15

1049 Words
Adam mengacak rambutnya menjadi sangat berantakan di tiup oleh angin sore yang membuat rambutnya yang berantakan menjadi rapi lagi. Banyak hal yang dia pikirkan sekarang, mulai dari: 1. Rencana yang dibuatnya bisa jadi gagal. 2. Semua yang diucapkan pak Tengku ada benarnya tapi kebanyakan salahnya. 3. Dia melakukan hal nekat ini untuk melanjutkan penelusuran yang diberikan oleh Alexandra kepadanya. 4. Rencana yang dibuat Damian sama sekali tidak masuk akal. 5. Kalau ada seseuatu yang terjadi antara aku, Anisa, Damian atau yang lainnya maka semunya akan berantakan. Adam menghembuskan nafasnya secara kasar. Dia sama sekali pusing dengan pikirannya sendiri. Dia mengingat ketika dia menggebrak meja di ruang kepala sekolah, dia sama sekali tidak berniat menggebrak tapi itu refleks dari orang yang sedang marah dan emosi. Ttuuutt... tuuuuttt.... tuuuuttt..... handphone Adam berbunyi kencang. Dengan malasnya Adam melihat layar handphone. Damian. "Halo?" "Dam... kamu dimana?" "Di rumah." "Oh... saya jemput kamu 20 menit lagi. Saya akan jemput Anisa dulu." "Okay." Sambungan telepon berlangsung. Adam beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar untuk mempersiapkan semuanya. Ketika sedang mempersiapkan semuanya, dia seperti lupa dengan sesuatu. Entah apa yang dia lupa. Tttiiitt... tiiittt... tiiitt... klakson mobil Damian sudah datang. Dengan cepat Adam keluar dar kamar dan langsung masuk ke mobil tapi sebelum itu dia tidak lupa mencium pipi dan kening Ashlyn yang lagi tidur di kamarnya karena terlalu capek bekerja. "Lama lo, Dam." Ketus Anisa. "Diem lo." Ucap Adam yang membuat Anisa diam seketika walaupun dia hanya memakai nada yang halus. Ketika mobil sudah berjalan, Adam mengingat kalau kaki ayam dia lupa beli yang akan dipakai nanti. "Kenapa?" Tanya Damian yang melihat Adam yang gelisah. "A-aku lupa membeli kaki ayam." Jawab Adam sambil mengacak rambutnya. Damian tertawa kecil dan Adam mengangkat satu alisnya karena merasa aneh dengan Damian. "Ada apa?" Tanya Adam. "Nggak... nggak usah pakai kaki ayam kali. Itu hanya hal yang bodoh. Kita hanya menelusuri sekolah kalian, mencari puzzle, dan menyatukan semua puzzle itu menjadi satu lalu kita bunuh semua setan itu. So, jangan terlalu percaya dengan yang namanya kaki ayam. Kaki ayam itu hanya mitos belaka untuk menangkap hantu." Jelas Damian. Adam dan Anisa yabg mendengar langsung menatap Damian dengan tatapan tajam dan horror bagaikan seorang pembunuh yang menatap korban selanjutnya. "Parah lo om!" Ucap Adam dan Anisa secara bersamaan, dan membiat Damian tertawa terbahak-bahak. *** 18:00 Adam mengatur perlengkapannya di kelas yang sudah sedikit ramai dengan keberadaan temannya Damian yang akan membantu penelusuran ini. Anisa diam dari tadi. Dia sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang membuat dia tidak bisa tidur kemarin malam. "Nisa.." Panggil Adam yang sudah mendekat dengan tempat duduk Anisa. Anisa menatap Adam dengan tatapan sendu lalu mengeluarkan senyum terpaksanya. Adam yang melihatnya membuat hatinya tersendu juga. Dia tau kalau ada yang Anisa sembunyikan. *** Adam's POV Aku memeluk Anisa mencoba untuk menenangkan dia yang terisak oleh sesuatu. Dia tidak bisa berkata-apa, hanya terisak. Isakan yang pilu. Isakan yang penuh dengan penyesalan. Penyesalan? Penyesalan apa yang telah kau perbuat? Batinku. "Anisa.." Panggilku sambil terus mengelus punggungnya agar dia berhenti menangis. Tapi tangisnya Anisa tidak kunjung berhenti. Klek... Pintu terbuka. Damian memasuki ruang kelas dan mengangkat kedua alisnya tanda minta penjelasan. Aku hanya mengernyitkan dahi tanda tidak tau. Aku melihat Damian berjalan mendekati kami. Teman Damian juga mengikuti dia dari belakang tapi Damian bilang kepada mereka untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing karena penelusuran akan berlangsung pada pukul 20:30 "Kau kenapa?" Tanya Damian sambil memebelai rambut Anisa tapi dia tetap tidak menjawab. "Dia tidak mau bicara dari tadi." Ucapku lalu melihat arjoliku. Aku melepaskan pelukanku lalu pergi keluar kelas. Angin malam berhembus kencang menusuk kulitku. Malam ini banyak bintang dan sangat terang. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Sekolah dimalam hari memang cukup seram tapi sekolah ini berbeda. Walaupun lampu sedikit yang menyala tapi sekolah ini tidak terlihat seram sama sekali. Bayangan dengan cepat lewat didepan mataku dan membuatku kaget. Bayangan itu menghilang di deretan rumput panjang sekolah yang memang sedikit tidak terurus. Aku berlari ketempat bayangan itu hilang. Berlari sekuat tenaga adalah salah satu cara yang jitu. Aku mengambil senter karena keadaan disini sangat gelap. Aku memasuki rerumputan itu. Berharap kalau aku menemukan sesuatu. Maksudku, mungkin aku bisa menemukan bukti atau puzzle itu yang terkubur lama disini. "Shit." Gumamku dengan suara kecil karena menginjak sesuatu yang berlendir dan hampir membuatku jatuh. Aku arahkan senter itu ke tanah dan melihat kalau tanah disini basah. Sangat basah. Aku ingat betul kalau hari ini tidak turun hujan sama sekali. Aku mencoba untuk menggali tanah itu dengan tanganku karena ada sesuatu yang aku injak. Sesuatu yang keras. Aku arahkan senter kebawah. Dan.. Damn. Betapa terkejutnya aku ketika melihat bahwa yang aku injak itu. "Tangan.. tangan yang masih baru." Aku mengambil tangan yang sudah terpotong itu. Aku kembali menggali tanah itu. Tiba-tiba rumput disini bergoyang tanpa ada angin. Walaupun rumput ini sangat tinggi tapi aku masih bisa merasakan angin yang berhembus walaupun angin itu kecil. "Pertanda buruk." Ucapku dalam hati lalu mengambil tangan itu yang aku simpan di tanah dan pergi dari sana. Aku berlari kecil menyusuri koridor sekolah agar cepat sampai ke kelas. Aku terus melirik tangan yang aku pegang ini. Entah kenapa aku tidak jijik sama sekali memegang tangan ini yang nyatanya masih sangat baru dan masih ada darah kering di tangannya itu. "Om.. saya mendapatkan ini." Ucapku lalu menaruh tangannya di atas meja dan membuat orang yang melihatnya sedikit mual. Damian menghampiriku dan melihat lebih dekat apa yang baru aku bawa tadi. "Tangan? Dimana kau menemukan ini?" Tanya Damian. "Di rumput panjang dekat kolam ikan." Jawabku. Teman Damian yang bernama Andre mendekat dan memegang tangan itu. "Tangan ini masih baru." Ucap Andre. Aku dan Damian mentapnya meminta penjelasan. Andre menatap kami juga lalu dia mengangguk. "Tangan ini masih baru dan aku rasa ada seseorang yang sengaja membuangnya." Ucap Andre. Aku mengernyitkan dahi. "Tapi.. siapa yang melakukan itu? Maksudku, sekolah ini langsung di kunci ketika semua murid, guru, staff, dan penjual yang ada di kantin pulang." "Hmm.. itu sebabnya kita semua kesini." Ucap Andre. Aku melihat Anisa yang sedang tertidur ditemani oleh teman perempuan Damian yang kalau tidak salah namanya Aulia. "Okay... kita simpan tangan ini. Kita akan cari lagi di tempat kamu menemukan tangan ini." Ucap Damian yang dijawab oleh anggukan dariku dan Andre. "Yang lain... tunggu disini. Aku, Andre dan Adam akan pergi keluar. Jaga tangan ini." Lanjut Damian. ***********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD