9

1102 Words
Raline membuka pintu apartemen kecil nya dan melepaskan heels berukuran 5 sentimeter, memasuki kamar nya dan menaruh tas kerja nya diatas meja kerja nya. Merebahkan diri sejenak sambil membuka ponsel nya. Baru saja ia membuka kunci layar ponsel nya, ia mendapati sebuah telepon masuk. MAMA❤ Dengan segera Raline mengangkat telepeon tersebut. "Halo, Raline kamu sehatt?" "Aku sehat ma, mama gimanaa? Aku kangenn." "Mama sehat , papa juga ." "Ada apa ma?" "Jadi kalau mama ada perlu saja baru boleh nelpon kamu?" "Enggak sih ma, siapa tau kan ada yang mau mama omongin." "Papa kamu mau ngomong ini ." "Oke..." "Halo,, Raline sehat?" "Aku sehat pa, papa gimana?" "Papa juga sehat, kapan kamu pulang ke bandung nak?" "Mungkin hari minggu ini pa." "Papa sama mama udah kangen sama kamu, kamu ga kangen sama kita?' "Kangen dong paa, aku bakal cepet -cepet kesana kokk." "Okee , ngomong - ngomong kamu udah punya pacar belum?" "Belum pa." "Wah masa anak cantik papa belum punya pacar, kamu kurus ya?" "Engga kok pa , aku makan banyak disini." "Yasudah kamu secepatnya kesini ya." "Okee dah papa dah mama, love you." Raline menutup telepon nya dan bergegas untuk membersihkan diri dari debu - debu serta  ganasnya kota padat. ***** Jam digital di tembok kantor tempat Raline bekerja menunjukan pukul 4.30 sore, semua karyawan sudah beranjak menuju pulau kapuk kesayangan masing -masing. "Alinee, mau temenin gue belanja sepatu gaa? Kita kan udah lama juga ga shopping?" "Hmm mau gak yah." "Ayolahhh linee , temenin guee." "Tapi kayaknya gue ga belanja deh ra cuman temenin lo aja." "Ih kenapa tumben, lo lagi ada masalah line? Cerita sama gue, ga biasanya lu ga beli sesuatu minimal lo  beli kunciran." "Engga raa gue ga kenapa - napa kokk." "Bohong lo, apa Arbiaz morotin lo ya?, duh kan line , jauhin Arbiaz aja deh  kalo dia emang ngajak lo ke tempat mahal tanpa bayarin lo, harusnya dia kan juga tahu lo itu orangnya seperti apa." Tanpa Ara sadari Arbiaz sudah berdiri di belakang kursi kerja Ara, Raline yang menyadari nya segera memberi isyarat kepada Ara dengan sebuah lirikan. "ENAK AJA LO NUDUH GUE MOROTIN RALINE!" Arbiaz mencubit otot tangan Ara setelah panas mendengar apa yang Ara katakan. "Aww sakit tau ga, tar kalo gue memar gimana." "Ga akan Ara ,ini tuh isinya lemak semua dimana - mana." "Jadi lo ngehina gue gemuk gitu?" "Ya kan emang kenyataan." "Enak aja lo timbangan gue itu masih 60 kilo tau gak,dan itu ideal." "Kalo ideal, mana cowok lo?" "Kurang ajar lo Arbiaz, gak ngaca lo, emang Raline mau sama lo?" "Raline tuh bukan perempuan -perempuan lo yang sebelom nya yang bis---." "Oke cukup Ara." Arbiaz sebari menutup mulut Ara dengan tangan nya. Raline yang tsedari tadi memandangi dua sepupu yang saling beradu mulut dan menghina hanya bisa memasang senyum terkekeh didalam hati. "Enggak kok Ra, Arbiaz ga morotin gue." "Tuh denger Ra, gue ga morotin dia sama sekali." "Yaudah kalo gitu, line yuk temenin gue belanjaa." "Nah kan gini nih kalo gak punya pacar, minta temenin nya sama Raline." "Apaan sih lo biaz, emang kalo lo mau beli perlengakapan pribadi lo harus sama pacar lo?" "Udah yuk line, bisa gila gue ladenin Arbiaz terus. "Yukk Ra gue juga sekalian mau beli shilin sama thai tea hehe." Mereka membereskan meja dan kursi mereka serta menyantolkan tas mereka dipundak nya masing -masing, dengan segera meninggalkan ruangan serta Arbiaz. "Yah elah gue ditinggalin sama cewek - cewek itu." Ara menyetir dan membawa mobilnya ke suatu mall ternama di Jakarta, Kuningan city lebih tepatnya. Ara memasuki tempat parkir mall tersebut, terpampang beberapa mobil kelas atas yang harganya bisa dibilang cukup menguras kantong. "Duh kok parkirannya penuh yah line." "Iyah yah , sabar aja raa kita ga buru - buru banget kan." Setelah beberapa menit akhirnya ditemukan lahan parkir yang kosong untuk mobil Ara. "Kuyy kita turunnn."  Ara memasang wajah ceria nya tidak sabar untuk mencuci matanya setelah bekerja keras. "Line lucu ga?" "Ih buat apa emang lo udah mau nikah beli ginian?" Ara merentangkan sebuah lingerie berwarna merah muda di hadapan Raline, entah angin apa yang merasuki pikiran Ara untuk menunjukan lingeri itu. "Engga sih hehe, lucu aja gitu warnanya." Raline dan Ara mulai meninggalkan butik baju seksi yang terkenal di mancanegara. Ara dan Raline mulai memasuki restoran makanan cepat saji yang sudah menjadi keinginan Raline sejak mereka di kantor. "Ara mau makan juga ga?" "Engga ah gue udah kenyang line." "Alahh masaa,biasanya lo paling suka jajan kalo ke mall ini." "Ga ah ra gue ga laper." "Jangan - jangan lo kecantol sama omongan pa Arbiaz ya? Udah raa dia cuman becanda kokk lo tuh ga gemuk, lo cantik, ayo makan nanti kebawa mimpi loh." "Iyah dehh gue makann, mas mesen 2 porsi ya." "Banyak amat ra?" "Gapapa buat dijalan nanti." Raline dan Ara mendaratkan b****g nya di kursi kayu berwarna coklat tua meja untuk dua orang mereka duduki. "Lo jadian sama Arbiaz?" "Engga gue ga ada hubungan apapun sama Arbiaz." "Kok gue ga percaya ya." "Emang bener kok ra." "Gue berharap nya sih iya, soalnya mama Arbiaz udah nanyain jodoh terus, mama gue juga udah nanyain dia mulu, gue kesian juga sih." "Emang ga ada konglomerat yang mau ngejodohin anaknya sama Arbiaz?" "Percuma , waktu itu udah pernah dia di jodohin, yang ada di tolak, terus kalau gak salah perempuan nya juga agak mata duitan gitu."  "Ohh gitu." "Kalo dia sama lo gue setuju kok, lo orang nya baik menurut gue, terus lo juga bisa ngatur uang." "Bisa aja lo ah." "Ah lo mah gitu,  gue serius Raline." "Tar telinga Arbiaz panas kalo kita omongin terus,yuk temenin gue beli thai tea." Raline dan Ara meninggalkan restaurant cepat saji dan menuju stand teh thailand , Raline membeli rasa kesukaannya, teh hijau, dan Ara original . "Pokoknya line, kalau dia bikin lo menderita , lo harus ngomong ke gue, gue akan jadi orang pertama yang nendang dia dari kehidupan lo. " "Sayang banged sama lo Ra, kembarannya Hailey." "Aduh hailey aja udah mau get marriage sama Justin, gue kapan ya line?" "Tahun depan yah ra amin ." "Amin line." Mereka memasuki mobil toyota swift berwarna putih kepemilikan Ara. Mereka siap untuk menuju tempat peristirahatan masing - masing *** "Halo , Raline kamu jadi kan pulang hari sabtu atau minggu?" "Iyah jadi kok pa." "Bagus deh , ada yang mau papa omongkan ke kamu lin." "Apa itu pa?" "Ada deh." "Emang gak bisa pa lewat telepon?" "Engga lin, ini menyangkut masa depan kamu." "Hmm Raline penasaran." "Pokoknya kamu pulang aja ke rumah ya." "Oke pa, nanti jemput aku yah di stasiun." "Oke sayang." *** . . Terimakasihh readers suda mau membaca
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD