Sekarang sudah memasuki hari senin, berarti hari pertama perkuliahan. Sairish sangat bersemangat sekali, karna ini adalah awal dia full terbebas dari semua rutinitas pekerjaannya. Jadi sekarang dia sudah bebas bernapas tanpa harus peduli dengan naik turunnya harga saham perusahaan, berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya menunggu untuk diperiksa dan ditanda tangani, meeting sana sini yang kadang membuat migrain-nya kambuh. Aaah, akhirnya dia bebas walaupun hanya sebentar. Dan hari ini adalah awal dia mencari calon suami, dia akan mulai dari Universitasnya, siapa tau ada yang cocok. Sairish tertawa cekikikan membayangkan itu semua.
Sairish turun ke lantai bawah untuk sarapan, suara celotehan keponakannya sudah menggema di meja makan membuat gadis itu tersenyum lebar. Ini yang dia harapkan, rumah yang berisik dengan suara-suara. Karna hampir separuh hidupnya, dia berada di kesunyian. Sairish hidup dalam kesepian, orang tua Sairish meninggal sejak gadis itu berumur 10 tahun. Dari sejak itu, dia hanya punya Mikayla di hidupnya. Kakek dan tantenya sangat sibuk mengurus perusahaan mereka sehingga tidak mempunyai waktu hanya untuk sekedar bermain dengan Sairish dan Mikayla kecil.
Apalagi setelah kakeknya meninggal dunia, Sairish yang saat itu masih berumur 13 tahun dituntut untuk belajar keras agar bisa menguasai seluk beluk perusahaan yang akan dia warisi. Memaksa otak mudanya untuk berpikir dan bekerja keras. latihan keras dia lakoni agar bisa memenuhi ekspektasi semua orang bahwa dia sanggup dan bisa mengemban tugas berat itu.
Itulah yang membentuk sifat dan sikap dingin Sairish. Jadi jangan heran, dengan otak jeniusnya, dia bisa memberikan ide-ide briliant untuk kemajuan perusahan mereka. Hanya saja sampai sekarang, dia masih menyembunyikan wajah aslinya dari khalayak umum. Dia tidak ingin, orang-orang memanfaatkannya hanya untuk kepentingan pribadi mereka. Hanya sebagian orang saja yang mengetahui wajahnya, itupun dalam versi yang buruk rupa, Salah satunya, mantan pacarnya, Ballyan Regantara kampr*t.
"Pagi everybody,"
Sairish tersenyum ramah menyapa semua orang yang ada di meja makan. terlihat Mikayla yang sedang menyuapi Kei, keponakannya, juga mbak Mita yang sedang menyeruput kopi sambil menatap layar Ipad-nya. Juga ada Rara disana, salah satu sahabatnya yang sedang tersenyum hangat menyambut kedatangan Sairish.
"Buna ... tiss," pria kecil yang berumur dua setengah tahun itu merentangkan tangan sambil memanyunkan bibir meminta untuk dicium, membuat Sairish terkekeh geli.
"Pagi boy." Sairish mendaratkan ciuman di kedua pipi Kei, membuat pria kecil itu tersenyum lebar.
"Kunyah dulu sayang," Mikayla memperingati Kei yang sedang mempermainkan nasi yang ada di mulutnya.
"Kapan nyampe, Ra?" Sairish duduk di kursinya, lalu meminum air putih yang sudah disediakan mbok Yanti.
"Tadi malam," Rara mengunyah Sandwich-nya sambil menatap Sairish yang melongo kaget.
"Kok gue ngga tau?"
"Lo kan langsung masuk kamar habis makan malam, gimana bisa tau?" Mikayla menimpali.
"Sorry, Ra. Gue capek banget soalnya." Sairish meringis tidak enak.
"Santai aja kali. Gue yang harusnya ngga enak, datangnya malam-malam."
"Hari ini kalian mulai kuliah kan?" tiba-tiba mbak Mita bersuara. membuat semua perhatian beralih pada gadis 27 tahun itu. Ketiga kepala itu mengangguk serempak.
"Aku sama Mika masuk jam 10 mbak."
"Aku jam 9 ini sih mbak. Makanya habis sarapan, aku langsung berangkat duluan ya." Rara menyengir menatap mereka yang berada di ruang makan.
"Ya udah, kamu berangkat bareng mbak aja. Udah selesai kan sarapannya? ayo!" Mita bangkit dari kursi, menenteng tas dan ipad-nya. Tidak lupa mencium kedua pipi gembil Kei, kemudian disusul Rara yang melakukan hal yang sama.
"Bubu berangkat dulu, boy. Gue duluan guys, sampe ketemu nanti di kampus." Rara melambaikan tangan dan berlalu dari ruang makan menyusul mbak Mita yang sudah terlebih dahulu keluar.
"Gue siap-siap dulu Ka." Sairish bangkit dan mendekati keponakannya, mencium puncak kepala pria kecil itu. "Makan yang banyak boy, biar cepat besar. Buna mandi dulu, bau acem." Sairish mengerutkan wajahnya, membuat Kei tertawa lebar. Gadis itu berlalu setelah mengacak pelan rambut keponakannya.
****
"Rish, lo bakal stay kuliah kan?" Andre, salah satu teman sekelasnya bertanya.
Setelah kelas pertama selesai, mereka masih tinggal di kelas untuk pembagian tugas kelompok. Hari pertama masuk, langsung dihadapkan dengan tugas. sungguh hari yang berat bagi mahasiswa.
"Yoi Ndre." Sairish memberikan jempol ke arah Andre.
"Bagus lah, jadi stok cewek cantik di kelas kita bertambah." Andre tertawa lebar yang disambut koor dari cowok-cowok lain di kelasnya.
"Bener tuh, semester lalu kan kita cuma bisa liat Sairish setiap hari sabtu doang tiap minggu. Berasa liat mata air di gurun pasir pas lagi terik-teriknya sinar matahari, cuma fatamorgana." celetuk Angga, sang playboy di jurusan Manajemen Bisnis.
"Lebay. ingat cewek lo, jangan sampai Sairish jadi korban kesekian dari keganasan cewek lo yang bar-bar itu." Asfi tersenyum remeh sambil menatap Angga. Asfi adalah salah satu korban dari keganasan cewek bar-bar itu.
"Gue udah putus beb."
Cuit, cuit,cuiiit ... Terdengar suitan dari teman-temannya yang lain membuat suasana gaduh tercipta di ruangan itu.
"CLBK bro, kita semua dukung kok. Ya, ngga guys?" Hamid salah satu teman baik Angga yang juga ketua tingkat mereka semakin bersemangat mengompori.
"Yoi lah, biar ada couple baru lagi. bosan sama si Bara Yola mulu." Andre menimpali
"Yeee, gagal moveon lo?" Bara tersenyum remeh, sambil menaikkan alisnya menantang.
"K*mbing. Selera kita beda kelas bro." Andre ikut-ikutan menantang. membuat suasana kelas semakin ramai saja. Siapa yang tidak tau persaingan Bara dan Andre dalam memperebutkan Yola di semester lalu, bahkan semua fakultas lain juga mengetahuinya. Ya ... itu juga berkat mulut-mulut netizen sih.
Boleh dibilang, fakultas Ekonomi adalah gudangnya cewek cantik dan sexy. Tidak ada yang tidak tau itu, apalagi di fakultas Manajemen Bisnis. Sairish yang notabene jarang masuk kampus saja sangat terkenal. Walaupun pakaian yang di kenakannya sangat sederhana, bahkan masuk kategori biasa saja. Tetapi banyak yang menyukai berkat wajah good locking-nya, apalagi di kalangan senior-senior mereka. Tidak heran Sairish punya beberapa mantan di kampusnya. sebenarnya tidak bisa dianggap mantan juga sih, karna mereka cuma dekat selama seminggu lalu kemudian putus. Apalagi alasannya kalau bukan karna s*x. Dan Sairish bukan termasuk dalam pergaulan bebas itu.
Sekarang Sairish dan Mikayla sudah duduk di kantin kampus, hal yang sangat jarang di lakukan Sairish pada semester lalu. Di bangku depan mereka sudah duduk Asfi dan juga Gina, dua gadis yang lumayan akrab dengan Mikayla dan Sairish.
Sambil menunggu pesanan mereka, Mikayla mengeluarkan yogurt dari totebag-nya. Membaginya satu-satu pada mereka bertiga. Asfi dan Gina langsung menyambar yogurt tersebut, membukanya pelan-pelan. Dengan kompaknya mereka berdua menjilat tutup kemasan yogurt tersebut, bahkan Sairish ikt-ikutan melakukannya.
"Kenapa kalian bertiga menjilat tutup kemasannya sih, jorok banget." Mikayla menatap jijik pada ketiga gadis itu.
"Emangnya kenapa? semua orang kayak gini juga kok, kecuali orang kaya sih. Mana mau mereka jilat tutup kemasan kayak gini." Asfi menjawab ketus.
"Tapi gue orang kaya," Sairish menyahut santai.
Asfi dan Gina mendengus mendengar perkataan Sairish. Walaupun wajah Sairish sangat amat mendukung untuk menjadi orang kaya, tapi kelakuan gadis itu tidak mendukung sama sekali. Bahkan dia pernah berdebat dengan bendahara kelas hanya karna uang 500 perak. Bahkan penampilan gadis itu masih lebih baik dari mereka berdua yang tergolong keluarga setengah mampu ini. Bagaimana bisa Sairish mengaku sebagai orang kaya.
"Kalau menghalu, jangan terlalu ketinggian beb. Ntar jatuhnya nyungsep ke selokan. Mau lo?" Gina berucap sambil menyeruput habis yogurt-nya.
"Tapi kan, gue ngomong jujur beb." Sairish masih menjawab santai, membuat Mikayla yang sedari tadi memperhatikannya mendengus geli.
"Kalo lo beneran kaya beb, beliin gue penthouse seharga 5 Milliar." Gina berbicara sampai menggebu-gebu sambil mengarahkan 5 jarinya ke hadapan Sairish.
Gadis itu menyingkirkan tangan Gina dari hadapan wajahnya, "lo bukan Lydia Danira beb, jadi berhenti menghalu."
"Ck, ngga asyik lo." Gina memanyunkan bibirnya kesal.
Mikayla mengangkat tangannya ketika melihat Adena dan Rara yang berdiri di pintu masuk kantin. Pandangan Sairish juga ikut terarah ke sana, tapi bukan pada kedua sahabatnya. Melainkan pada laki-laki yang bediri di belakang Adena dan Rara, laki-laki yang sedang menatap ke seluruh penjuru kantin. Laki-laki yang beberapa hari lalu dia temui di Cafe Carramel.
'Jadi dia kuliah disini juga.'