Analogi Mikroskop

2681 Words
Iron mengajakku masuk ke dalam rumah paman. Dia bilang ada sesuatu yang harus diambil. Dengan bersimbah peluh, Paman Zul juga masuk ke dalam rumahnya. Dia langsung menuju kamar mandi. Aku dan Iron melihat Bi Maya dan Kesa sedang menonton televisi. Kebetulan dapur dan ruang keluarga tidak ada penyekat, langsung terbuka begitu saja. Iron yang pertama kali menyapa. Sontak dua orang perempuan itu menoleh, bahkan Kesa tersenyum lebar sekali melihat kedatangan kami. "Ada apa, Ron, Ris?" Bibi Maya bertanya. "Emmm." Iron menggaruk hidungnya, aku diam saja. Biarkan dia yang mengatasi semuanya. Lagipula aku mana mengerti. Tadi pagi dia tiba-tiba bilang kalau gelas dinamo itu adalah gelas seloki yang kemarin menggelinding. Siapa coba yang tidak cengo di tempat waktu dia bilang begitu. "Itu, kami mau minjam gelas yang kemarin Kesa bawa. Boleh?" lanjut Iron. Segera, Kesa memotong pertanyaan Iron. "Gak-bo-leh." Iron mengernyit. "Masa gak boleh? Boleh lah, nanti kita jalan-jalan lagi deh. Abang janji." Iron masih tetap gencar membujuk. Tapi Kesa tetap bersikukuh akan pendiriannya. Dia menggeleng tegas sambil memanyunkan bibir. Dia kemudian kembali fokus ke televisi dengan bibir yang masih mencebik. Bi Maya melirik kami semua dan berbisik, "Buat apa?" Iron menggaruk tengkuknya, bingung bagaimana cara menjelaskan. Kalau terlalu nyaring, nanti Kesa mendengar dan akan menahan gelas itu agar tetap bersamanya. Saat hendak melangkah, Iron mundur kembali. Kalau begini terus, sampai kiamat dunia ini, usaha Iron tidak akan sukses. "Kami ada perlu dengan gelas itu, Bi. Kan sekarang libur, kami dapat proyek untuk mengisi liburan kami. Di rumah aku dan Iron gak punya gelas kayak begitu. Jadi kami minjam aja. Boleh?" Bibi mengangguk. Aku bersedekap sambil melirik Iron. Hebat kan gue? "Kesa ke kamar dulu gih. Ambilin bunda bantal." Kesa mengangguk. Aku tahu, kamar mereka ada di lantai dua. Ini pasti siasat Bi Maya. Bocah kecil yang hanya mengenakan celana pendek dan baju singlet itu mulai menaiki tangga. Bi Maya berdiri hendak menghampiri kami. "Jangan kasih gelasnya!" Kesa berhenti naik tangga saat Bi Maya menghampiri kami. Dia melirik kami bertiga. Sebenarnya, dari nada suara Kesa, tidak ada bentakan sama sekali. Malah dia terlihat menggemaskan saat marah begitu. Bi Maya mengangguk, sedangkan Kesa lanjut meniti anak tangga. "Ini ambil gelasnya. Buruan nanti Kesa tahu." Aku dan Iron saling melirik. Dua detik kemudian kami kompak mengangguk dan membawa pulang gelas itu. *** Aku masih belum ada solusi sama sekali atas tujuan Iron meminjam gelas seloki itu. Apa uniknya? Aku sampai berbohong kalau di rumah tidak punya gelas seperti itu. Padahal sebenarnya ada banyak. Aku sudah menawarkan Iron gelas yang kami punya, ibu dan ayah juga tidak akan sadar kalau gelasnya kami pinjam satu. Aduh, Iron, mengapa otakmu jadi seperti ini? "Kamu pasti bingung apa hubungan gelas itu dengan kendaraan kita. Iya, kan?" Aku pastikan Iron bukan bertanya, dia menuduhku meskipun apa yang ia bilang tidak keliru sama sekali. "Iya, terus gimana?" Ia lalu mengambil gelas itu dari atas meja kamarnya, dan memutar tangkai bagian bawah hingga terlepas. Aku seperti kerbau d***u melihat chip-chip tersusun bersama kabel setipis rambut yang berseliweran. Aku bersumpah gelas itu adalah kaca transparan yang terbuat dari pasir kuarsa. Mana mungkin ada isi seperti itu? Sebelum aku menanyakan apa pun pada Si Genius Iron, dia mematahkan pertanyaan dalam benakku. "Kaca itu punya kemampuan untuk membuat partikel penyusun di dalamnya tampak mengecil. Kamu tahu mikroskop kan?" Dia meremehkanku. "Bakteri kecil yang tidak terlihat oleh mata kita bisa terlihat dengan mikroskop elektron dengan perbesaran ratusan, ribuan, bahkan jutaan kali. Gelas ini berkerja sebaliknya." Wow, aku harus tepuk tangan berdiri. "Lalu tahu dari mana kalau gelas seloki itu punya rangkaian serumit ini di dalamnya?" Iron mengedikkan bahu. "Hanya menebak dan tebakanku benar." Oke siap. Iron memang memiliki kemampuan bernalar di atas rata-rata. Bahkan jika dia mengatakan bahwa ada sapi yang hidup di laut aku akan percaya. "Memang banyak yang aneh di dunia ini, tetapi bukan berarti karena otak kita yang bodoh jadi kita menganggap segala sesuatu mustahil. Kamu bahkan tidak tahu kan kalau ada sapi yang hidup di laut, namanya Sapi Laut Steller. Bukan sapi seperti yang kita lihat saat kunjungan ke peternakan sapi industri yoghurt. Sapi itu ya, sedikit berbeda." Dia cenayang. Iron hanya tersenyum sok manis. Aku curiga dia menyelipkan alat pembaca pikiran di tubuhku. Ah sudah. Aku harus kembali pada jadwal hari ini. Rencananya kapal itu akan dirakit tadi pagi. Tapi berhubung aku tertidur, dan ada urusan lain yang perlu diurus oleh Iron–masalah gelas itu—kami tidak jadi merakit kapal. Baru sekaranglah kami berkecimpung bersama besi, baja, aluminium, propelan (aku tidak tahu benda apa itu, tapi menurut Iron itu adalah bahan bakar roket. Dia dapat dari mana, tapi?), dan bahan bakar solid yang aku sendiri masih heran, mencuri punya siapa Iron ini sebenarnya? Setiap kali ditanya, dia selalu bilang kalau dia meminta sahabatnya yang bekerja di NASA untuk mengirimnya. Dia pikir aku percaya? Mana dia bilang sahabatnya itu masih 14 tahun, gila saja kalau sungguhan. Anak kecil bekerja di National Aeronautics and Space Administration? Jangan kau bohongi aku terus, Ron! Selain itu Iron juga bilang kalau kendaraannya ini tidak seperti roket. Lagi-lagi lebih mirip kapal yang mengudara di angkasa. Tapi baiklah, aku akan tetap menyebutnya pesawat ruang angkasa. Biarlah Iron mau bilang apa, termasuk jika dia mencetuskan bahwa kendaraan itu adalah becak terbang. Kami berada di halaman belakang rumahku sekarang. Setelah berdebat panjang akhirnya Iron mengalah kalau rumahnya melang terlalu banyak kaca untuk menerima suara bising dari palu, tang, dan suara besi berdentang yang mungkin akan membuat kaca rumahnya pecah. Aku jadi teringat sesuatu, efek rumah kaca. Rumah Iron benar-benar tidak cinta lingkungan. Kaca di mana-mana, ini bisa saja menyebabkan pemanasan global, bukan? "Ron, kenapa sih dengan gelas itu?" Aku melirik gelas seloki yang berputar seperti gasing di atas meja. Iron menghela napas jengah. "Itu terus yang ditanyain. Gini deh, Ris. Kamu ingat gak waktu gelas itu menggelinding dan kita kesusahan buat ngejar waktu di restoran?" Aku mengangguk, menatap Iron yang sedang bicara. "Gelas itu berhenti pas di dekat kolam. Kenapa? Karena gelas itu bakal mati kalau dekat air. Makanya pas ada isinya, gelas itu biasa aja. Bahkan kamu goyang pun dia tetap diam. Coba kalau udah kering, kamu dorong dikit, benda itu akan berputar tanpa berhenti. Lihat aja tu, tadi kita putar gelasnya dan sampai sekarang gak diam-diam." Benar kata Iron. Kami berdua kompak melirik gelas yang seperti gasing itu. "Aku juga gak yakin itu gelas milik restoran. Menurut hematku, gelas itu tertinggal di sana. Entah siapa yang bawa. Dan lagi-lagi, setelah melihat kebun Paman Zul yang rusak, aku merasa gelas itu milik alien yang sama, dengan yang sudah merusak kebun stroberi kita." Gerak tanganku yang semula memutar sekrup mendadak berhenti. Alien apa yang Iron maksud? Aku seketika merinding. *** Gelas itu diletakkan di dekat meja kemudi, dikurung oleh kotak kaca yang memancarkan cahaya kebiruan. Di sana gelas berputar vertikal seperti gasing, dan saat itu pula suara mesin bergemuruh. Kapal itu sebenarnya tidak begitu kecil. Hanya bisa menampung lima sampai enam orang saja. Ukurannya kurang lebih mobil sedan, bentuknya pun juga hampir sama. Hanya saja kapal ini, eh, pesawat ruang angkasa ini tidak memiliki roda. Dia memijak tanah. Aku dan Iron menyeka keringat, mengesatnya dengan baju. Tugas kami hampir rampung, dan ternyata asyik juga membuat kendaraan semacam ini. Saat berhasil merampungkannya, ada kepuasan tersendiri yang kami rasakan. Kami seolah menjadi seorang ibu yang melahirkan anaknya. Iya sakit, lelah, bersimbah keringat, tapi hasilnya selalu membuat kami tersenyum bangga. Bahkan jika dunia melihat ini, mereka mungkin akan sadar kalau di Indonesia ada seorang anak jenius bernama Iron Setiawan Saputra. Saat kami akan masuk ke dalam rumah, kami melihat ada seseorang yang duduk di pinggiran kolam renang, di ruangan tengah rumahku. Dengan berpakaian biru tosca, dan celana pallazzo warna hitam, dia tersenyum ke arah aku dan Iron. "Hai!" Teta melambaikan tangan, lalu dia berdiri dengan kakinya yang sedikit basah. "Eh Teta. Ngapain ke sini? Tumben." Iron tersenyum. Teta menggeleng, dia bilang dia hanya ingin mampir. "Aku tebak, kamu pasti mau liat kendaraan yang kami buat?" Mataku memicing, telunjukku mengarah padanya. Di kelas, hanya dia yang mengetahui hal ini. Dan kemungkinan besar kedatangannya ke mari menyangkut hal itu juga. Tambahkan lagi hari ini kami telah menyelesaikan kendaraan ruang angkasa itu. Clear, aku yakin Teta ada maksud lain ke sini yang berkaitan dengan ekspedisi ke ruang angkasa, bukan sekadar mampir. Teta menyengir. "Aku terciduk," katanya sambil mengacak rambutnya sendiri. "Kok kamu tau sih, Ris?" Aku mengangkat kedua alisku, jelas aku tahu. Dari gelagatnya saja sudah terlihat jelas. "Kami berdua mau mandi dulu. Nanti kami aja masuk ke kendaraan kami." Saat Iron bilang begitu, Teta malah kaget. Dia menujuk kami berdua secara bergantian. "K-kalian mandi bareng?" *** Teta terkejut melihat Iron keluar dari kamar mandi. Masalahnya handuk Iron agak rendah, itu yang membuat Teta terkejut. Kemudian kalau aku harus jujur, murni dari sudut pandangku, tidak ada yang aneh dari Iron. Teta saja yang berlebihan. Dia mungkin tidak biasa melihat laki-laki mengenakan handuk. Atau ayahnya tidak pernah mandi? Teta menutup matanya, sedangkan Iron langsung menaikkan handuk yang ia kenakan. Saat hendak membuka mata, Teta membatalkan niatnya karena mendengar suaraku. "Terlalu naik, Ron. Agak keliatan." Aku menyergah. Sontak Iron melihat ke bawah, dan saat menyadari sesuatu dia memutuskan untuk berlari ke kamar sambil menyengir. Di sana dia dapat membuka handuknya sekalian untuk berganti pakaian. Daripada bingung sendiri harus berbuat apa di depan Teta, lebih baik langsung saja masuk ke kamar, tutup pintu, dan terserah dia mau melakukan apa. "Udah, Ris?" "Udah," jawabku sambil memainkan ikan koi. Tanganku bergerak ke sana ke mari, dibuntuti gerakan ikan. Teta membuka matanya, lalu mengusap d**a lega. "Kok dia gitu sih?' "Maksudnya gitu?" Aku menoleh Teta. "Dia makai handuk kok gitu amat. Gak malu apa?" "Kalau boleh jujur, gak ada yang aneh sama Iron. Gak ada v****r-vulgarnya juga. Laki-laki kalau makai handuk ya memang sepinggang. Kalau perempuan baru sedada." Aku berusaha menjelaskan. Fokusku tetap satu, ikan koi. "Tapi tadi lebih turun, Ron. Dan kan, sekarang ada perempuan, mestinya dia malu lah sedikit." "Lupa kali dia kalau ada kamu," jawabku santai. Tidak mau ambil pusing. Pintu berderit karena dibuka oleh Iron. Dia sudah siap. Menyadari itu, berarti sekarang giliran aku lagi yang mandi. Nanti mereka menunggu, kasihan juga. Aku masuk kamar mandi dengan handuk yang sudah tersampir di pundak kananku sejak tadi. "Jangan lupa, Ris!" Aku langsung menoleh. "Jangan lupa apa, Ron?" Iron yang duduk di samping Teta, di pinggir kolam renang, menjawab, "handuknya harap dikondisikan. Nanti ada yang curi-curi kesempatan." Tepat setelah bilang begitu, Teta langsung melotot dan mencubit perut Iron. Yang dicubit malah tertawa kegelian. Duh, jangan bikin ngiri deh. *** "Surat ini ditulis atas dasar rindu pada semua kenangan. Bumi, cerita ini makin dekat saja dengan petaka. Makin sejajar saja dengan penyesalan. Aku sendiri ragu hendak melanjutkan atau tidak. Aku tidak siap, sisi manis dari cerita ini akan berputar arah di bab-bab selanjutnya. Bumi, semoga siapapun yang membaca ini bisa menyadari betapa indahnya kamu. Betapa layaknya kamu untuk dijaga dan dicintai. Semoga, kalaupun kami tidak dapat kembali, bukuku bisa pulang pada tempatnya berasal. Mengabarkan tentang berita ini, membuka mata setiap orang Bumi, I miss You." *** "Aku mau ikut." Selepas aku siap, kami bertiga langsung masuk ke dalam pesawat. Teta berdecak kagum melihat interior pesawat yang modern dan lengkap, bahkan lebih lengkap ketimbang pesawat konvensional biasa. Iron mengenakan tombol-tombol dan panel-panel yang tertanam di meja depan kemudi. Di sana juga ada tuas, rem kaki, dan benda lain yang ada pada mobil. Tapi kendaraan in jelas lebih lengkap, ada layar besar di depan bangku kemudi. Kami tidak bisa melihat dunia luar dari kaca jendela depan karena layar itu. Bicara soal layar, layar itu gelap total. Saat dinyalakan layar berubah menjadi hitam kehijauan, dengan garis-garis putih dan titik-titik warna merah. Ada juga yang berwarna kuning. Iron menyentuh layar, dan menjauhkan telunjuk serta jempolnya, layar menampilkan bagian bumi secara lebih dekat. Ternyata yang tadi itu adalah tata surya, bintik merah adalah kode-kode planet, sedangkan garis putih adalah orbitnya. Kalau yang warna kuning, itu benda langit yang tidak terdapat di galaksi kita. Itu bisa saja planet lain di galaksi berbeda. Iron mencoba menaikkan pesawat dengan tinggi dua puluh meter. Dia mengajak kami berkeliling kota dengan kendaraan yang telah sukses ia selesaikan. Teta tidak kunjung berhenti berdecak kagum. Setiap kali melihat burung, pesawat terbang yang lewat, dan awan putih yang menggulung, dia akan tersenyum dan menempelkan wajah pada kaca jendela di sampingnya. Lantas dia akan bilang, "keren bangeet...." Sampai akhirnya, setelah puas berkeliling dengan pesawat itu, Kami kembali ke rumah. Dan saat itulah Teta mengutarakan keinginannya. "Buat apa kamu ikut? Nanti kalau ada apa-apa kami gak bisa nanggung. Lagian aku gak yakin kamu sadar bilang begitu." Kami masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tamu. Kata-kata Iron barusan membuat Teta mengerucutkan bibirnya. Aku tahu apa yang Iron katakan demi kebaikan Teta juga. "Aku sadar kok ngomong ini," ucap Teta pelan, sambil memainkan jarinya. "Kamu yakin diizinin?" Kali ini aku yang bertanya. Teta mengangkat wajah. "Kan kita libur. Gak perlu izin lah." Aku mendesah malas, maksudku tidak seperti itu. "Bukan izin sekolah, Tetet. Tapi izin orang tua." Teta membulatkan mulut. "Oooh itu. Diizininlah. Bilang aja liburan diajak temen." "Temennya laki-laki yakin gak masalah? Kita normal lho, Tet. Gak jamin bisa tahan kalau ngeliat cewek sendirian kayak kamu. Kita sih gak mau itu terjadi, kita juga takut dosa. Tapi yang namanya manusia, dikasih peluang kayak begitu, ditambah lagi nafsu sama bisikan setan. Bisa aja kami khilaf." Itu Iron yang bicara. Lagi-lagi aku harus mengangguk demi menyetujui argumennya. Teta menggaruk tengkuknya. Aku yakin dia pasti bingung untuk menyanggah apa lagi. Niat kami baik, kami tidak mau mengambil risiko. Namun dugaan kami salah. Teta tiba-tiba menegakkan badannya sambil menjentikkan jari. "Ajak abangku aja. Sebagai lelaki cerdas dia pasti bisa jagain aku dan nyaingin kecerdasan Iron. Dia pasti bakalan banyak ngebantu kita di perjalanan ini." Teta tidak menyerah. Iron melirikku, bertanya apa kami harus mengizinkan. Aku hanya mengedikkan bahu, terserah saja lah. Kapal-kapal dia, mengapa harus bertanya padaku? "Iya deh boleh. Tapi kami minta surat tertulis dari orangtuamu. Kami tidak mau ambil risiko jika anak gadis satu-satunya yang mereka punya dianggap telah diculik oleh temen pria sekelasnya." Teta membentuk bulatan dengan telunjuk dan jempolnya, siap dengan perintah Iron. *** Makan malam kali ini giliran aku yang meminta izin pada kedua orang tuaku. Kami bertiga duduk di meja makan dengan menu makan malam Soto Banjar. "Ibu, Ayah, aku boleh gak lusa pergi bareng Iron?" tanyaku pelan. Ayah meletakkan sendoknya ke atas piring. Mengentikan makan karena pertanyaanku. Ibu pun demikian. "Mau pergi ke mana? Ayah sih bolehin aja, lagian kan kalian memang udah sering pergi berdua." Iya memang udah sering, tapi gak sejauh ini juga. "Emmmm...." "Ibu juga gak pa-pa kalau kamu mau pergi. Jauh ya?" Aku mengangguk ragu-ragu. Aku harap suaraku tidak hilang ditelan tetesan air hujan yang memukul genting rumah. "I-iya, jauh." "Ke-?" Ibu dan ayah kompak bertanya. Aku menggaruk kepalaku sambil ber-am-em tidak jelas. Ibu dan ayah masih setia menunggu jawabanku. Tapi aku sendiri masih ragu harus mengatakan hal ini. Dua menit berlalu dengan saling diam, aku akhirnya angkat suara. "Aku mau ke ruang angkasa bareng Iron?" Tepat setelah menutup mulut, ekspresi ayah dan ibu langsung berubah. Tapi sungguh demi apapun, ekspresi yang mereka tunjukkan tidak sesuai ekspektasiku. Aku pikir mereka akan tertawa, atau tidak percaya pada apa yang aku bicarakan. Tapi sebaliknya mereka malah terlihat sudah tahu segalanya. Mereka memaksakan senyum menatapku. "Sejak kecil kami sudah tahu, kamu terlahir bukan untuk keluarga kecil kami." Ayah memulai prolog yang membuatku bingung. Maksud ayah apa? "Di usia kamu yang keenam belas tahun ini, sepertinya kamu punya jalan hidup sendiri." "Tidak ada alasan untuk kami menolak keinginanmu, Ris. Ibu dan ayah setuju." Semudah itu? Mereka mengizinkanku semudah itu? Ini benar-benar luar biasa. Lalu maksud ayah aku tidak terlahir untuk keluarga kecil kami, itu apa? Aku tidak mengerti. Tapi bagaimanapun, aku tidak memiliki pertanyaan yang harus kuutarakan lagi. Biar nanti aku cari sendiri jawabannya. Aku tersenyum canggung. "Makasih, Ayah, Ibu." Aku lanjut makan soto. Tapi ternyata ayah masih sempat melempar pertanyaan untukku. "Pesawat kalian yang di belakang rumah, gak pa-pa kena hujan?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD