Author POV
Adam melihat jam dinding yang tergantung di tembok. Jam itu baru menunjukkan pukul 05:15. Dia berpikir tentang mimpinya itu. Ada sesuatu yang ganjal disana, terutama di ruang kepala sekolah yang ternyata ada ruang bawah tanahnya.
Adam mengacak rambutnya lalu memutuskan untuk mandi secepat mungkin. Dia harus pulang ke rumah lalu ke sekolah. Dia tidak peduli lagi dengan apa yang dia lakukan nanti.
Setelah mandi, Adam mengetuk kamar Anisa beberapa kali namun tidak ada jawaban. Adam memegang gagang pintu lalu mencoba membukanya, ternyata pintu itu tidak di kunci. Dia melihat Anisa yang sedang tertidur pulas.
"Sedang apa kau di kamar Anisa?" Tanya Damian yang membuat Adam kaget.
"Saya hanya mau membangunkannya. Saya harus pergi sekolah." Jawab Adam.
Damian mengernyitkan dahinya karena kemarin Adam bilang dia tidak mau pergi karena dia sedang malas bersekolah. "Kenapa?"
"Om... saya tadi bermimpi. Mimpi yang selalu membuatku takut." Ucap Adam sambil keluar dari kamar dan duduk di sofa.
"Mimpi apa?"
"Mimpi tentang sekolah. Disana aku bersama kak Alexa dan aku melihat semua kejadian itu."
Damian mengernyitkan dahinya lagi. "Alexa? Kejadian?"
"Iya. Kejadian waktu kebakaran dan pembantaian yang terjadi di sekolah saya dulu.." Jawab Adam dengan muka yang sedikit takut.
Damian mendekatkan dirinya sedikit kepada Adam. "W-wait... kau bilang kau bertemu dengan Alexandra?" Tanya Damian yang di jawab oleh anggukan Adam. "Apa yang dia lakukan?" Lanjutnya.
"Dia yang menemaniku." Ucap Adam sambil menghela nafasnya.
Raut wajah Damian berubah menjadi sedih. Adam tidak tau arti dari raut wajah Damian. Tak beberapa lama, Anisa keluar dari kamarnya dengan baju yang sudah rapi dan membawa tasnya keluar.
"Ayo kita pulang, Dam." Ucap Anisa yang membuat Adam dan Damian menoleh kearahnya.
Adam dan Damian mengangguk lalu Damian mengambil kunci mobilnya sedangkan Adam mengambil tasnya. Mereka keluar bersama-sama.
"Kau datang di waktu yang tepat Alexa."
***
Adam berlari ke kamarnya, tidak peduli bibi Fana berteriak memanggilnya. Dia hanya sudah tidak sabar untuk menemukan teka-teki yang ada di ruang kepala sekolah.
Setelah memakai seragam, Adam secepat mungkin keluar dari kamarnya lalu mengambil 1 roti dan pergi ke sekolah.
"Adam.. kamu tadi malam kemana?" Tanya Ashlyn ketika Adam sedang memakai sepatu.
"Bukan urusan mama." Jawab Adam dingin tanpa menoleh ke arah Ashlyn.
"Dam... mama tau kamu masih marah, tapi kamu tolong mengerti posisi mama sekarang. Mama tidak mau kamu seperti itu kepada temanmu." Ucap Ashlyn yang membuat Adam menoleh kearahnya sambil mengernyitkan dahinya.
"Maksud mama apa? Mama masih menuduhku sebagai pembunuh Taylor? Kapan mama percaya padaku?" Ucap Adam lalu berdiri hendak pergi tapi dengan cepat Ashlyn memegang lengan Adam.
"Dengar mama dulu...."
Adam menghempis tangan Ashlyn. "Ma.. aku tidak mau marah pagi ini. Tolong mama jaga mood aku." Ucap Adam lalu pergi meninggalkan Ashlyn yang menahan air matanya.
"Kamu tidak tau kalau mama sakit!" Teriak Ashlyn lalu Adam menghentikan langkahnya sebentar dan kembali melanglah keluar.
***
Adam dengan langkah cepat menuju kelasnya dan kali ini dia sudah menabrak 5 murid dan 2 guru yang sedang berjalan di koridor juga tapi Adam sama sekali tidak mengubrisnya. Pikirannya penuh dengan mimpi tadi malam dan misteri yang ada di ruang kepala sekolah.
"Anisa.." Panggil Adam ketika melihat Anisa yang sedang duduk sambil menopang dagunya dengan tangannya dan memandang ke arah keluar. Untuk pertama kalinya Adam melihat Anisa yang terlihat sangat bad mood.
Anisa tidak mendengarnya lalu dengan satu kali gebrakan meja yang membuat gadis itu kaget bukan dan membuat Adam tertawa terbahak-bahak karena berhasil menjahilinya.
"Iihhh... lo nggak seru, Dam. Kagetin aja gue terus." Ucap Anisa kesal.
Adam masih tertawa sampai dia duduk lalu mengacak rambut Anisa. "Sorry sorry... mau dengar berita baik?" Tanya Adam sambil mengeluarkan senyumannya yang bisa membuat cewek jatuh pingsan karena melihat senyuman Adam yang super manis.
"Berita apa?" Tanya Anisa.
"Gue tadi malam mimpi tentang sekolah dan di ruang kepala sekolah ruang rahasia." Jawab Adam dengan berbisik.
"Terus?" Tanya Anisa yang pura-pura tidak peduli.
"Terua kita harus cari linggis dan hancurkan ruang kepala sekolah." Jawab Adam yang langsung membuat Anisa membulatkan matanya.
"Lo gila? Hey! Lo akan di keluarin dari sekolah kalau lo berani lakuin itu."
"Gue nggak peduli. Lo mau ikut gak?"
Anisa diam lalu tak beberapa lama akhirnya dia mengangguk. Adam yang melihat Anisa setuju dengannya langsung memeluknya dan memegang tangannya lalu pergi ke kantin untuk mengambil linggis.
"Mbak! Ada linggis gak?" Tanya Adam di warung mbak Karin.
"Untuk apa?" Tanya mbak Karin.
"Hmm.. itu ada yang mau diperbaiki di ruang lab. Katanya ada 2 katak lepas dan terperangkap di kolong yang di dekat lemari." Jawab Adam. Anisa langsung membulatkan matanya ketika mendengar apa yang Adam katakan. Alasannya sungguh genius. Anisa tersenyum melihatnya.
Mbak Karin menghela nafasnya pelan. "Atas nama guru siapa yang bertanggung jawab?" Tanya mbak Karin lagi yang membuat Adam sedikit mendengus kesal.
"Saya tidak tau siapa nama gurunya, mbak. Soalnya dia bukan guru kimia saya. Ayolah mbak, sebelum kataknya semua mati."
Mbak Karin mengangguk lalu mengambil linggis dan memberikannya kepada Adam.
"Terima kasih ya, mbak. Mbak itu baik banget. Love you." Ucap Adam lalu menarik tangan Anisa untuk bergegas pergi ke ruang kepala sekolah.
Adam berlari kencang dengan Anisa dan akhirnya dia sampai di ruang kepala sekolah. Yang akan dilakukan Adam adalah mengetuk pintu dan masuk kedalamnya lalu merusak lantai itu dan dapatlah ruang bawah tanah.
"Buatlah rencana itu sebaik-baiknya agar kau tidak menjadi sepertiku." Adam mengingat apa yang Alexandra bilang di dalam mimpinya tadi malam. Rencana yang harus dibuat secara sebaik-baiknya, jika tidak mau ada kesalahan yang fatal.
Tok... tok.. tok.. Adam mengetuk pintu kepala sekolah dengan pelan.
"Silahkan masuk." Ucap pak Tengku dari dalam ruangannya. Adam menyembunyikan linggis di belakangnya.
Anisa membuka pintu dan mereka masuk lalu mengunci pintu.
"Kalian ada apa kesini? Kenapa pintunya dikunci?" Tanya pak Tengku dengan muka bingung bercampur takut dan panik.
Adam hanya tersenyum. "Pak.. saya pinjam ruangan ini sebentar ya... ada yang harus aku pecahkan disini." Jawab Adam dengan santainya.
"Maksudnya?" Tanya pak Tengku yang sudah panik dan berdiri dari tempat duduknya tapi dengan sigap Anisa menahannya dan mengancamnya.
"Terus apa yang selanjutnya?" Tanya Anisa sambil memegang pulpen yang kepalanya tajam ke leher pak Tengku, jadi secara otomatis pak Tengku tidak bisa bergerak.
"Gue melihat semuanya disini. Kak Alexandra bilang kalau misteri itu adalah puzzle. Jadi, semua puzzle itu ada di sini. Di ruangan ini." Jelas Adam.
"Dimana tempatnya?" Tanya Anisa tapi Adam tidak mengubrisnya.
Dia mencari tempat ruang bawah tanah itu. Dia lompat-lompat untuk mencari letak pintunya. Terdengarlah suara seperti gebrukan dari bawah. Dengan cepat Adam menggunakan linggisnya memecahkan lantai itu, sedangkan pak Tengku hanya bisa diam dan membulatkan matanya melihat apa yang dilakukan Adam.
Susah payah dia menghancurkan lantai itu dan terlihatlah sebuah pintu yang sudah hampir rapuh yang terbuka dan mengeluarkan bau yang sangat menyengat dan membuat Anisa hampir muntah. Adam yang melihatnya hanya bisa diam. Pak Tengku lalu berlari membuka pintu dan keluar, dia mencari bantuan.
"Gue nggak percaya ini..." Ucap Adam. Dia lalu mengacak rambutnya. "T-tempat ini benar-benar ada."
*********