Bab 6

1485 Words
"Hai, kesayangan." Adena langsung mencium pipi kedua sahabatnya. Kebiasaan Adena yang membuat Sairish tersenyum geli, sedangkan Mikayla sudah bosan untuk memperingati, jadi dia biarkan saja. "Hai Asfi, hai Gina." Tidak lupa Adena juga menyapa dua penghuni bangku lainnya yang dibalas senyum sumringah kedua gadis itu. Siapa yang tidak mengenal Adena Banurasmi, gadis ramah dan cantik anak Patiwisata. satu-satunya yang mengambil jurusan yang sangat berbeda dari ketiga sahabatnya, karna tuntutan orang tua. Mami Adena punya WO besar, jadi dia berharap Adena yang akan mengambil alihnya nanti. Maka dari itu, Adena dipaksa untuk masuk jurusan Pariwisata. Sedangkan Rara memilih jurusan Administrasi Perkantoran karna kelak dia yang akan menggantikan mbak Mita menjadi Sekretaris Sairish. Itu juga sebagai bentuk rasa terima kasih Rara karna Sairish yang membiayai hidupnya sejak gadis itu SMA. Adena memilih duduk di samping Gina, sedangkan Rara langsung melipir ke samping Mikayla. Melihat Asfi dan Gina memakan baksonya dengan lahap membuat perut Adena berbunyi. Gadis itu menatap kedua sahabatnya yang tengah asyik terkikik geli sambil memandang ke arah ponsel yang di pegang Mikayla. "Lo berdua ngga pesan?" "Tinggal dibawain kok, soalnya nunggu lo berdua. Biar bisa samaan." Sairish menjawab pertanyaan Adena tanpa mengangkat kepalanya. "Terus nih curut berdua kenapa duluan makan?" Adena lagi-lagi bertanya sambil mengalihkan pandangan ke arah Asfi dan Gina. "Keduluan gue pingsan kalo nunggu lo berdua. Lagian abis ini kita mau ke Mushola." Gina berucap setelah menyeruput habis kuah baksonya membuat Adena menelan air liurnya. "Ngapain?" Rara ikut bertanya karna setaunya Gina beragama Kristen. Kalau Asfi yang ngomong sih masih bisa dipercaya. "Tidur." Gina menyengir lebar hingga membuat Adena mengernyit jijik. "Bersihin gigi lo, Bego. kulit cabenya masih nyempil noh." Adena melempar tissu bersih ke arah bibir Gina, membuat gadis itu memberenggut kesal. "Lo ngapain tidur di Mushola, beb? tempat lo kan bukan disitu? Sairish ikut menimpali. "Disana adem beb, karpetnya lembut banget, mana wangi lagi. Serasa tidur di hamparan bunga beb." wajah Gina berseri-seri membayangkan akan tidur siang nyaman di Mushola kampus. "Temen lo sarap." Adena berucap sambil menatap Sairish dan Mikayla bergantian. "Semoga dapat hidayah ya, Gin." Rara tersenyum lebar menatap Gina. "Hidayah apaan?" Gina yang selesai mengorek giginya bertanya dengan raut polos. "Adalah. Jangan lupa dituntun ya, As." Adena menahan senyum gelinya, apalagi melihat respon Asfi. "Tenang aja, gue akan tuntun dia kembali ke jalan Allah." Asfi menepuk dadanya bangga. "Eh. apaan lo?" Gina menaikkan alisnya, "gue cuma mau tidur siang, bukan mau pindah agama." gadis itu bersungut-sungut. "Itu Mushola, bukan kamar hotel, bego." Asfi menoyor pelan kepala Gina membuat gadis itu mengaduh. "Ngga papa As, bawa aja tuh anak. Siapa tau dapat hidayah beneran dia disana." Mikayla terkekeh geli melihat raut kesal Gina. Setelah kedua gadis itu berlalu, sekarang tinggal mereka berempat. Dari tadi, Adena sudah menahan diri untuk berbicara, tapi karna masih ada Asfi dan Gina, dia memilih memendam kata-katanya. "Gue denger-denger ya, kak Regan sama si kunti itu udah putus guys." Adena langsung memulai sesi ghibahnya. mulutnya sudah gatal ingin bersuara dari tadi. "Kunti siapa, Den?" Rara bertanya bingung. "Ck, lo mah suka gitu, lola!" Adena berucap ketus sambil menatap Rara, "itu loh, selingkuhannya kak Regan yang kepergok Sairish lagi indehoy di apartemennya." Adena gemas sendiri. "Oh, si Tiana. Bukannya baru jadian ya?" Rara kembali bertanya. "Palingan kak Regan cuma manfaatin tubuhnya doang, secara dia kan penjahat k*lam*n. Apalagi dia pacaran sama sairish cuma karna paksaan orang tuanya." Adena menimpali. "Gue juga kemarin ketemu si Tiana-Tiana itu." Sairish ikut bersuara. "Dimana? Bareng sama kak Regan?" kembali Adena bertanya antusias. "Di Carramel Cafe, bareng cowok barunya, mungkin?" "Haah, mereka berdua emang pasangan yang cocok sih sebenarnya. yang cowoknya PK, yang ceweknya l*nt*." Mikayla memaki, membuat ketiga sahabatnya tertawa keras. "Terus gimana acara tunangan lo?" Rara kembali bertanya membuat Adena langsung berbinar. "Nah, ini inti pertanyaa gue. gimana jadinya lo?" Adena terlihat sangat antusias. "Tante Gloria malah nyuruh gue langsung nikah aja sama dia." Sairish menjawab dengan santai. "Waaaahh, gila sih. emangnya tante Glo ngga tau gimana br*ngs*knya kak Regan. "Lo kan tau gimana lic*knya keluarga kak Regan. mereka bisa memutar balikkan fakta asal keinginan mereka tercapai.Tapi, mereka salah cari lawan sih." Mikayla terkekeh geli membayangkan bagaimana raut wajah orang tua Regan kalau tau apa yang akan dilakukan Sairish nanti. "Tapi takutnya mereka beneran menghasut tante Glo buat maksa Sairish nikah sama tuh baj*ng*n, Ka." Adena terlihat gusar, tidak mau lah dia kalau sampai sahabat baiknya masuk lubang buaya. "Lo pikir nyokab gue bodoh," Mikayla tersenyum miring. "Lagian yang mereka hadapi itu Sairish, Den. Lo ngga lupa kan, siapa Sairish?" Mikayla kembali memberikan senyum miringnya yang terlihat sangat licik di mata ketiga sahabatnya. "Makanya tante Glo nyuruh gue buat nyari calon suami. Batas waktunya sebulan mulai dari sekarang. Dan itu tugas lo bertiga buat bantuin gue." Sairish berucap mutlak membuat Adena dan Rara mengernyit kaget, sedangkan Mikayla terlihat biasa saja karna dia memang sudah tau permasalahannya. "Lo pikir cari calon suami kayak nyari upil, Rish? sekali korek langsung dapat?" Adena mendelik sinis menatap sahabatnya yang terlihat acuh itu. "Kriteria lo yang kayak gimana sih? siapa tau gue bisa nemu di fakultas gue." Rara bertanya serius. "Nemu?" Adena menaikkan alisnya menatap Rara. Lo pikir, lagi nyari keong pake acara nemu. Ini cowok Ra, apalagi buat Sairish." Adena menekan setiap kata-katanya. "Lo ngga lupa kan siapa calon bos lo?" Rara menggelengkan kepalanya miris. Dia lupa siapa Sairish, tidak bisa orang sembarangan yang harus menjadi suami gadis itu. "Lo harus tau bibit, bebet, bobot laki-laki itu sebelum lo sodorin ke hadapan Sairish." Sekali lagi Adena menekan kata-katanya. Sekali lagi, ini menyangkut jodohnya Sairish. bukan dia ataupun Rara yang bisa memilih siapapun untuk menjadi suaminya. Sairish adalah seorang putri mahkota, calon pewaris kerajaan bisnis, jadi bagaimana bisa orang biasa saja yang menjadi pendamping hidupnya. Gila! "Gue ngga butuh cowok yang wow, Den. Ngga butuh juga dari keluarga terpandang, punya banyak harta dimana-mana. Gue ngga butuh itu, karna gue udah punya segalanya. Lo tau kan orang-orang dari kalangan itu deketin gue cuma buat kecipratan harta doang, jadi gue ngga butuh laki-laki munafik seperti itu." Sairish akhirnya bersuara. "Tapi Rish, setidaknya cowok itu harus selevel sama lo." Adena masih bersikukuh. "No. Lo lupa siapa Regan, Salim, Irsyam, Dan siapa lagi tuh yang ngajak gue ke club buat ngasih liat ke gue kalo dia bisa dapatin cewek cantik manapun tanpa harus nerima gue yang buruk rupa. Dia malah asyik menciumi gadis-gadis disana, mungkin dia pikir gue cemburu karna liat dia yang seperti itu. Padahal yang ada gue malah jijik. Lo tau kan mereka anak-anak orang kaya dan terpandang semua, tapi ngga ada satupun yang mau terima gue walaupun tau gue sekaya apa. Masalahnya cuma satu. Ya, karna gue jelek." Adena terdiam mendengar penuturan Sairish. Jelas dia tidak akan lupa siapa saja laki-laki tidak tau diri yang mendepak sahabatnya. Apalagi laki-laki br*ngs*k anak menteri Keuangan itu, si bangs*t Satya yang hampir memperkosa Sairish karna dipaksa bertunangan dengan sahabatnya. Tapi malang saja nasib dia, sebulan dia harus berbaring di Rumah Sakit akibat di hajar habis-habisan oleh Sairish. Entah bagaimana nasib p*n*snya sekarang, semoga masih bisa berdiri setelah di tendang kuat oleh gadis itu. "Jadi, lo mau calon suami yang seperti apa, yang?" Adena akhirnya mengalah. "Yang penting dia setia, jujur, dan apa adanya." "Sederhana banget sih." Mikayla mendengus geli. "Gue emang cari yang sederhana, Ka. Yang kayak gitu kan langka banget." "Harus cakep ngga?" Adena bertanya lagi. "Ya, gimana ya? Gue kan bakal selalu disorot, Den. Menurut lo gimana?" Sairish bertanya dengan polosnya membuat ketiga sahabatnya tertawa. "Ya, harus lah. Masa lo yang cantiknya Masyaallah ngegandeng suami yang Subhanallah. jomplang banget dong, apa kata dunia." Kembali suara tawa keempat gadis itu bergema. "Kalo kriteria lo seperti itu, gue tau orang yang sangat tepat untuk jadi suami lo." Adena tersenyum miring membuat ketiga sahabatnya yang masih tertawa langsung terfokus padanya. "Who?" pertanyaan serempak ketiga gadis itu membuat senyum Adena semakin lebar saja. "Tapi, lo harus bisa taklukin dia. Karna ...." Adena menjeda ucapannya, dia menatap wajah ketiga sahabatnya yang terlihat sudah sangat penasaran itu, "dia sangat sulit." Adena berbisik pelan. "Iya, Siapa? ck, lo berdosa banget bikin kita penasaran." Mikayla berdecak, yang diangguki oleh Rara. sedangkan Sairish hanya terdiam menyimak. "Dia ...." Adena mengedikkan dagunya ke arah dua orang cowok yang sedang duduk di pojokan. Yang satu sedang memasukkan nasi ke mulutnya, sedang yang satunya lagi sedang asyik dengan ponsel. Mengetahui arah pandang Adena, ketiga gadis itu langsung menoleh. Sairish terlihat sangat kaget, walaupun dia tidak mengenalnya, tapi dia tau siapa salah satu diantara kedua laki-laki itu. "Udah liatnya, hadap sini, ah. Ntar orangnya curiga lagi." Adena mendumel. "Yang mana diantara dua itu." Rara bertanya. "Yang lagi makan." Adena tersenyum lebar. Sairish langsung kembali menolehkan kepalanya ke belakang. 'Kenapa dia, kenapa harus dia, kenapa Adena begitu percaya diri mengatakan dia yang pantas jadi suami gue. apa pula hati gue nih. kenapa jadi deg-degan gini? please, jangan jadi murahan hati. Lo belum apa-apa udah deg-degan aja. belum tentu dia juga mau sama lo. Eeh ... emangnya gue udah mau ya?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD