Dipa.
***
Mobil yang dikemudikannya memasuki lahan parkir salah satu hotel. Arni mulai curiga dengan acara reuni yang akan dihadirinya ini. Ia mengambil handphonenya dan membuka aplikasi w******p, melihat beberapa isi pesan di grup w******p SMA nya yang tengah membahas acara reuni beberapa angkatan di atas mereka. Dan betul saja, saat mereka tengah berjalan menuju tempat acara, indera penglihatan Arni menangkap bayangan kepala sekolahnya yang matre.
Tarikan tangan Arni menghentikan langkah Dipa. "Lama gak sih di sini?"
"Belum juga masuk." Dipa menatap Arni.
'Kenapa jadi ribet gini sih urusannya' gerutu Arni dalam hati. Dengan sedikit kesal, ia mengikuti Dipa berjalan masuk ke tempat acara.
"Kamu jangan jauh-jauh dari aku!" Ultimatumnya sambil menggandeng tangan Arni. Kesana kemari Dipa membawa Arni, memperkenalkan wanita itu sebagai belahan jiwanya pada teman sekolahnya yang sebagian telah menikah.
"Gitu dong, jangan main perempuan terus, gak bosen apa? Gak pengen kaya gini?" Teman di depannya itu mengelus perut wanita disampingnya, yang dapat dipastikan adalah istrinya, karena tengah mengandung. Arni dan Dipa saling menatap.
'Apa-apa an ini' Arni senewen mendengar ucapan temannya Dipa itu. Ia berjinjit dan berbisik di telinga Dipa, meminta izin untuk pergi ke restroom.
Ia memutar keran kemudian memercikkan air ke wajahnya.
Dua orang wanita masuk ke dalam restroom. "Eh, Dipa sendirian tuh datangnya."
"Iya aku lihat. Dia lagi ngomong sama Heru."
"Kamu sudah move on kan? Sudah bertahun-tahun."
Percakapan dua wanita itu menarik Arni untuk mendengarkannya. Ia pura-pura masuk ke dalam salah satu bilik kecil dan menekan tombol flush agar tampak seperti ada kegiatan di dalam.
"Kamu tahu kan gimana cintanya aku sama dia? Walau diluar tampak badboy, tapi dia benar-benar baik. Aku yang maksa supaya dia mau tidur sama aku, tapi dia sama sekali gak mau."
Sedikit kaget Arni mendengar semua percakapan dua wanita itu. Ia memutuskan untuk keluar dari sana, karena semakin lama ia berada disana, pasti lebih banyak lagi cerita tentang Dipa yang ia dengar. Ia tidak ingin ini berlanjut. Setelah ini, Dipa mau bayar atau enggak uang lima jutanya itu, Arni sudah pasrah.
Baru tiga langkah meninggalkan restroom, seseorang memanggil nama Arni.
'Kenapa juga harus ketemu dia' Arni memasang senyum terpaksa saat orang yang memanggil itu mendekat. Pak Utomo, kepala sekolahnya yang matre itu.
"Apa kabar kamu?"
"Baik Pak. Bapak sehat?" Basa basi busuk Arni dengan kepala sekolahnya itu. Dipa yang sedari tadi mencari Arni, tampak lega karena telah menemukannya.
"Dipa? Wah sudah sukses sekarang ya." Puji Pak Utomo saat melihat Dipa mendekat.
"Pak, apa kabar? Bapak kenal sama Arjani?"
"Kenal dong. Dia ini adik kelas kamu."
Dipa memalingkan wajahnya menatap Arni.
"Dulu orang tuanya setiap bulan selalu menyumbang untuk sekolah kita," ucap Pak Utomo yang kemudian memanggil dua wanita yang baru keluar dari restroom untuk bergabung bersama. Arni memperhatikan ekspresi Dipa yang tampak biasa saja, berbanding terbalik dengan salah satu dari dua wanita itu.
Arni pamit, berjalan menjauh dari mereka sambil mengangkat telepon Alex.
"Oh iya, kamu kok bisa kesini sama Arjani?" tanya Pak Utomo.
"Dia calon istri saya Pak. Kalau gitu saja pamit ya Pak. Sehat selalu," pamit Dipa menyalami Pak Utomo dan tersenyum pada dua wanita, teman sekolahnya itu. Salah satu wanita yang merupakan teman dekat Dipa sewaktu sekolah dulu, menatapnya penuh arti. Berkeliling lelaki itu mencari Arni, tapi tak ditemukan jua.
"Online sama siapa sih dia?" Kesalnya saat Arni tak bisa dihubungi karena sedang berada di panggilan lain. Dipa setengah berlari saat matanya melihat Arni di dekat pintu masuk.
"Sudah aku bilang jangan jauh-jauh! Online sama siapa sih kamu?"
"Temen kantor."
"Siapa?"
"Apa hak Bapak mau tahu urusan saya?"
Dipa melotot. "Ayo," ajaknya menarik pelan tangan Arni. Mereka masuk ke dalam dan menikmati hidangan.
Arni melirik jam di tangannya. Jarum menunjuk ke angka sepuluh. Pantas saja dari tadi ia sudah menguap berkali-kali. Ia sangat jarang pulang di atas jam sepuluh. Dan kalaupun harus pulang malam, itu hanya sesekali, pulang dari nonton bioskop.
'Akhirnya' gumam Arni dalam hati saat Dipa pamit pulang pada temannya. Sebenarnya ia bisa saja pergi diam-diam meninggalkan Dipa, tapi tak tahu perasaannya seolah tak ingin membuat Dipa malu di depan umum.
"Makasih ya," ucap Dipa.
Arni berdehem.
"Dunia sempit ya, ternyata kita sekolah di sekolah ya sama."
Arni berdehem lagi.
"Jadi aku harus mengantar kamu kemana? Kos kamu dimana?" Dipa menoleh karena tak ada sahutan.
Ia menggaruk kepalanya. "Tidur?"
Laju mobilnya perlahan menurun. Sambil menyetir ia berpikir, harus diantar kemana Arni ini. Alamat kosnya pun tak tahu. Tak mungkin ia membawanya ke rumah, apa kata orang rumahnya. Juga tak mungkin ia membawanya ke hotel. Dipa menjentikkan jarinya, mendapatkan ide cemerlang. Ia memutar balik arah, menuju apartemen mewahnya yang sudah lama tak dijenguknya.
Akses jalan yang nyaman hampir bebas dari kemacetan, membuatnya tak perlu waktu lama untuk sampai di apartemen mewahnya itu. Setelah memarkirkan mobilnya, dengan pelan ia melepas seatbelt dan mengangkat tubuh proporsional Arni masuk ke dalam lift yang akan membawanya langsung ke kamar apartemen. Setelah membaringkan Arni, ia menyalakan AC dan mengatur suhunya.
"Bisa-bisanya aku melakukan ini," ucapnya tak terima sesaat setelah membuka sepatu yang terpasang di kaki Arni. Ia meninggalkan Arni yang terlelap tidur untuk berganti baju dan membersihkan dirinya.