Arbiaz POV
Hal terbodoh yang gue lakukan adalah menawari seorang wanita baik -baik menjadi teman yang saling menguntungkan. Harusnya gausah gue tanya terlebih dahulu , tapi karna gue masih waras dan bodoh gue minta izin.
Kalau dia engga mau , gue tidak mau ngerusak itu anak dan pada akhirnya dia mengutuk gue dan gue kena karma.
Namun bagi gue , tidak ada yang namanya penolakan.
Keras ? memang.
Entah kenapa dia itu susah ditolak buat gue ga deketin , cantik badanya proporsional tapi berisi di bagian tertentu. Terus dia kalau disuruh apapun selalu mau dan kerja nya pun bagus.
***
Arbiaz memasuki gedung kantornya, belum banyak karyawan yang terlihat . Arbiaz segera memghampiri lift dan menekan tombol lift tanda panah ke atas. Lift pun terbuka, tidak ada manusia di dalam lift itu. Arbiaz segera memasuki lift, tepat saat lift akan tertutup seorang wanita berlalri menuju lift , Biaz segera menekan tombol untuk membuka pintu lift.
Dan wanita itu adalah Raline.
"Good morning sir."
"Morning."
Arbiaz tak menyangka bahwa ia akan satu lift dengan manusia yang ia pikirkan tadi malam. Rasanya ingin memeluk tubuh wanita itu dengan erat dan tidak melepaskan nya.
TING!
Lift pun sampai pada lantai tempat dimana mereka bekerja. Lorong masih kosong, belum terdengar riuh pikiuk suara manusia atau suara telepon.
"Raline, bisa ke ruangan saya sebentar tidak?"
"Baik pa."
Belum terlihat Olivie di depan pintu ruangan Arbiaz bekerja, Biaz segera memnekan finger print dengan jari jempolnya , pintu pun berhasil terbuka.
"Silahkan masuk, and have a seat in the sofa."
Apa? Sofa? Tidak biasanya ia menyuruh karyawan nya duduk disofa, itu hanya untuk keluarga , orang sangat penting dan sahabat. Raline yang tampak kebingungan tetap melaksanakan perintah Arbiaz.
"Thanks."
Arbiaz mendekati Raline setelah ia menaruh tas nya di belakang meja kerja nya , ia duduk di samping Raline dan menciptakan jarak yang cukup dekat.
"Saya senang kamu memakai apa yang saya suruh."
"Terimakasih banyak pa, ini sangat bagus tapi, saya yakin ini juga sangat mahal."
"Tidak usah dipentingkan mengenai harga , saya melakukan ini agar kamu terlihat lebih baik di hadapan karyawan lain dan orang penting lain nya."
"Iya saya menyadari beberapa pakaian saya memang sudah tidak cukup, dan saya memang harus membelinya, tetapi waktu saya cukup , ssdikit."
"Saya harap yang saya beri bisa mengurangi beban mu karena waktu yang sedikit itu."
Arbiaz tersenyum akan pengakuan Raline, dan sedikit rasa bersalah atas kepadatan tugas yang ia berikan kepada Raline.
Arbiaz menyentuh tangan Raline dan mengusap - usap nya, Raline ingin sekali menolak tindakan itu tetapi tubuhnya sangat kaku. Dan wajah yang terpancar dari wajah Raline bercampur aduk antara takut dan bingung.
"Kamu punya tangan yang sangat bagus."
Arbiaz memperhatikan terus menerus sambil mengusap - usap punggung tangan Raline. Dan pada akhirnya Biaz menarik ttangan Raline dengan lembut dan membawa tubuh Raline ke pelukan Biaz. Raline tersentak kaget atas perlakuan yang Arbiaz berikan, Raline terdiam kaku.
"Maaf Raline i can't stop."
Raline mencoba melepaskan tubuh nya dari Biaz dengan medorong lengan Biaz, tetapi tubuh Bjiaz yang berotot mampu mengunci Raline dalam pelukannya.
"Sebentar saja, biar aku meluk kamu."
Raline tidak membalas, ia hanya terdiam kaku akan perlakuan Biaz, entah apa yang akan terjadi selanjutnya,Raline akan semakin berhati -hati akan Arbiaz.
***
"Araaa, kantin yuk laper."
"Raaaa ayooo."
"Tumben banget lo gak bawa bekal, biasanya paling anti makan di kantin."
"Lagi males gue hehe."
"Yaudah yukk kuyy ke kantin sebelom rame."
Ara dan Raline berjalan meninggalkan kubikel mereka dan menghampiri lift, menekan tombol tanda panah kebawah.
"Raaa ikut dong mau kemana lo."
Abrio yang melihat mereka berdua langsung menyapa Afa dan ingin mengukiti mereka.
"Kantinn bawah , mau makan mau ikut juga lo?"
"Boleh dehhh , sekalian beli titpan nya Arbiaz."
"Susah ya CEO bisa nyuruh - nyuruh."
"Alah ra biasa juga lu nyuru Abrio ."
"Tapi kan dia bukan bawahan gue line hehe."
Mereka menaiki lift dan menekan tombol di angka 2 tempat kantin kantor berada. Sesampai dibawah mereka langsung memesan makanan dan membawa makanan ke meja .
"Linee kemaren lo jalan sama Biaz ya?" Tanya abrio yang penasran.
"Engga ah mana ada gue jalan sama temen lo."
"Alahhh bohongg , tenang aja Ara lagi cuci tangan dia gak akan denger."
"Engga Abrioo."
"Ahh masih gue liatin."
****
"Raaa lo di panggil ke ruang Pa Biaz ." Kata seorang karyawan yang baru memasuki kubikel - kubikel.
"Okay, thanks."
Ara segera bangkit dari tempat duduknya, ia segera bergegas ke ruangan Arbiaz,ya walaupun Arbiaz adalah sepupu nya,tetap saja di dalam waktu bekerja, Ara harus tetap menghormati nya ssbagai atasan.
"Ada yang bisa saya bantu pa Biaz."
"Iyah saya butuh bantuan kamu Ara."
"Apa itu?"
"Ini bukan mengenai pekerjaan , tetapi lo gue harapkan."
"Apaan sih ga usah kaku."
"Jangan ngomong yang aneh - aneh tentang gue ke Raline ya, kalau dia nanya."
"Wait,,, maksud lo apa?"
"Jangan bawa Raline ke dalam permainan lo Arbiaz, gue ga mau ya teman dekat gue satu - satunya nangis dan ga bisa masuk kantor karena sedih karena ulah lo."
"Engga Araa, gue mencoba."
"Semua laki tuh sama aja, pasti ujung nya nyakitin."
"Yang nyuruh lo buat nyobain semua laki siapa?"
"Ih kesel, ga ngerti lah lo pokoknya, and Raline mau lo jadiin apa? Pelarian lagi? Atau cuman sekedar yang muasin lo di ranjang?"
"Buat apa ya..."
"Serius Biaz, kalau lo mau jadiin dia cewek jalang , gue ga akan ngasih lo langkah sedikit pun., udah lima cewek yang lo jadiin seperti itu , dan lo tinggalin, omg untung lima cewek itu ga ada yang jelek in nama lo Biaz."
"Lagian kan gue sudah menawarkan mereka, mereka kan bisa nolak."
"Tapi lo nya juga ngebujuk, sama aja kan lo malaikat ber otak setan."
Sebuah percecokan terjadi antara Ara dan Arbiaz, dan mereka tidak menyadari waktu yang terus berjalan dan sudah sampai di penghujung waktu bekerja. Dua sepupu itu berhenti ketika Olivie berpamit untuk pulang, dan memberikan jadwal untuk esok hari.
"POKOKNYA YA ARBIAZ BRAJAKA, JANGAN SAMPE SAHABAT GUE HANCUR GEGARA LO, NYARI TEMEN YANG TULUS SEKARANG SUSAH ,OKE? ARASO ARBIAZ?
Ara mulai beranjak dari sofa di ruangan Arbiaz, dan meninggalkan sebuah petuah beserta peringatan untuk Arbiaz. Belum saja Ara membuka pintu ruangan Arbiaz, Arbiaz memanggil kembali nama Ara, dan meminta nya untuk memanggil Raline ke ruangan Biaz, Ara meninggalkan ruangan Arbiaz sambil melotot dan dua jari mengarah pada Arbiaz . 'Gue liatin lo!'
Raline yang sedang mengerjakan tugas nya dengan sangat gesit sambil meminum thai tea rasa green tea yang ia beli di lobby bawah gedung ini terpanggil oleh Ara yang sedang berjalan menuju kubikel nya.
"Line lo dipanggil lagi tuh ke ruangan nya Arbiaz."
"Ohhh ada apa?"
"Hmm gue juga gatau, tapi kerjaan lo masih banyak ga?"
"Hmm masih nih ada 2 dokumen lagi ."
"Yaudah lo selsain dulu aja lagian kayaknya ga terlalu penting udah lewat jam kerja juga."
"Beneran ga nih?"
"Iyah gue sekalian keluar bilang ke Arbiaz lo banyak kerjaan ,lagian kan yang kasih dia juga."
"Oke makasih Ra."
Ara membereskan hape, binder beberapa alat tulis dan laptop nya ke dalam tas berwarna hijau tosca. Dan berpamitan serta menyampaikan hati -hati kepada Raline. Ia memereskan kursi dan meja nya lalu meninggalkan Raline bersama beberapa karyawan lain yang masih bekerja.
"Semangattt Raline tinggal satu dokumen lagi huhu."
Raline mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri, ketika jam digital di kubikel nya menunjukan pukul 4.50 PM. Ayo Raline kau pasti bisa melewati ini.
"Hmm dimana ya Raline, kenapa lama sekali , Ara berkata pekerjaannya masih cukup banyak, ah apa aku terlalu kejam."
Arbiaz melirik jam tangan nya , dan waktu menunjukan 5.30 PM , sudah sore. Jalan Raya yang terlihat dari kaca besar ruangan Arbiaz menunjukan betapa padat nya lalu lintas di waktu ini, membuat siapapun kehilangan kesabaran. Arbiaz membereskan laptop , binder dan tablet nya,ia membereskan meja kerja nya yang sangat sepi hiasan, hanya ada lampu kecil, tempat alat tulis dan beberapa kertas.
"Permisi pa, selamat sore."
Raline memberikan salam ketika ia membuka pintu ruangan Arbiaz. Arbiaz yang baru saja selesai merapikan meja kerja nya mempersilahkan Raline duduk di sofa, oke sofa.
"Have a seat in the sofa Raline."
Raline duduk di sofa, dan meletakan tas nya di bawah lantai. Terlihat Arbiaz yang sedang menutup gordyn jendela ruangan nya , kemeja putih tangan pajang yang Biaz gunakan digulung hingga selengan dan ia tidak menggunakan jas nya. Oke Raline dirimu kembali melihat surga dunia.
"Kenapa kamu lama sekali Raline, sudah hampir satu jam saya menunggu kamu di ruangan saya."
"Ah maaf mengenai itu saya tadi sedang banyak pekerjaan, dan Ara mengatakan untuk boleh menyelesaikan pekerjaan saya dulu."
"Tapi apakah wajar saya menunggu hampir satu jam?"
"Tidak pa, maafkan saya."
"Karena kamu membuat saya menunggu saya harus memberikan sanksi."
"Maaf pa , saya mengerti."
Arbiaz mematikan kamera cctv di ruangan nya dan mendekati Raline yang sedang terduduk di sofa, Raline kini hanya bisa menunduk kebawah dan memikirkan apa yang terjadi pada dirinya, apakah gaji nya akan dipotong? Atau hal yang tidak ia inginkan.
"Apakah kamu masih merasa tidak bersalah dengan hanya duduk disitu , tidak menghampiri saya kesini?."
"Baik pa."
Raline menghampiri Arbiaz, berjalan dan berhenti di samping meja kerja Arbiaz. Yang tersisa beberapa jarak dengan tembok, entah lah kenapa bisa pas dengan badan Biaz.
"Sorry Raline , i must do ."
Arbiaz mendorong lembut Raline ke tembok menyandarkan nya pada tembok dan mengunci dengan tanganya. Arbiaz meraih wajah Raline agar ia melihta wajah Raline.
Cup....
Arbiaz mencium Raline tepat di bibirnya , menggit bibir Raline dengan pelan dan mencoba untuk memasukan lidah nya ke dalam mulut Raline mengabsen semua sisi didalam mulut Raline. Raline yang tersentak tidak bisa kabur , terkunci oleh kedua tangan Arbiaz.
Ah tidak tangan kekar Arbiaz mulai tidak mengunci Raline lagi, kini tangan nya mulai memeluk pinggang Raline, Raline menghentikan perlakuan Arbiaz dengan menyenggol tulang kering Arbiaz.
"Aduh sakit line."
"Sanksi macam apa itu mas?"
"Sanksi untuk kamu seorang."
"Saya sudah takut akan dikeluarkan dari kantor ini, atau mungkin gaji saya akan dipotong ."
"Tidak Raline , hanya menunggu satu jam saja saya tidak akan semarah itu."
"Ugh kau ini mas yang benar saja sungguh membuat panik dengan tatapan membunuh mu itu , untung saja aku tid---."
Arbiaz menghentikan ocehan Raline dengan mencium kembali bibirnya, dan kini tangan Raline yang semula hanya diam, mulai menggengam lengan Arbiaz yang sangat berotot dan urat - urat yang terlihat, ia mulai meljngkari leher Arbiaz.
****
TERIMAKASIH SUDAH MAU MEMBACA