21+ Hiburan dari Pak Kades
Malam itu, bulan purnama menggantung sempurna di langit Desa Candra Asri, cahaya peraknya menyapu permukaan sungai yang airnya mengalir jernih dan bening.
Aruna Lestari duduk menyendiri di atas batu sungai besar tepian sungai, kakinya menyentuh air sungai yang dingin. Kebaya putih tipisnya basah oleh embun malam dan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.
Tadi sore ia baru saja bertengkar hebat lewat telepon dengan Dirga Mahendra. Suaminya lagi-lagi marah-marah, menyalahkan Aruna karena “belum juga hamil” setelah dua tahun pernikahan mereka.
“Dasar m∆ndul! Aku malu dengan keluarga ku! Itulah kenapa aku cari wanita lain!” bentak Dirga sebelum memutus sambungan telepon.
Aruna tahu suaminya sudah punya wanita lain di Kota. Uang nafkah memang rutin di transfer setiap bulan, tapi percuma saja, rumah besar yang mereka tinggali terasa seperti penjara emas baginya.
Tiba-tiba suara langkah pelan terdengar dari arah belakang, di susul dengan suara yang tak asing.
“Aruna?”
Pradipta Wiraatmaja berdiri tegak di gundukan tanah sawah, tangannya memegang senter kecil yang cahayanya sudah redup. Malam ini, sebagai Kepala Desa, ia menjalankan giliran ronda malam.
Awalnya Dipta hanya berniat berkeliling sambil menikmati ketenangan malam, namun tiba-tiba pandangannya tertarik pada sosok familiar yang duduk sendirian di antara bebatuan sungai.
Wanita yang biasanya kuat dan tegar itu kini sedang menangis sendirian. Hati Dipta yang biasanya dingin pun langsung tersentuh.
Dua bulan yang lalu, ia hanya ingin membantu melerai pertengkaran rumah tangga Aruna dan Dirga. Tapi kini, semuanya perlahan berubah. Setiap kali melihat Aruna menangis, ia tak bisa lagi membohongi perasaannya.
“Mas… pulanglah. Ini bukan urusan Mas,” ujar Aruna parau tanpa menatap Dipta, suaranya pecah oleh tangis yang tertahan.
Dipta tak mendengarkan. Ia melompat ke dataran sungai dan berjalan mendekatinya, tanpa banyak bicara dia menarik Aruna ke dalam dekapan eratnya.
Tubuh wanita itu seketika gemetar.
“Aku capek, Mas… capek jadi istri yang tak berguna. Dua tahun aku setia, tapi Mas Dirga malah selingkuhi aku.”
“Saya lihat, Runa,” bisik Dipta di rambutnya. “Kamu bukan tak berguna. Kamu… hanya bertemu dengan orang yang tidak tepat.”
Aruna mendongak pelan. Sinar lembut rembulan menerangi redup wajah mereka.
Mata elang Dipta di penuhi dengan kerinduan yang tak terbendung. Tanpa terburu-buru, ia menunduk, menempelkan b!birnya ke milik Aruna.
Ci`uman mereka lembut namun penuh dengan rasa penyesalan masa lalu.
Rasa kesepian Aruna dan gairah Dipta yang telah lama terpendam membuat ciuman mereka semakin dalam dan menggentarkan.
Aruna meraih leher Dipta, membalas ci`uman pria itu, sesekali ia terisak lembut di antara ci`uman pa`nas mereka.
Tangan Dipta yang besar dan kapalan akibat bekerja, menyusup lembut di balik kebaya basah dan transparan Aruna, menyentuh kulit punggungnya yang mulus.
“Mas… ini dosa,” d`esah Aruna di sela-sela cu`mbuan mereka.
“Saya rela masuk n`eraka asal bisa bikin kamu merasa dicintai kembali, Runa,” gumam Dipta serak.
Mendengar perkataan Dipta, lantas Aruna memukul pelan mulut pria itu. “Hei… jangan berucap sembarangan, Mas.”
Dipta terkekeh pelan, meraih tangan Aruna yang memukulnya dan malah menciumnya lama. “Kalau begitu izinkan saya, cantik.”
Aruna menghela napas panjang mendengar panggilan akrab itu. Kilatan bayangan wajah suaminya berkelebat di pikirannya, membuatnya merasa ragu dan bimbang akan ajakan Dipta.
Tapi di sisi lain, Aruna juga bisa merasakan tatapan memohon Dipta, ditambah celana d`alamnya yang kian basah.
Ia dapat merasakan janggut halus Dipta yang menggesek lembut telapak tangannya.
“Baiklah, Mas… tapi sekali ini saja, ya?”
Dipta langsung mengangguk menyetujui.
Mereka turun ke area sungai yang dangkal dengan Dipta memegangi erat pinggang Aruna dari belakang—menjaganya agar tetap stabil di bebatuan yang licin.
Jakun Dipta naik-turun pelan saat ia menatap kain kebaya Aruna yang basah menempel transparan di tubuhnya yang berlekuk. Cahaya rembulan memperjelas gundukan lembut p`ayuda`ranya serta pi`nggul lebarnya yang menandakan kesuburan.
Dipta menariknya lebih dekat, mengangkat tu`buh Aruna hingga kaki wanita itu melingkar di pinggangnya.
Bi`birnya menyentuh leher jenjang Aruna, cu`mbuannya turun ke da`da, menyentuh puncak pay`udara Aruna yang mengeras melalui kain basah hingga wanita itu mengeluarkan desa`han yang tertahan. Punggungnya melengkung indah, menekankan gun`dukan lembutnya ke d**a bidang Dipta.
Tangan besar Dipta merayap ke bawah, melepas ikatan kain batik panjang Aruna. Jemari panjangnya menyentuh bagian paling inti`m Aruna dengan lembut tapi penuh ha`srat, membuat wanita itu menggigil dan mencengkeram bahu kokohnya semakin kuat.
“Mas Dipta… aku kangen kamu,” bisik Aruna di telinga Dipta di selingi isak tangis lembut, suaranya di penuhi kerinduan lama yang seolah terbendung lama.
Dipta mulai melucuti pakaiannya. Tu`buh tegapnya yang basah berkilauan di bawah cahaya bulan.
Ia menekan Aruna ke batu tepi sungai yang datar, tubuh mereka menyatu perlahan di dalam air sungai.
Dipta mengerang rendah, merasakan kehangatan melingkupinya dari dalam meski air sungai dingin.
Gerakannya lembut tapi mantap, penuh kasih sayang yang tak pernah Aruna rasakan dari Dirga beberapa bulan belakangan ini.
Desa`han lembut Aruna dan er`angan parau Dipta bercampur samar dengan gemericik air sungai yang mengalir pelan, menciptakan irama malam yang panas dan intim.
Aruna melingkarkan kakinya lebih erat, tubuhnya bergerak mengikuti irama hen`takan kuat tapi lembut Dipta.
“Runa… kamu milik saya malam ini,” ujar Dipta di telinga Aruna, sebagian dirinya semakin dalam menyatu dengannya.
Aruna hampir mencapai puncak kenikma`tannya, tubuhnya menge`jang indah, dan napasnya terengah ketika tiba-tiba—dari arah jalan setapak terdengar suara pria yang dilanda panik.
“Pak Dipta! Pak Kepala Desa! Cepat ke balai desa! Ada keributan besar… Pak Dirga mabuk dan bawa orang-orangnya ke balai desa, katanya mau cari Mbak Aruna yang kabur!”
Dipta membeku dalam pelukan Aruna. Wajahnya masih tertanam di leher wanita itu, tu`buh mereka masih menya`tu rapat, nyaris tak bergerak. Ga`irah keduanya masih membara liar. Aruna menatapnya dengan mata terbelalak penuh ketakutan sekaligus ha`srat yang belum padam.
Dirga datang.