Diacuhkan

1091 Words
"Sampai kapan Uti? Dipa sudah gak punya uang." Dipa menghampiri Ranti yang tengah membaca koran di halaman belakang dekat kolam renang. Pagi ini Dipa sengaja bangun lebih pagi agar bisa membujuk Ranti untuk kembali mengaktifkan seluruh kartu dan rekeningnya, sebelum ia pergi ke kantor. "Sampai kamu bisa membawa calon istri untuk dikenalkan sama Uti." Pandangan mata Ranti tak lepas dari koran yang dibacanya. "Gimana mau dikenalin sama Uti, kalau Dipa gak ada modalnya." Uti meletakkan koran yang sedang dipegang lalu memandang cucunya itu. "Modal? Kamu mau nyari istri bayaran makanya perlu modal?" "Bukannya gitu Uti. Ya kali, ada wanita yang mau diajak ujuk-ujuk datang kesini terus dikenalin sama Uti tanpa ada perkenalan dulu." "Ya itu urusan kamu. Uti sudah kasih kamu kesempatan sangat lama, sampai kamu hampir tiga puluh tahun." "Kenapa jadi bawa-bawa umur sih Uti?" "Kamu pergi ke kantor aja sana. Kerja yang bener!" Uti meninggalkan Dipa yang kemudian menyusul Ranti yang telah sampai di meja makan. Ia mengambil selembar roti yang telah diolesi selai coklat. "Tapi hari ini gajian kan Uti." Dipa melahap roti berselai coklat itu. "Ini gaji kamu. Sudah Uti siapin." Ranti mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak tiga puluh lembar dan meletakkannya di depan Dipa. "Uhukkk." Dipa terbatuk. Ia menelan paksa rotinya itu dan meminum segelas air. "Uti bercanda, ini mana cukup?" Protes Dipa yang disambut gelak tawa adik perempuannya, Sheila. Dipa melotot pada adiknya itu kemudian kembali menatap Ranti. Berharap belas kasihan dari Uti nya itu. Namun ternyata tak mempan. *** "Silahkan, selamat siang dengan saya--" Arni kembali melayani nasabah setelah menekan tombol antrian. Sebelum ke kampus, Sheila menemani Rini, temannya untuk mengganti kartu ATM nya yang telah kedaluarsa. Sementara Rini tengah di layani oleh petugas customer service, Sheila iseng mengambil video singkat yang memperlihatkan aktivitasnya saat ini kemudian mengunggahnya sebagai status di aplikasi whatsappnya. Tak sengaja saat Rini telah selesai mengganti kartu ATM nya, Sheila dan Arni bertemu pandang. Senyuman terulas dari bibir mereka berdua. "Iya Mas?" Sheila menjawab telepon dari Dipa. "Kamu masih di bank?" tanya Dipa. Ia kembali melihat status w******p Sheila, memastikan bahwa wanita yang ada di dalam video Sheila itu adalah Arni, wanita yang dengan jelas tak menyukainya. "Udah enggak Mas. Ini Sheila otw ke kampus. Emang ada apa sih Mas Dipa nanya?" "Gak papa. Tadi antriannya banyak gak sih di sana?" "Tadi sih waktu Sheila pulang, gak ada antrian. Gak tahu sekarang. Mas Dipa mau ke bank?" "Makasih ya," ucap Dipa menutup telponnya. Setelah menerima pesan dari Sheila yang berisi alamat bank tersebut, Dipa pamit dengan Bu Tia dan bergegas menuju bank tempat Arni bekerja. Ia mengecek penampilannya sebelum turun dari mobil. Ia bertekad harus bisa mendapatkan Arni untuk dikenalkan pada Uti. Perkataan Bu Tia tempo lalu, masih terekam di memori otaknya. Satpam jaga siang menyambut kedatangan Dipa. "Mau ketemu dengan Arjani," jawab Dipa saat ditanya keperluannya apa. Oleh Satpam itu ia dipersilahkan menunggu di kursi nasabah. Beberapa saat kemudian, terdengar suara sepatu wanita berjalan dari arah belakang, Dipa menoleh dan melihat Arni sedang berbicara sambil berjalan dengan seorang laki-laki. Matanya tak lepas memandang Arni. Tubuh proporsional berbalut seragam kerjanya itu, membuat Dipa sayang melewatkannya. Namun, saat melihat bagaimana Arni berbicara dengan laki-laki itu, entah kenapa Dipa tak suka. Satpam yang melihat Arni tak menghiraukan Dipa, saat ia telah duduk dibalik mejanya, datang mendekat. "Mbak Arni, Mas yang di depan ini mau ketemu sama Mbak Arni. Udah janjian katanya," bisik satpam itu. Dengan cueknya, Dipa yang belum dipersilahkan duduk, langsung saja duduk di kursi yang tersedia di depan Arni. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Arni datar tanpa mengalihkan pandangannya pada Dipa. 'Kalau bukan karena omongan Bu Tia kemarin dan demi kelangsungan hidup keuangan ku, aku gak bakal kaya gini' gumam Dipa dalam hati. "Kalau gak ada yang keperluan Bapak bisa pergi, karena saya harus bekerja lagi," ucap Arni karena Dipa tak juga kunjung bicara. Karena sedang tidak ada antrian nasabah, petugas rekan kerja seunit Arni, tampak lalu lalang di depan meja Arni. Sengaja, penasaran dengan siapa lelaki yang ada di depan Arni. Baru kali ini pesona seorang Dipa Guinandra Tama tak bekerja pada wanita. Diacuhkan, tak dihiraukan. "Kalau mau uang kamu kembali, besok sore datang ke kantor," ucap Dipa yang kemudian pergi dari sana. 'Ada orang kayak dia' gumam Arni sambil memandang punggung Dipa yang menghilang di balik pintu. "Siapa? Keren gitu pakaiannya. Ganteng lagi," kata Anis yang telah berdiri di samping Arni. "Itu dia Nis. Pemilik rekening yang kemarin aku salah transfer uang." "Seriusan? Dia udah balikin uang kamu kan? Kelihatannya dia orang berduit," ucap Anis antusias. "Boro-boro. Sepeser aja belum ada aku terima. Orangnya ngeselin mampus tau gak. Andai ini cuma seratus ribu, udah aku ikhlasin. Tapi ini lima juta." "Kirain. Laporin aja lah ke polisi. Susah gitu," usul Anis yang tak diterima Arni karena menurutnya akan menambah repot urusannya saja. *** Arni baru saja mengambil makanan yang di pesannyanya lewat aplikasi online di depan kost saat seseorang memanggilnya. Arni berbalik dan terkejut melihat orang yang memanggilnya. 'Hah, tau darimana dia aku disini' gumam Arni. "Kamu sekarang ngekos?" tanya Alex sambil mematikan mesin motornya. Arni berjalan mendekati Alex di depan pagar. "Iya. Kamu dari mana, kok bisa sampai kesini?" "Tadi lagi muter nyari makan, gak sengaja lihat kamu. Sejak kapan kamu pindah?" "Baru aja sih, sejak Bibi Wati pulang kampung." Arni terdiam, berharap Alex bisa segera pergi. "Besok pulang kerja kita nonton yuk," ajak Alex. "Pengen sih, tapi besok ada yang diurus, Lex." "Setelah urusan kamu selesai dulu, aku gak papa nunggu," bujuk Alex. Arni sendiri aja gak tahu besok itu urusan dengan Dipa bakal cepet selesai atau enggak. "Lain waktu aja ya, Lex," ucap Arni menolak secara halus. "Janji ya," kata Alex yang dibalas senyum Arni. "Dah." Arni menunggu beberapa detik Alex pergi baru ia kembali masuk ke kamar kosnya. Menghabiskan makan sendirian di kamar kos seperti ini, membuat Arni merasa kosong. Benar-benar tak pernah dibayangkannya akan berada dalam situasi seperti ini. Ia membuang bungkus nasi kemudian beranjak menuju kasur. Baru saja akan memejamkan mata untuk tidur, Tiba-tiba bayangan Bibi Wati melintas di otaknya. Ia meraih handphone dan berusaha menghubungi Bibi Wati. Arni langsung bangun dari tidurnya, saat teleponnya tersambung namun tak ada suara. "Bibi kok jahat sama Arni sih Bi? Kalau Bibi bilang sama Arni, kan Arni bisa bantu. Bibi janji sama Arni bakal nemenin Arni sampai kapanpun pun, tapi Bibi malah bohong. Arni sedih Bi, harus sendirian kayak gini." Ia mengungkapkan isi hatinya. Kemudian mematikan teleponnya karena tak ada sahutan dari seberang. Sementara disana, Bibi Wati hanya bisa menangis menyesali perbuatannya. Ia sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan anak majikannya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD