Oliver masih mengingat kejadian bertahun-tahun lalu. Hampir sepuluh tahun waktu yang sudah terlewat, namun kejadian paling menyakitkan dalam hidupnya itu seperti baru saja terjadi. Semua details yang sudah susah payah ia kubur, kini muncul kembali. Oliver meremas benda bundar di depannya. Kedua matanya menatap lurus ke depan, dengan sepasang rahang yang saling menekan kuat. Jika dulu dia sempat memperjuangan seseorang yang pada akhirnya menghancurkan hidupnya, sekarang dia berusaha menyelamatkan seseorang yang mungkin hidupnya akan hancur karena dirinya. “Arghh, brengs*k!” Tangan kanan Oliver melepas kemudi, mengepal, lalu memukul benda bundar tersebut. Sebenarnya dia tidak ingin mengakui, namun hati kecilnya tidak bisa berbohong. Dia sadar sudah menempatkan Hazel dalam bahaya. Setelah

