Berangkat dan Masalah Pertama

1864 Words
Aku turun dari kendaraan itu tanpa menoleh Iron lagi. Selama perjalanan pun aku memutuskan diam, hanya Teta yang banyak bicara. Gadis itu tidak lupa menyerahkan surat bermaterai lengkap dengan tanda tangan orang tuanya. Di kamar, aku langsung merebahkan badan. Aku menatap langit-langit kamar yang berwarna cokelat muda. Pikiranku terbang entah ke mana, hingga akhirnya aku jatuh tertidur dengan keadaan pintu kamar terbuka. Belum puas rasanya aku terlelap, aku seketika bangkit. Aku terkesiap menyadari seorang wanita yang merebahkan selimut untuk tubuhku. Itu ibu, wanita yang senyumnya selalu membuatku lupa akan lelah. "Kenapa bangun, Ris?" tanya ibu bingung. "Ibu ganggu ya?" Jelas aku menggeleng. Sedikit pun aku tidak pernah kepikiran bahwa kehadiran ibu akan membuatku terganggu. Sebaliknya, ibu adalah alunan melodi yang indah, ketika manusia buas berteriak memakan sesama. Duh, aku harap kalian mengerti maksudku apa. Ibu tersenyum dan membelai rambutku. Aku menggenggam tangannya. "Aris minta doanya, Bu." "Tanpa diminta pasti ibu doakan." Walau nyatanya dia bukan ibumu. *** Pagi-pagi sekali Iron datang ke rumah. Kalau tidak salah lihat, pukul setengah lima. Beruntung aku sudah terbangun saat itu, malah sedang berada di teras depan rumah. Iron turun dari sepedanya, dia tersenyum padaku. Setelah membalas senyum Iron sekenanya, aku masuk kembali ke dalam rumah. Niatku ingin berjalan keliling komplek langsung kuurungkan. "Aris!" panggilnya. Sontak aku menoleh. Aku melihat sorot mata penyesalan dari Iron. Dia berjalan menghampiriku. "Maaf ya, Ris. Aku terlalu egois kemarin. Aku terlalu sok tau." Aku mengembuskan napas dan menatap langit. Selalu begini. Sekarang aku yang merasa jahat. Aku tidak pernah meminta maaf kepada Iron apabila melakukan kesalahan. Sebaliknya, Iron tidak pernah sungkan melakukan itu. Iron adalah sosok sahabat sekaligus saudara yang sangat dewasa. Aku jadinya malu sendiri karena pada kenyataannya, aku yang egois. Aku yang terlalu kekanak-kanakkan. "Iya. Aku juga minta maaf." Hanya itu yang bisa kuucapkan sekarang. *** Iron memeriksa kendaraannya untuk terakhir kali. Dia tidak mau ambil risiko jika ada kerusakan pada kapal ruang angkasa. Semakim sering dilihat, kapal itu terlihat semakin besar. Bentuknya yang mirip mobil tanpa roda terlihat canggih. Walaupun tanpa kaca depan. Usai memeriksa semua bagian kapal, Iron duduk di tepi kolam renang, sedangkan aku memutuskan untuk memberi umpan ikan koi. Umpan terakhir dari majikannya, bisa dibilang. Aku juga sudah minta tolong ayah dan ibu untuk menggantikan tugasku itu. Saat itulah Teta datang bersama seorang pria. "Belum berangkat?" tanya gadis itu. Teta mengenakan celana training warna abu-abu dan baju kaus dengan warna senada. Lagi-lagi harus kuakui dia memang cantik. Iron menggeleng demi menjawab pertanyaan Teta. "Belum, Ta. Itu abangnya Teta?" Pria yang datang bersama Teta itu mengangguk seraya tersenyum. Dia juga berpakaian dengan warna yang sama dengan Teta, hanya saja lebih maskulin. Iron segera berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan pria itu. "Iron." "Arsi." Melihat Iron begitu, aku buru-buru meletakkan umpan ikan dan segera mencuci tangan di washtafel. Habis itu aku ikut bersalaman dengan Bang Arsi dan memperkenalkan diri. Teta cantik, dan abangnya tampan. Pasti orang tuanya juga begitu. "Saya awalnya ragu sama perkataan Teta kemarin mengenai temannya yang ingin ekspedisi. Ini sesuatu yang luar biasa. Walaupun di era sekarang teknologi tengah maju-majunya, tapi teknologi untuk menuju planet lain, apalagi dibuat anak SMA adalah sesuatu yang berat. Kemarin ada anak SMA yang membuat pesawat terbang sendiri, itu hal biasa sebenarnya. Tidak ada yang spesial, karena zaman kita memang canggih. Tapi melihat kamu Ron, saya takjub." Tiba di depan kapal, Iron kembali mendapat bonus pujian dari Bang Arsi. Pukul tujuh pagi, kami mengumpulkan semua tas dan keperluan yang perlu dibawa di dekat kapal. Selepas itu kami berlima masuk ke ruang makan untuk sarapan. Ibu telah memasak khusus buat kami. "Aku gak bisa tidur semalam. Kepikiran terus bakal kayak apa nanti di perjalanan. Aku deg-deg-an," sisip Teta di tengah suasana hening. Aku balas menyahut, "sama, Ta. Tapi aku tetap tidur sih. Cuma pas jam dua belasan gitu kebangun dan susah buat tidur lagi." "Itu karena kita terlalu cemas, sampai akhirnya produksi senyawa adrenalin dalam tubuh kita meningkat. Hormon adrenalin ini kan, bisa membuat detak jantung lebih cepat, bahkan kita bisa keringat dingin. Efeknya hampir sama dengan kopi walaupun beda kasus. Dan menurutku, meningkatnya hormon adrenalin ini bikin sakit perut. Kayak aku sekarang." Iron memasang muka kesakitan lalu segera berdiri dan ngibrit menuju kamar mandi yang sekaligus merangkap sebagai toilet. Dia terus memegang perutnya. Meja makan dipenuhi oleh gelak tawa ringan. Lihat, bahkan ketika sakit perut dia masih sempat berpidato ala ilmuwannya. Padahal kami tidak ada yang memedulikan itu. *** Barang-barang dinaikkan ke bagasi kapal yang berada di bawah lantai kemudi. Disusul kami yang satu per satu naik, berturut-turut Iron, Teta, Bang Arsi, dan terakhir aku. Pintu belum tertutup. Aku masih dapat melihat ibu dan ayah dengan leluasa. Kami juga sudah bersalaman dengan mereka, bahkan aku dapat tambahan ciuman. Orang tua Iron juga sempat mampir sebentar, walau pada akhirnya mereka harus pulang karena ada pelanggan yang menelepon. Sedangkan Paman Zul, Bi Maya, dan Kesa datang ke rumahku di detik-detik terakhir. Sekarang mereka bertiga, ditambah ayah dan ibuku, melambaikan tangan kepada kami. Kami membalasnya lengkap dengan senyum hangat. "Oleh-oleh, Bang!" teriak Kesa. Dia tadinya mau ikut tetapi tidak diizinkan oleh bibi dan paman. "Iya!" Aku jawab dengan lantang. Air mataku mulai merembes setitik demi setitik. Aku berusaha tersenyum walau dalam diriku ada rasa kerinduan yang teramat besar. Padahal aku belum beranjak sesenti pun. Kesa, senyum bocah itu akan aku rindukan. Bi Maya dan Paman Zul, kebaikan mereka yang mengizinkan kami menaman buah stroberi akan selalu kuingat. Ayah dan ibu, dua malaikat tak bersayapku. Iron menekan sebuah tombol. Pintu kapal perlahan menutup. Iron sama sekali tidak mau menoleh, dia pasti takut berlarut-larut dalam kesedihan. Setelah tertutup sempurna, kapal mulai naik perlahan mengangkat beban kami. Di bawah sana keluargaku masih setia melambaikan tangan dan menguntai doa demi keselamatan kami. Teta dan Bang Arsi saling tatap, lalu mengembuskan napas bersama. Aku sendiri masih mengulurkan kepala untuk melihat orang-orang di bawah sana seraya berbisik, "Aku mencintai kalian." *** "Alien datang menakluki bumi, demi coco yang dicari-cari. Mereka kan tiba tak lama lagi. Apa mungkin terjadi ...." "Jadi kita perlukan penyelamat bumi ...." "Bang Iroooonnn. Huuuyeeeee." "Tetaaa! Arsiii! Ariiis! Dan super hero kita? Bang Iron ...." Kami tertawa bersama di dalam kapal. Iron geleng-geleng kepala karena ulahku, salahkan Teta dan Bang Arsi juga yang ikut nimbrung. Eh tapi, Iron juga ikutan bernyanyi. Alhasil kami bernyanyi bersama di dalam kapal. Kami sudah naik ke ketinggian 90.000 kaki. Berati sudah tembus 48 kilometer. Itu jarak yang sangat jauh, apalagi kami baru pergi sepuluh menit yang lalu. "Kita di lapisan stratosfer, nih." Iron mengentikan nyanyian kami yang terus berulang-ulang seperti kaset rusak. "Lapisan ozon di mananya, Ron?" tanya gadis satu-satunya yang berada di dalam pesawat. "Di lapisan ini. Cuma udah kita lewatin. Kan gak semua bagian stratosfer adalah lapisan ozon. Apalagi lapisan ozon makin tipis, jadinya ya lapisan ozon makin rendah." Aku mendengar helaan napas dari Iron. Bang Asri terus menatap awan dari balik kaca. Dia seperti memikirkan sesuatu. Lalu sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya. "Kok pesawat ini bisa menembus lapisan ozon, Ris? Itu asteroid aja hancur." Pria tersebut masih melihat kaca jendela. Dia sungguh mengangguku. Kalau mau kita bertukar posisi saja, daripada kepalanya menghalangiku untuk duduk tenang. Tapi demi sopan santun, aku diam saja. Mengapa tidak lanjut bernyanyi saja? "Kapal ini dibuat lancip diujung untuk memperkecil gesekan udara. Selain itu, kapal ini sudah dirancang untuk pergi jauh, Bang. Gak mungkin aku buat kapal abal-abal." Akhirnya aku kembali bisa bernapas. Aku meniup ubun-ubunku karena merasa lega. Bang Asri sudah kembali duduk di kursinya secara wajar seraya menghela napasnya. *** Perjalanan berjalan normal sebagaimana perjalanan pada umumnya apabila menggunakan kendaraan konvensional. Kami berbagi makanan ringan, minum minuman botol, dan menonton film yang sudah di of-line-kan. Kendaraan ini tidak seperti pesawat biasa yang dilarang keras bagi penumpangnya untuk mengaktifkan ponsel kecuali jika kalian menyalakan mode pesawat. Iron meliak-liuk di udara, menghindari asteroid atau bebatuan yang jatuh menghujam bumi. Sesekali kapal kami berdentang karena pukulan keras dari benda ruang angkasa itu. Beruntungnya sekarang sudah mulai aman. Teta menangis menonton film di pangkuannya, leherku terasa terpilas demi menyaksikan film tersebut. Kami sudah berada jauh di atas permukaan bumi. Tubuhku terasa hampir melayang andaikan kapal ini tidak dilengkapi sistem yang baik. Dia seolah menahan kami agar dapat duduk tenang tanpa perlu repot menahan posisi. Seperti ada gaya gravitasi yang melengkapi sistem ini. Bang Asri tertidur dengan mulut menganga. Dalam perjalanan ini dia lah yang paling banyak diam. "Eksosfer." Iron berkata pelan. Aku tidak mau menanggapi ataupun bertanya. Mendapat info itu saja sudah cukup. Selebihnya aku sudah tahu apa itu lapisan eksosfer. Lapisan ini adalah lapisan terjauh dari bumi. Birunya langit berganti gelap total. Pada lapisan ini suhu udara meningkat, sangat panas. Aku pun terus terang saja masih berkeringat walaupun pendingin ruangan dinyalakan. Astaga, aku bahkan tidak sadar bahwa Iron sempat membuat pendingin ruangan untuk kapal ini. Pada lapisan geostasioner ini, menurut Iron yang tiba-tiba menjelaskan lagi, cahaya matahari dipantulkan oleh debu meteoritik, makanya bisa sangat panas. Debu meteoritik sendiri, kalau berdasarkan pemahamanku adalah hasil pecahnya meteor dari ruang angkasa. Serpihan itu yang disebut debu meteoritik. Menyaksikan batuan angkasa hancur, seperti melihat tablet rasa jeruk yang mengandung banyak kalsium, lalu diceburkan ke dalam air. Aku rasa kalian tahu benda apa yang kumaksud. Tapi semua ketenangan itu berubah buruk, saat tuas kendaraan mendadak macet. Setir mobil mengadat. Kami tidak menyadari apapun itu. Bahkan Teta ikut tertidur dengan kepala bersender di bahu abangnya, sedangkan ponsel tergeletak di pangkuan. Aku, dengan tangan melintang menutup mata, terkejut saat Iron memukul-mukul setir dan mengguncang tuas kemudi. "Ada apa, Ron?" Aku menyadari keringat Iron besar-besar menetes. Ini sama seperti saat komputer sekolah heng. Bedanya, tanpa perlu guru berkumis tebal itu pun Iron tetap tegang tak tertahankan. Iron menggeleng menatapku. "Setirnya ngadat, tuasnya macet. Kapal ini hanya akan mengambang tanpa bergerak ke mana pun. Tapi bukan itu yang kumasalahkan. Lebih fatal lagi, kita tidak akan bisa menghindari meteor yang jatuh, Ris. Aku takut akan ada kerusakan lebih parah." Jika suasana lebih baik, aku akan mengejek Iron yang mendadak menggunakan bahasa baku. Tapi kali ini tidak, situasi genting. Mataku yang semula mengantuk ternganga lebar. Bang Asri perlahan membuka mata mendengar samar-samar percakapan kami. "Kenapa?" tanya pria itu. Aku menatapnya. "Pesawat ini dalam keadaan genting, Bang. Tuas dan setirnya tiba-tiba bermasalah." Iron mengangguk menanggapi ucapanku. Tepat setelah itu, sebuah meteor seukuran kursi menghantam kapal kami. Aku terlonjak, kompak bersama Iron dan Bang Arsi. Sedangkan Teta terkesiap, dia terkejut tidur. Kapal kami segera oleng ke kiri. Sebagian tubuhku menimpa Bang Arsi, dan sebagian beban Bang Arsi diterima oleh Teta. Lalu kapal kembali oleng ke kanan, tubuhku lagi yang menerima beban. Iron sendiri dengan kuat memegang tuas dan setir sekaligus. Berharap akan ada keajaiban. Sekarang, dengan mata setengah tertutup, aku dapat melihat meteor seukuran kapal kami datang mendekat. Kabar baiknya, keadaan kapal tidak oleng lagi. Kabar buruknya, setir dan tuas kemudi masih bermasalah, sedangkan batu besar itu bergerak cepat hendak menghujam kami hingga luluh lantak. Teta menjerit menyebut nama ibu dan bapaknya. Kami berempat menutup mata. Mengharap keajaiban di detik-detik terakhir. Kesan indah dari kontrasnya warna biru bumi dan legamnya langit, berganti mencekam sekarang. Hanya doa yang dapat kami lirihkan dalam suasana seberbahaya ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD