Adam berjalan menyusuri koridor sekolah seorang diri. Senyuman tidak lagi terlihat di wajah tampan miliknya lagi. Walaupun semua kejadian itu sudah selesai, Adam selalu merasakan kehadiran makhluk yang telah mengambil kebahagiaannya.
Adam bukanlah Adam yang dulu. Sekarang dia adalah sosok yang pendiam dan tidak banyak bicara. Selalu fokus sama satu kegiatan rutinitasnya yaitu bersekolah. Dia hanya memikirkan sekolah dan masa depannya. Walaupun saat ini dia benar-benar merasa kesepian.
Dia menghela nafas dan masuk ke dalam kelas lalu duduk di bangkunya. Dia menatap keluar jendela, menatap taman buatan milik sekolah yang begitu sepi dan hijau.
Memori-memori masa lalunya bersama Taylor dan Anisa sekarang menguasai otak Adam. Dia hanya bisa menghela nafas berat dan berdoa agar kedua sahabatnya itu baik-baik saja di Surga.
***
Adam's POV
Beginilah aku saat ini. Menyendiri, berbicara seadanya, menyibukkan diri dengan berbagai hal. Ini diriku yang sekarang. Sangat buruk. Merasa kesepian sudah pasti, mamaku sekarang sudah sibuk dengan pekerjaannya dan meninggalkan ku sendiri di rumah.
Ketika melihat taman di luar sana, aku jadi ingat dengan kedua sahabatku Taylor dan Anisa. Biasanya ketika aku sedang menyendiri seperti ini, mereka akan mengagetiku lalu mereka berdua bertengkar dan membuatku tertawa atau kesal. Aku merindukan mereka. Sangat rindu! Menurutku kedua sahabatku itu adalah harta kedua selain keluarga yang harus aku jaga dengan baik.
Walaupun aku selalu merasakan kehadiran seseorang atau apalah itu, aku selalu mengacuhkannya. Mata batinku sudah ku tutup. Cukup berat bagiku untuk melihat makhluk-makhluk itu lagi, yang ada hanya akan membuatku sulit move on dari semua yang sudah terjadi dalam diriku.
Kalian pasti bertanya dimana om Damian. Ya, om Damian. Dia sekarang sudah mempunyai tunangan, yaitu mama ku. Lucu bukan? Dia dulu berpura-pura menjadi ayahku dan sekarang dialah yang akan menjadi ayahku sendiri. Waktu itu aku baru tahu kalau dia seumuran dengan mamaku, aku sempat kaget karena mukanya sama sekali tidak seperti orang yang umurnya sudah kepala empat. Mungkin itu sebabnya kak Alexandra tidak suka pada om Damian. Aku terkekeh kecil ketika mengingat semua itu.
Tak beberapa lama kemudian, bel sekolah berbunyi. Semua murid yang berada di luar langsung berhamburan masuk ke kelas sebelum gurunya datang.
Ketika pembelajaran berlangsung, aku sama sekali tidak memperhatikan apa yang di jelaskan guruku, mungkin belajar sendiri akan lebih mudah masuk ke otak daripada belajar sama murid di kelas ini yang selalu membuat keributan.
Aku menggambar sebuah wajah yang tiba-tiba berada dalam otakku. Tanganku ini tidak bisa berhenti untuk menggambar wajah itu. Aku terus menggambarnya. Itu adalah kemauan otakku bukan kemauanku. Wajah itu tiba-tiba saja berada dalam otakku.
Tak beberapa lama kemudian, lukisan yang aku gambar itu jadi. Nampaklah wajah cantik oriental antara wajah Belanda dan Indonesia. Aku tersenyum, ternyata aku masih bisa melihat walaupun hanya dari otakku.
Aku rasa aku akan membuka mata batinku lagi. Aku bisa membukanya sendiri karena om Damian pernah mengajariku membukakannya. Ketika kalian search di google tentang cara membuka mata batin pasti yang keluar isinya aneh bahkan ada yang menyuruhmu untuk menelan mata burung hantu secara langsung atau mengusap matamu dengan tanah kuburan. Itu tidak benar, aku rasa itu jalan yang sesat. Jangan pernah mencoba. Aku tidak akan memberi tahu kalian bagaimana cara membuka mata batin, aku takut ketika kalian mencobanya di rumah lalu seketika kalian mati di tempat karena melihat makhluk yang bentuknya bermacam-macam dan menyeramkan.
Ketika bel istirahat berbunyi, aku segera berjalan ke arah taman. Aku tidak mengubris murid-murid yang menyapaku. Aku hanya ingin ke taman.
Ketika sampai disana, aku duduk di kursi taman dan menatap danau buatan yang airnya berkilauan karena terkena sinar matahari. Mungkin ini adalah suasana yang romantis buat para pasangan. Aku juga mau merasakan itu tapi dengan kedua sahabatku.
Sesuai rencana yang kubuat tadi, aku akan membuka mata batinku sendiri. Aku memperbaiki posisi dudukku, lalu memejamkan mata. Aku membaca sesuatu dan tangan bergerak dari mata, ke dahi, dan kepala. Setelah itu aku membuka mata. Aku tersenyum ketika melihat seorang perempuan yang sedang duduk di atas rerumputan hijau. Aku rasa dia memasukkan kakinya ke dalam air danau itu.
Aku bisa merasakan auranya yang baik. Tidak ada aura jahat dari dirinya. Aku tersenyum sangat tipis. Tak lama setelah itu, aku ingat kalau aku membawa bekal. Aku harus memakannya cepat sebelum bel masuk berbunyi lagi.
***
Author POV
Gadis yang merendam kakinya itu tahu keberadaan Adam yang ada di belakangnya. Dia tersenyun tipis. Ingin sekali dia menyapa tetapi dia takut kalau Adam akan lari ketakutan setelah melihat wajahnya.
Adam mulai melakukan interaksi batin sebagai media pembicaraannya, karena menurutnya dengan melakukan itu dalam berkomunikasi, dia tidak akan terlihat seperti orang gila yang berbicara sendiri dengan danau yang ada di depannya. Tapi dengan cepat Adam memberhentikannya karena dia ingat kalau dia tidak ingin merasakan luka yang mendalam dengan bisa melihat makhluk yang tidak dapat bisa di lihat oleh orang lain.
Adam berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan taman. Gadis itu kaget dengan sikap Adam yang berubah dan pergi meninggalkannya sendiri, padahal dia sudah membuat Adam menggambar wajah dirinya dulu yang cantik sebelum dia meninggal secara tragis.
Adam berjalan dengan cepat menuju kelas. Dia menyimpan tempat bekalnya di dalam tas lalu kembali keluar menuju ke kantin untuk membeli air mineral.
"ADAM!!!" Teriak seseorang.
Adam menoleh kebelakang. Yang memanggilnya ternyata teman kelasnya, yaitu Gerry.
"Dam tunggu." Ucap Gerry.
"Hm." Adam hanya berdehem sebagai jawaban untuk Gerry.
"Ada yang gue harus bicarain." Ucap Gerry, sedangkan Adam hanya mengangguk.
"Tolongin kakak gue, 2 hari yang lalu di universitasnya ada kejadian aneh, nih lihat...." Gerry mengambil handphonenya lalu memperlihatkan sesuatu foto.
".... lihat orang yang paling belakang itu." Adam tersentak kaget ketika melihat foto itu.
Pasalnya, ada sesosok seperti orang yang wajahnya setengah hancur. Menatap kamera dengan tatapam yang tajam dan dingin.
Gerry menatap Adam, "gimana? Lo mau bantu cari tahu tentang ini, Dam? Tenang aja, gue bayar lo kok. Jadi, lo gak pulang dengan tangan kosong." Jelas Gerry.
Adam tersenyum tipis, "gue gak pernah minta imbalan kalau gue mau bantu orang. Tapi sekarang gue gak bisa bantu lo, karena gue gak mau jatuh korban lagi." Ucap Adam lalu pergi meninggalkan Gerry.
"TAPI INI DEMI KENYAMAN UNIVERSITAS DISANA DAM!" Teriak Gerry.
Adam berhenti lalu berbalik menatap Gerry dengan tatapan yang sulit dijelaskan, wajahnya Adam sangat datar, lalu dia berbalik lalu jalan menuju kelasnya.
"Gue mau bantu, tapi gue gak mau jatuh korban. Cukup Taylor dan Anisa yang meninggalkan karena hal konyol, jangan orang lain. Karena, gue gak sanggup denger suara tangisan mereka dalam mimpi gue."
**********