Adam menatap buku sketsanya. Dia masih penasaran dengan apa yang dia gambar itu.
"Siapa cewek ini?"
"Kenapa bisa langsung ada di dalam otakku?"
Itulah yang ada di dalam pikiran Adam. Sungguh sekarang dia penasaran, di tambah lagi dengan foto yang Gerry perlihatkan tadi ketika di sekolah. Semua itu membuatnya pusing.
Dia bangkit dari tempat tidur lalu keluar kamar menuju dapur untuk mengambil ice cream yang dia beli. Sebenarnya dia ingin memberikan ice cream itu ke Anisa tapi dia lupa kalau Anisa sudah tidak ada. Adam hanya tersenyum ketika mengingat Anisa yang sangat suka dengan ice cream.
Dia mengambil satu ice cream di dalam freezer lalu dia pergi menuju perpustakaan kecil miliknya sambil membawa buku sketsanya itu.
Adam membuka pintu perpustakaan kecilnya itu lalu masuk ke dalam. Di dalam perputakaannya itu terdapat berbagai macam buku, tetapi kebanyakan buku pelajaran, novel, dan komik. Dia mengambil salah satu buku tentang sixth sense atau yang sering orang bilang indera ke enam.
Adam membuka halaman demi halaman buku itu. Dia memang belum terlalu banyak tahu tentang indera keenam.
Dia membacanya dengan serius, sampai dia tidak sadar kalau ada yang membisikkannya sesuatu.
"Sudah puas dengan buku itu?" Adam langsung terkaget dengan suara bisikan itu.
Dengan cepat dia menoleh kebelakang. Jantungnya berdegub 2 kali lebih cepat. Dia menengok ke kanan dan ke kiri tapi dia sama sekali tidak melihat siapapun.
Keringatnya sudah mulai bercucuran keluar dari dahinya. Tak lama suara itu kembali lagi.
"Sial!" Teriak Adam. "Jangan ganggu gue! Pergi dari sini!" Adam berteriak sambil menutup telinganya, sedangkan yang membisikkannya tertawa sangat keras.
Nafasnya Adam sudah tersenggal-senggal. Dia berlari menuju pintu tapi pintu itu terkunci. "Sial!" Ucapnya dalam hati. Adam terus memaksa pintu itu terbuka.
Tak lama setelah itu, lampu padam. Adam kaget dengan kejadian itu. Wajahnya berubah menjadi sangat pucat.
"Jangan lagi." Ucapnya lagi dalam hati.
Bruk!
Suara benda jatuh itu membuat Adam kaget.
"Sial!" Teriaknya sambil berusaha membuka pintu drngan sekuat tenaga. Ingin sekali dia berteriak minta tolong tetapi percuma, Bibi Fana dan Pak Muklis pergi menjemput Ashlyn yang pulang hari ini.
Keringat Adam semakin banyak keluar. Adam mengetuk-ngetuk pintu perpustakaannya berharap ada yang datang dan mendengarnya, sedangkan di dekatnya, suara sudah tambah banyak dan banyak benda-benda yang jatuh.
"GUE MOHON! PERGI KALIAN SEMUA! GUE SALAH APA?! PERGI!"
"PERGI!"
"PERGI! AKU MOHON KALIAN PERGI! PERGI DARI SINI!" Teriak Adam yang semakin melemah. Dia sudah tidak bisa menahan ini semua. Tekanan batinnya sudah sangat lemah. Yang hanya bisa dia lakukan adalah menangis.
"TOLONG! SIAPA PUN TOLONG AKU!!!" Teriak Adam sambil mengetuk pintu dengan keras.
"Tidak ada orang di rumah ini, nak. Kau sendirian." Ucap seseorang dengan nada yang meremehkan. "Ohhh... tidak-tidak.. kau tidak sendirian karena ada kami. Kau harus menjadi seperti kami. Kau tahu berapa darah yang harus aku kumpulkan agar aku bisa menyelesaikan misi ini?"
Adam terus mengetuk-ngetuk pintunya itu. Dia terus memanggil nama 'Ashlyn', berharap dia datang dan memeluknya dengan erat.
AHAHAHAHAHA.... Teriak makhluk itu dengan sangat kencang, sampai Adam menutup telinganya.
"TIDAK ADA ORANG DI RUMAH INI SELAIN KAU! Kau tahu Adam, kau orang yang lemah... sangat lemah. Kau ingin menjadi kuatkan? Ayolah ikut bersama kami dan kau akan menjadi kuat. Sangat kuat lalu kau bisa melawan semuanya."
"SIAL!" Teriak Adam sambil terus mengetuk pintu dengan keras. "BUKA!! MA!!!! OM DAMIAN!!! TOLONG!!!" Teriak Adam sambil berusaha mendobrak pintu itu.
Semua makhluk mengerumuni Adam sambil tertawa, menatap Adam dengan tatapan tajam, dan lain sebagainya. Adam terus mencoba mendobrak pintu itu, namun dengan cepat salah satu di antara makhluk itu mendorong Adam dengan sangat kuat dan merobohkan pintu itu. Sedangkan Adam terdorong keluar sampai terguling-guling di tangga.
"ARGH!" Teriak Adam meringis kesakitan.
Darah keluar dari kepala, hidung dan sudut bibirnya. Salah satu makhluk itu yang mempunyai kepala ular, berkaki harimau dan berbadan manusia itu perlahan-lahan mendekati Adam.
Adam melihat makhluk itu. Sekuat tenaga dia berusaha bangun. Ketika hendak berdiri, kakinya tidak bisa bergerak.
Dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk berdiri tapi tidak bisa. Dia menoleh ke belakang. Dan benar saja, ada seorang anak kecil yang wajahnya hancur, jari tangannya sisa 3, badan yang hampir terlepas. Dia memegang kaki Adam agar tidak bisa bergerak.
"LEPAS!" Teriak Adam.
Adam terus berusaha menendang anak kecil itu. Tepat tendangannya mendarat di kepala anak kecil itu, wajahnya menjadi kian menyeramkan. Anak kecil itu dengan cepat menggigit kaki Adam.
"ARRGGHHHH!!!!" Teriak Adam kesakitan.
Dilain tempat, Pak Muklis yang membuka pintu pagar langsung kaget ketika mendengar teriakan Adam di dalam rumah.
Dengan cepat pak Muklis berlari menuju rumah. Dia mendobrak pintu rumah tetapi tidak bisa. Melihat itu, dengan cepat Bibi Fana, Ashlyn dan Damian keluar dari mobil.
"ARRRGHHH!!! LEPAS!!! TOLONG!!!!" Teriak Adam.
Mendengar itu, mereka bertiga berlari ikut mendobrak pintu.
"Bibi, pak Muklis sama kamu Ashlyn mundur. Biar saya yang dobrak." Ucap Damian.
"Cepat, Dam." Ucap Ashlyn panik.
Dengan sekuat tenaga Damian mendobrak tetapi tidak bisa juga. Sedangkan Adam sudah terlalu lemah. Darah semakin banyak keluar dari kepala dan hidungnya, ditambah gigitan yang diberikan anak kecil itu kepada Adam.
Mendengar pintu yang di dobrak-dobrak itu, Adam tahu kalau itu adalah mamanya dan yang lain.
"MA!!!! TOLONG!!" Teriak Adam sambil terisak. "AARRGGH! LEPASIN KAKI GUE!"
Ashlyn terlihat semakin panik karena Adam memanggil dirinya sambil meringis kesakitan.
"Adam!! Adam sayang! Bertahanlah, sebentar lagi pintunya terbuka ya, nak. Bertahan sayang!" Teriak Ashlyn. "Damian... ayo cepat!" Lanjutnya. Ashlyn sudah mulai terisak.
Bibi Fana memeluk Ashlyn, sedangkan Pak Muklis dengan sekuat tenaga mengambil kuda-kuda untuk mendobrak pintu itu.
"Tuan Damian, menyingkir." Ucap Pak Muklis.
Damian menoleh ke belakang lalu menyingkir. Dengan cepat Pak Muklis mengambil ancang-ancang lalu secepat tenaga dia berlari dan langsung mendobrak pintu itu. Pintu itu hampir saja patah karena kerasnya dobrakan dari Pak Muklis. Mereka tidak menggunakan kunci karena percuma, biarpun memakai kunci, pintu itu tidak akan bisa terbuka.
Ashlyn langsung berlari ketika melihat anaknya itu sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang banyak keluar dari kepala dan hidungnya.
"Sayang... Adam sayang bangun. Bangun nak bangun!!" Teriak Ashlyn frustasi sambil memeluk Adam dengan sangat erat.
"Bawa dia ke rumah sakit. Bibi sama Pak Muklis disini saja. Telpon service pintu." Ucap Damian yang mengangkat Adam.
Damian bertugas menyetir mobil, sedangkan Ashlyn duduk di belakang sambil memeluk Adam. Dia tidak berhenti menangis sambil terus memeluknya.
"Ash.. Ashlyn sayang. Kamu sabar ya, aku akan coba telusurin kasus ini. Yang terpenting sekarang adalah Adam selamat." Ucap Damian yang di jawab oleh anggukan dari Ashlyn.
Damian memfokuskan dirinya ke arah jalan. Dia sedikit memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Satu-satunya jalan yang akan dia ambil adalah mencari tahu apa yang terjadi kepada Adam.
**********************