Awaken

1330 Words
“Silverstream.. Erick… nak.. sadarlah kumohon..” Ziel menepuk-nepuk pipi Erick di pangkuannya, berusaha menyadarkan. Teman-temannya yang lain pun berlari menghampiri. “Erick.. bangun.. kami mohon..” “.. biar aku..” Andrew berlutut di hadapan Ziel dan memegangi dahi Erick dengan tangan kanannya, merapal mantra sihir penyembuh dalam diam. Perlahan tubuh beku sang Raja naga terlepas dari warna pucat dan dingin. Andrew bisa merasakan aliran darah kakak Dragonnya kembali normal dengan detak jantung yang membaik. “kkhh.. uhukk uhukk...” Erick pun bergerak tersadar. Meski tubuhnya masih lemas setidaknya Ia sudah bisa membuka mata. “Erick...!!!” “Eldri...!!!” “syukurlah kau sudah sadar..” “hhh... apa.. yang.. kenapa kalian disini.. lho..?? Ziel?? Kenapa kalian...” dengan setengah sadar Ia bingung melihat teman-temannya datang bersama Ziel yang belum pernah saling bertemu atau mengenal sebelumnya. Ia duduk, bangun dari terbaring dan dikelilingi kawan-kawannya. “ceritanya panjang, Eldri.. dan kami tidak tau sudah berapa lama kau terkurung dalam balok es itu..” karena kakaknya sudah tersadar, kini Andrew memegangi punggung Erick. Menyalurkan kehangatan dan membagi sedikit Magianya. “balok es? Aku? Maksudnya..??” Ia memandang temannya satu persatu, kebingungan. Mata birunya yang masih layu berusaha mengerti apa yang tengah terjadi. “pertama-tama.. coba raba dahimu..” Cyrus melipat kedua tangannya. Mencoba memberitahu Erick dari hal paling sederhana. “dahi..? LHO..?? LHOO..?!?!?! TIARA KU..?? BLUE SPIRIT..??? ZIEL.. DIMANA BENDA ITU???” King of Draecorona itu panik. Tiara yang diturunkan Ziel padanya dan tidak pernah Ia lepas kecuali saat tidur kini tak ada ditempatnya. “dan kedua.. apa kau ingat hal terakhir sebelum kau tidak sadarkan diri?” kini Peter yang bertanya padanya. Kronologis dari sisi Erick juga merupakan satu petunjuk penting. “terakhir..?? aku tidak yakin.... hemm…” Erick pun menjawab sambil melipat tangan dan memejamkan mata, berusaha mengingat kejadian terakhir yang Ia alami. “kau yakin tak mengingat apapun, Erick?” “tunggu.. kalau tidak salah… duh.. Saat itu.. aku berjalan kaki di tengah malam bersama dua pengawalku, hendak pulang ke Eispalast seusai patroli malam mingguan..” dalam buramnya ingatan Erick berusaha menjelaskan. Ia mengingat kembali dinginnya malam itu dan sepi nya suasana kota. Badai salju belum lama lewat, karenanya Ia ingin memastikan tak ada penduduk kota yang mengalami kesusahan. “sebentar lagi aku sampai di Eispalast, kalian pulang saja kerumah sekarang..” “tapi tuan, entah mengapa perasaan ku buruk.. kami akan temani sampai kau masuk Eispalast..” “hahaha.. tenang saja, ini ‘kan bukan pertama kalinya kita patroli mingguan.. aku akan baik-baik saja.. kalian pasti sudah lelah dan rindu keluarga dirumah ‘kan?” “tuan Erick memang selalu pengertian ya..” “kau yakin akan baik-baik saja?” “iya.. siapa sih yang berani main-main denganku” “baiklah kalau begitu, malam ini bulan baru.. langit jadi lebih gelap dari biasanya.. hati-hati tuan Erick” dua pengawalnya pun pamit, membuka sayap mereka dan naik ke langit untuk pulang ke rumah masing-masing. “dadahh…” Tangan Erick dengan lembut melambai, berpisah dengan dua pengawalnya. Raja naga itu pun melanjutkan kepulangannya ke Eispalast. Meski memakai baju tanpa lengan dan atasan crop top yang menampilkan perut gagahnya, tentu saja sebagai naga es ia tak sedikitpun kedinginan. Nampak butiran tipis salju menempel di jubah tebal yang menutupi punggungnya. Uap putih berhembus dari napasnya yang dingin. Ada saat-saat dimana ia ingin sendirian menikmati lambatnya waktu yang mengalir, menikmati perannya sebagai salah satu Raja dalam sejarah Draecorona. “.. tiba-tiba saja aku mendengar suara aneh.. seperti ada seseorang yang.. mengorek-ngorek salju(?).. karena curiga aku pun mencari sumber suara itu..” Erick mengintai ke salah satu pojok belakang rumah penduduk dimana banyak ditumbuhi pohon pinus. Hanya ada tumpukan salju dan bayangan gelap disana. Dengan rasa penasaran ia menghampiri suara aneh yang terdengar. “.. tapi tiba-tiba saja mataku seperti ditutup dan mulutku seperti dibekap.. aku rasa aku sempat memberontak.. sesuatu yang membekapku terasa.. apa ya, licin tapi kasar.. dan dingin.. aku tak tau bagaimana menjelaskannya..” dahi Erick berkerut seiring ia membayangkan sosok yang mencelakainya. Ziel dan Ninefinity masih terdiam mendengarkan dengan seksama. “dan setelah itu aku merasa seperti tertidur dalam sesuatu yang dingin.. hingga akhirnya kalian datang dan menyelamatkanku.. pastinya aku juga harus berterima kasih pada kalian.. maaf sudah membuat kalian khawatir..” “aku juga minta maaf ‘Sil.. aku tak berpikir peniru mu akan mengurungmu disini.. aku sempat berkeliling Draecorona untuk mencarimu.. tapi aku tak menduga kau ada di tempat paling mencekam di kerajaan ini..” Ziel menghela napas panjang setelah mendegar kesaksian Erick sendiri. Andai saja ia bisa menemukan penerusnya lebih cepat, kemungkinan p*********n klan Dragons masih bisa dicegah. “peniru ku? Berkeliling Draecorona? Kenapa?” “hhh… ceritanya panjang Dragon.. kau juga berhutang maaf padaku dan kerajaanku ya..” “isengnya ditahan dulu bisa tidak? Kasihan dia belum terlalu nyambung dengan pembicaraan kita” Peter mencubit pipi Adryan, gemas. “hehehe” “jadi begini ‘Sil.. Dragons.. berpencar ke seluruh Arc Chaestra untuk menjajah 8 kerajaan lainnya.. kondisi Groilandia dan perbatasan Nereida adalah yang terburuk..” “APA?! KOK BISA?!” Erick terbelalak, tak bisa membayangkan kalau hal tersebut nyata dan sedang terjadi. “pinggir pantai Nereida diserang naga laut, klan Siren sembunyi dalam palung.. Groilandia kacau balau, Mavr lykos dan Chaldene sejauh ini aman terlindungi.. begitupun Miwamori, para naga yang datang berhasil dipukul mundur oleh Ryota.. dan entah mengapa untuk saat ini tidak ada naga yang berani menyerang Vouna dan Asteria..” jelas Damian. Bahasa penjelasan yang singkat membuat Erick dengan mudah mengerti kata-katanya. “kalaupun mereka berani menyerang Asteria, aku pun sudah memperketat keamanan kerajaanku.. aku memerintahkan para prajuritku untuk cukup lindungi saja Asteria, tapi jangan sakiti Dragons karena mereka pun bagian dari 9 klan.. kecuali kalau kejamnya mereka sudah kelewatan.. maka Dragons akan menjadi musuh kami…” Nathanael mengeluarkan tombaknya, menanggapi peristiwa yang sedang terjadi. Tatapan matanya berubah. Wajah tampan itu tetap menawan meski sedang menahan amarah. Erick tak menjawab hanya menatap datar wajah tampan itu. “hei.. hei.. kita akan selesaikan semua ini tanpa pertumpahan darah, oke?” Ryota menghadang Nathanael, menahannya untuk tetap sabar dan berpikir positif. Mata coklatnya yang polos membuat Nathanael luluh dan menurunkan acungan tombaknya. “hhh… yah…” “tapi.. apa yang membuat Dragons menyerang Arc Chaestra…” Erick menunduk lesu, memikirkan apa yang kira-kira salah dari klan nya. “ada seseorang.. atau sesuatu yang meniru wujudmu, suaramu, Magiamu.. dan mencuri Blue spirit.. sudah pasti dia juga yang menyekapmu di tempat ini agar bisa semena-mena di Draecorona.. dia menggunakan Blue spirit untuk memanggil seluruh Dragons agar berkumpul di luasnya Eispalast, dan berpidato mengenai klan Dragons haruslah menjadi yang terbaik, yang berada diatas 8 klan lainnya.. aku tak suka dengan caranya berpidato karena sangat lain dengan dirimu..” “memalukan.. sungguh memalukan..” Erick menggeleng-geleng. Ia tak bisa membayangkan harga dirinya yang juga ikut hancur. “percayalah aku sudah menentangnya.. aku sudah berdebat bahwa aku tak percaya seorang Silverstream akan berkata-kata tentang kekuasaan yang merusak keseimbangan dunia.. tapi entah pengaruh kuat dari Blue spirit yang makhluk itu kenakan atau bagaimana, semua berakhir dengan sebagian besar naga mematuhi perintahnya.. dan begitulah akhirnya saat ini, 3 kerajaan terancam meski 4 lainnya bisa dibilang aman.. kurasa” “SIALAN...!!!!” Erick melontarkan tinju nya hingga lapisan es yang mereka pijak pun retak. Matanya menyala biru terang dengan pupil yang menyempit. Muncul lapisan es tipis di jari-jari tangannya. “tidak hanya mengurung ku.. Ia juga mengacaukan kerajaan ku dan kerajaan lain.. tidak bisa dimaafkan.. Ia akan dihukum sangat berat.. aku jamin itu..” sumpah Erick. Ia membuang napas, dadanya sesak akan emosi. “tapi sekarang dimana dia berada? Kami tidak melihat seekor naga pun yang terlihat mirip sepertimu dalam p*********n selama ini..” “di tempat dimana seorang Raja berada.. memantau kaki tangannya, pastinya di istanaku.. Eispalast..“ Erick menatap Ziel. Mantan Rajanya itu pun mengangguk menandakan bahwa dugaannya benar. “kalau begitu ayo, kita kunjungi satu dari 9 istana besar Arc Chaestra sekali lagi.. dan kita bereskan semuanya segera..” 9 lawan satu.. kami pasti akan mengungkap siapa dirimu sebenarnya..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD