Lima Juta

1903 Words
Pukul setengah tujuh Arni telah tiba di kantor. Setelah memarkirkan mobilnya, ia langsung menuju mejanya. Ia duduk dan segera menekan tombol power untuk menyalakan komputernya. Ia membenahi rambut juga make up di wajahnya sambil menunggu layar komputernya menyala. "Pagi Mbak Arni, tumben pagi-pagi udah stand by di meja?" Lelaki berusia empat puluh tahun berseragam biru menyapanya sambil terus mengepel lantai. "Pagi Pak. Lagi ada yang di kerjain," sahut Arni yang kemudian serius menatap layar komputer membuka aplikasi yang bisa menampilkan data nasabah dengan memasukkan nomor rekening saja. Begitu layar menampilkan nama lengkap Dipa, Arni dengan lincah memainkan jari-jarinya di atas tuts keyboard. Jantungnya yang sedari tadi deg-deg an seolah copot saat melihat saldo tabungan di rekening atas nama Dipa itu sudah habis. Ia melihat riwayat transaksinya. "Ya ampun, gimana ini jadinya?" Wajah Arni tampak bingung. Tak tahu harus berbuat apa. "Aku kira kamu belum datang, tahunya udah di sini." Sapaan Anis membuat Arni tersentak. "Kusut gitu mukanya. Kamu masih sakit ya? Kemarin aku sama Alex rencana mau ke rumah kamu jengukin," ucap Anis lagi sambil membenarkan posisi name desknya. "Nis, kemarin aku salah transfer ke rekening orang, tapi barusan aku cek, saldo orangnya sudah habis. Sejam setelah aku salah transfer, uangnya udah raib. Di gesek," cerita Arni. "Lah, kok bisa? Kalau saldonya masih ada sih bisa aja kita blokir. Tapi ini karena uangnya udah raib, kamu coba hubungi aja orangnya. Minta tolong balikin," saran Anis. Arni melirik arloji di tangan kanannya. "Iya, nanti jam setengah sembilan coba aku telepon orangnya." Tak karuan rasa Arni selama satu jam menunggu jam setengah sembilan tiba. Ia pamit pada Anis untuk pergi ke pantry guna menelpon Dipa. Satu tangannya tak berhenti memainkan pulpen sementara satu tangannya yang lain memegang handphone yang menempel di telinga kirinya. Kali kedua ia mencoba menghubungi Dipa namun tak ada jawaban. "Selamat pagi, dengan siapa ini?" Di percobaan ketiga akhirnya terhubung juga. "Selamat pagi, saya Arjani. Bisa bicara dengan Bapak Dipa?" "Mohon maaf, beliau sedang ada rapat. Kalau saya boleh tau ada keperluan apa ya?" 'Beliau? Rapat?' gumam Arni. "Begini Bu, kemarin saya salah transfer uang dan masuk ke rekening atas nama Bapak Dipa, saya mohon untuk bisa di kembalikan uang saya Bu. Karena--" "Nanti akan saya hubungi lagi. Saya tutup dulu teleponnya." TUTTTT Arni memandangi handphonenya yang ditutup secara sepihak. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya membuang nafas kasar. 'Lima juta' gumamnya. *** Dipa dan Bu Tia baru saja selesai rapat dengan divisi legal. Membahas izin untuk membuka lahan tambang baru di daerah Kalimantan, tepatnya Kalimantan Timur. Bu Tia meletakkan berkas yang harus di cek kembali oleh Dipa sebelum di kirim ke kantor cabang Balikpapan. "Oh ya Bu, tadi siapa yang telepon pas kita rapat?" tanya Dipa sambil memberikan berkas yang telah selesai diperiksanya. "Namanya Arjani Pak. Katanya dia salah transfer ke rekening Bapak," sahut Bu Tia. "Salah transfer," ulang Dipa yang beberapa detik kemudian berdecak, mengingat sesuatu. "Coba Bu Tia cekkan rekening lama saya," ucap Dipa yang kemudian memberikan kartu ATM nya pada Bu Tia. "Rekening Pak Dipa yang mana ini?" Bu Tia membolak balik kartu ATM itu. "Ini rekening lama saya Bu. Seingat saya saldonya sih gak banyak gak nyampe dua juta. Tapi kemarin waktu di klub, saya coba gesek buat bayar tagihan, bisa. Padahal tagihan saya lima juta lebih." "Baik Pak, setelah ini saya coba konfirmasi ke banknya langsung," ucap Bu Tia. "Oh iya, kartu kredit saya juga gak bisa digunakan kemarin." "Informasi dari divisi keuangan, kartu kredit Bapak dinonaktifkan atas perintah Bu Ranti." Mendengar jawaban Bu Tia, Dipa hanya bisa melengos. Ini bukan kali pertama kartu kreditnya dinonaktifkan oleh Ranti. Sebelumnya, Ranti juga telah menonaktifkan semua kartu kredit Dipa karena ia tak kunjung membawa calon istri, namun dengan manis ucapan dan janji Dipa, Ranti terpedaya hingga mengaktifkan kembali kartu kredit cucunya itu. Sebuah pesan foto masuk di aplikasi whatsappnya. "Wanita ini." Dipa menggaruk alisnya sambil mengirimkan pesan balasan pada Renata. Wanita di klub malam kemarin. "Potongan kayak dia, mana bisa diterima Uti," ucapnya sambil menghapus foto yang dikirim Renata tadi. Foto selfie dirinya dengan menggunakan baju sedikit terbuka. +6281xxxx Siang Bapak Dipa. Mohon maaf mengganggu waktunya. Saya Arjani yang menelpon tadi pagi. Untuk uang saya yang salah transfer ke rekening Bapak, kapan bisa Bapak kembalikan ya? Tks Dipa menekan tombol di pesawat teleponnya yang tak berapa lama kemudian Bu Tia kembali masuk. Ia memperlihatkan isi pesan yang dikirim Arni. "Bu Tia bisa hubungi Arjani ini? Suruh dia kesini hari ini." "Saya barusan sudah konfirmasi melalui telepon, menurut petugasnya, memang ada uang masuk di rekening Pak Dipa yang ini," ujar Bu Tia mengembalikan kartu ATM Dipa. "Bapak gak mau langsung kirim balik aja uangnya?" "Gimana mau kirim balik uangnya Bu? Bu Tia sendiri yang bilang, kalau kartu kredit saya dinonaktifkan sama Uti, itu artinya semua saldo saya di bank mana aja pasti ikut di hold sama Uti." Bu Tia tersenyum. Selama ia bekerja menjadi sekretaris Dipa, Ranti alias Uti nya Dipa memang menjadi pemegang utama semua keuangan cucunya itu. Ia masih belum percaya seratus persen pada Dipa untuk mengelola uangnya sendiri. Kalau tidak habis dengan membelanjai wanita, pasti uangnya akan habis dengan nongkrong di klub bersama temannya. "Bu Arjani bilang, dia akan datang ke sini pukul lima sore setelah ia pulang kerja." Bu Tia memberi laporan hasil menghubungi Arni barusan. *** Dengan sedikit ragu, Arni memperlambat laju mobilnya sebelum masuk ke parkiran bawah gedung pencakar langit itu. 'Kayak pernah lihat mobil itu' gumam Dipa dalam hati. Ia tepat berada di belakang mobil Arni. Lian menambah sedikit kecepatan mengemudikan, mengantarkan Dipa menuju lift. Masih di dalam mobilnya, sebelum keluar dari mobil, Arni mengarahkan kaca atas dan memandang wajahnya sejenak. Meski telah jam pulang kerja, Ia tak mau terlihat kucel. Apalagi ia akan bertemu dengan Dipa di gedung yang tak kalah tinggi dari gedung pencakar langit di sampingnya. 'Semoga lima jutanya cepat balik' doanya dalam hati. Beralaskan sepatu hitam dengan tumit lima sentimeter, kakinya melangkah penuh harap masuk ke gedung yang tak tau berapa tingkat lantainya, menuju meja resepsionis. "Selamat sore Mbak, ada yang bisa dibantu?" "Sore Mbak. Saya Arjani, mau ketemu sama Bapak Dipa," ucap Arni setengah ragu. Mbak resepsionis itu menggeser-geser layar tab yang dipegangnya kemudian menatap Arni dengan senyuman. "Silahkan Mbak Arjani naik ke lantai delapan, nanti disana akan dibantu oleh sekretaris Pak Dipa, Ibu Tia." "Makasih Mbak." Arni undur diri dari hadapan Mbak resepsionis itu menuju lift. Penasaran dengan siapa sebenarnya orang yang akan ditemuinya sebentar lagi, Arni mengetik nama lengkap Dipa di mesin pencari melalui handphonenya. "Hah!" serunya kaget saat membaca artikel yang memuat Dipa sebagai narasumber. 'Pebisnis muda yang sukses' gumam Arni membaca judul artikel itu. Ia melangkahkan kaki keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan di depannya. "Mbak Arjani Prissy ya?" Wanita paruh baya menyapa Arni. Sekretaris Dipa, Bu Tia. Arni tersenyum, ia dipersilahkan duduk sementara Bu Tia masuk ke ruangan Dipa, memberitahu bahwa Arni telah tiba. "Orangnya gimana Bu?" tanya Dipa yang beranjak dari singgasananya kemudian duduk di sofa tamu. "Selera Bu Ranti banget Pak," ucap Bu Tia. Kening Dipa berkerut. "Selera Uti?" Pikirannya sudah kesana kemari membayangkan bagaimana wanita yang menjadi selera Uti. Tapi raut wajah Dipa berubah saat melihat Arni masuk. Memakai seragam kerja yang press body, membuat lekuk tubuh Arni menjadi pemandangan indah bagi mata Dipa. 'Sejak kapan selera Uti berubah jadi wanita seksi seperti ini' gumam Dipa yang terus memandangi Arni dari atas sampai bawah. Netranya seolah enggan berkedip melihat wanita di depannya. Seumur hidup baru kali ini, ia melihat wanita yang sangat menarik mata juga hatinya. "Mau dibuatin minum apa Pak?" tanya Bu Tia. "Hot chocolate," ucap Dipa tak berkedip. Bu Tia bingung. "Berarti saya harus pesan dulu ya Pak?" "Gak usah repot-repot," ujar Arni membuat Dipa tersentak. "Eh, kamu duduk dulu nanti pegal kelamaan berdiri," ucap Dipa tersenyum manis. Senyuman maut yang biasanya membuat para wanita luluh. Begitu Arni duduk, tanpa basa basi ia langsung mengutarakan keinginannya. Ia tak ingin berlama-lama di sini dan berharap urusannya bisa kelar hari ini juga. Bu Tia yang sedari tadi berdiri di samping Dipa, beranjak keluar ruangan begitu melihat lirikan mata atasannya itu. Arni bergeser saat Dipa mencoba duduk lebih dekatnya. "Tenang, aku gak mau ngapa-ngapain kok," ucap Dipa namun masih saja berusaha mendekatkan diri dengan Arni. "Kamu bisa dapetin seratus kali lipat kalau kamu mau kerjasama bareng aku." "Saya hanya perlu lima juta saya aja Pak," sahut Arni. "Seratus kali lipat itu lima ratus juta lo, kamu gak mau?" "Lima juta saja saya sudah cukup Pak." Kekeh jawaban Arni tak berubah. Lima juta saja tidak langsung dibayarkannya sekarang, apalagi lima ratus juta. Dipa mengacak-acak rambutnya kesal. "Oke, lima juta. Tapi kamu mau kan kerjasama bareng aku?" Dalam Dipa menatap manik hitam Arni. Tak tau keyakinan dari mana, saat Bu Tia mengatakan Arni adalah selera Uti, ia langsung bertekad untuk menjadikan Arni sebagai wanita yang akan diperkenalkannya pada keluarga sebagai calon istri. "Pak, saya tidak tertarik untuk berurusan dengan Bapak dalam hal apapun, saya hanya ingin Bapak mengembalikan uang yang saya salah transfer. Itu saja Pak." Tak terima dengan perkataan Arni barusan, Dipa kemudian beringsut turun, dan berlutut dihadapan Arni. "Tak tertarik sama sekali dengan aku dalam hal apapun?" Arni menarik-narik roknya yang pendek berusaha menutupi dengkulnya. Berusaha mengalihkan pandangan dari lelaki yang tengah berlutut di depannya. Tak dapat dipungkiri, dengan segala yang dimiliki Dipa secara fisik, badan tinggi proporsional, wajah tegas dengan jambang tipis yang menghiasi, bibir tipis nan merah serta tatapan dari mata coklatnya, menjadikan ia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Namun dalam situasi seperti Ini, Arni memang benar-benar tak ingin yang lain selain uang lima jutanya itu. "Benar kamu tak tertarik sama sekali dengan aku?" Dipa mengulangi kembali pertanyaannya itu. "Bapak kenapa mempersulit saya?" "Ya ampun, apa aku terlihat begitu tua sehingga kamu dari tadi terus memanggil aku Bapak?" Dipa berdiri kemudian berputar di hadapan Arni. "Jadi kapan Bapak mengembalikan uang saya? Lima juta gak ada artinya buat Bapak, tapi buat saya sangat berarti Pak," ucap Arni lagi. Dipa mendekatkan wajahnya agar Arni dapat melihat jelas rupa Dipa. Ia tak terima dipanggil dengan sebutan bapak oleh Arni. Jantung Arni berdetak cepat. Ia menjauhkan wajahnya. "Bapak mau ngapain?" "Bapak, bapak!" Dipa melotot. "Jadi intinya Bapak mau ganti uang saya atau enggak?!" Arni berdiri dan mendorong Dipa hingga jatuh tersungkur di lantai. "Kamu KDRT!" "KDRT dari mana? Memangnya kita berumah tangga? Bapak lo, uangnya banyak tapi lima juta aja gak bisa ngasih ke saya sekarang! Percuma Bapak pake dasi pake jas, keliatannya perlente tapi gak ada duitnya!" Arni berdiri dan keluar dari ruangan Dipa. Bu Tia mengejar Arni yang keluar dari ruangan Dipa dengan wajah kesal. "Gimana Mbak Arjani?" "Kenapa Ibu bisa tahan kerja sama atasan kayak dia sih Bu? Ngeselinnya minta ampun! Lima juta aja susah betul, itu kan uang saya!" Arni meluapkan emosinya. Bu Tia mengelus-elus lengan Arni yang naik turun karena emosinya. "Nanti saya coba saya bantu ngomong sama Pak Dipa ya Mbak," ucap Bu Tia menenangkan. "Maaf ya Bu saya kebawa emosi. Saya permisi dulu." Bu Tia berbalik menuju ruangan Dipa dan kaget karena melihat Dipa yang masih terduduk di lantai akibat dorongan Arni tadi. "Pak Dipa baik-baik aja?" tanya Bu Tia. "Dia udah keluar ya?" "Udah Pak, baru aja." Tak menghiraukan Bu Tia, Dipa masuk ke dalam lift dan menekan tombol yang langsung mengantarkannya ke parkiran bawah. Ia berlari kecil berusaha mencari Arni. "Loh itu mobil yang kemarin? Itu dia?" Langkahnya terhenti saat melihat Arni masuk ke dalam mobilnya. Mobil yang sama yang waktu itu dia lihat di depan rumah teman wanitanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD