"Gue nggak percaya, Dam." Ucap Anisa yang mendekati Adam dan melihat ruang bawah tanah itu sambil menutup hidungnya.
"Nggak bisa di percaya." Ucap Adam lalu mencoba untuk turun kebawah tapi Anisa menahan lengannya lalu menggeleng.
"Disana gelap. Lo phobia sama kegelapan kan? Gue nggak mau lo kenapa-napa." Ucap Anisa yang membuat Adam berhenti di tempat.
Adam menyipitkan matanya agar dia bisa melihat lebih jelas apa yang ada di dalamnya, terutama di tangga.
Semua murid berkempul di luar ruang kepala sekolah. Pak Tengku masuk ke dalam ruangnya dengan membawa 2 polisi dan orang tua Adam dan Anisa.
"Diam disitu, nak." Ucap salah satu polisi.
Adam menoleh sambil tersenyum. "Apa kalian tau ini apa?" Tanya Adam sambil menunjukkan linggisnya.
"Nak.. jangan main-main dengan itu." Ucap salah satu polisi lagi.
"Aku nggak peduli!" Ketus Anisa.
Adam mendekati ruang bawah tanah itu dan menjatuhkan linggisnya. Anna terus memegang lengan Adam. Reza (Ayahnya Anisa) dan Dhea (Ibunya Anisa) hampir berteriak karena Anisa terus mendekati ruang bawah tanah itu.
"Nak! Berhenti di situ sebelum kami bersikap kasar pada kalian." Ucap polisi itu.
"Anisa.. Adam.. tolong jangan buat kami panik lagi." Ucap Ashlyn.
Adam dan Anisa sama-sama tersenyum lalu Anisa mengambil handphonenya dan menyalakan senter dan masuk kedalam ruang bawah tanah itu tapi sebelumnya... "Kalian jangan khawatir. Kami akan baik-baik saja." Ucap Adam yang diikuti oleh anggukan Anisa.
***
Perasaan Damian menjadi tidak enak. Tidak tau kenapa. Dia berpikir kalau Adam dan Anisa sedang dalam bahaya. Tidak pernah dia merasakan hal ini sebelumnya, perasaan anehnya selalu dia buang jauh-jauh dan tidak pernah sampai kepikiran seperti ini.
"Apa yang akan kalian lakukan disana?" Tanya Damian dalam hatinya sambil mondar-mandir di ruangan kerjanya.
Dia duduk di sofanya dan mengacak rambutnya. Angin menghembus kencang di ruangan kantornya. Di ruangannya hanya AC dan jendela semua di tutup. Angin dari AC tidak seperti ini. Damian lalu memutuskan untuk pergi ke sekolah Adam karena takut terjadi apa-apa.
***
Adam masuk dalam ruang bawah tanah itu dengan cahaya dari senter handphone Anisa.
Anisa terus memegang lengan Adam, antara takut, panik dan khawatir akan terjadi apa-apa disini.
"Dam.." Panggil Anisa dengan suara sedikit bergetar.
"Hmm.."
"Berapa lama kita disini?"
Adam menghela nafasnya lalu menatap Anisa dan mengacak rambutnya lalu tersenyum. "Kita akan disini setelah menemukan puzzle yang ada disini."
Adam terus berjalan. Berhenti sebentar untuk melihat apa saja yang di ada disitu. Bau busuk kembali membuat Adam sesak nafasnya. Bau busuk itu adalah bau darah. Darah yang banyak sehingga sangat menyengat.
Mereka terus berjalan sampai mereka menemukan jalan buntu. Adam memegang tembok yang membuntuhkan jalan itu.
"Basah." Ucap Adam pelan. Dia lalu menyuruh Anis untuk memegang handphonenya dan terus menyenter ke arah depan, ke arah Adam.
Adam terus memegang setiap tembok itu seakan-akan ada jalan rahasia di belakang tembok itu. Bau darah semakin menusuk hidung Adam dan Anisa. Mereka menutup hidung mereka berharap bau darah itu hilang tapi apa daya, bau darah itu semakin menyengat mungkin sudah sampai di atas di ruang kepala sekolah.
"Bau apa ini?" Tanya pak Tengku sambil menutup hidungnya dengan tangannya.
"Ini seperti bau... darah." Jawab Reza.
"Darah?"
***
Damian berlari memasuki sekolah Adam. Dia sudah melihat banyak murid berkumpul di suatu ruangan bersama polisi yang menjaga. Pikiran Damian sudah aneh-aneh.
"Awas! Minggi!" Teriak Damian dan menabrak banyak siswa yang juga berlari untuk melihat apa yang terjadi di ruangan itu.
Damian terus berlari dan sampailah dia di luar ruangan itu. Sangat banyak murid disini sampai guru juga melihatnya.
"Permisi.. permisi..." Ucap Damian yang memasuki desakan dari murid-murid.
Ketika mau masuk Damian dihadang oleh polisi yang menjaga dekat pintu. "Maaf anda tidak boleh masuk." Ucap polisi itu.
"T-tapi anak saya ada disitu. Tolong.. Ashlyn.." Ucap Damian dan memanggil nama Ashlyn.
Ashlyn menengok dan mendapati Damian yang sedang berdesakan dan dihadang oleh polisi itu. Dia mendekat ke arah polisi itu.
"Biarkan dia masuk." Ucap Ashlyn dan akhirnya Damian pun masuk.
Polisi itu pun mempersilahkam Damian masuk.
Ketika masuk Damian melihat ruangan yang sudah kumuh termakan usia, ruangan itu seperti ruang bawah tanah. Damian pikirannya sudah tambah negatif. Bagaimana tidak aneh kalau dia melihat dari tangga sana banyak darah yang berceceran dan ada organ tubuh yang berceceran di sekitar tangga juga. Adam dan Anisa ada di dalam situ.
"Damian... tolong A....."
"Adam dan Anisa di dalam situ? Kenapa kalian tidak suruh mereka untuk tidak masuk??!!" Tanya Damian dengan suara keras dan memotong perkataan dari Ashlyn.
Damian langsung turun ke dalam ruang bawah tanah itu dan pergi mencari Adam dan Anisa.
"Adam!!! Anisa!!!" Teriak Damian memanggil Adam dan Anisa sambil menutup hidungnya karena bau yamg sangat menyengat.
Tidak ada jawaban.
Keadaan disini gelap gulita. Dia tau kalau yang di injak adalah darah. Genangan darah beserta organ tubuh yang benar-benar berceceran disini.
Damian menyalakan handphonenya dan mendapati sesuatu di lantai. Kalung.
"Kalung? Kemungkinan besar disini tempat para mayat dibuang." Ucap Damian dalam hatinya.
Dia meneruskan jalannnya menyusuri ruang bawah tanah ini yang benar-benar sangat luas.
Tak beberapa lama, dia mendengar suara seperti orang yang sedang memukul sesuatu. Dia mengikuti arah suara itu. Dia berjalan dengan pelan-pelan. Dia yakin kalau Adam dan Anisa belum jauh dari sini.
Ketika suara itu makin dekat, Damian mendapatkan kalau Adam dan Anisalah yang membuat suara itu.
"Adam... Anisa.." Panggil Damian yang membuat mereka kaget dan Adam hampir melemparkan linggisnya ke Damian. "Wooww woowww... ini saya Damian." Lanjutnya yang membuat Adam menghela nafas dan menurunkan linggisnya.
"Om kenapa disini?" Tanya Anisa.
Damian menghela nafas. "Saya yang harus bertanya itu kepada kalian! Kenapa kalian disini? Kalian tau, disini itu sangat berbahaya!" Ucap Damian.
"Kenapa?" Tanya Anisa lagi.
"Bau darah Anisa." Jawab Adam dan dia melanjutkan kerjaannya dengan linggisnya yang membuat Damian merasa aneh.
Damian menghela nafasnya dan mengambil linggis dari Adam lalu membantu Adam merobohkan tembok itu.
"Om di balik tembok itu ada apa sih?" Tanya Anisa.
"Saya tidak tau begitu jelas tapi saya mendapatkan ini." Jawab Damian dan mengeluarkan kalung yang didapatnya tadi dari saku celananya.
Adam yang melihatnya seperti sangat familiar dengan bentuk kalung itu.
"Kau tau ini kalung siapa?" Tanya Damian.
Adam mengambil kalung itu dan melihatnya lebih jelas. Ada batu permata disitu tapi kecil dan ada inisial A disisi kalung itu.
Adam kaget dan tidak salah lagi. "Aku tau ini kalungnya siapa... ini kalungnya......."
********