Arni baru saja selesai membersihkan dirinya setelah pulang dari kondangan salah satu teman kantornya, Bibi Wati yang ikut bersamanya tampak bahagia karena diajak ke acara tadi. Selain pernikahan yang dihelat di salah satu hotel bintang lima, untuk souvenirnya pun tak main-main. Emas batangan dengan berat satu gram lengkap dengan sertifikatnya. Ia merebahkan diri di sofabed yang berada tepat di depan tv.
"Keren ya Non nikah temen kantornya Non Arni. Souvenirnya emas batangan. Ini beneran kan buat Bibi, Non?" Bibi Wati datang dan memastikan lagi.
"Iya Bi. Buat Bibi aja." Arni menjawab perkataan Bibi Wati walau matanya tetap fokus menatap layar tv. Menonton film kesukaannya yang kembali diputar untuk kesekian kalinya.
"Nanti, kalau Non Arni nikah, souvenirnya kaya gini aja Non, tapi yang lima gram ya," celoteh Bibi Wati.
Arni memalingkan wajahnya memandang Bibi Wati yang asyik dengan emas batangan di tangannya itu. "Emangnya saya mau nikah sama crazy rich - crazy rich itu Bi?"
"Ih Non, di aminin aja kali. Kan kita gak tahu jodoh," sahut Bibi Wati.
Arni kembali menatap layar kaca. Pikirannya tiba-tiba tak karuan setelah mendengar ucapan Bibi Wati. Di usianya yang sudah seperempat abad ini, pacar saja belum punya. Ia masih belum tertarik untuk mencari pasangan lagi semenjak kejadian di kampus beberapa tahun silam. Kejadian yang membuatnya sedikit menjaga jarak dengan laki-laki yang mendekatinya. Ya, kejadian yang hampir merenggut mahkotanya itu menimbulkan trauma di dirinya. Kakak tingkat yang di sayanginya itu tega ingin melakukan hal yang belum sepantasnya dilakukan. Meski bagi kebanyakan orang hal itu wajar saja dilakukan untuk pembuktian cinta, tapi tidak untuk Arni. Prinsip hidupnya untuk hal itu tak dapat diganggu gugat. Tak peduli mau se cinta apa, bila sudah tercium gelagat menjurus ke arah sana, ia akan menyudahi hubungan itu. Baginya, pacaran adalah proses untuk saling mengenal satu sama lain, dengan intensitas skinship yang terbatas.
"Non." Suara panggilan Bibi Wati menyadarkan Arni dari lamunannya.
Arni menoleh. "Iya, Bi."
"Bibi boleh minta tolong gak Non?"
Arni mengangguk.
"Bibi mau izin pulang ke kampung Non. Sekitar satu minggu," ucap Bibi Wati.
"Bisa aja Bi. Mau pulang kapan Bi?" tanya Arni.
"Besok pagi aja Non," sahut Bi Arni.
"Yasudah, Bibi naik kereta api kan? Saya pesankan tiketnya ya." Arni beranjak dari sofabed dan menghampiri Bibi Wati sambil memperlihatkan jadwal keberangkatan kereta api melalui handphonenya.
"Makasih ya Non."
"Iya Bi. Saya tidur duluan ya Bi. Bibi istirahat juga, kan besok harus pulang kampung," ucap Arni sembari meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya.
***
Pagi telah menjelang. Arni telah siap akan mengantarkan Bibi Wati ke stasiun. Namun melihat banyaknya bawaan Bibi Wati, membuat Arni sedikit bingung. Tapi kebingungannya itu tak diambil pusingnya. Ia berpikir positif, mungkin Bibi Wati membawakan buah tangan untuk saudaranya di kampung. Satu tas jinjing besar dan dua kardus coklat telah masuk ke dalam mobil Arni. Setelah mengunci pagar, mereka berdua mulai berkendara menuju stasiun kereta api. Sepanjang perjalanan, Bibi Wati hanya diam. Tampak murung.
"Bi, Bibi sakit?" tanya Arni setibanya di stasiun. Ia menurunkan barang-barang bawaan Bibi Wati.
"Gak Non," jawab Bibi Wati singkat. Arni masih menemani Bibi Wati hingga sepuluh menit sebelum jam keberangkatan keretanya.
"Bi, ini sedikit buat pegangan Bibi di jalan ya. Hati-hati ya Bi. Cepet pulang ya," ucap Arni. Ia menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah ke dalam tas Bibi Arni seraya memeluknya.
'Maafin Bibi ya Non' gumam Bibi Wati saat Arni pamit pulang. Air matanya menetes sambil mengangkat barangnya kemudian berjalan menjauh dari tempat itu. Bibi Wati dijemput suaminya yang ternyata sudah menunggu di ujung stasiun.
Dengan berat hati, Bibi Wati mengikuti langkah kaki suaminya. Ia terpaksa mengikuti kemauan suaminya untuk menjual rumah yang ditempatinya bersama dengan Arni untuk membayar hutang judi suaminya di kampung yang mencapai ratusan juta. Sebelumnya, Bibi Wati sudah mengambil sertifikat rumah yang Arni simpan di lemari pakaian. Arni memang tidak mempunyai tempat khusus untuk menyimpan barang-barang berharganya, karena merasa selama ini, perhiasan maupun sertifikat rumah masih ada pada tempatnya.
Di ujung stasiun, mereka menemui calon pembeli yang telah pasti akan membeli rumah itu.
"Jadi kapan saya bisa menempati rumah itu?" tanya lelaki berkumis tebal yang berdiri di hadapan Bibi Wati dan suaminya.
"Kalau bisa, tiga hari ya Pak, supaya majikan saya punya waktu untuk bersiap-siap," ucap Bibi Wati memohon.
Lelaki berkumis itu mengangkat tas hitam yang dipegangnya. "Kalau kalian mau uang ini, besok sore rumah itu harus sudah kosong!"
Berkecamuk hati dan perasaan Bibi Wati saat ini. Ini semua sangat bertentangan dengan isi hatinya, namun bila ia menolak, nasib suami dan juga anak gadisnya yang jadi taruhannya.
Dengan mata berkaca-kaca dan suara yang bergetar, Bibi Wati mengiyakan permintaan lelaki berkumis yang akan membeli rumah itu.
"Saya mohon berikan surat ini sama majikan saya Pak." Bibi Wati menyerahkan sepucuk surat dalam amplop putih setelah suaminya menerima tas berisi uang, dan sertifikat itu telah diberikan pada lelaki berkumis itu.
Bibi Wati terduduk lesu di kursi panjang yang ada di stasiun sementara suaminya tampak bahagia melihat uang di dalam tas itu.
"Ayo kita pulang Bu, sebentar lagi kereta kita berangkat," ajak suaminya. Bibi Wati menatap tajam suaminya. Ia tak mengira bahwa suaminya bisa begitu kejam padanya. Memaksa untuk mengikuti kemauan jahatnya, dan bodohnya ia pun tak kuasa menolak.
Bibi Wati menggelengkan kepalanya. "Jahat kamu ternyata Pak!" Ia berjalan lebih dahulu meninggalkan suaminya.
"Bu…" panggil suaminya sambil mengejar Bibi Wati.
***
Keesokan pagi, sebelum Arni pergi kerja, kaki yang seharusnya melangkah ke dapur untuk mengambil buah, namun kakinya malah melangkah masuk ke kamar tidur Bibi Wati.
"Eh, kok ke sini?" Ia bingung, sadar telah ada di dalam kamar Bibi Wati. Ia tertarik untuk melihat isi lemari Bibi Wati, dan betapa kagetnya ia saat melihat lemari yang sudah kosong melompong. Jantungnya berdetak cepat, perasaannya jadi tak enak. Ia mencoba menenangkan diri dan keluar dari kamar itu. Saking bingungnya, Arni lupa apa yang ingin diambilnya di dapur. Ia malah mengambil tasnya, mengunci pintu rumah, dan bergegas pergi kerja.
"Kok kosong ya?" Arni masih bertanya-tanya. Ia mencoba mengingatkan bagaimana kemarin Bibi Wati meminta izin pulang kampung. Seperti biasa, Arni merasa tak ada yang salah. Sikap Bibi Wati tak ada yang aneh sepenglihatannya.
Setibanya di kantor, Arni menuju lokernya dan bercermin.
"Kamu kayak orang linglung Ar?" Anis menepuk pundak Arni. "Kamu sakit?" tanyanya lagi.
Arni menggeleng. Ia memejam mata sejenak seraya menghela nafas.
"Yuk, udah mau masuk jam layanan," ujar Anis.
"Iya Nis, bentar benerin rambut dulu." Arni mengambil sisir dan sirkam dari dalam lokernya kemudian merapikan rambutnya membentuk cepolan.
'Jangan pikir yang aneh-aneh, Arni' gumam Arni menenangkan dirinya.
Bukan rahasia umum kalau hari Senin, hari yang sibuk. Load kerja yang tinggi membuat Arni langsung melupakan kecemasan yang melandanya tadi pagi. Nasabah datang silih berganti dengan membawa keperluan mereka masing-masing. Ia dan juga beberapa teman customer service lainnya menyudahi layanan mereka pukul tiga lewat lima belas menit.
"Ampun hari ini nasabahnya kaya kereta api, gak ada putus-putusnya!" Seru Anis. Ia menelungkupkan wajahnya di meja kerja.
"Banget. Mana banyak berkas yang harus di maintenance lagi," timpal Arni. Melihat tumpukkan berkas di meja para customer service yang lumayan banyak, Bu Ita mendekati mereka.
"Kalian besok aja maintenance ya, hari ini Ibu mau pulang cepet, ada acara keluarga di rumah. Barusan sudah minta izin. Jadi kalian pulang on time aja hari ini," ucap Bu Ita yang tentunya disambut senyum bahagia anak buahnya itu. Sesuai dengan perkataan Bu Ita barusan, mereka membereskan berkas di meja dan menyimpannya di lemari, kemudian sembari menunggu jam pulang, mereka asyik mengobrol sambil menikmati makanan kecil yang baru saja datang dengan diantar ojek online.
Seperti memiliki firasat, Arni yang biasanya nomor satu bila diajak nonton film ke bioskop, kali ini menolak ajakan Alex, teman sekantornya yang berbeda unit kerja itu.
"Lagi capek Mas. Maaf ya. Hari ini nasabahnya banyak banget, jadi pengen istirahat aja," ucap Arni sebelum masuk ke dalam mobilnya. Alex yang berdiri di sampingnya, sedikit memanyunkan bibir tanda kecewa. Alex lelaki asal manado itu, yang merupakan salah satu dari sekian lelaki yang memuja Arni di kantor, memang memiliki rasa untuk Arni, tapi ultimatum Arni di awal perkenalan bahwa mereka hanya teman saja, membuat Alex tak ingin memaksakan perasaan. Alih-alih membuat Arni membalas perasaannya, Alex hanya bisa memberikan perhatian saja kepada wanita pujaannya itu.
"Yasudah, hati-hati di jalan ya." Pesan Alex pada Arni.
Alex memandang Arni sejenak kemudian kembali masuk ke dalam kantor.
***
Non, maafin Bibi. Bibi minta ampun sudah jahat sama Non dan keluarga. Semua ini terpaksa Bibi lakukan karena hutang judi suami Bibi. Semoga Non bahagia selalu. Non, Bibi minta ampun.
Bibi Wati.
Isi surat Bibi Wati yang baru saja Arni baca. Tak tahu harus berkata apa, ia hanya terkulai lesu. Duduk di sofa ruang tamu sambil meremas kesal selembar kertas itu. Di depannya berdiri laki-laki berkumis, lumayan tua, disertai beberapa orang yang entah anak buah atau preman.
"Saya gak tahu urusan kamu sama Wati dan suaminya apa, tapi yang saya tahu, saya sudah beli rumah ini dan isinya. Jadi kamu bisa kemasi barang-barang kamu sekarang juga!" Seru lelaki berkumis itu tegas.
Takut akan di macam-macami oleh orang-orang itu, Arni segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia mengambil koper dan memasukkan baju-bajunya ke dalam, sambil terus mencoba menghubungi Bibi Wati.
"Tega banget sih bibi." Air matanya jatuh setelah melihat isi lemarinya, yang memang benar sertifikat rumah sudah tak ada. Untung saja perhiasannya tak ikut dibawa oleh Bibi Wati juga.
Pintu kamarnya di ketuk, membuat Arni terkejut. Ia menyeka air matanya, dan bergegas memasukan perhiasannya kedalam tas.
"Tolong cepat ya!" Suara bentakan pria berkumis itu membuat Arni bergidik takut. Ia menarik dua koper berbeda ukuran yang penuh dengan barang-barangnya keluar dari kamar. Arni segera keluar dari rumah dan memasukkan kopernya ke dalam mobil. Tetangga samping rumahnya yang kebetulan sedang menyiram tanaman di halaman, memanggilnya.
"Pindah Bu," sahut Arni tersenyum kecut. Arni kembali masuk ke dalam rumah dan mengambil beberapa barang yang masih tertinggal. Sejenak ia memandang sekeliling kamarnya, ia menahan air mata yang hampir jatuh menetes. Peristiwa terusir dari rumah harus terjadi lagi.
Pria berkumis dan orang-orangnya itu mengunci rumah kemudian meninggalkan rumah itu setelah Arni berada di luar rumah.
Tetangganya berjalan menghampiri Arni. "Neng Arni kenapa?" tanya tetangga dengan logat khas betawi.
"Pindah Bu. Maaf ya Bu kalau selama bertetangga, saya ada salah-salah," pamit Arni.
"Iya Neng, Ibu juga. Bi Wati mana?"
Arni menghela nafas. Tak mungkin ia menceritakan semua kejadian ini. Kejadian yang terjadi karena ulah Bibi Wati.
"Udah pulang kampung duluan Bu."
"Hati-hati ya Neng," ucap tetangga Arni itu sambil melambaikan tangan.
***
Arni melajukan mobilnya di atas aspal jalanan, tak tahu kemana arah dan tujuannya. Kembali teringat bagaimana sakit dan sedihnya ia saat terusir dari rumah setelah kedua orang tuanya meninggal. Tak ada yang bisa dibawa kecuali pakaian dan barang pribadinya saja. Di situasi seperti itu, hanya Bibi Wati yang berjanji untuk menemani Arni sampai kapanpun, tapi sekarang malah sebaliknya. Ia menjadi penyebab Arni harus terusir dari rumahnya. Kalau tak mengingat semua jasa yang diberikan oleh Bibi Wati selama ini, pasti ia sudah melaporkan semua perbuatannya kepada pihak berwajib. Namun, Arni masih memiliki hati nurani dan mengingat semua kebaikan pengasuhnya itu.
TITTTT
Arni terperanjat. Lampu telah berubah menjadi hijau. Ia menekan pedal gas pelan dan mengarahkan mobilnya belok ke kanan. Ia tiba di salah satu perumahan elit Jakarta yang merupakan rumah orang tuanya dulu.
"Pa, Ma. Arni kangen." Mobil yang dikemudikannya berhenti di sebuah rumah bertingkat dua dengan pagar yang tinggi. Tampak beberapa mobil terparkir di halaman rumah itu. Sepertinya rumah itu sudah ada yang empunya. Arni menatap sejenak bekas rumahnya itu kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan.
TITTTT
Kembali Arni dikejutkan dengan klakson mobil dari belakang.
"Rese banget sih, gak tahu orang lagi sedih apa?!!" Teriak Arni dalam mobil sambil membunyikan klaksonnya juga, membuat orang di belakangnya tadi kaget dan keluar dari mobil. Ia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Arni sambil berusaha mengintip ke dalam.
"Ngapain juga pake acara ngintip!" Arni memutar setir mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Hey! Hey! Kok gak punya otak sih!" teriak orang itu yang hampir diserempet Arni.
"Dipa Sayang." Seorang wanita cantik dengan gaun tipis seksi keluar dari bekas rumah Arni, berjalan menghampiri Dipa yang masih terlihat kesal memandang mobil Arni yang sudah menjauh.
"Sayang kata kamu? Hubungan kita sudah berakhir!" Dipa meninggalkan wanita itu masuk ke dalam mobil.