14

970 Words
Pagi telah tiba, Adam mempersiapkan dirinya untuk berangkat pergi ke sekolah. Dia juga mendapatkan persetujuan dari kepala sekolah dan pihak lain untuk membersihkan sekolah dari semua makhluk tak kasat mata ataupun arwah jahat untuk membuat sekolah menjadi aman dan tenang. Dia mempunyai 12 rencana yang dibuat sendiri yang sedikit nekat tapi rencana yang dibuat pasti akan berhasil. Arjolinya sudah menunjukkan pukul 06:30, 1 jam setengah lebih lagi pembelajaran di sekolah akan dimulai. Adam turun dari kamarnya, pergi ke ruang makan. Ketika sudah sampai di ruang makan, terlihatlah Ashlyn yang sedang fokus ke laptop dan tersenyum ketika Adam datang dan duduk disebelahnya. Adam yang melihatnya juga tersenyun dan makan. "Dam..." Panggil Ashlyn. Adam menoleh dan menatap Ashlyn dengan satu alis naik. "Ya?" Tanya Adam. "Kamu serius akan melakukan itu?" Ashlyn balik bertanya yang dijawab dengan anggukan dari Adam. "Kenapa?" Adam menatap Ashlyn lalu tersenyum dan menggenggam tangan Ashlyn. "Ma... melakukan sesuatu yang itu nggak ada salahnya, bukan? Saya melakukan ini untuk melindungi sekolah dari semua bahaya yang mengintai disana. Jadi, mama nggak perlu khawatir karena aku akan baik-baik saja." Jelas Adam. Ashlyn menghela nafasnya. Dia takut anak semata wayangnya meninggalkan dia. Cukup satu kali saja ditinggalkan oleh orang yang dia sayang. Selanjutnya, dia tidak akan tau bagaimana caranya hidup kalau Adam meninggal dalam misinya itu. Sebagai seorang ibu, Ashlyn juga harus melindungi Adam walaupun dia single parent. "Hey... mama jangan nangis... aku yakin aku akan baik-baik saja. Lagi pula Damian juga selalu sama aku. Dia udah janji akan jaga aku. Mama juga dengar sendirikan kemarin?" Ucap Adam yang melihat mata Ashlyn mengeluarkan air mata. Ashlyn mengangguk lalu menghapus air matanya. "Hhmm... mungkin kamu harus makan. Jam pelajaran tinggal beberapa jam lagi." Adam mengangguk lalu makan dan pergi ke sekolah. *** Anisa berlari ke arah Adam yang sedang berjalan di koridor sekolah. Dia sudah mendapatkan izin dari orang tuanya untuk melakukan ini, walaupun, nyawa dia dan nyawa Adam sebagai taruhannya. Melakukan sesuatu yang bersifat nekat yaitu memburu hantu dengan orang yang di sayang pasti akan seru. Well, diam-diam Anisa suka sama Adam. "Adam!!!" Panggil Anisa dengab teriakan. Adam yang mendengarnya membalikkan badannya lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mempersilahkan Anisa menggenggam tangannya. "Adam." Ucap Anisa dengan nafas yang tidak beraturan karena berlari dan menggenggam tangan Adam lalu jalan bersama. "Kamu jadi ikut?" Tanya Adam yang di jawab dengan anggukan dari Anisa. "Mama dan papa bilang kalau aku berhasil, maka aku akan dibelikan apa pun yang aku akan mau dan..... aku akan di perbolehkan untuk pergi kemana saja, asal ditemani oleh teman atau kamu kecuali orang yang aku tidak kenal. Itu berarti aku bebas dan sudah menjadi anak yang berani dan tidak manja lagi." Jelas Anisa panjang lebar. Adam tersenyum mendengarnya dan masuk ke dalam kelas. "Lo memang bukan anak manja kok, Nisa. Lo akan tau perasaan gue dan gue juga akan tau perasaan lo. Perasaan yang gue pendam selama ini." *** Jam istirahat telah tiba. Adam dan Anisa pergi ke ruang kepala sekolah karena mereka di panggil pak Tengku. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Sesuatu yang penting. Tok... tok... tok... Adam mengetuk pintu ruang kepala sekolah dan tak beberapa lama akhirnya pak Tengku mempersilahkan Adam dan Anisa untuk masuk dan duduk. "Akhirnya kalian datang juga." Ucap pak Tengku ketika Adam dan Anisa duduk. "Ada apa bapak panggil kami kesini?" Tanya Adam to the point. Pak Tengku mengangguk. "Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada kalian berdua." Jawab pak Tengku yang membuat Adam dan Anisa mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti. "Apa itu?" Tanya Anisa. Pak Tengku menghela nafas. "Begini.... saya khawatir dengan kalian yang akan membersihkan sekolah ini dari para roh jahat dan arwah gentayangan yang kamu bilang akan mendampakkan hal yang buruk kepada murid dan sekolah. Menurut saya, kalian akan mencari gara-gara dengan para roh jahat itu bahkan bisa saja ketika kalian menjalaninya, nyawa kalian bisa tidak tertolong." Jelas pak Tengku. Adam yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak. "Pak.... saya tidak suka orang yang menjelaskan dengan bertele-tela. Itu terlalu susah untuk saya cerna. Begini, saya dan Anisa akan tetap melanjutkannya walaupun taruhannya adalah nyawa kami berdua. Apakah bapak mau sekolah ini penuh dengan SETAN? Apakah bapak mau ada murid di sekolah ini melakukan hal yang bodoh karena dirasuki oleh para SETAN disini? Apakah bapak mau sekolah ini menjadi berhantu dan banyak korban berjatuhan lalu sekolah ini ditutup karena semua kasus yang menurut logika adalah kasus yang tidak wajar? Saya rasa bapak tidak mau sekolah bapak menjadi berantakan karena para SETAN itu! Saya dan Anisa melakukan hal ini untuk membuat sekolah ini menjadi aman dari serangan makhluk tak kasat mata yang mempunyai sifat jahat." Jelas Adam panjang lebar dan menekan kata 'setan' agar pak Tengku tau kalai dia tidak main-main dengan semua ucapan dan tindakannya. "Ya saya tau. Tapi... menurut saya, ini sangat berbahaya. Apalagi kamu masih 17 tahun dan masih mempunyai perjalanan hidup yang panjang. Kamu juga melihat bahwa Anisa juga ikut dan kamu tau kalau dia......" "Anisa adalah gadis yang pemberani dan tidak takut mati! Untuk apa bapak mempermasalahkan ini sedangkan bapak sudah menyetujinya kemarin. Saya bingung dengan bapak yang selalu mengubah sesuatu dengan cepat tanpa bapak pikirkan matang-matang." Ucap Adam yang tidak setuju dengan apa yang pak Tengku ucapkan dan memotong ucapannya. "Jangan memotong ucapan saya! Saya melakukan hal ini untuk kebaikan kalian berdua! Saya mau kalian membatalkan semua ini karena saya tidak setuju dengan apa yang kalian lakukan! Kalian masih labil!" Adam menggebrak meja dan membuat Anisa dan pak Tengku kaget. "SAYA TIDAK PEDULI APA YANG ANDA BILANG! Saya tidak peduli dengan semuanya! Semua rencana sudah di buat dan mau tidak mau, kami akan melanjutkan semuanya sesuai rencana yang dibuat. Terima kasih." Ucap Adam lalu pergi dari ruang kepala sekolah dengan Anisa. "Dengar... kita akan melakukan ini dengan cara apapun dan tidak memandang takut mati atau tidak." Ucap Adam yang dijawab dengan anggukan dari Anisa yang setuju. ************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD