23

1218 Words
Pagi telah tiba. Sinar matahari masuk melewati sela-sela jendela kamar inap milik Adam. Karena kejadian tadi malam, dia mendapatkan 35 jahitan di kepalanya, ditambah luka gigitan yang sangat dalam di kakinya. Damian selaku ayah Adam walaupun belum menjadi suami dari Ashlyn, menelusuri kejadian yang menimpa Adam. Damian mendapatkan bukti-bukti keberadaan makhluk-makhluk jahat itu. Mereka semua berada di gudang rumah milik Ashlyn dan Adam itu. Sedangkan Ashlyn, dia memberikan kepercayaannya kepada Damian untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Adam. Adam membuka matanya secara perlahan. Sinar matahari menusuk matanya, sehingga dia harus menyipitkan kedua matanya untuk bisa memfokuskan penglihatannya. Damian masuk kedalam kamar inap milik Adam dan tersenyum manis ketika melihat Adam sudah membuka matanya. "Selamat pagi, Dam." Sapa Damian. "Selamat pagi juga Om." Balas Adam. Ashlyn terlihat masih tertidur sambil menggenggam tangan Adam dengan erat. Damian tersenyum melihat tunangannya itu. "Aku rasa ibumu sangat capek dan kurasa kau harus bisa memanggilku 'Ayah'." Ucapnya sambil tertawa kecil lalu mengecup kening Adam dan Ashlyn. Ashlyn yang merasakan keningnya di cium, akhirnya membuka mata. Pandangannya langsung tertuju kepada Adam yang tersenyum manis ke arahnya. "Nak.." Ashlyn langsung memeluk Adam dengan sangat erat. "Ma.. aku tidak bisa bernafas dan... ini sakit ma..." ucap Adam. Ashlyn yang mendengarnya langsung melepaskan pelukannya dan mencium kedua pipi anaknya, sedangkan Damian tersenyum melihat tingkah tunangan dan calon anak tirinya itu. "Kamu harus makan supaya cepet sembuh. Mama gak suka liat kamu sakit kayak ini." Ucap Ashlyn sedangkan Adam hanya mengangguk mengiyakan. Ashlyn beranjak dari duduknya menuju kamar mandi. Adam menatap Damian dengan wajah yang sulit di jelaskan, sedangkan Damian hanya tersenyum melihat wajah Adam. Dia tahu kalau Adam sedang menunggu apa yang terjadi sebenarnya. "Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Adam to the point. Damian tersenyum, "mereka hanyalah makhluk yang cuma iseng ke kamu. Ya.... mereka cuma datang dan setelah itu pergi." "Dimana mereka sekarang? Apa yang dia mau dariku?" "Mereka menginap di gudang rumah, tapi mereka hanya menakutimu. Aku sudah mengusirnya, jadi kau tidak perlu khawatir lagi." Jelas Damian. "Dasar setan bodoh." Ucap Adam sambil memijit pelipisnya yang berdenyut. "Lusa kau sudah boleh pulang. Aku harap kau tidak perlu takut pada makhluk makhluk itu lagi." Ucap Damian lalu beranjak pergi meninggalkan Adam. "Hmm Adam... jangan lupa makanan mu." Lanjutnya lalu pergi meninggalkan Adam. Adam menghela nafasnya. Kepalanya benar-benar terasa pusing. Tak lama setelah itu, Ashlyn keluar dari kamar mandi, setelah itu ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Adam kemudian dengan telaten menyuapinya. *** Hari ini hari Selasa, hari dimana Adam sudah boleh pulang ke rumahnya. Semua barang sudah di kemas oleh Ashlyn, jadi Adam bisa langsung pulang, sedangkan Damian dengan setia menunggu Ashlyn dan Adam yang nantinya akan menjadi keluarga yang satu dan utuh. "Sudah siap semua ma?" Tanya Adam. "Yap.. sudah. Ayo sayang. Kamu bisa jalan atau mau pake tongkat atau kursi roda?" Tanya Ashlyn sambil mengelus rambut anak semata wayangnya itu. Adam tersenyum, "aku masih bisa jalan tapi aku tidak mau pake kursi roda. Aku rasa tongkat cukup." Ashlyn tersenyum mendengar jawaban dari anaknya itu. Walaupun dia sedih dengan sikap diam Adam dan selalu mengurung dirinya di kamar, tapi ketika mendengar suara anaknya itu, ada rasa kelegaan yang luar biasa di hatinya kalau anaknya itu masih mau berbicara dengan orang. Ashlyn menyuruh Damian untuk mengambil tongkat, sedangkan Adam memainkan handphonenya. Dia menjawab beberapa pesan temannya yang menurutnya penting walaupun dia menjawab seadanya. Ketika di rumah sakit, tidak ada yang makhluk yang mengganggu Adam. Dia merasa sangat damai tanpa ada yang mengganggunya. Tidak ada suara teriakan, tangisan, langkahan kaki, dll yang selalu mengusik tidurnya, bahkan tidak ada penampakan ataupun mimpi buruk yang membuatnya terjaga ketika tidur di malam hari. Tak lama kemudian Damian datang membawa sebuah tongkat. Adam mengambil tongkat itu, dengan di bantu oleh Ashlyn dan Damian, dia perlahan-lahan berdiri dan berjalan menggunakan tongkatnya walaupun dia harus merasakan sakit yang luar biasa dari kakinya akibat jatuh dari tangga, di tambah dengan luka bekas gigitan dari setan anak kecil itu. Adam perlahan-lahan berjalan keluar kamar. Dia menatap sekitar, ada beberapa makhluk yang menatapnya dengan berbagai macam ekspresi tapi Adam meyakini dirinya untuk tidak takut lagi kepada semua makhluk itu. Ketika sedang berjalan, ada salah satu makhluk yang mirip dengan orang yang dia lukis di buku sketsanya. Ya, wajah campuran antara Belanda dan Indonesia. Dia menatap Adam dengan wajah yang sangat cantik. Dia tersenyum ketika Adam berjalan di depan melewatinya, tapi wajahnya Adam sangat datar. Ketika ada seseorang yang berjalan disamping, orang itu menembus badan perempuan berwajah campuran itu. Adam terkaget melihatnya lalu dengan cepat malajukan langkahnya, sedangkan Damian mengetahui kalau Adam sedang melihat perempuan itu. Damian menunjukkan senyuman tipisnya ketika perempuan itu berubah ke wujud aslinya yang sangat menyeramkan. Wajah perempuan itu sangat menyeramkan. Pasalnya wajahnya sangat hancur. Hidung wanita itu bengkok, tangan kanannya tinggal setengah, kaki kiri pun sama seperti tangan kanannya. Damian berasumsi kalau perempuan itu mati karena di mutilasi oleh seseorang. Perempuan itu menatap ke Damian tapi dengan cepat dia memalingkan wajahnya dari perempuan itu. Setelah sampai di parkiran, dengan hati-hati Adam memasuki mobilnya. Dia duduk di jok belakangan, Ashlyn duduk di jok depan sebelah Damian, dan tentu saja Damian yang menyetir mobil. Tak ada yang berbicara di dalam mobil. Ashlyn tertidur, Damian fokus menyetir, sedangkan Adam pandangannya keluar jendela melihat mobil dan motor yang berlalu lalang, melihat orang yang marah-marah akibat hampir terserempet oleh motor ketika sedang menyebrang dan tentu saja dia melihat banyak makhluk yang tidak dapat di lihat oleh kebanyakan orang. Sekitar 25 menit perjalanan menuju rumah, akhirnya mereka sampai di rumah. Segera Pak Muklis membukakan pagar. Mobil masuk dengan mulus ke garasi rumah. Dengan pelan-pelan Adam keluar dari mobil di bantu oleh Bi Fana dan Damian, sedangkan Ashlyn sedang menerima telpon dari clientnya yang menurutnya sangat penting. Adam kurang suka dengan tingkah mamanya. Damian hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan tunangannya itu. Adam masuk ke dalam rumah dan berjalan ke kamarnya di temani oleh Bibi Fana. Damian duduk di sofa dan menatap tunangannya itu yang baru saja masuk ke dalam rumah. Melihat Damian yang sedang duduk sambil memijat pelipisnya, dia segera duduk di samping Damian. "Dam.. Adam mana?" "Di kamar. Aku rasa kamu jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, dia butuh kamu di sampingnya." Jawab Damian dengan wajah serius. "Adam? Baiklah... aku memang selalu sibuk dengan pekerjaanku tapi aku tidak bisa menolak ajakan kerja sama perusahaan dari client ku." Damian menghela nafas lalu menggenggam tangan Ashlyn, "ingat... tidak selamanya Adam ingin seperti itu. Adam yang aku kenal itu anaknya suka bersosialisasi. Aku juga akan menjadi suamimu dan ayah dari anakmu, aku yang bertanggung jawab atas keluarga ini nanti, jadi kamu jangan terlalu fokus dengan pekerjaan kamu itu, biar aku yang urus semuanya. Tugas kamu adalah... jaga Adam, sayangi Adam, dan selalu berada di sampingku dan di samping Adam. Karena Adam adalah harta yang berharga dalam hidup kamu. Ngerti apa yang aku bilang sayang?" Ashlyn mengangguk lalu memeluk Damian. Dia bersyukur karena trlah di pertemukan oleh pria yang sangat baik ke dirinya dan Adam. Damian melepas pelukannya dan mencium punggung tangan Ashlyn lalu berdiri hendak pulang. "Aku pulang dulu ya.. jaga Adam." Ucapnya lalu mengecup kening tungannya itu dan keluar dari rumah. Tak jauh dari mereka, ada sosok wanita yang menatap kepergian Damian dengan wajah yang sulit di artikan dengan darah yang keluar dari kepalanya dan mata yang hampir keluar dari tempatnya, entah apa yang dia lakukan. Hanya diam. ********************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD