Found You

1203 Words
“ERICK..!!!!!” teman-temannya segera turun dari punggung Ziel. “Eldri..!!!! SADARLAHH..!!! Eldri...!!!!!” Andrew memukul-mukul bongkahan es itu. Erick yang ada di dalamnya tak bergeming. Beku dalam biru dan dingin. “tiara Blue Spirit.. tidak ada di dahinya.. memang benar peniru itu yang mengambilnya.. sialan..” Ziel yang sudah kembali dalam wujud manusianya berdiri menatap Erick. Darahnya naik. Kedua tangannya mengepal. Ia benar-benar marah. “MINGGIR TEMAN-TEMAN...!!!!!” Ryota melepas sarung tangan, mengeluarkan ke-lima ekornya. Terlihat sedikit api berkobar di kedua tangannya, disertai Magia orange yang berputar-putar. Teman-temannya pun menyingkir segera dari depan balok es yang mengurung Erick. “FLAME THROWER...!!!” sang pendeta Rubah menembakkan api besar untuk melelehkan es yang mengurung Erick. FWWOOSSHHH...... salju di sekitar balok es itu pun meleleh karena panasnya jurus milik Priest of Foxes itu. Uap panas tersisa pasca jurus lontaran api itu ditembakkan. “Berhasilkah..??” Peter melihat kearah penjara balok es. Uap dari lelehan salju yang menghalangi pandangan mereka perlahan pudar. Namun sayang, balok es itu tak rusak sedikitpun. Lapisannya tetap tebal dan dingin. “Sial..!!! bagaimana mungkin..??” Ryota terduduk kesal karena jurusnya tak mempan. Telinganya pun tertekuk kebawah. Ia sembunyikan lagi ekor-ekornya. “Mungkin harus api dari seekor Dragons sungguhan?” usul Damian sambil melihat kearah Ziel yang merupakan golongan Naga api. “Bukan.. aku juga tidak bisa melelehkannya. Ini bukan es sembarangan. Entah kenapa Magia ini.. terasa sangat asing. Ini bukan Magia milik naga es, api, atau makhluk manapun..” ujar Ziel sambil mendekat dan memandang balok es itu. Tangannya menyentuh pelan lapisannya yang bening kebiruan. Sebagai mantan Raja Arch Chaestra Ia pun memiliki kemampuan untuk merasakan dalamnya energi Magia. Begitupun ketika pertama kali bertemu dengan teman-teman Erick yang berasal dari 7 klan lain. Namun Magia ini.. Magia yang tengah Ia raba ini.. terasa sungguh berbeda. “coba kalian rasakan, bagaimana menurut kalian tentang Magia ini?” “ng? Iya, aku juga penasaran..” Nathanael mendekat, berdiri di sisi Ziel. Ia lepaskan sarung tangan putihnya, ikut merasakan lapisan dingin itu langsung dengan kulitnya. “tunggu.. aku merasa tak asing... ini.. Magia yang membuatku memiliki 6 sayap sekaligus..” Nathanael teringat belum genap sebulan yang lalu, peristiwa mengerikan itu.. dimana Ia rasakan aliran Magia yang luar biasa besarnya. “hhh.. astaga...” “ya.. juga Magia yang membuatku mampu berubah wujud menjadi seekor naga hitam..” Damian ikut mendekat. Ia tak ikut menyentuh lapisan es namun melihat samar-samar warna Magia yang melapisi es itu, sadar akan warnanya yang lain dari Magia 9 klan Arc Chaestra. “aku tak pernah lupa.. Magia yang membuat suaraku terasa seperti ditarik keluar..” sambung Cyrus sambil meraba lehernya. Rasa sakit yang dulu Ia rasakan seolah terpanggil kembali. Pandangan matanya kosong karena ingatan tentang kejadian mengerikan yang terjadi beberapa minggu lalu. “.. yang membuat ketujuh ekorku keluar di luar keinginanku..” timpal Ryota seraya berdiri, menyadari apa yang teman-temannya katakan. Ia teringat setelah mencium aroma dingin yang tak asing. Telinga Rubah nya kini tegak kembali. “Magia yang memaksaku berubah dalam wujud Siren meski di darat..” Andrew berkata sambil mendekap dirinya sendiri.. takut. Berbeda dengan kawan-kawannya yang mendekat Andrew justru menjauh dari balok es itu. “juga Magia yang membuatku hampir kehilangan kewarasan sebagai seekor Beast..” pupil mata Adryan menyempit, ekornya menyentak. Ia teringat.. “Magia jantung bumi.. dari Gate of South...” Peter menarik napas panjang. Tak perlu meraba, melihat, atau mencium aromanya sebagai salah satu penyegel Gate of South Ia pun memahami apa yang teman-temannya rasakan saat ini. Langit kelabu menaungi 7 Raja bersama satu mantan Raja yang ikut bersama mereka kala itu. Angin kutub bertiup, menghembus pakaian-pakaian para pemimpin yang terpaku di depan tubuh beku salah satu kawan mereka. Mulai menyadari nasib buruk yang entah mengapa menghampiri mereka lagi. “Gate of South?! Gerbang legendaris yang dijaga sang Alicorn?? Gerbang yang sudah kalian segel bersama-sama itu?!” Ziel terkejut begitu nama legendaris Gate of South diucapkan. Tiba-tiba Ia teringat, kala ganasnya Magia negative dari jantung bumi merasuk ke aliran darahnya. Kala itu, sore yang tenang di Draecorona. Sinar matahari meredup karena tebalnya awan kelabu di langit. Ia sedang beraktivitas seperti biasa di rumah peristirahatannya yang sederhana di sebuah desa kecil di Draecorona. Ya, Ia memilih tinggal jauh dari ibukota agar bisa menghabiskan masa tua yang tenang setelah bertahun-tahun hidup memimpin besarnya klan Dragons. Di tenangnya rumah itu, sang mantan Raja hidup berdua saja bersama istrinya karena sang putra mengabdi di Eispalast sebagai bawahan Erick sang penerus tahta Draecorona. Ia ingat saat udara tiba-tiba mencekam dan jantung berdegup kencang tanpa sebab. Pemandangan terakhir yang Ia lihat ialah istrinya yang sedang menjahit di ruang tengah menjerit sambil memegangi kepalanya. Setelahnya Ia tak ingat apapun, ingatan yang buram dalam waktu yang tak pasti. Saat Ia sadar justru Erick lah yang menyadarkannya dari pengaruh Magia negatif. Erick sengaja jauh-jauh menemuinya karena Ziel adalah seorang yang menobatkannya sebagai King of Dragons, yang mana merupakan wali nya sendiri. Erick menjelaskan secara rinci mengenai terbukanya lagi Gate of South serta semua pengalamannya tentang penyegelan celah penuh Magia itu bersama 8 Raja negeri lain. “ya.. tidak salah lagi.. dari aura.. aroma dingin.. perasaan yang mencekam ini.. persis seperti saat kita menyegelnya dulu..” balas Andrew sambil memandangi balok es itu dari atas kebawah dari tempatnya berdiri. “lalu.. bagaimana caranya kita membebaskan Erick dari dalam es ini...” tanya Peter pada teman-temannya yang lain. “aku punya usul.. aku tak yakin tapi tak ada salahnya mencoba.. nak Kitsune, kemarilah.. kita lakukan bersama..” Ziel meletakkan tangan kirinya pada es itu sambil memanggil Ryota, memintanya untuk menghampiri. Ryota tak menyahut, hanya berjalan perlahan mengikuti perkataan Ziel. Melihat naga api itu meletakkan satu tangannya, Ryota pun melepas sarung tangan dan ikut meletakkan tangan kanannya. “sekarang.. salurkan Magia matahari mu kesini.. jangan gunakan api secara fisik.. cukup Magia mu saja. Kita coba rusak komponen sihirnya dengan Magia murni kita.. Kau Priest of Foxes dan aku mantan King of Draecorona. Percayalah Magia kita tidak kalah kuat dari Gate of South..” ujar Ziel sambil membalut tubuhnya dengan Magia jingga kemerahan. Ryota dalam diam mengikuti kata-kata Ziel. Ia pun membalut dirinya dengan Magia jingganya. Detik demi detik, Magia kedua pengguna api itu makin lama makin terang.. “tetap fokus nak.. teruskan..” mata Ziel menyipit, memusatkan Magianya untuk merusak balok es. Kedua telinga Ryota turun seiring dalam fokus pikirannya. “ngghh... ini, lebih susah dari melepas sihir tingkat tinggi..” “ya.. aku tau.. terkadang melakukan satu hal mudah terasa lebih susah ketika kita terbiasa menghadapi hal-hal sulit..” Ryota menoleh, tertegun dengan kata-kata Ziel. Krrkk... krrkk... terdengar suara retakan dari es itu. Garis-garis retak berwarna putih pun terlihat dengan jelas serta semakin membesar. “sedikit lagi…” “ya..” Krrttkk... krttkk.... PRAANNGG…!!!!! es itu pun pecah hancur bagaikan kaca. Raga Erick yang dikurung di dalamnya ambruk namun berhasil ditangkap oleh Ziel. “hup..!! .. Astaga nak.. tubuhmu.. dingin sekali..” saking dinginnya tubuh Erick, terlihat uap putih mengepul ketika tubuh itu Ziel papah. Wajar saja karena Magia merah Ziel yang belum lama dilepas ketika memecahkan balok es beradu dengan beku nya raga Erick. Kekarnya tubuh sang King of Dragons teramat rapuh, lunglai dibawah pengaruh sihir kejahatan. Aku tak akan membiarkanmu kesepian, kau akan selalu ada di sisiku.. berjalan bersama, selalu..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD