Author POV'S
Adam, Anisa dan Damian berlari menuju kelas. Tidak disangka kalau mayat yang terpotong adalah mayat dari kepala sekolah di sini, Pak Tengku.
Sesampainya di kelas, hanya ada Aulia dan Josh yang berada disitu sedangakan yang lain berpencar dan menelusuri setiap sudut sekolah ini kecuali di ruang bawah tanah. Josh yang sedang mengamati tangan itu sedangkan Aulia sedang berdiri sambil sesekali mengusap wajahnya yang sedikir berminyak.
"Jadi, apa hasilnya?" Tanya Damian to the point.
"Sial! Kau membuatku kaget." Ucap Auli sambil melangkah kearah mereka.
Josh menengok ke arah Damian, Adam dan Anisa dan mengisyaratkan mereka untuk mendekat. Okay.. sesuatu yabg sangat penting akan segera didengar.
Josh menarik nafasnya panjang dan menghelanya dengan pelan lalu menatap mereka secara bergantian.
"To the point." Ucap Damian.
Josh mengangguk. "Okay.. jadi begini. Tangan ini masih benar-benar baru. Tapi.... yang aneh disini adalah... tidak di temukan jasad dari si korban." Jelas Josh.
"Dan... yang lebih gilanya... kita mendapatkan ini." Lanjut Aulia sambil menunjukkan luka cakaran yang ada di tangan itu.
Adam menyipitkan matanya dan tersentak kaget dengan apa yang dia lihat itu. Tanpa rasa takut ataupun jijik dia mendekatkan kepalanya dan menyentuh luka cakaran itu. "Tidak mungkin!" Batin Adam.
Adam mundur beberapa langkah dan membalikkan badan ke arah luar kelas. Dia langsung berlari keluar kelas menuju ruang bawah tanah. Yang ada dalam pikirannya adalah dia tidak mau jatuhnya korban lagi. Cukup sampai pak Tengku saja.
Sesampainya di ruang bawah tanah, dia mendapatkan sesuatu. Seperti..... cincin. Bukan cincin ini lebih besar. Dia mendekatkan wajahnya kearah benda tersebut. "Gelang." Batinnya.
Di lain Tempat.......
"Ini sangat tidak masuk akal. Maksudku, liat... di tangan ini ada cakaran dan potongan ini sangat tidak rapi." Ucap Damian dengan tatapan tidak percaya.
"Aku tau.. ini gila." Aulia mendekatkan wajahnya. "Liat ini." Dia menunjuk ke bekas mirip gigitan.
Damian menyipitkan matanya untuk memperjelas apa yang di lihatnya. Anisa yang berada disamping Damian juga melakukan hal yang sama.
"Ini konyol. Sangat konyol!" Ucap Josh dan menggebrak meja. "Tidak mungkin manusia melakukan hal ini dengan bukti bekas cakaran dan gigitan." Lanjutnya dan dijawab dengan anggukan setuju.
Hening. Suasana sekarang hening. Semua dalam pikiran masing-masing. Setelah beberapa lama dalam diam, akhirnya Damian sadar kalau ada seseorang yang tidak ada disini. Seseorang yang sangat penting.
Damian melihat ke kanan dan ke kiri. Dia menggebrak meja dan membuat orang yang didalam kelas ini kaget.
"Ada apa?" Tanya Anisa.
"Adam mana?" Damian menggebrak meja lagi. "Damn... dimana dia?"
"Jangan-jangan dia ada di..." Ucapan Anisa terputus karena Damian lagi-lagi menggebrak meja. "Dia di ruang bawah tanah." Ucap Damian dan langung berlari keluar dari kelas.
.
.
.
Adam melihat kearah sekitar. Menyusuri setiap ruangan. Ternyata di dalam ruang bawah tanah ini sangat luas bahkan mempunyai banyak ruangan dibawahnya.
"Kak Alexa... apa yang harus aku lakukan lagi?" Ucap Adam dalam hatinya sambil memegang gelang yang dia dapat tadi.
Bau yang sangat menyengat membuat Adam pusing. Dia terus berjalan menyusuri ruangan ini berharap menemukan petunjuk agar tidak ada lagi korban jiwa. Nyawa? Dalam kamusnya nyawa itu sudah tidak. Dia tidak lagi takut dengan kematian.
Dia terus berjalan. Berjalan. Berjalan. Dan berjalan. Bau dari ruangan ini sangat menyengat. Di sudah tidak tahan lagi. Adam terbatuk-batuk dan nafasnya sesak.
"Ayolah! Keluar! Tunjukkan diri kalian! Jangan menjadi seorang pengecut!" Teriak Adam sambil tertunduk karena sudah lemas mencium bau yang ada diruangan ini.
"Kalian tau! Kalian adalah makhluk yang paling bodoh! Makhluk yang TERKUTUK! Yang hanya tau menakuti manusia saja! KELUARLAH KALIAN SEKARANG! LAWAN GUE! Kalian tau kalau kalian itu hanya makhluk yang b******k DAN BANGS..."
BRUK!!
Adam terdiam. Ucapannya terpotong karena suara keras dari luar. Tidak tau suara apa. Seperti suara pukulan pada benda tumpul.
Adam mencoba untuk berdiri dna berjalan mencari sumber suara yang mengagetkan itu.
***
"Adam!!" Teriak Anisa. Dia panik. Dia khawatir.
"Jangan berteriak Nisa." Ucap Damian.
Aulia terus menggenggam tangan Anisa. Mencoba untuk menenangkan gadis itu. Mereka berjalan menyusuri ruang bawah tanah ini. Cahaya yang minim membuat mereka sedikit sulit. Hanya mengandalkan senter dan cahaya dari handphone.
"Bella... Bella. Kau dengar?" Tanya Adam lewat HandyTalkienya.
"Ya.. Di! Aku dengar." Jawab Bella dari seberang sana.
"Bawa pasukan kamu ke ruang bawah tanah. Aku perlu penerangan. Tidak tau kenapa disini sangat gelap, tidak seperti tadi." Ucap Damian melihat kanan dan kiri lagi.
"Okay." Jawab Bella.
"Mereka akan datang." Ucap Damian sambil tersenyum tipis.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya rombongan Bella datang. Ada yang membawa senter, ada yang membawa kamera sekaligus untunk merekam semua aktivitas supranatural yang ada disekolah. Walaupun sudah banyak bukti yang menyatakan kalau sekolah Indonesia International School berhantu tapi masyarakat menilai kalau itu hanya hoax dan tidak benar adanya. Soal kematian Tylor dan penjaga sekolah, masyarakat menilai kalau itu murni kecelakaan dan tidak ada sangkut pautnya dengan hal yang berbau supranatural atau hal yang berbau gaib.
Setelah semuanya beres, mereka turun ke ruang bawah tanah secara bergantian karena untuk tangga untuk masuk ke ruangan itu sempit.
"Wooww... sulit dipercaya." Ucap Billy salah satu pasukan dari Bella.
Damian berjalan deluan. Wajah Anisa terlihat takut walaupun Aulia selalu ada disampingnya. Aulia menjadikan dirinya benteng pertahanan untuk Anisa, karena menurutnya gadis ini tidak boleh terluka.
Setelah sampai ditempat jalan buntu yang Damian dan Adam hancurkan, terlihat ada sekelebat bayangan yang lewat dan membuat semuanya tersentak kaget bahkan ada yang hampir berteriak tapi mulutnya lansung di bekap.
"Okay.. disini jalannya." Ucap Damian dan berjalan lagi.
"Lo yakin?" Tanya Josh.
Damian mengangguk. "Teruslah merekam." Ucapnya dan berjalan lagi memasuki ruangan yang sangat luas yang didalamnya terdapat ruangan lagi.
"Om Damian..." Panggil Anisa dengan suara pelan khas orang takut dan berlari kecil ke Damian yang berada di depannya.
"Iya." Jawab Damian sambil tersenyum tipis. Tersirat dari sorot matanya kalau Damian juga khawatir, panik dan takut terjadi apa-apa dengan Adam.
"Apakah Adam akan baik-baik saja?" Tanya Anisa dan dijawab oleh anggukan dari Damian.
BRUK!!
Suara pukulan keras itu membuat semua orang kaget. Rasa takut langsung menguasai diri mereka.
"Sial." Umpat Damian.
"Ada apa?" Tanya Bella.
"Mereka sudah berinteraksi dengan kita. Jangan ada yang terlalu jauh. Tetap didekat." Jawab Damian yang langsung memegang tangan Anisa supaya tidak menjauh karena keadaan sudah berbahaya.
Mereka berjalan lagi, menyusuri setiap ruangan yang ada disini. Suara rintikan air yang jatuh dari pipa membuat suasana disini menjadi seram sekaligus menegangkan.
"s**t!" Teriak Josh.
Damian menoleh kebelakang melihat Josh yang memegang lengannya dengan muka yang kesakitan.
"Dia kena cakar." Ucap Aulia.
Damian menghampiri Josh dan melihat lukanya. Dia memegang luka Josh yang sudah pasti membuat Josh meringis kesakitan.
"Li.. hentikan pendarahannya dulu. 4 orang ikut sama Aulia dan Josh. Terus yang lain ikut sama saya." Ucap Damian yang dijawab dengan anggukan setuju. Mereka melanjutkan perjalanan lagi sedangkan yang lain pergi bersama Josh dan Aulia ke kelas.
Semakin kedalam bau dari setiap ruangan membuat orang ingin muntah termasuk Damian dan Anisa.
"Uhuk-uhuk!" Suara batuk yang agak keras itu membuat mereka kaget. Dengan segera mereka berlari ke sumber suara itu.
Suara batuk itu semakin dekat dan semakin terdengar jelas. Damian berhenti di sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Perlahan-lahan dia memegang gagang pintu itu, namun Bella menahannya.
"Tunggu." Ucap Bella dengan suara kecil yang hampir berbisik.
Damian menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. "Ada apa?" Tanya Damian dengan mengangkat satu alisnya.
"Kita tidak tau ada apa didalam." Jawab Bella.
Damian lagi-lagi menghela nafasnya lalu tersenyum tipis. "Kita pemburu hantu, jadi kita sudah tidak harus takut lagi dengan hal-hal yang membuat takut atau kaget."
Bella yang mendengarnya itu mengangguk dan mundur. Damian perlahan membuka pintu itu dan semuanya langsung kaget ketika melihat kalau yang batuk itu adalah Adam yang tertunduk lemah.
*******