Persiapan Keberangkatan

1891 Words
"Tutup aja pakai terpal. Gak pa-pa kok, kapal itu udah kuat diapain juga. Cuma jangan dibiarin kena hujan lama-lama. Superman juga kalau disimpan di bawah hujan lama-lama keok kali." Aku mengelus d**a saat mengetahui fakta bahwa pesawat itu tidak mudah rusak. Aku segera mengambil empat buat terpal yang tersimpan di garasi rumah, lalu berlari ke halaman belakang dan menyelimuti pesawat itu. Hujan lebat sekali, hingga pukul sembilan malam tidak kunjung berhenti. Bulan dan bintang disalib oleh awan hitam yang egois malam ini. Dia mau menang sendiri. Padahal andaikan hari cerah, aku bisa memprediksi planet mana di antara bintang-bintang itu yang mungkin akan kami kunjungi lusa. Aku mendesah malas sambil melangkahkan kaki ke dalam rumah. Bajuku basah kuyup. Aku duduk di tepi kolam renang, memandangnya dengan tatapan kosong. Entah mengapa, aku jadi dilema. Berat rasanya meninggalkan rumah ini, tempat ini, juga sekolah tempat aku memeroleh pendidikan. Aku takut tidak bisa kembali. Iya, ini lagi-lagi berlebihan. Tapi salahkan ayah yang membuat perasaanku tidak keruan. "Sejak kecil kami tahu, kamu terlahir bukan untuk keluarga kecil kami." Tiba-tiba ada seseorang yang merangkul bahuku dari belakang. Dia mengayun-ayunkan tubuhnya dan tubuhku. Aku hanya diam menikmatinya. "Ibu sayaaaaang banget sama kamu. Ibu sebenarnya berat biarin kamu pergi. Tapi gak pa-pa lah, semoga kamu bisa cepat pulang. Bisa ngumpul bareng lagi." Air hujan yang menimpa kolam renang memercik ke kaki kami. Sentuhan tangan ibu membuatku terenyuh, hangat dan menenangkan. Untuk sesaat aku menyadari betapa berartinya ibu dan ayah dalam hidupku. Mereka bekerja dari pagi hingga sore, semuanya demi aku. Dan lusa aku akan pergi untuk urusan yang terlalu irasional, tidak masuk akal, tapi anehnya malah diamini oleh ibu dan ayah. "Aku bakal kangen sama Ibu dan Ayah." "Ibu juga bakal kangen sama kamu." Ibu mengusap rambutku. Hari ini aku merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh orangtuaku. Tapi aku tidak bisa menebaknya. Mengizinkan anaknya untuk pergi sejauh ini, tanpa perlu penjelasan yang panjang adalah sesuatu hal mustahil. Harusnya mereka protes, bertanya, bingung, dan hal lainnya yang mereka perlu lakukan saat aku bilang akan melakukan ekspedisi ke planet lain bersama Iron. Atau setidaknya mereka tertawa, tidak percaya atas halusinasi Iron. Namun ibu dan ayah berbeda. Dia memberiku izin atas perjalanan yang tidak jelas tujuan dan arahnya. Mereka seolah-olah sudah tahu ... kalau aku harus pergi. *** Malam itu gerimis, seorang wanita berpakaian serba hitam berlari masuk melalui pintu kaca gedung rumah sakit bersalin. Dia berteriak meminta bantuan dokter dan perawat. Dia ingin persalinannya segera dilakukan. Dengan cepat dokter dan suster pun mengambil tindakan. Aku memandang sisi lain. Ada ibu dan ayah di kursi tunggu. Ibu merintih kesakitan memegang perutnya yang membuncit, sedangkan ayah berteriak kepada petugas yang terus mengabaikan mereka, mendahulukan orang yang bahkan datangnya lebih akhir. Perempuan berpakaian hitam itu, misalnya. Akhirnya petugas rumah sakit pun mengambil tindakan dan meminta maaf kepada ibu dan ayah atas kelalaian mereka. Ibu langsung didudukkan di kursi roda dan dibawa ke ruang bersalin. Lalu, tiba-tiba tubuhku terlempar ke dalam ruang bersalin itu. Di sana ada dua wanita sekaligus yang akan melahirkan. Ibuku, dan wanita berpakaian hitam itu. Mereka hanya tersekat oleh gorden hijau. Mereka berdua menjerit menahan sakit, keringat mereka bergumpal seukuran biji jagung. Tapi aku kasihan pada wanita berpakaian hitam, tidak ada yang menemaninya. Berbeda dengan ibu yang setia didampingi oleh ayah. "Yang sabar, sayang. Kamu pasti kuat." Ayah menggenggam tangan ibu, memberinya kekuatan tambahan. Lain halnya dengan wanita berpakaian hitam, dia hanya menggenggam sprei tempat tidur untuk memberinya supply kekuatan. Tidak ada orang lain yang memberi semangat. Aku kemudian tergerak untuk menghampiri wanita itu, berusaha meraih tangannya walau tidak bisa. Aku seperti sesosok hantu yang transparan. Harusnya aku ada di samping ibu, kan? Bukan di samping wanita itu. Tapi tidak tahu kenapa suara hatiku menuntunku ke sini. Aku memejamkan mata, tidak sanggup melihat derita dan tangisan perempuan berpakaian hitam itu. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku ingin memeluknya, tapi tubuhku selalu lolos. Perempuan itu terus menjerit saat diberi aba-aba oleh seorang bidan. Yang kuheran, pakaian hitamnya tetap setia menyelubungi tubuhnya, termasuk kerudung hitam yang menutup wajah. "Anak Anda tidak dapat diselamatkan." Itu suara terakhir yang dapat kudengar. Entah dari mana asalnya aku tidak tahu. Mataku terpejam menahan rasa sakit. *** "Aris, Ris! Bangun, Nak. Udah siang." Aku terkesiap. Mataku berkedip-kedip karena silau lampu kamar. Sejenak aku merasa linglung, nyawaku belum terkumpul semua. Di samping ranjangku ada ibu yang tersenyum. Aku mengembuskan napas, ternyata yang tadi itu mimpi, bukan sungguhan. Pantas saja begitu aneh, walau tak bisa kupungkiri itu juga begitu nyata. "Kamu mimpi, Ris?" Aku tidak memberikan jawaban selain anggukan. Dahiku berkeringat, aku masih terbawa suasana mimpi itu. "Oh yaudah, itu di luar ada Iron sama Teta. Mereka nyariin kamu." Aku mengerutkan kening. "Ngapain mereka ke sini?" Aku bertanya pada diriku sendiri sembari menggaruk kepala. Tapi ibu tetap menjawab, dia bilang kalau dia juga tidak tahu. Aku segera turun dari ranjang dalam keadaan memprihatinkan, baju lusuh,wajah kusam, mata sayu, dan langkah yang gontai. Jauh berbanding terbalik dengan Iron dan Teta yang tampak segar dan ... wangi. Mereka duduk di kursi tamu. Iron menggeleng-geleng sambil berdecak. "Anak bujang yang sungguh bikin prihatin. Bau," katanya menutup hidung dengan lengan baju, "jorok,..." Dia mengerucutkan hidung. "Dan ngompol dalam celana," sambung Teta. Mereka berdua sontak tertawa sambil melihatku yang kebingungan. Sedangkan aku langsung melirik celanaku yang ternyata basah. Aku yakin genting kamarku bocor, aku tidak mungkin mengompol. Oh Tuhan, tapi kenapa baunya pesing? "Kalian salah paham!" *** Aku naik pesawat yang dibuat oleh Iron. Aku tidak sendiri, tapi bertiga dengan Iron dan Teta. Iron mengajak kami menghabiskan satu hari ini dengan berkeliling kota, bahkan negara, katanya. Pesawat, terbang setinggi dua puluh ribu meter. Otomatis kami menembus awan putih di langit dan sedikit lebih tinggi dibanding pesawat terbang yang melintas ke luar negeri. "Mobil yang kamu bikin kemarin ke mana, Ron?" tanyaku saat tersadar akan suatu hal. Iya, mobil terbang yang kemarin menculik aku. Iron masih fokus menyetir pesawat yang mirip kapsul itu terbang sedikit lebih tinggi lagi. "Pas ngebawa rakitan kapal ini kan mobilnya langsung keok. Kamu sih nyuruh mindahin ke rumahmu, Ris." Iron mendengus. Aku akui ini memang kesalahanku. Teta masih saja takjub, padahal ini kali kedua baginya menaiki pesawat ini. "Memangnya kalau ke planet Bestuur itu berapa lama perjalanan sih, Ron?" tanya Teta. Dalam perjalanan kali ini dia mengenakan sweater hijau lumut dan celana kaus warna cokelat. Dia memang cantik, walaupun agak sedikit tomboy. Iron memelankan kendaraannya dan bergerak turun ke atas gedung tinggi. Ini mall. "Dua atau tiga hari juga sampai." Dia menoleh kami berdua. "Belanja makanan dan minuman dulu, yok! Buat bekal besok." Teta mengangguk cepat-cepat. Dia juga kelaparan sejak tadi. Iron mengaktifkan mode transparan, pesawat kami menghilang. Dengan segera Iron membuka pintu, membiarkannya ternganga ke atas. Teta yang pertama kali melompat turun, disusul aku dan terakhir Iron. Kami bertiga berjalan menuju pintu rooftop. "Nanti orang heran lagi kita ada di atas. Aku takut dikira macem-macem." "Udah Ris, nikmatin aja dulu. Susah amat idupmu, Ris." Teta terkekeh mendengar cuitan Iron. Mereka memang kompak, aku doakan semoga mereka berjodoh dan segera menikah. Aku doakan juga anak mereka kelak lebih waras daripada kedua orang tuanya. Kami menyusuri tangga menuju lantai empat. Itu bisokop. Teta menarik-narik tangan bajuku sambil terus mengoceh ingin menonton film terbaru. Aku hanya mengangguk, tinggal menunggu persetujuan Iron saja. "Iya terserah," kata sepupuku itu. Kami bertiga mengantre untuk membeli tiket. Ramai sekali di sini. Aku bertanya pada Iron, sebenarnya kami di kota apa sekarang. Lalu dia bilang kalau kami sedang di Pontianak, Kalimantan Barat. Luar biasa, kami sudah bergerak sejauh ini. Setelah mendapatkan apa yang kami mau, kami segera mengantre lagi untuk masuk ruang bioskop. Kami mendapat tempat duduk agak di atas. Ya baguslah, setidaknya kami tidak perlu menengadah saat menonton film, dan membiarkan otot kami keram semua. "Ya lupa beli makan sama minum. Gimana dong nih? Gak seru kalau gak ada cemilan." Teta protes lagi. Dasar tidak tahu bersyukur. "Nonton aja, elah. Jangan banyak mau. Udah bawa duit dikit lu, banyak maunya lagi." Aku menimpali. Bibir Teta segera mencebik setelah aku selesai bicara. Dia pasrah harus menonton tanpa makanan kecil atau minuman. Acara tontonan kami dimulai. Kisah ini tentang seorang murid baru yang bertemu badboy sekolah, tapi berkelakuan manis. Si laki-laki terus mengejar anak baru yang bisa dibilang polos, hingga berhasil mencuri hatinya. Teta menjerit-jerit melihat perlakuan manis laki-laki di film. "Ini." Iron menyodorkan sebungkus tela-tela berukuran besar dan tiga minuman teh botol yang masih berada dalam kantung plastik kepada Teta. Minuman itu terlihat dingin karena embunnya masih melekat di kantung yang membungkusnya. Ini hanya ansumsiku saja. Teta tersenyum sumringah menyadari hal tersebut. "Kapan kamu pergi, Ron?" Teta mengambil sebotol minuman dan menyerahkan dua botol sisanya padaku. "Kalian terlalu asyik nonton, jadi gak sadar. Bahkan semua keperluan untuk besok udah aku siapin, udah ada di kapal," ucap Iron tidak mau ambil pusing. Kami bertiga makan tela-tela dari satu bungkus yang sama, dengan Teta yang menguasainya. Iron meminta sebotol minuman yang masih ada padaku. "Kirain buatku semua." "Yakali kamu minum dua botol, Ris." Ya mungkin saja kalau aku mau. Kami lanjut menonton film, aku melirik Teta yang duduk di tengah. Dia sesekali melirik Iron yang menjumput tela-tela dari tangannya. Aku mengembuskan napas. Entah mengapa aku merasakan sesuatu perasaan yang berbeda sekarang. *** "Pecel lele yuk!" Sekarang sudah pukul tujuh malam. Kami sudah salat magrib tadi di daerah Bengkulu. Bukan di masjid besar, kami hanya salat di surau kecil. "Boleh Ron. Aku juga lapar nih," sahutku. "Aku cumi goreng aja. Baru kemarin soalnya makan pecel lele." Teta ikut bersuara. Iron mengangguk dan mengacungkan jempol. Dia menarik tuas dan menekan sebuah tombol. Bagian-bagian pesawat perlahan menganga dan menjadikan bentuk pesawat menjadi mirip mobil biasa. Saat menyentuh tanah Iron segera mematikan mode menghilang. Tentunya setelah melakukan perhitungan matang. Kami tidak mau ambil risiko jika ada paparazzi yang memotret kendaraan kami dalam keadaan yang asli. Kami turun dari mobil dan segera masuk ke dalam warung pecel lele yang berada di tepi jalan. Warung itu sederhana, tidak permanen. Hanya warung tenda biasa. Aku dan Teta duduk kursi tengah. Suasana warung ini tidak begitu ramai, mungkin karena orang-orang sedang salat isya berjamaah. Iron pergi memesan makanan dan minuman. Lalu dia menghampiri kami setelahnya. "Pecel lele abis. Jadi aku mesen cumi goreng semua. Gapapa kan?" "Iya gapapa." Warung makan ini ada di Magelang. Ini perjalanan pulang setelah puas berkeliling negara. Ya walaupun tidak sampai ke luar negeri. Kami kan tidak punya paspor, dan kami tidak mau jadi imigran gelap. Pesanan kami datang setelah lima menit menunggu. Bersamaan dengan teh es manis yang mengilat warnanya. Aku protes, "Kok teh lagi Ron? Bosan tau minum teh melulu." Iron yang baru saja akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya, urung. Dia menatapku kesal, begitu pun Teta yang menggeleng-gelengkan kepala. "Bersyukur dikit, Ris. Jangan ngeluh terus. Nanti kamu di sana gak bisa seenaknya kayak di sini. Di sana gak ada mall, gak ada warung, gak ada minimarket. Jadi tolong biasain diri kamu untuk bersyukur." Bukannya luluh, aku malah ikutan emosi. "Aku bukannya gak bersyukur! Aku cuma nanya. Emangnya aku ada bilang aku gak suka minum ini? Enggak. Aku cuma bilang bosen. Kamu jangan sembarangan nuduh orang. Kamu tu pemimpin ekspedisi kita, jangan egois dan main hakim sendiri." "Udah, udah." Teta merentangkan tangannya, menyuruh kami diam, jangan ribut lagi. Aku hanya bersedekap sambil membuang muka. Sedangkan Iron, dia sepertinya membuang napas sekarang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD