6 (18+)

931 Words
"Maksudn--" Belum saja Raline meneruskan tanya kebingungan nya, Arbiaz sudah menangkap habis seluruh bibir Raline, Arbiaz mencium nya dengan sangat lembut dan lama kelamaan ciuman itu semakin liar, lidah Arbiaz mencoba masuk ke dalam mulut Raline, hmm rasanya Raline belum pernah melakukan ini, Arbiaz sangat sulit untuk mengabsen segala sisi di dalam mulutnya dengan lidah nya. "Hmm pak.." Arbiaz menghentikan aksi nya mendengar Raline memanggil dengan sebutan "Pak" "Kan gue udah bilang jangan manggil gw pak" "Gabisa, tetep aja kamu atasan saya" "Hih, seolah-olah saya lebih tua 10 tahun dari kamu tau ga" "Oke panggil saya mas aja" "Mas?" "Iya mas " "Abang boleh ga?" "Gue bukan orang batak" "Oke mas Arbiaz, mas Biaz" Arbiaz menyentuh pipi Raline dengan lembut , dan ingin memulai kembali aksi nya. Tetapi dihentikan oleh genggaman tangan Raline. "Kenapa?" "Mas, apa kita ga terlalu jauh" "Gue ga akan bikin lo terkena skandal apapun dan gue juga belum beristri sama sekali, jadi apa yang lo pikirkan tentang gue itu ga ada yang bener serta gue sekarang belum punya pacar sama sekali." "Kalau lo ga percaya lo bisa lihat di ktp gue status nya apa" Arbiaz seraya membuka dompetnya yang tebal karena kartu - kartu uang yang sangat praktis dibawa kemana - mana, ada foto dirinya dan keluarga nya, ktp , sim A , sim C, kecuali sim B. Raline termenung bingung melihat ktp yang Arbiaz berikan. "Gue ga ada ngerekam 2 kali ya, itu baru, dan status disitu belum kawin" Dan yang Raline lakukan sekarang hanya menggeledah dompet Arbiaz, dan bertanya kartu apa - untuk apa ada isinya atau tidak. "Kok banyak banget kartu atm nya mas?" "Itu karena kebijakan aja jadi bikin sebanyak itu" "Ohh gitu" "Udah semua kan di cek?" Raline memasukan kembali kartu - kartu yang ia keluarkan untuk ia geledah tadi, merapikan nya dan menyodorkan kembali dompet itu kepada Biaz. "Percaya kan?" "Hmm.. mungkin." Arbiaz membuat jarak semakin dekat dengan Raline, ia merangkul pundak Raline menjadi lebih dekat dengan d**a nya. Raline menyentuh d**a Biaz yang berbentuk kotak - kotak dimana - mana sayangnya tanpa ia sadari sudah meraba setiap inci d**a Biaz, yang Biaz lakukan hanya melihat dan menikmati nya walau ada rasa terkejut dalam dirinya. Arbiaz melepaskan rangkulan nya dan menangkap wajah Raline , dan memulai aksi nya kembali , mencium dan menekan bibir Raline dengan perlahan dan mencoba kembali memasukan lidahnya ke dalam setiap inci mulut Raline. Raline tidak bisa hanya diam , dirinya tergoda untuk membalas serangan liar Biaz di dalam bibirnya, dan yang terjadi Raline segera memainkan lidah Biaz , mengemut lidah Biaz dan sambil beradu lidah di dalam mulut. "mmmp mas" Arbiaz menghentikan ciuman nya bibir nya berpindah tempat ke pipi, dan sekarang menuju leher, hembusan nafas yang Biaz ciptakan membuat darah Raline mengalir cepat, perasaan geli timbul disekitar leher nya. Bibir Arbiaz mulai turun ke bawah Raline Ia menyusuri nya dan tibalah di V baju piama yang Raline kenakan. "Aku tidak mengerti kenapa kamu memilih baju ini" "Kamu belum melihat apa isi kantong cokelat itu?" "Aku tidak membukanya sama sekali" Raline mengambil kantong cokelat yang ia taruh di salah satu sofa milik Biaz dan mengeluarkan satu persatu isinya. "Ini yang kamu sebut nyaman?" Tersedia beberapa lingerie, baju gaun malam yang terbuka di sisi bagian manapun dan benar saja yang normal hanya yang Raline pakai saat ini. "Astaga, bukan saya yang memilih ini semua." Raline kemudian memasukan kembali semua baju-baju seksi itu kedalam kantong tas cokelat, kemudian menaruh kembali ke sofa semula. Arbiaz mendorong Raline dengan lembut ke sofa panjang yang mereka duduki , Raline yang menerima perlakuan tersebut sedikit terkejut. Arbiaz mengambil kedua tangan Raline dan menaruh nya disamping kepala Raline, Biaz memulai lagi mencium Raline, melepas genggaman tangan Raline dan memegang gundukan perempuan didepannya, Biaz meraba nya dengan perlahan. "May i?" Tetapi yang Raline lakukan hanya menengok wajahnya ke atas dan diam saja. Biaz mulai memutar dua gundukan tersebut dengan perlahan sambil meremas remas dengan lembut, Raline yang diam saja merasa gelisah akan perlakuan yang diterima nya "Mas biaz..." "Mas pelan-pelan" Biaz mulai menarik baju atasan Raline dan terpampang jelas bra yang Raline kenakan berwarna hitam dan berenda . Biaz membangunkan tubuh Raline dan menggendong nya ke kamar biaz ala bridal style. Dia mendudukan Raline dibibir ranjang dan membuka atasan tersebut, Biaz mengangkat tubuh Raline sedikit dan memangku nya. "Why u ar so beauty?" Tanpa menunggu Raline menjawab Biaz segera melanjutkan permainan di kamar, permainan pertama yang Biaz lakukan dalam seumur hidupnya. Arbiaz menghentikan aksinya dan dipeluknya tubuh Raline dengan hangat. "Good job baby." Raline mengatur nafasnya untuk kembali normal, dipeluknya tubuh Biaz yang ikut berkeringat karena aksinya mereka menarik selimut dan pergi tidur bersama. *** Raline terbangun dari tidurnya di dini hari, Ia menyingkirkan tangan Arbiaz perlahan dan mengintip ke dalam selimut. 'Hm.. apakah ini tidak terlalu jauh?' Ia kemudian berjalan menuju keluar kamar, mencari pakaian yang baru Ia kenakan sebentar di ruang keluarga apartemen. Ia menyusuri ruang keluarga apartemen Arbiaz, mendekati meja televisi disana dan nampak foto-foto dalam bingkai yang berukuran setengah kertas A4. "Hm.. dia punya kakak laki-laki." Raline kemudian berjalan lagi, yang Ia lihat hanya foto orangtua Arbiaz, Kakak laki-lakinya dan Arbiaz sendiri ketika berhasil lulus dari program S2. "Apa dia benar-benar belum memiliki kekasih?" Tanya Raline dalam hati. Seperti staf yang lain di kantor pasti juga penasaran dengan kehidupan anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. "Aku tidak boleh terlalu lama disini." Ia takut akan menjadi lebih penasaran dengan kehidupan Arbiaz. "Aku hanya teman dengan keuntungannya, tidak lebih." Raline mengucap dengan senyum serta segera menyadarkan dirinya. Ia pergi ke kamar lain di rumah apartemen Biaz dan melanjutkan istirahatnya. . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD