bc

The call

book_age4+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
mystery
scary
mythology
secrets
like
intro-logo
Blurb

Maya thought her old phone was nothing more than a forgotten relic—until it started ringing at midnight.

The caller? Her own number.

As strange whispers bleed through the static and her reflection starts behaving on its own, Maya is pulled into a terrifying mystery that blurs the line between reality and the supernatural.

One call. One mirror. One warning.

You answered the wrong call.

chap-preview
Free preview
Untitled Episode
 Penasaran, ia menelusuri pesan-pesan dan foto-foto lama, mengenang kenangan-kenangan dari tahun-tahun lalu. Ponsel itu menyimpan nomor pertamanya—nomor yang tidak pernah ia gunakan sejak sekolah menengah.  Dia melemparkannya ke meja samping tempat tidurnya dan melupakannya... sampai tengah malam.  Bzzz... Bzzz...  Ponsel bergetar hebat. Maya berkedip dan meraih ponsel barunya karena kebiasaan—tidak ada apa-apa. Namun, suara itu tidak berasal dari sana.  Matanya melirik ke telepon lama.  Itu bersinar.  Penelepon Tidak Dikenal.  Dia ragu-ragu.  Lalu dia melihat nomornya.  Itu nomornya saat ini.  Jantungnya berdebar kencang.  Mengapa telepon lamanya menerima panggilan dari nomornya saat ini?  Dengan tangan gemetar, dia menjawab.  Statis.  Lalu berbisik.  Suara yang terdengar... seperti suaranya sendiri.  "...Jangan percaya cermin..."  Saluran teleponnya terputus.  Maya duduk diam, kulitnya terasa geli karena bulu kuduknya berdiri. Cermin di seberang ruangan memantulkan ekspresinya yang membeku, tetapi ada sesuatu yang terasa... salah. Pantulan dirinya tidak berkedip. Tidak bernapas.  Lalu, ia tersenyum.  Dia terkesiap dan menyalakan lampu.  Tidak ada apa-apa. Pantulannya bergerak normal lagi.  Mungkin itu hanya mimpi. Mungkin pikirannya sedang bermain trik.  Keesokan harinya, rasa penasarannya menguasai dirinya. Ia mencoba menelepon nomor lamanya menggunakan telepon barunya. Telepon itu berdering sekali—lalu langsung masuk ke pesan suara.  Namun, pesan itu bukan pesan standar. Itu suaranya lagi.  Hanya saja kali ini, ia berbisik:  “Kamu seharusnya tidak meneleponku.”  Maya menjatuhkan teleponnya.  Malam harinya, sambil menggosok gigi, dia melirik ke cermin lagi.  Pantulannya tidak sedang menggosok gigi.  Dia berdiri diam—memperhatikannya.  Lalu dia mengangkat jarinya dan menunjuk ke belakangnya.  Maya berbalik.  Tidak ada apa-apa.  Ketika dia menoleh ke belakang, bayangan itu telah hilang.  Hanya ada retakan di kaca, seolah ada sesuatu yang mencoba keluar dari sisi yang lain.  Dia memecahkan cermin itu dengan panik, pecahan-pecahannya berhamburan di lantai. Namun, jauh di dalam pecahan-pecahannya, sebuah pecahan masih memperlihatkan pantulan yang bergerak—yang bukan lagi miliknya.  Dan berbisik dari setiap pecahannya:  “Kamu menjawab panggilan yang salah.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Bounty Hunter and His Phoenix Mate (Bounty Hunter Series Book 3)

read
37.6K
bc

Our Affairs

read
2.0K
bc

Billionaire's Wrong Bride

read
972.9K
bc

Three Alpha Bikers Wants An Open Marriage(An Erotic Paranormal Reverse Harem)

read
68.4K
bc

The Bounty Hunter and His Wiccan Mate (Bounty Hunter Book 1)

read
98.3K
bc

Tis The Season For My Revenge, Dear Ex

read
67.8K
bc

Mistletoe Miracle

read
5.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook