Keajaiban

1880 Words
Keajaiban itu tiba, tapi bukan di detik-detik terakhir batuan besar menghantam kami. Keajaiban itu datang, tepat saat meteor menyentuh moncong kapal, setidaknya itu yang dijelaskan layar walau terputus-putus. Batuan itu—lagi-lagi harus kubilang—seolah tablet kalsium yang dicelup di air panas, hancur begitu saja. Hanya hentakkan kecil yang kami rasakan. Permukaan meteor seperti melunak. Kami perlahan membuka mata lebih lebar. Kami selamat. Tapi lagi-lagi tidak semudah itu, layar monitor menghitam. Kamera detektor yang di pasang di dekat moncong pesawat pastilah kotor gara-gara meteor itu. Ini akan menganggu perjalanan. Masalah semakin kompleks. Setir mengadat, tuas macet, dan layar yang melegam sebagaimana langit gelap. Iron menghela napas, sedangkan Teta menangis karena situasi yang tidak diharapkan malah berdatangan. Bang Arsi lain lagi, dia terlihat bingung akan skenario yang sedang berlangsung. Dia hanya membujuk adiknya agar sedikit tenang. Perjalanan yang semula menyenangkan berbanding terbalik menjadi menyeramkan. "Kita harus bukan jendela, dan salah satu dari kita akan berusaha mengelap kamera detektor. Itu di samping kanan kapal, dan sepertinya aku lah yang harus turun tangan." Mataku membesar. Ini tidak bisa dilakukan. Tekanan dari luar akan dengan cepat masuk ke dalam kapal dan membuatnya oleng. Selain itu, suhu luar sangat panas. Bahkan bukan tidak mungkin telinga kami menjadi tuli karena itu semua. Apalagi jika Iron harus mengeluarkan kepalanya melalui jendela. Itu sangat berbahaya, sama saja dengan bunuh diri. Aku tidak akan pernah setuju. "Jangan sekalipun kamu bertindak bodoh, Ron. Tolong berpikir lah jernih." Aku memohon. Iron menggeleng. "Biarkan aku yang melakukan ini. Kalian tenang saja, udara luar tidak semudah itu merusak kapal. Aku akan melakukan perhitungan matang. Tapi ...." Iron terhenti. Matanya melirik kaca jendela di sampingku. "Jika sesuatu terjadi padaku, tolong gantikan aku." "Tidak!" Aku berteriak."Kamu jangan pergi, Ron. Kami butuh kamu." "Jadi kamu mau mengorbankan satu kapal ini tersekap dalam perjalanan tak berarah?" Detak jantungku berdesir. Sebuah meteor kecil lalu lalang menimpa kapal kami. Sedikit guncangan terasa secara periodik. Bibirku semakin terkatup rapat, tidak bisa menjawab apapun. Mengorbankan salah satu dari kami? Aku tidak mau. Bang Arsi berdehem. Perhatian kami mendadak terpusat padanya. Tatapan kami menjadi bingung berbungkus sendu. "Biar Abang yang melakukannya. Kalian adalah orang yang penting di sini. Tanpa Iron, kapal tidak akan jalan. Tanpa Aris, tentu Iron akan menanggung beban yang berat atas tanggungjawab kepada orang tua Aris. Yang paling mungkin berkorban di sini hanyalah Abang dan Teta. Kami sudah mendapat izin tertulis dari orang tua, dan dari awal, kami sudah pun paham konsekuensi atas keputusan kami untuk ikut andil dalam perjalanan ini. Kami tidak akan kenapa-napa jika harus berkorban. Tapi tentunya sebagai seorang kakak, Abang tidak akan mengizinkan Teta terluka. Biar Abang yang berkorban." Dia menoleh Teta yang lesu di dadanya. Teta mengangkat kepala, dia menggeleng kencang-kencang. Aku sendiri tidak mau mengorbankan Bang Arsi. Begitu pun Iron. Namun, Bang Arsi terus tersenyum menyenangkan, syahdu, dan damai. Seolah tidak akan terjadi apa-apa. Perjalanan tanpa rute, jelas akan sangat berbahaya. Kamera detektor itu benar-benar harus dibersihkan. Kini keputusan di ujung tanduk, tidak ada pilihan lain. Tapi, semua mendadak senyap saat Teta buka suara. Seolah separuh jawaban ada di perkataannya. "Tolong jangan korbankan Abangku. Masih banyak hal lain yang dapat dibenahi. Kamu bahkan belum memperbaiki setir dan tuas. Aku tidak mau Abangku harus berkorban untuk sesuatu yang belum pasti akan membawa dampak baik. Jika setir dan tuas tetap rusak, sekalipun sekarang kamera detektor bisa bersih, tapi nanti apa tidak kalian pikirkan? Meteor itu bisa saja merusaknya, dan siapa yang akan kalian suruh? Aku? Oke, tidak masalah. Lalu kalau masih tetap terulang kesalahan yang sama itu, apa satu per satu dari kita akan habis begitu saja. Pikirkan lah lebih dulu." Iron terdiam, tampak berpikir. Suhu ruangan terasa meningkat dua kali lebih panas. Peluh bercucuran. Bahkan air mata yang membingkai mata Teta tersamarkan oleh buah keringat. Waktu sudah berjalan sejam. Dan seolah terus ditarik mundur, kami bukannya mengalami progress, yang ada malah regress. Iron membuang napasnya melalui mulut, berusaha menenangkan deru napas. Meteor-meteor itu mungkin bisa dibiarkan bermain loncat-loncatan di atas permukaan kapal. Lelaki yang menjadi tonggak utama perjalanan kami mengangguk yakin. "Kita lakukan saran Teta." *** Iron memukul-mukul setir dan tuas kemudi, berharap kejadian saat di lab komputer dapat terulang. Kali ini dalam versi lebih baik karena tidak ada guru berkumis yang akan mengganggunya. Walau harus sebanding pula dengan sia-sianya usaha yang ia lakukan. "Pakai cara yang lebih wajar, Ron," saran Bang Asri. Iron mengangguk dengan lemas, keringatnya mengucur, bahunya hampir luruh ke lantai. Saat itu lah, aku yang kehausan dan kehabisan ide mengambil tas kecil yang lebih mirip kantung di belakang kursi kami. Itu kantung makanan. Mataku membeku sesaat, menyadari sebuah benda di bawah tas terebut tampak berkilau kulitnya. Ensiklopedia. Tanganku terulur untuk meraihnya, tersenyum, dan menunjukkan itu pada Iron dengan segera. Niatku ingin mengambil makanan terbang begitu saja diangkat rasa penuh harap. Iron yang tepat ingin menoleh ke belakang, setengah terkejut saat secara mendadak melihat benda itu. Senyum tipisnya yang selama ini tenggelam dimakan resah mendadak timbul, embus napasnya terdengar, sedangkan Bang Arsi dan Teta tidak memahami apa pun. Mereka hanya menatap pasrah. Langit yang hitam pekat di sana terasa terang oleh cahaya bintang gemintang, juga galaksi-galaksi yang terukir elok oleh kuas Tuhan. Bersamaan dengan itu lah tangan Iron meraih ensiklopedia, membuka daftar isinya, dan tersenyum sangat lebar saat melihat daftar ke sekian dari barisan halaman. *** Matikan perlatan elektronik lebih dahulu. Ada pihak-pihak yang berusaha melacak keberadaan kalian, termasuk menyadap setir dan tuas kemudi. Itu isi salah satu bab di ensiklopedia. Iron membacakannya kepada kami. "Maksudnya?" tanyaku. Jujur aku tidak mengerti. Mungkin efek jet-lag. Iron yang semula berekspresi tenang, tambahkan dengan senyuman khas orang jeniusnya, ingin menjelaskan. Tapi ia tiba-tiba berubah ekspresi kala Teta memuntahkan isi perutnya hingga tumpah ke kursi kemudi. Bang Arsi berseru karena kaget, dia terlihat linglung, lalu langsung mengambil air putih di pangkuannya. Aku dan Iron ikut-ikutan panik, bingung hendak melakukan apa. "Minyak kayu putih, Ris!" sergah Iron. Aku segera memutar badan, mengambil kantung plastik tempat menyimpan keperluan darurat. Beruntung minyak kayu putih itu tidak sulit ditemukan. "Ini Bang." Aku menyerahkan langsung kepada Bang Arsi. Bang Arsi segera menangkap cepat minyak tersebut, membuka tutupnya lalu didekatkan ke hidung Teta. Mata Teta sayu sekali, kepalanya lunglai nyaris terjatuh. Iron memijat kaki kanan Teta, sedangkan aku melakukan hal yang sama, hanya saja pada kaki kiri yang lain. Bibir Teta pucat memutih. Tubuhnya lemas. Semua jawaban yang akan keluar dari mulut Iron segera tertelan begitu saja. Perlahan mata Teta terbuka lebih besar, walau tak sampai setengah senti. Napasnya tidak beraturan, cenderung berebut. "Mau pulang." Suara Teta lebih mirip desis angin ketimbang ucapan saking lirihnya. "Aku gak sanggup lagi di sini. Aku nyesel nekat mau ikutan. Kepalaku makin pusing." Mata Teta mulai terpejam kembali. "Teta, bangun, Dek. Sadar, Dek. Jangan bikin Abang khawatir." Bang Arsi menyapukan air putih ke ubun-ubun gadis itu. "Mungkin efek tekanan di kapal ini, Bang. Meteor itu bikin kepalanya pusing." Bang Arsi tidak mendengarkan penjelasan Iron. Dia terlalu panik dihadapkan dengan situasi seperti ini. "Teta, bangun, Dek. "Mau pulang," lirih Teta lagi. "Aku gak kuat, Bang." "Apa yang kamu rasain sekarang, Dek? Sejak kapan kamu sakit gini." "Teta pusing, mual. Sebenarnya dari tadi Teta udah ngerasa gak enak badan. Tapi Teta gak mau bikin kalian panik. Teta berusaha kuat, gak mau nambah beban. Tapi sekarang Teta benar-benar gak tahan." Bang Aris mencium kening Teta. "Kenapa gak bilang, Teta?" Pria itu mendekap tubuh Teta lebih erat. Menurut kesimpulanku, Teta memang sudah sakit dari tadi. Itu sebabnya dia cukup banyak tertidur. Apalagi setelah memainkan ponselnya. Itu hal wajar. Dia terlalu fokus pada ponsel sedangkan tubuhnya mengalami guncangan, itu dapat menyebabkannya kehabisan oksigen. Setidaknya itu yang pernah Iron jelaskan dulu, saat kami sekeluarga berekreasi ke pantai menggunakan bus. Lebih tepatnya delapan tahun lalu. Saat itu aku pusing dan mual karena terlalu asyik main ponsel. Akan tetapi, aku tetap memberi penghargaan tinggi kepada Teta. Sejauh ini dia tetap memaksa kuat, memaksa untuk terlihat baik-baik saja. Sampai kami lalai dan tidak sadar kalau sebenarnya dia sudah sakit sejak tadi. "Jangankan pulang, kita bahkan tidak bisa bergerak walau sesenti, Teta." Iron berkata sambil menunduk tidak enak. Tangannya masih setia memijat kaki Teta. "Maafkan aku yang melibatkan kamu dalam perjalanan ini." Teta menggeleng walau hampir samar, dia terlihat berusaha agar tetap kuat. Bang Arsi sendiri menatap Iron sambil tersenyum menenangkan. "Kamu gak salah. Sekarang yang penting setir kamu bener dulu. Masalah Teta biar Abang yang urus." Iron masih menunduk. Butuh beberapa saat untuk dia dapat mengurangi rasa bimbang dan putus asanya. Sebagai sahabat, tugas kamu adalah memberi semangat. "Ron!" panggilku. Yang dipanggil mengangkat kepala. Apa? "Kamu jangan menyerah. Kamu buktikan kepada kami, kalau ekspedisi kita sukses. Jangan bikin Teta yang telah berkorban sakit demi perjalanan ini hanya memakan pahitnya saja. Kita sudah berani memulai, berarti saat itu juga kita telah menandatangani kontrak kalau kita siap mengakhiri perjalanan ini sampai tuntas." Perlahan senyum Iron terukir. Bersamaan saat itu, Teta sudah tertidur di balik dekapan Bang Arsi. Pria itu juga mengangguk memberi semangat. Iron menarik napas. Dia menunjuk ponsel yang berada di genggaman Teta. "Kemarikan." Tanpa banyak tingkah, Bang Arsi segera mengambilkan benda pipih tersebut untuk diberikan kepada Iron. Iron menggigit bibir. Aku dan Bang Arsi tidak paham sama sekali. Kami hanya saling lirik sebentar saat Iron menonaktifkan ponsel Teta. Saat itulah keajaiban selanjutnya datang. Setir dan tuas kemudi pulih kembali. *** Kapal kami bergerak normal. Ternyata yang dimaksud ensiklopedia sesederhana itu. Paling tidak, itu pendapatku untuk beberapa waktu ke depan. Tidak sadar bahwa sebenarnya ada sesuatu yang lain terjadi dalam perjalanan kami. Teta sudah bangun, dia segera diberi minum air putih dalam jumlah banyak. Sarung kursi kemudi segera dibuka dan diganti dengan yang baru. Perjalanan kami semakin jauh. Sekarang, kami sudah genap meninggalkan bumi. Dari sini, bumi terlihat seperti bola kristal berwarna biru, bercahaya karena efek atmosfer. Aku menelan ludah, tidak menyangka perjalanan secepat ini. Kami melintasi bulan yang banyak lubangnya, memantulkan cahaya walau sebagian sisi yang lainnya masih gelap. Satu-dua kali, kapal kami melewati batu, menyisipinya, bahkan beberapa kali juga kami tabrak karena tidak sengaja. "Kamu udah sehat, Ta?" Iron bertanya. Dia masih fokus mengendarai kapal, memegang erat setir dan tuas kemudi, menekan panel-panel, membuat cahaya menyibak kegelapan. "Iya, aku udah mendingan." Cowok itu mengangguk sambil tersenyum. Aku sendiri masih khayal memerhatikan suasana langit malam. Melihat bintang-bintang yang berkerlip. Saat ada batuan yang akan melintas, aku segera memberi tahu Iron. Kapal langsung mengelak, meminimalisir kemungkinan kecelakaan. Kamera detektor yang semula mengabur, setidaknya mulai sedikit jelas karena angin, atau apapun itu yang membuat debu meteoritik terburai. Kami hanya terlalu gegabah, membuat masalah kecil menjadi besar, sehingga masalah yang sebenarnya besar terabaikan begitu saja. Tapi walau begitu, kamera detektor tidak akan benar-benar bersih jika hanya berharap debu tersebut terburai oleh mekanisme perjalanan. Jadi sebagai solusi, lampu kapal dan pengamatanku barangkali diperlukan. Suhu ruangan semakin dingin. Jarak kami semakin jauh dari matahari. Bahkan planet Mars pun sudah kami lewati, walau tidak berhasil kami melihatnya langsung. Planet tersebut sedang melintasi bagian orbit yang lain dengan yang kami lalui. Aku membuang napas. Semoga pulang nanti aku bisa melihat semua planet secara utuh. "Di ujung sana, kita akan bertemu planet tercantik. Saturnus Si Planet Bercincin." Iron berseru dari balik kursi kemudi. Bang Arsi tersenyum, mengusap rambut adiknya yang mendadak manja di perjalanan ini. Aku hanya menyenderkan kepala pada kursi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD