Mau tak mau Arni meminta izin tidak masuk kerja hari ini pada Bu Ita. Dengan alasan gak enak badan. Ia belum berniat untuk menceritakan masalah yang dialaminya pada orang lain. Kemarin ia memutuskan tidur di salah satu guest house yang tak jauh dari bekas rumahnya kemarin.
Pagi ini setelah selesai mandi, ia memutuskan untuk sarapan pagi di warung depan guest house sambil menanyakan barangkali ada info untuk kos-kosan.
"Pendatang ya Mbak?" tanya Ibu pemilik warung makan itu sambil meletakkan sepiring nasi campur dan segelas teh hangat.
"Iya Bu." Daripada ditanya yang aneh-aneh, Arni mengiyakan saja perkataan ibu itu.
"Mau nyari kerja apa gimana nih?" tanya ibu lagi.
"Mau nyari kos-kosan sih Bu. Ibu ada info gak?" Arni memandang ibu itu dengan mulut yang tengah mengunyah. Sejenak ibu itu terdiam, kemudian mengambil handphonenya seraya memperlihatkan beberapa foto kos-kosan. Arni menggeser badannya lebih dekat dengan ibu itu agar bisa melihat lebih jelas.
"Saya foto dulu ya Bu," pinta Arni yang kemudian mengeluarkan handphone dan memotret foto yang terpampang di layar handphone ibu itu.
'Semoga cocok deh, dekat kantor juga' katanya dalam hati. Ia cepat menghabiskan makanannya dan meninggalkan warung makan itu. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Meski hatinya sedikit bimbang untuk memilih langsung pergi atau stay disini, ia tetap membereskan barang-barangnya.
"Yakin aja lah." Arni memutuskan untuk langsung meninggalkan guest house dan pergi mencari kos-kosan yang direkomendasikan oleh ibu pemilik warung itu.
***
Untuk menenangkan hatinya, Arni memutuskan untuk nyekar ke makam orang tuanya sebelum pergi menuju kos-kosan itu. Ia memperlambat laju mobilnya, berhenti di penjual bunga yang ada di sekitaran makam. Ia membeli dua ikat bunga kemudian meletakkannya di makam kedua orang tuanya yang berdampingan. Ia berjongkok di antara kedua makam itu. Memandangnya dan menangis. Bertanya kenapa ini harus terjadi di hidupnya.
"Kenapa Papa sama Mama gak sekalian bawa aku sih?" Arni menyeka cairan bening yang mengalir dari kedua matanya.
"Sekarang Arni benar-benar sendiri, Pa, Ma." Tarikan nafas berat Arni terasa sangat nelangsa. Ia membasuh nisan kedua orang dengan air yang dibawanya dalam botol air mineral.
Semilir angin menemani langkahnya meninggalkan pemakaman umum itu. Setelah puas menumpahkan kerinduan pada kedua orang tuanya, Arni melajukan mobilnya menuju alamat kos yang akan menjadi tempat tinggalnya. Beruntung mendiang orang tuanya telah menyiapkan dana pendidikan yang cukup melimpah untuknya, hingga ia bisa menggunakan sebagian uangnya untuk membeli mobil yang digunakannya sekarang.
'Semoga ada kamar kosong' doanya dalam hati saat tiba di alamat yang dituju. Bangunan tiga lantai dengan halaman parkir yang luas di depannya tampak sunyi. Jelas saja sunyi karena ini adalah hari kerja, yang sudah pasti sebagian penghuninya tidak sedang berada di tempat.
"Nyari siapa Mbak?"
Arni menoleh. "Anu Mas, mau nyari kamar kos kosong. Kira-kira disini masih ada gak Mas?"
"Kebetulan banget, kemarin baru aja yang keluar. Mau langsung lihat kamarnya Mbak?"
Arni mengangguk seraya berjalan mengikuti Mas penjaga kosan itu.
'Pas banget di lantai satu' gumam Arni saat Mas itu membuka pintu dengan angka lima yang tertempel di depannya.
"Silahkan masuk Mbak. Dilihat-lihat dulu kamarnya siapa tahu cocok," ucap Masnya sambil menjelaskan fasilitas yang didapatkan sembari Arni berjalan mengelilingi ruangan kamar. Kamar kos yang lumayan cukup luas dengan kamar mandi di dalam dan ruang tamu kecil di depan, juga sudah tersedia lemari pakaian serta AC.
"Kos-kosan ini campur, wanita dan pria, tapi biasanya untuk wanita yang single, menempati lantai satu, untuk pasangan suami istri di lantai dua dan pria di lantai tiga. Walaupun campur, bukan berarti kosan ini jadi bebas. Karena selama dua puluh empat jam, tempat ini diawasi CCTV juga kami sebagai petugas jaga."
'Gak papa sih. Lagian aku bukannya mau macam-macam juga di kos' batinnya. Akhirnya, Arni mengiyakan untuk tinggal di kos-kosan itu. Setelah membayar uang muka sebanyak satu juta, ia menerima kunci kamar kos itu.
"Untuk sisanya, saya transfer ya Mas. Kebetulan uang cash saya sudah habis. Kirim ke nomor w******p saya aja ya Mas nomor rekeningnya," ucap Arni sambil menyebutkan nomor telepon yang sekaligus nomor whatsappnya.
"Oke Mbak, saya tanyakan dulu saya pemilik kosan. Ada yang bisa dibantu? Ngangkat barang-barang Mbak mungkin." Mas itu menawarkan bantuan. Arni tersenyum.
Ia dan Mas penjaga kosan yang bernama Ridwan itu berjalan menuju mobil, menurunkan koper kemudian membawanya masuk ke kamar kos Arni.
"Tadi pagi kamar ini baru saya bersihkan, kalau Mbak Arni mau membersihkan ulang kamarnya, sapu dan teman-temannya ada di pojokan sana." Ridwan menunjuk lorong di sebelah kanan, kemudian pamit meninggalkan kamar itu.
Arni menutup pintu kamar duduk di ruang tamu kecil itu sejenak. Menghela nafasnya seraya mengucap syukur karena bisa mendapatkan kamar kos yang cocok. Ia mengambil handphone dari tasnya dan mengusap layarnya. Ada beberapa hari missed call dan pesan.
Alex
Kamu sakit apa? Nanti pulang kerja aku ke rumah ya?
Me
Kecapean aja. Gausah repot Lex, besok udah masuk kerja kok.
Isi pesan balasannya pada Alex. Beranjak dari kursi ruang tamu, Arni mulai membuka kopernya dan menyusun sebagian baju-bajunya di lemari. Ia sudah menduga, bahwa lemari dua pintu yang ada di hadapannya ini tidak akan cukup menampung pakaiannya yang lumayan banyak. Baju sehari-harinya memang tak banyak, tapi baju batik dan seragam kerjanya yang lumayan banyak. Alhasil beberapa pakaiannya masih berada di dalam kopernya.
***
Arni baru saja mengambil pesanan makanan onlinenya dari luar, saat handphonenya berkedip menandakan ada pesan masuk. Ia mengambil sendok dan piring kemudian membuka bungkus nasi goreng kambingnya. Ia membuka pesan yang dikirimkan Ridwan, yang berisi nomor rekening pemilik kosan. Sambil menikmati nasi gorengnya, Arni meng copy paste nomor rekening itu kemudian membuka aplikasi M-banking nya. Setelah menempatkan nomor rekeningnya dan mengetik nominal yang akan di transfer, Arni langsung memasukan pin dan menekan tombol kirim.
'Dipa Guinandra Tama' gumam Arni membaca nama pemilik rekening yang baru saja di transfernya.
Dari balik pintu terdengar namanya dipanggil berbarengan dengan ketukan pintu yang lebih seperti digedor.
"Kenapa Mas Ridwan?" tanya Arni begitu membuka pintu.
"Mbak Arni udah transfer ya?"
Sambil menunjukkan layar handphonenya Arni mengangguk.
"Lunas berarti ya untuk tiga bulan ke depan," ucap Arni mengkonfirmasi.
Wajah Ridwan layaknya orang yang ingin menangis.
"Mbak, Bu Tini pemilik kos ini salah kirim nomor rekening. Nomor rekening tadi salah," ucap Ridwan. Mendengar ucapan itu membuat mata hampir melompat keluar.
"Trus gimana dong? Lima juta lo itu Mas," ucap Arni bingung. Lima juta bukan nominal yang sedikit buatnya, apalagi dalam keadaan seperti ini.
"Saya minta maaf ya Mbak. Nanti saya kasih tahu Bu Tini dulu, gimana baiknya. Maaf ya Mbak sekali lagi."
Arni tersenyum kecut dan membiarkan Ridwan pergi dari hadapannya.
Ia terduduk lesu di depan nasi goreng yang belum selesai disantapnya itu. Nafsu makannya hilang mengingat uang lima jutanya itu. Ia mengambil handphonenya tadi dan membuka riwayat kiriman uangnya tadi.
'Siapa lagi Dipa Guinandra Tama ini. Untung aja rekeningnya sama, jadi aku bisa ngecek di kantor besok' katanya dalam hati.
Di lain tempat, Dipa tengah bersantai di salah satu klub dengan beberapa temannya. Seorang pelayan meletakkan beberapa jenis minuman di meja.
"Dipa, arah pukul dua belas," ucap salah satu temannya. Dengan perlahan Dipa berbalik memandang ke arah itu, dan melihat seorang wanita seksi tengah menatapnya manja.
"Cus, samperin lah, kurang menggoda apalagi dia."
"Ah, Nanti lah." Dipa kembali menenggak minuman di depannya.
Uti
Cepat pulang!
Dipa memasukkan handphonenya ke dalam saku dan memanggil pelayan. Ia menyerahkan kartu kreditnya pada pelayan itu untuk membayarkan tagihan makan dan minum.
"Belum jam dua belas udah mau pulang aja."
"Orang rumah udah pada ribut nyuruh pulang," sahut Dipa. Pelayan tadi datang dan memberitahu bahwa kartu kredit Dipa tidak dapat digunakan.
"Yang bener Mas?!" Serunya sambil berdiri.
"Iya Pak. Mungkin Bapak ada kartu yang lain," ucap pelayan itu sedikit takut dengan ekspresi lelaki di depannya yang berubah menjadi sedikit sangar.
Dipa berpamitan kemudian mengikuti pelayan itu ke meja kasir karena tak percaya karena kartu kreditnya yang unlimited itu tidak dapat digunakan.
"Silahkan Pak, ada kartu yang lain?" Kasir mengembalikan kartu kredit berwarna hitam itu kepada Dipa. Di belakangnya berdiri wanita yang tadi dilihatnya di arah pukul dua belas. Malu, tengsin dengan wanita di belakangnya yang mulai bertanya ada apa, harapan Dipa tinggal satu, di kartu debit lamanya yang sudah lama tak di cek saldonya.
"Mau sekalian dibayarin?" Dipa bertanya pada wanita itu, yang tentu disambut senang olehnya.
"Sekalian dengan tagihan wanita cantik ini ya," ucap Dipa menyerahkan kartu debit nya pada kasir.
"Pinnya Pak," ujar kasir memberikan mesin EDC pada Dipa. Komat kamit ia berdoa dalam hati agar transaksi pembayarannya berhasil.
Senyum sumringah tersungging di bibirnya, saat kasir mengembalikan kartu debit serta kertas tagihan, yang itu artinya transaksi berhasil. Ia mengedipkan mata pada wanita itu dan berjalan meninggalkan klub itu.
"Aku kira saldonya sudah habis. Ternyata masih ada lima juta lebih di dalam," ucapnya sambil memandangi kartu debitnya itu sebelum kembali menyimpannya ke dalam dompet. Baru saja akan meninggalkan parkiran, saat matanya menangkap bayangan wanita tadi sedang memandang ban mobilnya yang kempes.
"Ban serepnya adakan? Mau aku bantu gantikan mobilnya?"
"Ada, makasih ya. Aku Renata."
"Namanya secantik orangnya," puji Dipa sambil menyebutkan namanya. Senyum tak pernah hilang dari bibirnya saat mengamati Dipa yang dengan gagah mengganti ban mobilnya.
"Makasih ya kamu udah bantuin," ucap Renata manja sambil bergelayut manja di lengan kokoh Dipa.
'Wanita' gumam Dipa dalam hati saat Renata dengan tatapan menggoda meminta nomor whatsappnya.