Untitled Episode
Penasaran, ia menelusuri pesan-pesan dan foto-foto lama, mengenang kenangan-kenangan dari tahun-tahun lalu. Ponsel itu menyimpan nomor pertamanya—nomor yang tidak pernah ia gunakan sejak sekolah menengah.
Dia melemparkannya ke meja samping tempat tidurnya dan melupakannya... sampai tengah malam.
Bzzz... Bzzz...
Ponsel bergetar hebat. Maya berkedip dan meraih ponsel barunya karena kebiasaan—tidak ada apa-apa. Namun, suara itu tidak berasal dari sana.
Matanya melirik ke telepon lama.
Itu bersinar.
Penelepon Tidak Dikenal.
Dia ragu-ragu.
Lalu dia melihat nomornya.
Itu nomornya saat ini.
Jantungnya berdebar kencang.
Mengapa telepon lamanya menerima panggilan dari nomornya saat ini?
Dengan tangan gemetar, dia menjawab.
Statis.
Lalu berbisik.
Suara yang terdengar... seperti suaranya sendiri.
"...Jangan percaya cermin..."
Saluran teleponnya terputus.
Maya duduk diam, kulitnya terasa geli karena bulu kuduknya berdiri. Cermin di seberang ruangan memantulkan ekspresinya yang membeku, tetapi ada sesuatu yang terasa... salah. Pantulan dirinya tidak berkedip. Tidak bernapas.
Lalu, ia tersenyum.
Dia terkesiap dan menyalakan lampu.
Tidak ada apa-apa. Pantulannya bergerak normal lagi.
Mungkin itu hanya mimpi. Mungkin pikirannya sedang bermain trik.
Keesokan harinya, rasa penasarannya menguasai dirinya. Ia mencoba menelepon nomor lamanya menggunakan telepon barunya. Telepon itu berdering sekali—lalu langsung masuk ke pesan suara.
Namun, pesan itu bukan pesan standar. Itu suaranya lagi.
Hanya saja kali ini, ia berbisik:
“Kamu seharusnya tidak meneleponku.”
Maya menjatuhkan teleponnya.
Malam harinya, sambil menggosok gigi, dia melirik ke cermin lagi.
Pantulannya tidak sedang menggosok gigi.
Dia berdiri diam—memperhatikannya.
Lalu dia mengangkat jarinya dan menunjuk ke belakangnya.
Maya berbalik.
Tidak ada apa-apa.
Ketika dia menoleh ke belakang, bayangan itu telah hilang.
Hanya ada retakan di kaca, seolah ada sesuatu yang mencoba keluar dari sisi yang lain.
Dia memecahkan cermin itu dengan panik, pecahan-pecahannya berhamburan di lantai. Namun, jauh di dalam pecahan-pecahannya, sebuah pecahan masih memperlihatkan pantulan yang bergerak—yang bukan lagi miliknya.
Dan berbisik dari setiap pecahannya:
“Kamu menjawab panggilan yang salah.”