7

699 Words
Raline terbangun dari tidurnya dan segera mematikan alarm yang sangat berisik. Segera ia menyiapkan pakaian kerja dan peralatan kerja nya, membersihkan diri , memasak sarapan dan bekal, dan beranjak keluar. ARA ☆ "Wher ar u line, wut time is it huh, i dun wanna make your enemy angry to me" Pesan muncul di layar hape Raline , dari Ara tentu saja dikarenakan hari ini ada jadwal pertemuan , dan Raline harus ikut dengan Arbiaz untuk membawa beberapa perlengkapan materi presentasi Arbiaz. Dan tentunya semua itu rencana Biaz. Raline segera menekan tempat sidik jari untuk absen dan berlari secepat yang ia bisa tanpa membuat kebisingan. Tentunya untuk menghindari amarah Biaz. "Sorry for late, saya sudah siap dengan semua yang anda butuhkan." Arbiaz memasang wajah datar sambil memegang segelas kopi nya melihat Raline yang sangat terburu - buru. "Okay, i forgive u, btw pertemuan nya diundur satu jam lagi, saya harap kamu bisa memperbaiki diri kamu." "Baik pa" "Satu lagi." Raline memasang wajah was - was akan kata - kata Arbiaz. "Saya harap kamu sudah sarapan, saya tidak mau kamu salah fokus." "Baik pa." Arbiaz meninggalkan Raline dan masuk kembali ke dalam ruangan nya , Raline menyandarkan tubuhnya di dinding dan menghela nafas lega. **** "Silahkan masuk ke dalam mobil saya." "Iya terimakasih pa." Arbiaz membukakan pintu untuk karyawan nya, hal baru yang Biaz lakukan, membukakan pintu untuk karyawan nya. Siapa lagi kalau bukan Raline. Arbiaz menyalakan mesin nya dan menjalankan mobil sport hitam keluaran tahun lalu, ugh sepertinya Raline merasa seperti orang ber uang seketika. "Okay, jadi semua perlengkapan nya sudah siap?" "Iya pa sudah siap." "Okay kerja bagus." Arbiaz menyalakan radio untuk memcah kecanggungan diantara mereka. Tetapi hasilnya sama saja , Raline tetap diam dan meratapi jalan. "Raline?" "Ya pa?" "Hmm, i just wanna ask something, but there is no relation with our work, may I?" "Sure." "Hmm aku harap kamu ga lupa sama yang udah kita lewatin." Namun Raline hanya diam. "And, do u wanna be my FWB?" Raline mencengkram tas hitam dipangkuan nya, ah tidak yang benar saja , Raline harus merelakan semuanya untuk CEO yang dia tidak suka, termasuk yang ia jaga hingga kini. Raline hanya diam , hingga sampailah mereka ke gedung tempat pertemuan para CEO dan pengusaha - pengusaha. Kalau dilihat -lihat memang populasi CEO atau pengusaha muda yang tampan sangat sedikit. "Okay Raline, jangan ada yang terlewat ya." "Baik pa." Raline mengecek semua bahan , dan ya tidak ada yang terlewat sedikitpun. Arbiaz memulai presentasi nya dan tanya jawab antar CEO, ah mengapa Arbiaz begitu terlihat berkarisma, mungkin saja bila Raline tidak berada di dalam rapat, dia akan berkata "Sisain satu ya Tuhan" Jadwal pertemuan pun selesai, Raline dan Arbiaz harus kembali ke kantor mereka. Arbiaz kembali membukakan pintu untuk Raline dan sekarang ditambah lagi memasangkan sabuk pengaman untuk Raline. "Oke kita pergi." Arbiaz kembali menjalankan mobil nya, dengan sedikit melirik dari ekor matanya , ia dapat melihat Raline dengan pesona nya, wajahnya yang tidak terbalut make up tebal, blazer yang membuat d**a nya semakin maju, oh tidak Arbiaz kau sedang menyetir. Entah lah apakah Raline tidak mempunyai kemeja yang lebih longgar, jujur saja ini mengganggu penglihatan Arvbiaz. "Raline" "Iya mas? Eh maksudnya..." "Saya merasa baju yang kamu kenakan agak..." Arbiaz ingin mengatakan nya tapi tidak sanggup, takut membuat rendah perasaan Raline. "Ada yang salah Pa?" "Hmm gimana ya saya ucapin nya.' Raline segera merapatkan blazer nya , mengetahui apa yang Arbiaz maksud. Oh tidak, rasanya Raline ingin mengutuki dirinya sendiri. *** Ting tong Bel pintu apartemen Raline berbunyi, seorang pengantar paket memberikan sebuah paket kepada Raline, tidak besar. SAYA HARAP INI BISA BERGUNA, DAN SAYA HARAP KAMU MEMAKAINYA Raline membuka paketnya, dan mengeluarkan isinya, oke, kemeja , blouse dan pakaian kerja lainnya yang berukuran satu tingkat lebih besar dari yang ia punya. Tidak terlalu besar tidak terlalu kecil, dan ini bisa menyamarkan apa yang Arbiaz maksud kemarin. TING TONG TING  Satu pesan masuk berbunyi dan berasal dari Arbiaz. "Saya tidak akan mengambil apa yang kamu jaga." Dia seperti peramal saja, tahu saja apa yang Raline pikirkan. Entah apa yang Raline akan lakukan, kini ia berpikir sedikit keras untuk lebih menghindari bos nya itu. . . . GOMAWOOO  suda membaca cerita ini :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD